
Mentari hanya mampu diam terpaku mendengar ucapan Angga, senyum tipis pun dia tunjukkan. Memang benar, mereka saling menyakiti sebenarnya. Tanpa sadar, kesakitan yang mereka rasakan, mereka sendiri yang ciptakan.
“Iya, aku bakalan urusin kehidupan aku sendiri, gak akan ikut campur urusan kamu.” Angga mengerutkan keningnya, “Tapi, itu nanti. Nanti setelah kamu keluar dari sini.”
Angga tersenyum sinis, memutar bola matanya jengah.
“Terserah kamu pikir apa tentang aku. Tapi, kamu pasti juga tahu aku seperti apa.” Mentari menatap lekat Angga, keduanya saling beradu tatap. “Aku gak mungkin biarin kamu hadapi masalah ini sendiri, gak mungkin. Aku bakalan ada sama kamu dan ikuti kasus kamu ini sampai selesai.”
“Terus aku harus anggap ini sebagai apa?” Angga menaikkan sebelah alisnya, “Sebagai rasa kasihan kamu atau apa?”
Mentari mengedikkan bahunya, “Terserah, terserah kamu mau anggap nya seperti apa. Yang jelas, aku gak melakukan ini karena aku kasihan atau simpati sama kamu. Aku cuma mau keadilan aja, aku mau keadilan ditunjukkan. Udah, itu aja.”
Mentari melihat diamnya Angga, dia menatap kado yang sudah dia siapkan semalam. Niatnya yang hendak memberikan kado itu, dia urungkan. Mentari mendongak kembali menatap Angga.
“Yaudah, aku pulang dulu, ya. Kuenya jangan lupa kamu makan.” ucap Mentari sambil beranjak berdiri, dia berniat pergi meninggalkan Angga yang hanya mampu diam menatap kepergian Mentari.
Setelah kepergian Mentari, dia menatap apa yang dibawakan perempuan itu untuknya. Birthday cake. Dan, memori masalalu kembali terlintas di benaknya tentang bagaimana Mentari yang tak pernah absen menyiapkan kejutan di hari kelahirannya.
Flashback On~
“Happy birthday, Angga... Happy birthday, Angga... Happy birthday, happy birthday... Happy birthday, sayangku...”
Angga tak bisa berkata-kata saat dirinya membuka pintu kamarnya justru menemukan Mentari yang memberikannya sebuah kejutan. Padahal jelas sekali, pagi tadi Mentari hanya memberikan ucapan biasa dengan cupcake yang perempuan itu bawakan untuknya. Angga pikir, itu saja sudah cukup. Tapi, ternyata Mentari tak pernah cukup dengan itu, perempuan itu banyak sekali menciptakan kejutan yang tak pernah Angga rasakan sebelumnya.
“Kok diam aja sih? Aku capek nih pegang kue nya, berat. Sini dong, samperin aku nya...”
Angga terkekeh, dia menghampiri Mentari, melepaskan backpack nya begitu saja hingga terjatuh disamping kakinya. Dirinya menatap Mentari yang tersenyum lebar.
“Happy birthday...”
“Kok kamu kesini sih? Tahu kan ini jam berapa?”
Angga tahu Mentari dari keluarga strict parent, jadi dia tak bisa sembarangan membawa pulang-pergi Mentari begitu saja. Ada batasan waktu yang diberikan. Jadi, akan aneh rasanya saat tahu jika Mentari ada dirumah nya sedangkan jam sudah menunjukkan tengah malam.
Mentari terkekeh, dia mengangguk. “Tahu, kok. Tapi, tenang aja. Aku udah izin kok sama ibu, sama ayah juga. Dibolehin, meskipun...” Mentari meringis pelan, sedangkan Angga mengerutkan keningnya.
“Meskipun?”
“Meskipun mereka ikut.”
“Hah?”
__ADS_1
Mentari tertawa pelan, “Iya, ayah sama ibu ikut soalnya mereka khawatir kalau aku kesini malam-malam. Tadinya sih gak dibolehin, tapi akunya maksa. Dan, sebagai syaratnya mereka ikut nganterin. Jadinya, daripada gak boleh sama sekali. Yaudah, aku iyain aja.”
Angga benar-benar dibuat speechless semenjak berhubungan dengan Mentari.
“Terus sekarang mereka dimana?”
“Tadi sih ikut sama aku nunggu dibawah, sama mbak rumah juga. Tapi, aku suruh sembunyi pas denger mobil kamu datang.”
Angga berdecak pelan, dia mengusap lembut puncak kepala Mentari yang membuat perempuan itu mendengus pelan. “Bisa-bisanya kamu suruh ayah sama ibu sembunyi, parah banget.”
