
“Tara...”
Mentari tersenyum lebar, merentangkan tangannya sebagai penyambutan pada Angga yang kini mendongak menatapnya tak percaya.
Mentari terkekeh, mengangguk-angguk. Dia bersimpuh disamping Angga, menumpu dagu diatas pegangan kursi roda pria itu. “Selamat ulang tahun...” ucap Mentari, senyuman tak pernah luput dari bibirnya.
“Sekarang ulang tahun aku?”
Mentari mengangguk, “Iya.Ya ampun... Masa kamu lupa sih? Ih, ini tuh hari ulang tahun kamu, sayang, Angga ku... Makanya, aku ajak kamu ke taman karena aku udah buat surprise buat kamu. Suka, gak?”
Angga tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya, senyum lebar juga tak luput dari bibirnya. “Ya, jelaslah. Masa iya aku gak suka?” Angga menatap hamparan rumput yang diatasnya sudah dihiasi kain piknik dengan segala printilan nya. “Kamu yang siapin ini semua?”
“Iya, dong. Aku!” Mentari menunjuk dirinya sendiri, menaikturunkan alisnya bangga.
“Gemas.” Tak bisa Angga mengabaikan Mentari ketika perempuan itu terlihat menggemaskan seperti ini, dia mencubit pelan pipi chubby perempuan itu. “Makasih, ya, sayang.”
Mentari mengerucutkan bibirnya, mengusap-usap pipinya yang dicubit Angga. Meskipun sebenarnya tak terasa sakit sama sekali.
“Yaudah, ayo kamu aku bantu duduk dibawah.”
“Di bawah?”
Mentari mengangguk, “Iya, kita lesehan aja. Gakpapa kan?”
“Tapi, kan...” Angga menatap miris kakinya.
Mentari paham, dia langsung mengerti. “Tenang aja. Kan aku gelar kainnya dekat pohon. Jadi, kamu masih bisa nyender nantinya.” ucap Mentari. “Yuk, aku bantu!”
Angga mengangguk, “Sorry, ya, ngerepotin kamu.”
“Enggak lah! Mana ada ngerepotin. Aku justru senang tahu bisa kayak gini. Udah lama, ya kita gak duduk bareng ditanam kayak gini.” ucap Mentari sambil membantu Angga beranjak dari kursi rodanya untuk duduk dibawah, meskipun agak susah karena berat pria itu, namun akhirnya dia bisa juga membawa Angga untuk duduk dengan selamat.
“Makasih, ya, sayang.”
Mentari mengangguk, dia ikut duduk berhadapan dengan Angga. Namun, akhirnya dia beranjak kembali untuk duduk disamping pria itu. “Disamping kamu aja deh duduknya.” Mentari terkekeh.
Angga pun ikut terkekeh, dia mengangguk pelan. Terus memperhatikan Mentari yang kini tengah mengeluarkan semua makanan juga minuman dari keranjang rotan.
“Cobain ini,”
“Noodle?”
Mentari terkekeh pelan, dia mengangguk-angguk. “Iya. Aku sengaja bawa spicy noodle, ayam goreng yang biasa sama spicy, ada sayur juga kok. Terus sama sandwich buah, minumnya lemon tea.”
Angga menggeleng heran, “Niat banget, ya bawa semuanya.”
Mentari mengambil tisu basah, dia mengelap tangannya dengan itu. “Emang, niat sekali aku... Ayo, cobain kamu. Aku gak masukin semuanya kok bumbu pedasnya. Kayaknya gak akan terlalu pedas, jadinya kamu masih bisa makan.” jelas Mentari, dia mengangkat sumpit untuk menyuapi Angga spicy noodle tersebut.
Angga membuka mulutnya, menerima suapan itu. Sambil mengunyah nya, dia mengangguk-angguk. “Iya, gak terlalu pedas. Aku masih bisa makan.”
“Tuh, kan! Ayo, makan lagi. Mau ayamnya?”
Tanpa menunggu jawaban Angga, Mentari mengambil sepotong paha ayam dan menyuapkan nya pada Angga yang langsung diterimanya.
__ADS_1
“Enak kan? Ini aku kemarin gak sengaja ngelewatin tempatnya, keren banget sih tempatnya. Aku penasaran kan, yaudah masuk aja. Yaudah aku coba beli menu signature nya dan ternyata enak ayamnya... Makanya, aku beli lagi deh supaya kamu bisa cobain. Benar kan, enak?”
Angga mengulum senyumnya, dia mengangguk-angguk. Hampir tersedak karena Mentari tak henti-hentinya menyodorkan makanan padanya. Hingga saat perempuan itu akan menyuapi nya kembali, tangannya menahan tangan perempuan itu.
Mentari mengangkat kedua alisnya, “Kenapa?”
Angga mengambil alih sumpit tersebut, mengambil mie tersebut dan menyuapkan nya pada Mentari yang seketika membuka mulutnya saat mie tersebut berada didepan mulutnya.
“Dari tadi aku terus yang makan. Masa kamu enggak.”
Mentari menutup mulutnya, terkekeh pelan. “Aku kan udah pernah cobain semua makanan ini, jadinya aku udah tahu rasanya gimana dan rasanya enak. Jadinya, aku mau kamu cobain, makanya aku suapin kamu terus.”
“Ya, karena aku udah cobain dan emang enak.” Angga menyuapi Mentari kembali yang langsung dimakan dengan lahap oleh perempuan itu, meskipun agak terburu-buru. “Jadinya, kita harus makan berdua.” lanjut Angga, dia menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Mereka sama-sama menikmati makanan tersebut sambil sesekali tertawa dengan berbagai cerita yang terus mengalir begitu saja. Karena banyak cerita selama 3 tahun tanpa perjumpaan yang harus segera mereka utarakan.
