
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga acara kita sukses dan berjalan dengan lancar.”
“Yuk, siap-siap, yuk semuanya!”
Seketika, ruangan gelap gulita. Semua pencahayaan mati dan suara musik mulai terdengar mengalun bersamaan dengan lampu inti yang mulai menyala seiring dengan keluarnya satu persatu model berhijab yang berjalan diatas catwalk. Kamera ponsel perlahan mulai terangkat kala satu persatu model berjalan, jepretan pun mereka ambil untuk mengabadikan hasil karya dari kedua desainer untuk model pakaian berhijab. Satu persatu desain sudah ditampilkan, hingga desain terakhir dibawakan oleh model yang begitu cantik dan anggun mengenakan pakaian itu. Hingga akhirnya tiba, dimana desainer nya keluar menunjukkan diri mereka.
Seketika, apresiasi berupa tepukan tangan meriah diberikan pada Mentari juga kolaborator nya, Ibu Annya yang merupakan desainer pakaian Muslimah ternama yang sudah punya nama besar. Besar kehormatan bagi Mentari saat desain yang dia tawarkan diterima oleh ibu Annya. Sehingga kolaborasi ini bisa tercipta.
Tak henti-hentinya Mentari tersenyum lebar, menyapa sambutan hangat dari semua orang untuk mereka. Dia juga menerima buket bunga yang diberikan beberapa orang yang kenal dengannya.
“Congrats!” cicit Ayumi, dia menyerahkan buket bunga berukuran sedang pada Mentari yang langsung diterima perempuan itu.
“Selamat, ya... Gila, keren banget!” puji Vanya, dia juga tak lupa memberikan buket bunga yang sudah dia siapkan.
Acara pun berlangsung berjalan dengan lancar. Tak henti-hentinya ucapan syukur terus terlontar saat menyaksikan bagaimana acara berjalan sesuai rencana, bahkan jauh lebih baik dari dugaan awalnya.
“Tari, terimakasih ya sudah mau berkerjasama sama saya.”
Mentari meringis, dia menggeleng pelan. “Ih, Bu. Harusnya yang terimakasih itu Tari. Makasih banyak ibu udah kasih kesempatan sama Tari buat bisa ikut andil di acara show kali ini. Benar-benar kehormatan sekali Tari bisa kolaborasi sama Ibu Annya.” ucap Mentari, dia tersenyum hangat dan menggenggam tangan Bu Annya.
“Sama-sama.Tapi, ibu jujur loh. Desain-desain kamu tuh emang bagus-bagus, modis, tapi tetap nutup aurat. Lain kali, kita bisa, ya kolaborasi lagi. ”
“Iya, bu. Amin... Sekali lagi, terimakasih ya bu.”
Setelah selesai semuanya, Mentari pergi ke ruangannya, menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum lebar. “Makasih, ya, kamu udah bertahan sampai dititik ini. Aku tahu, banyak hal yang udah kita lalui dan mungkin agak berat, ya... Tapi, kamu berhasil. Kamu berhasil sampai di titik ini. Semoga kedepannya, bisa lebih baik lagi, ya.” ucap Mentari pada pantulan dirinya sendiri.
Ketukan pintu membuat Mentari menoleh, dia beranjak dari duduknya berniat membuka pintu. Dan, saat pintu terbuka disitulah keberadaan Angga dihadapan Mentari. Perempuan itu mundur yang membuat Angga melangkah maju, satu langkah masuk di ruangannya.
“Kamu ngapain kesini?” Pertanyaan itu yang langsung terlontar dari mulut Mentari.
Angga tersenyum tipis, ditangannya sudah ada buket bunga yang dia bawa. “Mau mengapresiasi seseorang.” Buket bunga itu dia ulurkan pada Mentari. “Selamat, ya atas show pertama kamu.”
Mentari terdiam untuk sesaat, ragu untuk menerima buket itu atau tidak. Namun, keputusan akhirnya dia menerimanya. ”Makasih.” ucap Mentari sambil menatap buket tersebut, kebetulan bunganya merupakan bunga favoritnya.
__ADS_1
“I'm so proud of you. Aku tahu, dari dulu ini kan yang jadi cita-cita kamu. Akhirnya, bisa kesampaian juga, ya.”
