
“Seriously? Seorang Angga dan Mentari yang punya julukan couple goals, pasangan yang gak ada yang bisa nandingin. Tiba-tiba putus gitu aja? Seriusan tuh?”
Angga mendongak seketika mendengar ucapan seseorang yang baru saja masuk ke ruangannya tanpa permisi, dia yang hendak marah pun mengurungkan niatnya itu saat melihat siapa yang masuk. Elrumi Dirgantara, seorang anak dari pengusaha properti yang saat ini tengah menjalankan usaha yang sebelumnya dijalankan orangtuanya. Dirga, biasanya orang-orang memanggilnya demikian, terkecuali Angga yang lebih suka memanggilnya El. Antara Angga dan Elrumi sudah seperti keluarga, keduanya berteman dekat, pun begitu dengan kedua orangtua mereka yang juga punya hubungan baik dalam bisnis.
Elrumi terkekeh, dia langsung duduk begitu saja tanpa dipersilahkan. “Seriusan Ga, dengar kabar lo putus sama Mentari tuh kayak lihat SpongeBob bisa bertahan di tempat yang gak berair.” Elrumi mengerutkan keningnya, “Gak mungkin, kan?”
Angga berdecak mendengar ejekan Elrumi, “Mungkin-mungkin aja, toh SpongeBob juga sering kan main ke rumahnya Sandy? Itu gak berair loh tempatnya.” jawab Angga, dia tersenyum lebar yang justru terlihat memuakan dimata Elrumi yang melihatnya.
“Idih! Sok kuat lo! Gue juga tahu kali, lo tuh ini lagi gagal move on kan? Ya, iyalah! Mana ada yang bisa gantiin Tari di hati lo? Gak ada!” Elrumi mengerutkan keningnya, “Lagian, kenapa bisa sih Tari putusin lo? Gue dengar kabarnya sih, lo yang diputusin. Benar?”
Angga menggeleng heran, “Gue gak ngerti deh. Gue bukan artis, bukan public figure yang kehidupannya tersorot kamera, yang orang-orang bisa tahu setiap a day in my life.” Angga mengerutkan keningnya, “Tapi, orang-orang kok bisa tahu segala hal tentang gue?” tanya Angga heran.
Elrumi rasanya ingin menoyor kepala Angga saat ini juga. Namun, terlalu malas untuknya beranjak dari duduknya, dia menatap jengah Angga. “Idih, najis! Lo lupa apa gimana sih? Dari zaman sekolah, kuliah, sampai sekarang lo gak ngerasa lo terkenal? Itu seriusan apa lo lagi nyombongin diri sama gue?” kesal Elrumi, dia berdecak. “Jaman sekolah lo udah jadi ketua tim basket, lo sering ikut olimpade, turnamen. Pas kuliah, lo di pilih buat jadi ketua BEM, sayangnya... Lo gak mau, lo tolak tawaran itu. Dan asal lo tahu, lo udah terkenal itu, segala gerak gerik lo udah banyak yang ngawasin. Ditambah, lo yang gak pernah bahas keluarga tiba-tiba hadir seorang bapak Yogesti Hiro, pengusaha terkenal yang jadi panutan semua orang yang buset nya lagi, dia bokap lo. Gimana gak tambah tersohor tuh nama lo, bapak lo aja modelan begitu.”
Angga tahu itu, karena hal itu pula juga membuatnya tak terlalu terbuka tentang siapa keluarganya. Takut dunia tidak adil saja sebenarnya. Dan, benar saja. Saat semua tahu siapa orangtua Angga, berbagai perlakukan berbeda pun mulai dia rasakan, rasanya jadi lebih diistimewakan, namun juga dibedakan.
“Jadi, kenapa putus?”
Elrumi masih juga menunggu jawaban atas pertanyaan nya.
Angga beranjak dari duduknya, dia berjalan pelan kearah kaca dan menatap gedung-gedung pencakar langit dari sini. “Kenapa pernikahan itu penting?” tanya Angga, dia mengutarakan kebingungan nya.
