
“Lo... Percaya?”
Mentari mendongakkan kepalanya, mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ayumi dengan keraguan itu. “Maksudnya?” ketus Mentari, dia tahu sebenarnya kemana maksud ucapan Ayumi ini.
Ayumi tersenyum kikuk, dia membenarkan posisi duduknya agar mendapat posisi yang nyaman. “Gini loh, Tar. Maksud gue adalah...” Ayumi bingung bagaimana harus menyampaikannya, dia tak mau ada kesalahan pahaman. “... maksudnya tuh... maksudnya—”
“Maksud lo gue percaya kalau Angga gak terlibat kasus itu? Ya! Gue percaya kalau Angga gak mungkin lakuin itu.” potong Mentari cepat, dia menatap lekat Ayumi yang seperti tak enak. “Yu, gue kenal Angga, gue tahu banget dia. Gak mungkin dia melakukan hal serendah itu, gak mungkin Angga lakuin penggelapan dana itu. Gak akan pernah. Lagian buat apa?”
“Ya... Santai dong lo jawabnya. Gue kan cuma nanya doang.”
“Lo emang nanya. Tapi, seakan-akan kalau kepercayaan gue sama Angga itu lo raguin.”
“Gue bukan ngeraguin, gue cuma... gue cuma gak mau lo salah kasih kepercayaan. Gimana kalau ternyata Angga emang terlibat kasus itu? Tar, jumlahnya sampai ratusan milyar. Gimana bisa orang yang gak terlibat tapi bisa keseret gitu aja.”
“Bisa aja! Mungkin Angga dijebak dan gue akan buktiin itu semua. Gue akan minta pengacara terbaik buat tanganin kasus ini.”
Ayumi tersenyum mendengarnya, “Seyakin itu, ya lo sama Angga.”
“Iya! Gue kan udah bilang kalau gue yakin Angga gak mungkin lakuin itu.”
“Ternyata cinta lo emang besar banget, ya. Sampai-sampai lo yakin banget Angga gak salah disaat semua orang justru anggap Angga salah.”
Mentari terdiam seketika, tangannya menggenggam gelas berisikan jus jeruk yang tengah dinikmati nya. “Ini bukan masalah cinta. Tapi, gue emang yakin kalau Angga gak mungkin lakuin itu. Gue percaya dia.”
Ayumi mengangguk-angguk, “Iya, gue serahin semuanya sama lo. Gue cuma berharap, ini yang terbaik dan hasil yang terbaik juga semoga lo dapatin. Semoga... Lo gak kecewa.”
“Gak akan. Angga gak pernah buat gue kecewa.” kecuali keputusannya soal pernikahan.
***
“Maaf, saudara Angga tidak mau bertemu siapapun untuk hari ini.”
Senyum Mentari menghilang seketika, digantikan sendu mendengar ucapan petugas saat dirinya hendak menemui Angga di kepolisian.
__ADS_1
“Tapi, pak—tolong bilangin kalau saya, Mentari yang mau ketemu dia.”
“Maaf, mbak. Tapi, saudara Angga juga memberitahu kalau tidak mau bertemu dengan perempuan bernama Mentari untuk saat ini.”
Mentari menghela napas kasar. Ini sudah hari ketiga dia mencoba bertemu Angga, namun nihil hasilnya. Pria itu tak mau ditemui sama sekali. Padahal niat Mentari cukup baik, dia ingin memberitahu Angga mengenai dirinya yang sudah menemukan pengacara yang cocok untuk membantu Angga dalam kasusnya ini. Namun, jangankan untuk membicarakan hal ini, untuk bertemu saja sulit rasanya.
“Mbak?”
Mentari tersentak, dia menyunggingkan senyumnya. “Yasudah, Pak. Terimakasih sebelum. Tapi, apa boleh saya minta tolong?”
“Minta tolong apa, mbak?”
Mentari menyodorkan lunch box yang dibawanya, “Tolong kasih ini sama Angga, tolong bilangin juga kalau Mentari mau ketemu dia.”
“Baik, nanti akan saya sampaikan.”
“Sekali lagi terimakasih, ya, Pak. Kalau begitu saya permisi.”
Mentari melenggang pergi, meninggalkan kantor kepolisian dengan kekecewaan karena gagal bertemu Angga untuk kesekian kalinya. Mungkin, Angga masih marah atau kecewa dengan keadaan ini sehingga membuat pria itu belum siap bertemu siapapun.
“Bella?”
Bella menghampiri Mentari, mereka berpapasan di parkiran kantor polisi.