Mentari mengangguk, Angga memang tahu semuanya, termasuk sesuatu yang selama ini Mentari mimpikan.
“Kamu kok bisa tahu kalau aku ada show. Ada yang kasih tahu kamu?”
“Gak ada sih, cuma kebetulan aku dengar dari karyawan kamu pas kita ketemu kemarin.”
Mentari mengangguk-angguk, dia berohria.
“Hm... Aku masih ada urusan, Ga. Jadi, kalau kamu...”
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu.”
“Kalau masalah omongan terakhir kamu kemarin, maaf aku—”
Belum selesai Mentari berkata, namun Angga sudah tiba-tiba bersimpuh di hadapan Mentari sambil menunjukkan sesuatu yang dia bawa. Sebuah cincin berlian.
Mentari terkejut mendengarnya.
“Tari, will you marry me? ”
Dan kembali Mentari dibuat terkejut, dia bahkan tak bisa berkata-kata lagi sampai harus membalikkan badannya untuk menghindari tatapan Angga yang kali ini tak bisa dia abaikan. Tatapan yang begitu tulus penuh permohonan.
“Tar—”
“Ga, buat apa sih kamu lakuin ini? Kalau tujuan kamu melamar aku karena kamu gak bisa hidup tanpa aku, lebih baik—”
“Enggak, sama sekali bukan karena itu alasannya, Tar. Aku mencintai kamu dan aku rasa kamu pun masih mencintai aku.”
Mentari tersenyum sinis, terlalu percaya diri Angga ini. Tapi, bukankah itu kenyataannya? Mentari terlalu munafik hanya untuk mengakui perasaannya.
“Dan akan jauh lebih baik kalau hubungan kita ini bisa lebih serius, pernikahan salah satu caranya. Jadi, aku mau menikahi kamu.”
__ADS_1
“Yakin, bukan obsesi?”
Angga menghela napas kasar, “Harus gimana caranya aku meyakinkan kamu kalau aku ini memang cinta sama kamu, bukan hanya sekedar obsesi. Dan, kalau kamu tanya kenapa baru sekarang aku melamar kamu, kamu tahu pasti jawabannya apa.”
Trauma itu yang jadi alasannya.
Mentari berbalik, dia menatap Angga yang masih bersimpuh juga. “Ayo, bangun.”
“Enggak, sebelum kamu jawab lamaran aku ini.”
“Kalau jawaban aku gak sesuai ekspektasi kamu, kamu mau apa? Tetap maksa aku?”
Angga menggeleng, “Enggak, aku sama sekali gak akan memaksa kamu. Apapun keputusan kamu, aku akan terima. Sekarang terserah kamu, terserah kamu mau memberikan keputusan apa atas lamaran aku ini. Satu hal yang harus kamu tahu, aku serius dan gak main-main dengan ini semua. Jadi, Tari, will you be my wife?”
Seharusnya mudah untuk Mentari menjawab tidak jika memang perasaannya mengatakan demikian. Tapi, nyatanya tidak. Sedangkan, mulutnya sulit hanya untuk berkata iya karena hatinya masih menerima Angga, tapi rasa kecewa dan takut kini masih dia rasa.
“Tar?”
Mentari menghela napas kasar, harus ada keputusan yang dia ambil secepatnya.
“Kamu berdiri dulu,”
Angga menggeleng, “Sebelum kamu jawab, aku gak akan berdiri.”
“Dan, kalau kamu gak berdiri. Aku gak akan jawab.”
Akhirnya, Angga berdiri juga. Dia harap-harap cemas menunggu jawaban Mentari kini.
“Kalau kamu mau tahu jawabannya, temuin aku di cafe akhir pekan besok. Di sana kamu bakal tahu keputusan apa yang akan aku ambil.” ucap Mentari kemudian melenggang pergi meninggalkan Angga yang masih diam mematung mengangguk.
“Aku tunggu jawaban kamu, Tari.” ucap Angga menatap kepergian Mentari yang kini sudah menghilang dari pandangannya. “Dan, aku yakin. Jawaban kamu gak akan mengecewakan aku.”
***
__ADS_1