Dan, justru Elrumi dibuat bingung oleh pertanyaannya itu. “Kenapa lo tiba-tiba tanya itu? Apa ini ada hubungannya sama putusnya lo sama Tari?” tebak Elrumi, dia asal saja.
Angga mengendikkan bahunya, “Gue gak ngerti, apa pentingnya pernikahan itu. Banyak loh, orang yang punya hubungan, mereka pacaran lama dan semuanya baik-baik aja. Eh, pas mereka nikah justru banyak masalah, segala hal jadi salah dan ujung-ujungnya apa? Mereka divorce, hubungannya jadi jelek dan semuanya jadi hancur. Jadi, pernikahan tuh bikin yang udah benar, jadi buyar, hilang malah.”
Ujung bibir Elrumi bergetar, dia tersenyum miris mendengar penuturan yang terlontar dari mulut sahabatnya. “Iya, omongan itu cuma keluar dari mulut orang yang pengecut, yang punya ketakutan berlebih sama yang namanya pernikahan.”
Ucapan Elrumi itu sukses membuat Angga berbalik badan dan menatap bingung pria itu.
Elrumi tersenyum lebar, “Gue tahu, Ga. Lo punya trauma sama yang namanya pernikahan. Gue gak tahu, ya masalah sebenarnya tuh apa. Cuma seharusnya lo gak menilai sesuatu tuh cuma dari satu hal aja. We never know apa yang terjadi sama bokap, nyokap lo sampai mereka divorce akhirnya. Dan, dari situ lo anggap pernikahan itu gak penting, gagal, or like that.” Elrumi terkekeh, “But, lo gak lihat contoh lainnya dimana banyak pernikahan yang sukses tuh. Banyak pasangan yang akhirnya bahagia setelah mereka memutuskan untuk menikah. Banyak... banget. Dan, lo gak bisa lihat itu.”
Angga terdiam mendengar wejangan dari Elrumi yang tak seperti biasanya
Elrumi tertawa, “Aduh, kenapa gue jadi bijak banget, ya? Apa jangan-jangan gue keturunan dari Mario Teguh? Oh my God!”
Angga memutar bola matanya malas saat Elrumi kembali ke mode menyebalkan.
“Udah deh, El. Tujuan lo datang kesini apa sih? Lo cuma mau ngejek gue apa gimana?” kesal Angga, dia menatap malas Elrumi yang justru tersenyum lebar.
Elrumi beranjak dari duduknya dan menghampiri Angga, dia langsung merangkul pundak pria itu. “Sebagai sahabat yang baik, gue cuma mau ajak lo yang lagi galau ini buat have fun.”
“Have fun?”
Elrumi mengangguk, “Yups! Have fun. Jadi, gimana?”
“Have fun gimana?”
__ADS_1
“Lo ikut gue aja deh, biar langsung tahu!”
***
“Tar, thank you banget ya traktirannya. Endul b-g-t.” ucap Vanya, dia tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol. Masih teringat jelas mulutnya merasakan kenikmatan dari makanan yang baru saja selesai mereka santap.
Ayumi menyenggol lengan Mentari pelan, “Sering-sering lah traktir kita kayak gini. Ikhlas kita mah, sumpah, gakpapa deh.” tumpal Ayumi, dia menaikturunkan alisnya sambil menatap Vanya yang langsung setuju dengan ucapannya.
“Ye... Maunya kalian itu mah! Kalian senang, gue yang galau.” balas Mentari, dia mengerucutkan bibirnya yang mengundang tawa Ayumi dan Vanya.
“Mentang-mentang abis putus, bahasannya yang galau-galau mulu, ya.”
“Apaan sih.”
Mereka beriringan memasuki area kantor. Jam istirahat masih tersisa sekitar sepuluh menit dan mereka sudah sampai lebih dulu disini, tujuannya hanya demi Mentari. Tak mau hal yang sama terulang kembali yang berakibat Mentari yang harus menanggung akibat dari apa yang sebenarnya tak sepenuhnya dia perbuat.
