Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep 30. Masih Peduli


__ADS_3

Weekend Mentari diisi oleh sesuatu yang menurutnya tak disangka. Angga yang mabuk dan datang ke rumahnya, bertemu Anita dengan penjelasan yang coba wanita itu berikan, ditambah harus tahu fakta mengenai siapa adik Kelvin. Benar-benar tak pernah menyangka Mentari dengan itu semua.


Dan, sekarang hari pertama di minggu selanjutnya membuat Mentari berharap jika apa yang akan terjadi nantinya akan baik-baik saja.


Helaan napas kasar langsung keluar dari mulutnya saat dirinya baru saja berharap, namun ternyata harapannya langsung pupus seketika saat mobil yang dikendarai nya tiba-tiba berhenti begitu saja.


“Ini, ini? Ini mobil kenapa coba?” Mentari mencebik, dia memejamkan mata kesal. “Padahal baru kemarin masuk bengkel, masa udah mogok lagi aja.” Mentari melepas seatbelt, keluar dari mobilnya untuk memeriksa mobilnya tersebut. Meskipun sejujurnya, dia tak begitu paham dengan masalah mobil apalagi mesin.


“Ya Allah... Untungnya belum keluar ke jalan gede, masih di daerah perumahan. Udahlah, ini mah alamat pakai ojek online.”


Mentari tak mengerti, dia memilih langsung menghubungi nomor montir langganan nya untuk mengurusi mobilnya yang mogok saat ini. Lalu, segera memesan ojek online untuk mengantarnya pergi ke kantor. Dan, dibalik kesialannya masih ada keberuntungan yang mengiringinya. Karena tak butuh waktu lama, ojek pesanannya langsung datang seketika.


“Buru-buru, gak mba?”


“Enggak, mas. Saya gak buru-buru kok, jadi bawa motornya biasa aja, ya. Gak perlu ngebut-ngebut.”


“Oke, mbak. Siap!”


Mentari menikmati perjalanannya menuju kantor. Jarang-jarang dia naik motor, bisa terhitung berapa kali dirinya naik motor dalam satu tahunnya. Alasannya karena dia lebih nyaman atau lebih tepatnya dia dituntut menggunakan mobil untuk segala aktifitasnya. Kalaupun dia naik motor, mungkin itu hanya kebetulan atau terpaksa, seperti sekarang.


“Eh, eh, mas kenapa?”


Mentari terkejut saat motor yang si abang ojeknya menghentikan motornya begitu saja. Dia turun dari motor, kebingungan.


“Aduh, mbak maaf. Ini gak tahu kok tiba-tiba motornya mogok, ya.”


“Hah?”


Baru saja Mentari merasa jika keberuntungan masih mengiringinya dan dia tengah menikmati perjalanannya ke kantor menggunakan motor. Tapi, sekarang apa?


“Terus gimana, mas?”


“Mbak naik kendaraan yang lain aja, ya. Atau, mau nunggu motor saya beres?”


“Waduh, mas kalau saya nunggu motornya beres, saya telat ke kantor.” Mentari mengambil uang untuk membayar ongkos ojeknya. “Yaudah, deh mas. Saya naik kendaraan lain aja. Ini ongkosnya, ya.”


“Yaudah, mbak gak usah full. Saya kan gak anter sampai tujuan.”


“Udah, gakpapa mas. Makasih, ya.”


“Iya, mbak. Terimakasih, ya. Maaf, ya motor saya mogok ini.”


Mentari mengangguk, “Saya permisi, ya.”


Mentari segera bergegas, mencari kendaraan umum untuknya melanjutkan perjalanan menuju kantor. Beruntungnya, jarak kantor tak terlalu jauh. Namun, tidak jika harus berjalan kaki. Dan, rencananya Mentari akan naik taksi saja.


Namun, justru sebuah mobil berhenti tepat didepan Mentari saat perempuan itu tengah menunggu taksi melintas. Dan, Mentari hapal betul dengan pemilik mobil itu.


“Ngapain berhenti segala sih?” gumam Mentari, dia menggerutu dalam hatinya.


Kaca mobil perlahan terbuka, menunjukkan siapa orang yang berada dibalik kemudi mobil tersebut. “Tar, kamu ngapain disini?”

__ADS_1


Mentari diam, tak langsung menjawabnya.


“Tar?”


“Hm, itu motornya mogok tadi, Pak.”


“Motor?”


Mentari mengangguk, “Iya, Pak.”


“Yaudah, ayo naik mobil aku. Kita bareng aja ke kantor nya.”


Waktu masih menjalin hubungan saja Mentari selalu menolak, apalagi sekarang saat status mereka sudah bukan lagi sepasang kekasih. Tentu, Mentari tak akan menerima tawaran itu. “Gak usah, Pak. Makasih. Saya naik taksi aja.”


“Aku nurunin kamu gak di kantor, tapi di tempat biasa.”


Iya, biasanya seperti itu jika mereka pergi ke kantor bersama.


“Enggak, Pak. Gak usah, makasih.”


“Naik sekarang atau aku kasih kamu lembur seminggu full.”


“Apaan sih, Ga?” kesal Mentari. Iya, Angga, benar orang itu dia. Dan, Angga selalu menggunakan kekuasaannya sebagai ancaman.


