Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 28 : Tak Punya Hak?


__ADS_3

Belum mengeluarkan kata dan hanya diam, namun tatapan nya tak lepas dari Angga yang masih terlelap. Sebelah tangannya terulur, menyentuh puncak kepala pria itu, menelusuri setiap jengkal wajah pria yang amat sangat dicintainya dan masih tetap menjadi pemenang dihatinya.


“Aku bahkan gak mau sebenarnya kita selesai, Ga. Tapi, gimana lagi? Kamu gak bisa kasih aku kepastian yang jelas, kamu terlalu ngegantung hubungan kita, Ga.” Mentari menghela napas kasar, “Aku cinta sama kamu dan akan tetap seperti itu, entah gimana nanti kedepannya. Cuma yang aku harapkan kita bisa baik-baik aja. Masalah kita berjodoh atau enggak, aku serahin semuanya sama Tuhan.” Mentari menggenggam erat tangan Angga.


Dering ponsel Mentari berbunyi membuat perempuan itu melepas genggamannya, beranjak ke arah jendela kamar dan mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Bella.


“Hallo, Bell.”


“Hai Kak. Ganggu gak aku?”


Mentari menggeleng, “Enggak kok. Ada apa, Bell?”


“Hm... Gini kak. Kan Kak Angga semalam gak pulang tuh, terus Bunda nanya sama aku sedangkan aku gak tahu, kak. Siapa tahu, kakak tahu gitu Kak Angga semalam dimana? Ya... terlepas dari kakak yang sekarang udah putus sama Kak Angga.”


“Iya, Bell. Kakak tahu Angga dimana.”


“Dimana, kak?”


“Di rumah aku.”


“Hah? ”


***


“Kak Angga kok bisa ada disini, kak?” Bella melirik Mentari yang duduk di sampingnya, menatap bingung Mentari sambil menunggu jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan.


“Semalam Angga mabuk,”


Bella tersentak kaget mendengarnya, dia mengerutkan keningnya sambil menggeleng heran. “Tunggu, kak! Kak Angga mabuk?” tanya Bella memastikan, takutnya dia salah dengar.


Mentari mengangguk.


Bella memutar tubuhnya menghadap Mentari, masih dengan raut kebingungan nya. “Tapi, kak. Kak Angga tuh bukan orang yang suka minum. Bahkan yang aku tahu selama ini dia tuh gak pernah mau kalau diajak minum-minum gitu. Jadi, kok bisa sih kak Angga sampai mabuk?” Bella masih penasaran dan tak percaya.


Mentari mengulum bibirnya, dia meringis pelan. “Maafin kakak, ya, Bell.” Bella semakin bingung dengan ucapan maaf yang dilontarkan Mentari. “Karena aku, kakak kamu jadi mabuk.”


“Karena kak Tari? Maksudnya, kak?”


“Kamu tahu kan, Bell aku sama Angga udah putus?”


Bella mengangguk, “Iya dan aku juga tahu gimana gak terimanya Kak Angga. Tapi, kenapa—maksud aku, kok baru sekarang kak Angga mabuk-mabukan? Padahal kan kalian putus udah lama.”

__ADS_1


Mentari mengangguk, “Iya, kami putus emang udah lumayan lama. Tapi, saat itu cuma putus doang. Aku masih disekitar Angga, aku masih ada di kehidupan dia. Meskipun aku minta sama Angga untuk gak ikut campur lagi sama kehidupan aku, biar kita hidup masing-masing aja.”


Bella mendengarkan dengan seksama apa yang Mentari jelaskan, namun dia belum menemukan poin dimana hal tersebut membuat Angga sampai mabuk-mabukan.


“Kak Tari punya pacar lagi?” Hal itu yang terlintas dibenak Bella yang membuatnya berpikir mungkin itu alasan Angga sampai mabuk-mabukan seperti ini.


Mentari menggeleng cepat, “Enggak lah, Bell. Mana mungkin aku punya pacar lagi. Emang, aku yang putusin Angga. Tapi, alasan aku putusin dia bukan karena ada cowok lain atau orang ketiga di hubungan kami. No... bukan itu alasannya. Lagian, aku sama kakak kamu kan pacaran bertahun-tahun dan gak mudah buat aku buka hati buat laki-laki lain.”


“Terus, kenapa kakak tadi minta maaf. Apa karena kakak putusin Kak Angga?”


Jemari tangan Mentari saling bertautan, dia mengangguk. “Iya, salah satunya itu. Aku gak tahu keadaan Angga gimana setelah hubungan kami selesai. Tapi, yang selalu Angga bilang setelah kami putus, dia gak baik-baik aja.”


Bella mengangguk, kakaknya memang tak baik-baik saja sejak hubungan mereka berakhir.


“Dan, aku benar-benar minta maaf. Karena keputusan aku untuk resign dari perusahaan buat dia jadi kayak sekarang.”


Bella semakin terkejut mendengar fakta baru lagi yang diucapkan Mentari. “Kak Tari mau resign dari perusahaan?” Bella menyentuh punggung tangan Mentari, memastikan. “Kak, serius? Kenapa?”


