
“Kenalin, Ga. Ini Pak Aryo, pengacara yang aku hire buat urus kasus kamu.” Mentari memperkenalkan seorang pria berumur yang dia hire untuk mengurus kasus Angga. “Pak Aryo, ini Angga, klien yang saya bicarakan.”
“Ya Tuhan... Ternyata Angga yang bakalan jadi klien saya itu Angga kamu? Ya ampun, dunia sempit banget sih!”
Mentari mengerutkan kening bingung melihat respon yang ditunjukkan Angga juga Pak Aryo yang Mentari kenalkan.
“Maaf, kalian saling kenal? Udah kenal lebih dulu?”
Aryo terkekeh, dia menepuk pelan pundak Angga. “Dia ini sahabat keponakan saya, dulu sering sekali ketemu kalau dia main sama keponakan saya, apalagi zaman kuliah dulu.” Aryo tersenyum lebar, dia menatap Angga yang menunjukkan raut datar. “Iya kan, Ga?” tanya Pak Aryo yang mendapat deheman semata dari Angga.
Mentari berdecak melihat respon yang ditunjukkan Angga, padahal Pak Aryo ini adalah orang yang nantinya akan membantu Angga. Seharusnya, Angga bersikap lebih baik lagi, bukan seperti sekarang.
“Jadi, gimana? Kita santai aja, ya Tar ngobrolnya. Gak usah kaku-kaku.”
Mentari mengangguk saja.
“Jadi, gimana, Ga?”
Mentari diam saja, menunggu apa yang akan diucapkan Angga, penjelasan apa yang akan pria itu berikan. Namun, melihat tatapan Angga padanya membuat dia menaikkan kedua alisnya bingung.
“Kenapa?”
“Aku mau bicara sama Pak Aryo berdua.”
Mendengar jawaban Angga membuat Mentari hanya mampu menghela napas kasar. Bukan kah Angga baru saja mengusir Mentari secara tidak langsung? Iya dan itu semua membuat Mentari kecewa jadinya. Namun, apa boleh buat? Untuk kebaikan semuanya, Mentari mengangguk saja, mengiyakan apa yang diinginkan Angga.
Mentari menyampirkan tasnya, “Yaudah, kalian silahkan bicarain apa yang jadi permasalahannya. Aku tunggu di luar.” ucap Mentari sambil beranjak berdiri, dia menatap Angga berharap pria itu menghentikannya. Namun, dasarnya Angga yang memang mengusir Mentari, maka pria itu hanya diam sambil membuang muka melihat kepergian Mentari.
Sudah cukup lama Mentari membiarkan Angga berbicara berdua dengan Aryo, dia berniat kembali masuk untuk menemui mereka. Namun, saat hendak masuk, justru dirinya berpapasan dengan Aryo yang hendak keluar.
“Loh, udah selesai Pak?”
Pak Aryo tersenyum, dia mengangguk. “Udah, Tar.”
“Jadi, gimana, Pak?”
Aryo nampak terdiam, kembali teringat dengan perbincangannya bersama Angga. Dia nampak tersenyum saja, “Ah, itu, Tar. Saya udah bicarain masalahnya sama Angga dan dari keterangan dia sih, saya rasa Angga memang dijebak.”
“Benar kan dugaan saya, Pak. Angga memang dijebak. Terus, nantinya bagaimana, Pak?”
Aryo bergumam, “Maaf, Tar sebelumnya. Tapi, Angga meminta saya untuk gak terlalu membahas jauh permasalahannya sama kamu.”
__ADS_1
Mentari mengerutkan keningnya, Angga memang keterlaluan. “Saya tahu, mungkin Pak Aryo juga menangkap kalau antara saya sama Angga ada sedikit permasalahan. Tapi, kan Pak. Disini saya yang hire bapak untuk tangani kasus Angga ini. Jadi, saya mohon sama bapak untuk kasih informasi mengenai kasus ini ke saya.”
“Tapi,—”
“Bapak gak perlu kasih tahu Angga mengenai ini, cukup kita aja yang tahu, Pak. Bapak cukup bilang kalau bapak gak kasih infomasi apapun sama saya.” Mentari menatap Aryo dengan permohonan, “Saya mohon, Pak.”
***
“Tar,”
Mentari mendongak, tersenyum pada Cantika yang menghampiri nya.
“Benar kan dugaan ibu. Kok lampu masih nyala, kedengaran suara musik juga, ternyata belum tidur juga.”
“Iya, bu. Belum ngantuk soalnya, besok juga gak masuk kantor.”
Cantika mengangguk-angguk, mengintip apa yang tengah putrinya lakukan. Banyak sekali kertas yang berserakan, “Lagi buat apa itu?” tanya Cantika.
“Lagi buat gift, bu. Besok Angga ulangtahun.”