“Jadi?”


Mentari berdecak, “Yaudah, kamu kasih aja lembur aku seminggu. Aku gak masalah.”


Mentari menggeram kesal, “Ga...”


“Naik!”


“Enggak.”


Angga berdecak pelan, dia bergegas keluar dari mobilnya dan Mentari tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Sehingga Mentari bergegas pergi, menghindar dari Angga. Namun, pergerakan pria itu lebih cepat, sehingga lengan Mentari berhasil ditangkapnya.


“Angga... Lepasin!”


Angga tuli, dia hanya menarik Mentari dan membawanya segera menuju mobilnya, memaksanya masuk.


“Gak mau!”


“Masuk, Tari. Itu belakang udah banyak mobil, macet nanti.” ucap Angga, dibelakang mobilnya sudah mulai banyak kendaraan lain yang berjejer, sudah pasti kemacetan nanti Angga yang ciptakan.


“Aku gak peduli, orang aku gak mau. Udah deh, lepasin!”


“Tari!”


“Eh, mas, mbak. Kalau berantem jangan dijalan dong, bikin macet aja!” teriak pengendara lainnya.


Angga menatap Mentari, “Aku gak akan jalan sebelum kamu masuk ke mobil. Dan, kamu tahu apa yang akan terjadi nantinya.”

__ADS_1


Mentari coba tak peduli, namun melihat bagaimana kesalnya orang-orang dibelakang kendaraan mereka juga bunyi klakson yang tak henti-henti membuat Mentari mau tak mau masuk ke mobil Angga, meskipun dengan decakan juga kekesalan yang ditunjukkannya secara terang-terangan.


Angga tersenyum senang, dia segera memutari mobil dan masuk, namun mengucapkan juga memeragakan permintaan maaf untuk pengendara yang lain. Namun, berterimakasih juga karena dengan itu semua Mentari mau masuk ke mobilnya.


Mobil yang dikendarai Angga pun melaju menuju kantor.


Tak ada obrolan, Mentari diam seribu bahasa. Namun, akhirnya mengeluarkan suara setelah beberapa saat mereka berada dalam satu mobil yang sama.


“Pelan banget bawa mobilnya,” Mentari sih tahu, Angga sengaja melakukan itu.


“Biasa aja,” bohong Angga, dia mendengar Mentari berdecak namun hal itu justru membuatnya tersenyum. “Kamu kok naik motor? Tumen banget.”


Mentari tak menjawab.


“Aku tanya loh,”


“Harus banget aku jawab?” ketus Mentari, dia masih mempertahankan posisi dengan menatap ke jalanan lewat kaca samping.


“Harus lah! Aku bos kamu. Gak sopan banget gak jawab pertanyaan bos.”


Mentari memutar bola matanya jengah. “Mobil aku mogok, makanya aku naik ojol. Eh, ternyata motor ojol nya juga mogok.” jelas Mentari, dia malas-malasan berucap.


Angga terkekeh, dia melirik Mentari.


“Eh, ini ngapain muter? Jauh lagi lah ke kantor.”


“Jalan didepan ditutup, makanya muter.”


Dan, Mentari tahu jika itu hanya alasan Angga saja. Pria itu pasti sengaja memilih jalan yang lebih jauh menuju kantor agar bisa lebih lama bersama Mentari.


“Mobil kamu mogok?” Mentari mengangguk, Angga mencebik. “Kelihatan banget sih kalau tuh cowok kasih kamu bengkel abal-abalan. Masa baru keluar bengkel, masuk lagi.” Angga tersenyum meremehkan.


Mentari mengerutkan keningnya, dia terkejut sekaligus bingung dengan pernyataan yang dilontarkan Angga.


Angga menoleh, terkejut melihat raut wajah yang ditunjukkan Mentari. Namun, dia tersenyum juga karena gemas melihatnya. “Kenapa?” tanya Angga, dia terkekeh. “Benar kan, Bang Abi bawa mobil kamu ke bengkel?”


“Bang Abi?”


“Abimanyu, dia kan yang bawa mobil kamu ke bengkel malam itu?”


“Kok kamu bisa tahu?”


Angga lagi-lagi terkekeh. “Kamu pikir, aku akan biarin kamu pulang sendiri gitu aja kalau lembur?” Raut wajah Mentari berubah seketika. “Aku ada Tari, aku ikutin kamu. Dan, benar aja. Kamu ngeyel malam itu, malah pilih jalanan itu.” Angga terkekeh mengingat keras kepalanya Mentari.


“Bohong, kamu bohong.”


“Bohong?”


“Kalau kamu ada disitu. Kenapa kamu gak bantuin aku?”


“Aku takut kamu marah kalau tahu aku ikutin kamu. Jadi, aku pilih diam dan sembunyi aja. Dan, asalkan kamu tahu aja. Aku juga telpon montir buat datang tangani mobil kamu. Tapi, ternyata keduluan deh.” Angga tersenyum miris. “Mau marah, tapi gimana lagi. Nanti kamu lagi yang tambah marah sama aku.”

__ADS_1


Mentari tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya diam dan memikirkan. Ternyata, selama ini Angga masih mengawasinya. Harusnya dia bahagia tahu jika Angga begitu peduli padanya?


__ADS_2