“Eh, eh, Pak Angga, Pak Angga!” bisik Ayumi yang seketika menghentikan langkah mereka.
Mentari pun tak munafik, meskipun dia marah dan kecewa dengan Angga atas ucapan pria itu kemarin. Namun, tetap saja, untuk marah dan menjauh dari pria itu, sulit sekali rasanya. Bahkan dengan bodohnya, dia masih saja peduli dengan pria itu disaat jelas-jelas Angga menyakitinya.
“Ayo, ah! Kita lewat sana aja!” ajak Mentari, dia tak mau bertatap muka dengan Angga untuk beberapa saat ini.
“Ah, gak mau! Malas tahu naik tangga darurat, udah sih bentaran doang. Pura-pura gak lihat aja.” ucap Vanya yang dibenarkan Ayumi dan benar-benar dilakukan Mentari. Bahkan, Mentari mencoba menyibukkan diri sendiri sampai akhirnya Angga melintas begitu saja di hadapan mereka tanpa bicara ataupun melirik kearah Mentari.
“Ya Allah... Seriusan tuh?” pekik Ayumi pelan, dia membulatkan matanya setelah melihat secara langsung sesuatu yang begitu langka. Ayumi menatap Mentari, mendekap erat pundak perempuan itu. “Itu si Angga gak melirik kearah lo sama sekali. Itu beneran, Tar?” tanya Ayumi, dia tak percaya.
“Benar-benar langka sih, Yu. Seorang Pak Angga yang terkenal bucin abis sama Tari, bisa tiba-tiba lewat depan pujaan hatinya gitu aja tanpa melirik sedikitpun. Wah, wah, wah...” Vanya menggeleng tak percaya, masih menatap kepergian atasannya yang kini telah memasuki mobil.
“Yaudah sih, wajar aja. Lagian, ngapain ngelirik kearah gue segala. Gak penting juga kan, toh kita udah gak punya hubungan apapun lagi.” jawab Mentari, dia coba untuk bersikap biasa meskipun tidak dengan hatinya.
Ayumi mengangguk-angguk, “Iya sih, udah gak punya hubungan apapun lagi. Tapi, masa iya cinta 7 tahun lamanya itu hilang gitu aja, gak mungkin dong...”
“Iyalah, gak mungkin dong...” timpal Vanya, dia menatap Ayumi. Mereka bertatapan dan berbicara hanya lewat mata.
“Gue gak peduli!” tukas Mentari, dia langsung melenggang begitu saja meninggalkan Ayumi dan Vanya yang terkekeh melihatnya.
“Kita harus buat mereka balikan, Van. Gue bisa lihat, masih ada cinta yang besar diantara mereka tuh. Tapi, ya, gitu. Egonya sama-sama tinggi, gak ada yang mau ngalah.” ucap Ayumi, dia merangkul Vanya yang melipat tangan di depan dada sambil mengangguk-angguk, setuju dengan apa yang diucapkan Ayumi.
***
“Lihat gak lo tadi? Asli, cewek tuh bisa banget, ya tunjukkin muka sok gak peduli gitu. Padahal gue tahu, dia tuh jelas-jelas peduli.” Elrumi tertawa, dia melirik sekilas Angga yang duduk disampingnya, sedangkan dia sedang mengemudikan mobilnya saat ini. “Anjir... Seru banget lihatnya!”
“Apaan sih, lo! Yang kayak gitu seru, aneh!” cibir Angga, dia memutar malas bola matanya.
Masih teringat jelas bagaimana tadi Mentari membuang muka saat bertemu dengannya. Meskipun tadi Angga mencoba tak melihat kearah Mentari, tapi tetap saja ekor matanya bisa melihat sedikit pergerakan perempuan itu. Sekuat tenaga dia mengacuhkan perempuan itu, meskipun berat dirasa.