“Gakpapa... Udah, ah. Ini cepetan ditiup lilinnya, meleleh tuh ke kuenya. Buruan...”
“Iya, iya.”
Angga meniup cepat lilin tersebut. “Udah kan?”
“Make a wish apa?” Angga menggeleng, sedangkan Mentari mengerutkan keningnya. “Enggak?” Angga mengangguk. “Kenapa?”
“Punya kamu aja udah cukup buat aku.”
Mentari berdecak pelan, mengulum senyumnya mendengar ucapan Angga. Memang ini bukan kali pertamanya Angga mengucapkan kalimat itu, namun tetap saja Mentari tersipu malu mendengarnya.
“Sampe merah banget nih pipi. Tersipu, ya...” goda Angga, dia memainkan gemas pipi chubby Mentari.
Mentari langsung duduk lesehan diatas karpet, diikuti Angga yang duduk bersila disampingnya. Perempuan itu meletakkan kue tersebut.
“Bentar, aku ambil pisau dulu deh.”
Mentari menahan tangan Angga, membuat lelaki itu duduk kembali dengan raut bingungnya. “Buat apa? Potong kuenya?” tanya Mentari yang diangguki Angga.
Mentari tersenyum lebar, menggeleng cepat sambil menggerakkan telunjuknya. “No, no, no... Udah gak zaman ngambil kue dipotong pake pisau.” Mentari beranjak, menuju meja dimana dia menyimpan wine glass dan membawanya kepada Angga. “Pake ini. Jadi, gini deh.” Mentari tersenyum lebar, menunjukkan kue yang dia ambil menggunakan benda tersebut, kini cake tersebut berada didalamnya.
Angga terkekeh, benar-benar tak habis pikir dengan kekasihnya itu.
“Ini buat kamu, ini buat aku.”
“Berdua doang?”
“Iya.”
“Ayah sama ibu?”
__ADS_1
“Nanti aja, nyusul aku kasih nya. ”
“Parah,”
“Biarin,”
“Terus, cuma kue doang nih? Gak ada hadiah lain?”
Tatapan sinis langsung Mentari layangkan mendengar pertanyaan Angga tersebut, sedangkan si empunya justru terkekeh pelan sambil menikmati kue nya.
“Gimana kuenya? Enak, gak? Aku buat sendiri loh... Capek tahu.”
“Masa?”
Mentari mendengus pelan, “Ih, kok masa sih? Serius, aku buat sendiri. Tuh, lihat tangan aku. Kena—eh...”
Mentari lupa jika dirinya segalanya bagi Angga. Dan, Angga tak mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Mentari, termasuk luka bakar kecil yang kini ada dijemari tangan perempuan itu.
“Gak papa, Ga. Orang luka kecil doang juga. Udah, ah...” Mentari menarik tangannya, meminta Angga untuk berhenti cemas berlebihan. Namun, Angga tetap dengan keras kepalanya menahan tangan Mentari, meneliti dengan cermat luka kecil yang perempuan itu miliki.
“Lain kali gak usah bikin kue lagi kalau bikin kamu luka kayak gini, udah beli aja. ”
Mentari memejamkan matanya, membiarkan Angga dengan apa yang pria itu inginkan. Diam dan mendengarkan semua ceramah yang keluar dari mulut Angga hanya karena luka kecil di jarinya.
“Udah?” Angga mendongak, menatap kesal Mentari. “Udah ngomel-ngomel, nya? Kalau udah, ayo kita nikmati lagi kue nya.” Mentari menarik tangannya, mengambil kue miliknya dan menikmatinya.
“Tar—”
“Kalau kamu sayang aku, udah gak usah ngomel-ngomel lagi.”
Angga mendengus, menunjukkan raut merajuk nya.
“Padahal aku udah buat susah payah kuenya, tapi malah dianggurin aja.” Mentari mengerucutkan bibirnya, menyeka ujung matanya seakan ada air mata disana. “Sedih.”
Angga menghela napas kasar, dia tersenyum kembali. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Mentari yang menggemaskan, “Iya, iya aku makan kok. Gemes banget sih.” ucap Angga, tak lupa dia mencubit pelan pipi perempuan itu.
Mentari terkekeh, tersenyum lebar pada Angga.
“Tapi, serius, Tar. Lain kali kalau ada potensi bikin kamu luka pas masak atau bikin sesuatu, udah, mending gak usah. Aku gak suka lihat perempuan aku terluka, aku gak suka kamu kesakitan, aku—”
“Angga... Ih, udah. Buruan dimakan.”
__ADS_1
Flashback Off~
Angga hanya mampu menghela napasnya dengan kasar, masih tetap menatap birthday cake yang dibawakan Mentari tanpa ada niatan untuk menyentuhnya sedikitpun.