
“Aku bisa jelasin, Tar. Tadi tuh—”
“Gak perlu, Ga. Aku juga udah lihat dan dengar semuanya.”
Angga nampak bingung dengan sikap yang ditunjukkan Mentari yang begitu tenang nya, dari ekspresi wajahnya terlihat jika tak ada kesalahpahaman yang mungkin saja Mentari pikirkan atas apa yang perempuan itu lihat sebelumnya.
“Kamu belum makan kan, Ga?” tanya Mentari, dia cepat-cepat mengambil mangkuk berisikan bubur yang sudah dia siapkan sebelumnya. “Makan dulu, ya. Aku bikin ini sendiri. Kamu harus makan, abis itu minum obat. Coba bentar.”
Mentari meletakkan punggung tangannya di kening Angga, di leher pria itu juga. “Masih demam deh kayaknya kamu, masih panas gini.”
Angga benar-benar dibuat bingung oleh sikap Mentari. “Tar—”
“Udah, ah. Aku suapin aja, ya.”
Angga tak menolak, dia menerima suapan demi suapan yang diberikan Mentari. Tak ada yang mereka bicarakan, hanya diam tanpa saling menatap sedikitpun. Jujur, Angga lebih memilih Mentari yang marah-marah dari pada perempuan itu yang diam. Rasanya, jauh menyakitkan.
“Tar,”
“Ga.”
Keduanya berucap bersamaan membuat kekehan tercipta begitu saja.
“Kamu dulu,”
“Enggak, kamu dulu aja.”
Angga menunduk, kilatan masa lalu yang menyakiti kembali terlintas di benaknya. Sesuatu yang benar-benar menyakitkan yang membuatnya takut akan satu hal, pernikahan juga pengkhianatan.
“Dia selingkuh, Tar.”
Mentari mengerutkan keningnya mendengar ucapan Angga yang begitu tiba-tiba.
“Setiap orang pasti punya puncaknya, tapi gak menutup kemungkinan orang bisa jatuh juga, gak selamanya selalu ada di puncak kesuksesan.” Angga menatap Mentari kini. “Dan, Papa juga pernah ada diposisi terpuruk. Bisnis Papa hancur dan kita bangkrut. Papa gak punya apa-apa, bahkan untuk sekedar makan ayam pun, rasanya sulit banget. Gak bisa sebebas dulu, gak bisa setiap hari.” Angga tersenyum miris jika mengingatnya.
__ADS_1
“Disaat kayak gitu, support keluarga itu penting karena keluarga yang jadi alasan utama untuk bisa bertahan. Tapi, enggak dengan dia. Dia justru berkhianat disaat Papa lagi butuh support dia.”
Mentari masih diam saja, tak merespon dan hanya mendengarkan dengan seksama cerita Angga.
“Dia ninggalin Papa disaat Papa lagi dibawah, disaat kita udah gak punya apa-apa, disaat kita bangkrut.” Angga mengerjapkan matanya yang terasa panas kini. “Mungkin kalau alasannya yang lain, aku gak akan sekecewa ini. Tapi, alasan dia ninggalin Papa benar-benar buat aku kecewa dan benci sama dia.”
“Aku gak pernah mau percaya sama omongan orang-orang, aku gak akan langsung percaya gitu aja kalau aku belum lihat sendiri dengan mata kepala ku. Tapi, hari itu. Aku lihat semuanya, Tar. Aku lihat.”
Mentari langsung menggenggam tangan Angga saat suara Angga sudah bergetar.
“Dia selingkuh, Tar. Dia selingkuh sama laki-laki kaya disaat Papa lagi terpuruk. Dia ninggalin Papa cuma demi cowok kayanya itu. Dia ninggalin Papa gitu aja, Tar. Dia khianati Papa.”
Mentari cukup terkejut mendengarnya karena selama yang dia tahu, orang tua Angga bercerai sedangkan untuk alasannya sendiri, Mentari baru tahu sekarang.
Angga membalas menggenggam tangan Mentari, menatap dalam bola mata perempuan itu. “Aku takut, aku takut hal yang sama juga terjadi, Tar. Aku takut kalau kamu ninggalin aku disaat aku gak punya apa-apa kayak perempuan itu ninggalin Papa.”
Mentari menggeleng, dia tak mungkin melakukan hal demikian.