“Kak Tari...” Bella langsung memeluk Mentari erat, terisak dalam pelukan Mentari.
“Bell, kamu kenapa nangis?” tanya Mentari cemas, dia mengusap lembut punggung Bella, mencoba menenangkan perempuan itu yang masih terisak dalam pelukannya. “Bell...”
Tak ada jawaban, Bella masih menangis.
“Yaudah, yaudah, kamu ikut kakak aja sekarang.” Mentari melepaskan pelukan itu perlahan, menghapus air mata di pipi Bella. Dia menggiring Bella menuju mobilnya, membiarkan mereka membicarakan masalah ini di mobil.
“Jadi, kenapa?” tanya Mentari saat melihat Bella yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
__ADS_1
Bella masih tersedu-sedu, dia menatap lurus ke depan, menunduk menatap jemarinya yang bertautan. “Kak Tari, kakak percaya kak Angga lakuin itu?”
“Kamu percaya?”
Bella menggeleng, matanya kembali berkaca-kaca. “Bella sama sekali gak percaya, kak. Aku yakin kalau Kak Angga gak mungkin lakuin itu, kak Angga gak mungkin lakuin hal serendah itu.”
Mentari tersenyum senang mendengarnya, “Sama seperti kamu, kakak juga yakin kalau Angga gak mungkin lakuin itu.” ucap Mentari yang membuat Bella menatapnya.
“Kalau begitu kakak mau kan bantuin supaya kak Angga bisa bebas dari tuduhan itu? ”
Mentari mengangguk, “Iya, udah pasti kakak akan bantuin Angga buat keluar. Kakak udah hire pengacara buat handle kasus kakak kamu ini.” Mentari menghela napas pelan, “Sayangnya, sampai saat ini Angga belum mau ditemui. Jadi, agak susah buat ngurusnya.”
Bella menggapai cepat tangan Mentari, menggenggamnya begitu erat. “Aku mohon, kak. Aku mohon sama kakak, bantu kak Angga supaya bisa bebas dari tuduhan ini. Karena cuma kakak yang bisa bantu, Bella gak bisa lakuin apapun.”
“Kenapa om sama tante gak lakuin apapun, Bell? Kenapa mereka kayak pasrah?”
Bella yang tadinya sudah tak menangis, dibuat menangis kembali karena pertanyaan Mentari. Bella menggeleng pelan, “Bella juga gak tahu, kak. Kenapa bunda sama Papa gak mau bantuin kak Angga, Bella juga gak ngerti.” Bella menatap lekat Mentari, “Makanya, Bella mohon banget sama kakak. Bella mohon bantuan kakak.”
Mentari mengangguk, dia membalas menggenggam erat tangan Bella. “Kakak akan lakuin apapun supaya kakak kamu bisa bebas dari tuduhan ini.”
“Makasih, ya kak Tari.” Bella menarik Mentari ke pelukannya, memeluk erat perempuan itu. “Beruntung kak Angga punya kak Tari.”
***
Angga menatap lunch box yang diserahkan petugas kepolisian kepadanya, dia menatapnya cukup lama dan belum ada niatan untuk membukanya. Hingga akhirnya dia membuka lunch box tersebut dan menemukan surat yang terselip didalamnya saat pertama kali membuka.
...*Angga, ini Tari....
...Udah hari ketiga aku coba nemuin kamu, aku pikir kamu udah mau ketemu. Tapi, ternyata masih belum. Aku tahu, kamu kecewa sama keadaan. Tapi, bukan berarti kamu harus terpuruk, kamu ngerasa kalah dan seakan semuanya selesai....
...Gak peduli seberapa banyak orang di luaran sana yang percaya dengan kasus kamu ini, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Ga. Kalau ada aku yang percaya sama kamu. Aku percaya kalau kamu gak mungkin lakuin hal serendah itu. Jadi, jangan pernah merasa gak ada yang percaya kamu, ya. Masih ada aku....
...Aku juga mau kasih tahu kamu, kalau aku udah hire pengacara buat urus kasus kamu ini. Jadi, aku mohon, besok-besok kalau aku mau ketemu, kamu mau, ya. Biar kita bisa bicarain ini semua dan secepatnya kamu akan terbukti gak bersalah. Aku mohon, Ga. Aku mohon sama kamu....
__ADS_1
...Oh, iya. Aku bawain makan siang buat kamu. Aku buat sendiri, kayak dulu. Jangan lupa dimakan, ya. Kamu harus sehat dan jangan sampai sakit supaya kita bisa buktiin kalau kamu gak salah. Jaga kesehatan, ya, Ga....
^^^Mentari*^^^