“Ini kita mau kemana sih? Lo ngajak gue keluar di jam kerja, udah tahu gue tadi banyak kerjaan, malah lo tarik buat pergi ke tempat gak jelas.”
__ADS_1
Elrumi terkekeh mendengarnya, “Lah, lo nya aja mau gue ajak. Ya, gue pikir gak masalah.”
Angga menggeleng heran, “Emang bego gue, mau-maunya diajak gak jelas sama lo.”
“Itulah yang namanya persahabatan, bro. Mau aja diajak bego.”
“Gila! Jadinya kita mau kemana nih?”
“Ketemu Mahes.”
Angga menatap seketika Elrumi setelah mendengar jawaban pria itu. “Mahes ada disini?”
***
“Eh, anjir gue kira lo cuma omdo bilang mau bawa Angga kesini. Eh, ternyata beneran diajak dong."
Yang berucap itu Mahesa Muda Kusuma, teman seangkatan Angga dan Elrumi yang lebih memilih menekuni musik daripada bisnis keluarganya. Mahesa ini tipikal orang yang tak suka diatur, dia hanya ingin hidup bebas tanpa terikat beban apapun. Beruntungnya, orang tua Mahesa tidak mempermasalahkan itu. Toh, apa yang saat ini ditekuni Mahesa bukanlah hal negatif, ditambah sebenarnya bisnis keluarga juga kebetulan sudah ditangani oleh anak pertama keluarga Kusuma, sekaligus kakak dari Mahesa sendiri.
Angga mendengus kesal, dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Apaan sih ini? Tiba-tiba gue ditarik gitu aja kesini? Mau ngapain?” tanya Angga malas. “Lo juga, kok bisa ada disini?” tanya Angga pada Mahesa.
Mahesa tersenyum mendengar pertanyaan Angga, “Gue dengar, lo putus, ya sama Tari?” tanya Mahesa, dia tak berminat menjawab pertanyaan Angga untuknya. “Hebat banget.” sambung Mahesa, dia menaikturunkan alisnya saat melihat Elrumi yang juga tertawa akibat ucapannya.
Lain halnya dengan Angga yang memasang wajah masamnya. “Gila emang gue punya teman, gak ada satupun yang benar.”
“Kenapa putus?”
“Kepo banget sih lo.”
“Biasalah Ma... Nih anak gak mau diajak ribet orangnya. Ceweknya minta serius, eh dianya gak mau.” jawab Elrumi, dia memperjelas semuanya.
Angga dengan cepat menyanggah nya, “Bukan gak mau, tapi gue belum siap.”
“Ah elah, 7 tahun pacaran, belum siap mulu.”
“Itu! Itu tuh, itu dia!”
Angga dan Elrumi mengerutkan keningnya saat Mahesa berucap demikian.
Mahesa mengendikkan bahunya, “Makanya dari dulu gue tuh gak mau punya status apapun sama cewek, apalagi sampai pacaran. Ribet!” ucap Mahesa, dia menunjuk Angga. “Contohnya lo. Apa-apa minta kepastian, apa-apa minta seriusan, mau inilah, mau itulah. Ah, ribet lah cewek tuh kalau punya status. Ngerasa paling berkuasa kali kalau jadi pacar.”
“Belum dapat yang ngeklik aja kali lo, makanya ngomong kayak gini.”
Mahesa tertawa sumbang, “Lo aja udah dapat yang klik, gak siap juga kan? Udahlah, emang ribet punya hubungan tuh.”
“Jadi, lo ajak gue kesini cuma buat ngomongin kalau punya hubungan tuh ribet? Iya?” Angga menghela napas kasar. “Asu!”
“Enggak lah! Justru gue mau bantuin lo. Gue gak rela kalau teman gue ini diputusin. Harga diri, bro! Masa kita cowok-cowok diputusin? Jelek banget.”
__ADS_1
“Bantuin apa emangnya?” tanya Angga, dia malas sebenarnya.