“Angga?” Cantika cukup terkejut sebenarnya, dia juga tahu permasalahan apa yang tengah dihadapi. “Bukannya dia...”
Mentari mengangguk, tahu maksud ucapan ibunya. “Iya, bu. Angga masih di tahan di kepolisian atas kasusnya itu. Aku udah hire pengacara buat tangani kasusnya itu dan sejauh ini sih udah ditangani. Tapi...”
“Ibu kan tahu hubungan aku sama Angga gimana. Jadi, Angga sedikit kasih jarak buat aku bantu kasus dia. Tapi, meskipun Angga ngelarang pengacara buat kasih tahu gimana proses kasusnya. Aku tetap akan minta Pak Aryo buat kasih tahu kelanjutan kasusnya gimana.”
Cantika tersenyum mendengarnya, dia mengusap lembut pipi Mentari. “Gak tahu ibu dulu hamil kamu ngidam apa. Kok bisa-bisanya punya anak yang hatinya baik banget.”
Mentari tersipu dipuji demikian.
“Padahal hubungan kalian udah selesai, sikap Angga ke kamu juga gak terlalu welcome kan, meskipun Angga tahu kalau kamu bantuin dia.”
Mentari meringis, takut jika ibunya berpikir lain mengenai Angga. “Ibu... Marah sama Angga karena sikap dia sama aku?”
“Marah sih enggak, tapi mungkin sedikit kecewa aja.”
“Bu, Angga masih baik kok sama Tari, meskipun hubungan kami udah selesai. Jadi, ibu jangan berpikir lain, ya tentang Angga. Dia masih sama kayak Angga yang ibu kenal selama ini.”
Cantika mengangguk, “Iya, ibu ngerti kok. Angga mungkin masih kecewa sama keputusan kamu sama hubungan kalian. Tapi, sikap Angga juga gak bisa ibu benarkan. Jadi, biarin lah ibu kecewa dikit sama dia. Tapi, tenang aja, gak akan merubah penilaian ibu sedikitpun tentang Angga.”
Mentari tersenyum simpul, dia mengangguk.
__ADS_1
“Jadi, kamu siapin ini buat ulang tahun Angga?” tanya Cantika, dia mengalihkan pembicaraan.
Mentari mengangguk, “Iya. Dan, semoga aja Angga senang sama kado yang aku buat.”
“Jadi, kamu cuma siapin kado aja?”
“Gak juga, bu. Aku udah custom cake juga, besok tinggal diambil sekalian dibawa pas ketemu Angga.”
Cantika tersenyum lebar, “Yaudah, kalau begitu sambil temenin kamu selesaikan ini, ibu siapin camilan, ya buat kamu. Laper kan... ”
Mentari terkekeh, “Tau aja ibu.”
***
“Kamu ngapain sih temui aku terus?”
Mentari tak langsung menjawab pertanyaan dengan nada judes yang ditunjukkan Angga, dia justru menyodorkan sebuah paper bag soft pink berukuran sedang pada Angga, menatap Angga yang terlihat kebingungan.
“Maksudnya?”
“Coba kamu buka.”
Angga menatap Mentari jengah, mendorong kembali paper bag tersebut sebagai pertanda penolakan. “Aku gak tertarik, mending sekarang kamu pulang.”
Mentari menahan cepat lengan Angga saat pria itu beranjak berdiri cepat hendak pergi. “Jangan pergi dulu, duduk. Ga, please...”
Dengan malas, Angga duduk kembali. Mentari cepat-cepat membuka paper bag tersebut, menunjukkan isinya yang tak lain adalah birthday cake yang dia bawa khusus untuk Angga.
“Happy birthday!”
Mentari tersenyum, menunggu harap-harap cemas respon yang akan diberikan Angga. Namun, justru senyuman miring yang pria itu tunjukkan.
“Ngapain bawa cake segala?”
“Kamu ulang tahun. Jadi, aku—”
“Kamu pikir, aku bakalan senang? Enggak, sama sekali enggak. Buat apa juga kamu repot-repot siapin itu, sedangkan keadaan aku lagi kayak gini.”
Senyum Mentari luntur, dia menunjukkan senyum kikuk nya. “Aku tahu, mungkin timingnya gak pas. Tapi, aku cuma mau kamu tahu kalau masih ada yang peduli sama kamu. Kalau—”
“Cuma kamu yang peduli, jadinya nanti aku berharapnya terus sama kamu. Iya, kan?”
__ADS_1
Mentari menggeleng cepat, bukan itu maksudnya. “Ga, maksud aku tuh—”
“Sumpah, Tar. Aku gak perlu yang kayak gini, nyebelin tahu gak sih. Aku gak suka. Toh, hubungan kita udah selesai. Seperti keinginan kamu, silahkan urusi kehidupan kita masing-masing, gak usah ikut campur apalagi sok peduli.”