Mentari menghela napas kasar, dia menatap Bella. “Kamu pasti ngerti lah, Bell.”


Bella paham sebenarnya, tapi dia masih tak menyangka. “Tapi, kak. Emangnya resign dari perusahaan itu pilihan yang tepat? Emangnya gak ada cara lain gitu?” Mentari menggeleng.


“Kak, — Aku bukannya mau ikut campur atau sok nasihati lah atau apa itulah. Tapi, gini kak. Aku tahu kakak sama kak Angga, kalian udah gak pacaran, kalian udah gak punya hubungan apapun lagi kecuali sebagai rekan kerja di perusahaan. Tapi, kak. Bukan berarti karena hubungan kalian udah selesai, kakak jadi milih resign dari perusahaan, kak.”


Bella menggeleng, dia tak terima dengan jawaban Mentari.


“Dengan aku pergi menjauh dari kehidupan Angga, mungkin Angga bisa lupain aku dan dia bisa mulai kehidupan barunya tanpa ada aku yang jadi bayang-bayang nya.”


Bella menarik sudut bibirnya, “Kakak pikir mudah? Kak, hubungan kalian tuh bukan hubungan yang baru setahun, dua tahun. Bukan hubungan yang cuma kalian, circle kalian aja yang tahu. Mungkin kakak lupa, aku ingetin kalau orang tua kita, orang tua kak Tari dan orang tua aku udah kenal bahkan dekat udah kayak keluarga sendiri.” jelas Bella, dia mau Mentari mengerti dan memikirkan kembali keputusannya itu.


“Dan, kak Tari bilang kalau dengan kakak pergi itu bisa buat kak Angga lupain kakak?” Bella tertawa sumbang. “Kak, kalian bukan anak kecil, bukan kayak aku yang masih puber ini. Kalian orang dewasa yang udah punya pemikiran matang. Kalian orang dewasa yang gak mungkin berpikir kalau punya hubungan itu mau dijalanin main-main, buat biar punya status doang, kalian gak kayak gitu.”


Bella benar dan Mentari akui itu.


“Dan, buat hilangin memori hubungan kalian yang udah berjalan bertahun-tahun itu bukan hal yang mudah. Jangankan kalian, aku yang kemarin putus sama Kak Bara yang baru pacaran dua tahun aja susahnya minta ampun. Apalagi kalian coba?” Bella semakin menggenggam erat tangan Mentari. “Please lah kak, pikirin lagi keputusan kakak ini. Demi kebaikan kalian.”


Mentari tak menjawab, dia hanya diam dan menatap lekat Bella saja.


***


“Diminum dulu susunya, biar pusingnya agak reda.”

__ADS_1


Angga meringis sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut, dia mencoba beranjak duduk dan menatap bingung Mentari dihadapannya. Dia mengedarkan pandangannya dan terkejut saat tahu dimana dirinya berada kini.


“Kok aku bisa ada disini?”


“Kamu gak ingat kenapa kamu ada disini?”


Angga terdiam, mengingat alasan dirinya bisa ada disini. Gelengan pelan dia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Mentari.


Mentari mengulurkan segelas susu ditangannya, “Yaudah, diminum dulu aja. Nih.”


Angga mengangguk, dia menerima gelas susu tersebut dan meneguk nya beberapa kali, lalu kembali menatap Mentari. “Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa bisa aku ada disini?” tanya Angga, dia butuh jawaban.


“Coba kamu ingat-ingat lagi, semalam kamu pergi kemana dan ngapain.”


Angga kembali memikirkan apa yang dia lakukan semalam. Yang dia ingat adalah dirinya frustasi dengan keputusan Mentari yang begitu keras kepala, lalu datang Maha yang memaksanya ikut pergi ke tempat hiburan malam juga memaksanya menikmati berbagai macam minuman di sana. Kemudian, tidak—Angga tak ingat apapun lagi.


“Ingat, gak?”


Angga mengusap tekuk nya, “Sedikit.”


“Sejak kapan kamu mabuk-mabukan?” tanya Mentari, dia menatap datar Angga.


“Aku gak mabuk-mabukan,”


“Tapi, semalam apa?”


Angga mengedikkan bahunya, “Semalam? Ya, mungkin semalam aku cuma kelepasan doang. Lagian kamu juga tahu kalau aku gak suka minum.”


Mentari menghela napas kasar, “Ga, aku tahu mungkin keputusan aku kemarin ngebebanin kamu. Tapi, pergi ke club karena lagi ada masalah bukan pilihan yang tepat.”


“Aku gak sengaja kok pergi kesana,”


“Terserah kamu, sengaja atau enggak.”


Angga menatap lekat Mentari, “Kamu marah?”


“Siapa aku yang berhak marah sama kamu?”


“Tapi kan kamu paling gak suka kalau aku pergi minum.”


“Iya, aku emang gak suka. Dan, mungkin aku marah besar sama kamu kalau aja kita punya hubungan. Tapi, kan sekarang antara aku dan kamu, kita gak punya hubungan apapun. Jadi, gak ada hak buat aku marah sama kamu.”

__ADS_1


***


__ADS_2