“Eh, ini kan kamu kasih surprise ulang tahun aku. Lah, kok ini cake nya mana?”
Mentari tersentak kaget, dia melihat-lihat dan memang tak ada birthday cake untuk Angga. “Lah, iya. Aku lupa gak bawa cake nya juga kesini. Ketinggalan di rumah.”
Kalau biasanya Angga akan mengacak rambut Mentari disaat perempuan itu belum berhijab, maka sekarang Angga hanya mampu berdecak pelan sambil tersenyum gemas.
“Bisa-bisanya lupa, padahal itu intinya.”
Mentari mengerucutkan bibirnya, “Kan aku manusia, wajar kalau lupa.” jawab Mentari.
“Iya, sayang...”
“Yaudah, aku ambil dulu, ya cake nya.” ucap Mentari sambil mencoba beranjak berdiri, namun dia urungkan dan kembali menatap Angga. “Tapi, kamu gakpapa aku tinggal disini?”
“Aku gak mau ngerepotin.”
“Gak ngerepotin lah, sayang. Daripada kamu harus balik ke rumah, terus balik lagi kesini. Kasihan kamu nya, nanti kecapean.”
Mentari berdecak pelan, dia terkekeh mendengar alasan Angga. “Kamu mah, kayak aku jalan berapa kilo aja deh. Orang rumah kamu dekat banget, itu di sana. Gakpapa deh aku aja ambil ke rumah—atau sebenarnya kamu gak mau, ya aku tinggal?”
Angga menggeleng pelan, mengulum senyumnya. “Aku gak papa sayang kamu tinggal, aku cuma gak mau kamu kecapean.”
“Gak capek kok.”
“Yaudah, kamu ambil sendiri, aku tunggu disini.”
“Beneran gak papa kamu sendiri disini?”
“Iya, gak papa kok.”
Mentari beranjak berdiri, “Yaudah, bentar, ya.”
Sambil menunggu Mentari yang mengambil birthday cake untuk Angga, pria itu memilih men scroll ponselnya, mencari sesuatu yang menarik namun tak ada. Hingga waktu berlalu begitu saja, namun Mentari tak kunjung juga kembali membuat Angga memutuskan untuk menghubungi perempuan itu saja.
“Iya, Ga. Ada apa?”
“Kamu dimana, Tar? Kok lama banget ambil cake nya.”
__ADS_1
“Sorry, tadi Bella tanya sesuatu dulu sama aku. Ini aku udah otw kesana kok, bentar lagi nih, udah jalan keluar.”
“Jangan lama-lama, ya. Aku bosen banget ini sendirian.”
“Iya, Ga. Ini juga udah otw, udah keluar rumah nih. Telpon nya aku tutup, ya?”
“Jangan, udah kayak gini aja. Kamu gak ribet kan?”
“Enggak sih, cake nya kan masih di paper bag. Aku bawa sama tempatnya juga.”
“Yaudah, jangan dimatiin telpon.”
“Iya...”
Angga terus memastikan keberadaan Mentari, memastikan jika perempuan itu akan cepat sampai. Dan, senyumnya langsung tercetak lebar saat netranya menemukan keberadaan Mentari di sana yang hendak menyebrang.
“Nih, udah mau nyebrang bentar lagi.”
“Iya, aku lihat kok dari sini. Hati-hati, ya. Lihat kanan, kiri.”
“Apa? Gak kedengaran. Suaranya putus-putus.”
“Kamu hati-hati,”
“Hah? Seriusan, Ga. Putus-putus ini.”
Angga hanya mampu berdecak pelan, tetap tertuju pada Mentari yang belum juga menyebrang. Namun, panggilan masih juga terhubung dengan Mentari yang tak henti-hentinya mengatakan jika suaranya tak jelas, sedangkan Angga mencoba menjelaskan kembali apa yang dia ucapkan.
Sampai pada akhirnya, Angga melihat Mentari yang lengah. Perempuan itu berfokus pada handphone dan kakinya sudah melangkah hendak menyebrang. Sedangkan dari kejauhan, sudah terlihat ada mobil yang melaju kencang.
“Tar, ada mobil kenceng banget itu. Jangan dulu nyebrang.”
“Apa? Gak jelas, Ga ih... Udah, ah. Aku matiin aja, ya?”
“Tar—”
Panggilan diputus begitu saja membuat Angga menggeram kesal, juga cemas.
“Tari!”
Angga mencoba meneriaki nama perempuan itu, namun tak ada sahutan dari Mentari kecuali lambaian tangan juga senyuman lebar.
“Tar, awas ada mobil!” teriak Angga yang tak terdengar oleh Mentari.
Angga melihat mobil itu masih juga melaju dengan kencang dan Mentari belum sadar akan hal itu. Dia rasanya ingin beranjak saat ini juga, berlari ke arah Mentari untuk menyelamatkan perempuan itu. Namun, melihat kakinya yang tak bisa digerakkan membuat dia menggeram kesal.
“Arrgh!”
Angga masih coba untuk menggerakkan kakinya, terus memastikan jika Mentari akan sadar dan baik-baik saja nantinya. Namun, perempuan itu memang tak sadar dan terus melangkah.
Angga masih berusaha menggerakkan kakinya, keringat dingin pun sudah mulai berjatuhan di keningnya. Masih mencoba untuk berdiri dan berlari kesana. Namun,—
“Argghhh!”
__ADS_1
“Tari!”