“Karena dia juga aku jadi takut pernikahan. Aku takut ngebayangin pernikahan yang berakhir gitu aja. Aku gak mau kamu ninggalin aku, aku gak mau kehilangan kamu, Tar. Aku gak mau.” Angga menggeleng keras, dia benar-benar tak bisa jika harus kehilangan Mentari.
Kegagalan pernikahan Papa yang pertama buat aku jadi takut sama pernikahan, buat aku jadi gak berani hanya untuk mengikat kamu, Tar. Aku terlalu pengecut buat ngajak kamu serius, bayangan mengerikan itu buat aku gak punya nyali hanya untuk melamar kamu jadi istri aku. Pengecut nya aku gak menikahi kamu bahkan setelah kita pacaran cukup lama, justru buat aku hampir kehilangan kamu. Dan, aku gak mau hal yang sama terulang lagi. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kamu ninggalin aku. Kamu cuma milik aku, Tari.”
Mentari justru merasakan sesak mendengarnya setiap kata yang terucap dari mulut Angga, penjelasan pria itu membuatnya tak tahan hanya untuk sekedar tak berkaca-kaca.
“Karena itu sekarang aku mau serius sama kamu, Tar. Aku akan menikahi kamu, aku akan kasih kamu kepastian.”
Dan, kalimat yang baru saja diucapkan Angga berhasil membuat Mentari meneteskan air mata. Genggaman tangan Angga yang begitu erat ditangan Mentari seketika dilepas perempuan itu. Mentari menatap Angga dengan tangisnya.
Mentari menggeleng pelan, sedangkan Angga mengerutkan keningnya mendapati lagi penolakan.
“Tar?”
“Ga, gak segampang itu.” ucap Mentari dengan suara bergetar.
__ADS_1
“Aku sangat mencintai kamu dan aku juga yakin kamu pun masih mencintai aku. Kita masih saling cinta, Tar. Dan, aku akan kasih kamu kepastian, aku akan menikahi kamu seperti yang kamu mau selama ini.”
Mentari menggeleng kembali, dia menghapus air matanya.
Angga menghela napas gusar, “Tar, kenapa lagi sekarang?” tanya Angga lelah, dia sedikit frustasi. “Disaat aku siap untuk menikahi kamu. Kenapa justru respon yang kamu kasih kayak gini? Kenapa kamu tolak aku?”
“Pernikahan gak segampang yang kamu pikirin. Pernikahan bukan hanya sekedar cinta, tapi juga keyakinan.”
“Aku yakin sama kamu.”
Mentari menggeleng kembali, “Enggak, kamu belum yakin sama aku. Keputusan yang kamu ambil ini cuma keputusan yang muncul disaat kamu lagi ngerasa takut kehilangan dan disaat kamu senang saat tahu aku gak ninggalin kamu atas kasus kemarin.”
Angga diam, hatinya menerima ucapan Mentari namun egonya tidak.
“Ga, aku gak mau menikah dan punya hubungan serius sama laki-laki yang bahkan dia belum yakin sama semuanya.” Mentari menatap lekat Angga. “Aku gak mau menikah hanya karena terpaksa, cuma karena dituntut waktu dan perasaan yang datangnya tiba-tiba. Karena bagi aku, pernikahan itu sakral. Aku mau menikah, sekali seumur hidup. Aku mau menikah sama laki-laki yang memang yakin dan mantap untuk menikah, untuk menjalin rumah tangga. Laki-laki yang yakin sama keputusan yang akan dia ambil.”
“Tar—”
“Sedangkan, kamu sendiri belum yakin sepenuhnya, Ga. Dan, aku gak mau gagal dalam pernikahan aku dan kamu pun pasti gak mau gagal dalam pernikahan.”
Mereka diam akhirnya, sama-sama terbelenggu dengan pikiran masing-masing.
“Terus mau kamu apa sekarang?”
Mentari mendongak, menatap Angga. “Aku mau kamu Acc surat pengunduran diri aku.”
“Dan, kamu akan pergi menjauh dari aku. Begitu?”
“Iya.”
Angga menatap Mentari tak percaya.
“Dengan kita saling jaga jarak, kita akan tahu semuanya. Tentang perasaan kita yang sebenarnya. Tentang kamu yang memang cinta atau obsesi semata sama aku? Kita akan tahu itu semua.”
__ADS_1
“Tar?”
“Lagipula, kalaupun benar nantinya kita berjodoh. Kita pasti dipertemukan lagi, Ga. Jadi, ayo kita berpisah baik-baik.”