
Terlalu munafik untuk Mentari mengatakan jika dirinya baik-baik saja saat melihat Angga dengan perempuan lain. Apalagi, didepan matanya kini dia melihat bagaimana seorang Angga membukakan pintu mobil untuk perempuan selain dirinya. Dan, apa yang bisa Mentari lakukan jika sebenarnya apa yang terjadi saat ini adalah permintaannya? Diam, maka itu yang bisa Mentari lakukan.
Ayumi menatap Mentari disampingnya yang masih diam terpaku dengan tangan yang masih mencengkram erat setiran mobil. Mereka berangkat ke kantor bersama hari ini dengan Ayumi yang menumpang di mobil Mentari.
“Tar,” Ayumi menyentuh pundak Mentari pelan, tak bertanya apapun.
Mentari menggeleng pelan, “Gue gakpapa kok, Yu. Ini kemauan gue kok, gue yang minta Angga buat cari kebahagiaan nya sendiri tanpa harus ada gue yang ikut campur.” jelas Mentari dengan suara parau, netranya tak lepas dari Angga yang sudah melangkah bersama Amita.
Apa yang Mentari ucapkan adalah kebohongan, mengenai dia yang baik-baik saja ketika melihat Angga dengan perempuan lain. “Lo emang harus baik-baik aja, Tar.” Mentari menatap Ayumi. “Ini yang lo mau, lo yang mutusin hubungan kalian dan lo juga yang minta dia buat menjauh. Jadi, emang lo seharusnya baik-baik aja.” Ayumi mencoba menyadarkan Mentari, berusaha membuat perempuan itu tersakiti oleh keinginannya sendiri.
Mentari kembali terdiam, menatap nyalang ke depan.
“Dan, lo terlalu munafik untuk bilang kalau lo gak baik-baik aja.”
***
Amelia dengan keangkuhannya berjalan memasuki kantor, melenggak-lenggok menuju lift untuk menemui Angga di ruangannya. Namun, tujuannya teralihkan saat netranya menemukan keberadaan Mentari yang tengah berjalan beriringan bersama rekan kerjanya. Rasanya kurang pas bukan jika dirinya tak memberikan selamat atas putusnya hubungan Mentari dengan Angga tempo lalu. Meskipun dia tahu, masih ada cinta untuk Mentari dari Angga, namun dia akan menutup mata akan hal itu.
“Hi!”
Amelia menyapa Mentari yang langsung menghentikan langkahnya, dia tersenyum lebar nan sinis pada perempuan itu.
Mentari sendiri menatap malas Amelia yang menatapnya, sedangkan Ayumi disampingnya terlihat kesal dengan Amelia. Mereka tahu tujuan Amelia menghampiri mereka apa, sudah terbaca jelas sekali.
“Selamat, ya. Akhirnya lo putus juga sama Angga.” Amelia terkekeh, nada suaranya riang sekali. “Akhirnya... Akhirnya Angga sadar juga kalau lo tuh gak pantas buat dia, lo tuh gak selevel sama dia. Dan, emang cuma gue yang selevel dan pantas buat Angga.” Amelia mengedikkan bahunya, angkuh seangkuh-angkuhnya.
Mentari menghela napas kasar, dia malas menanggapinya. Benarkan dugaannya.
“Eh, lo tahu gak sih siapa yang mutusin itu? Udah jelas-jelas Tari yang mutusin nya, udah jelas itu artinya Angga nya mah masih cinta sama Tari. Gimana sih lo!”
Amelia memicingkan matanya, menunjuk Ayumi. “Diam. Gak ada yang ajak lo ngomong. Ngerti?” Amelia menaikkan sebelah alisnya, dia kembali menatap Mentari. “Gue gak peduli siapa yang mutusin, yang jelas lo udah bukan siapa-siapanya Angga lagi. Lo orang lain sekarang. Dan, gue cuma mau kasih tahu aja. Sebentar lagi, gue yang akan gantiin posisi lo, gue yang akan jadi pacarnya Angga, bahkan istrinya.”
Mentari tersenyum mendengarnya, dia mengangguk-angguk. “Good luck, ya! Permisi.”
Amelia mendengus kesal mendengar respon yang diberikan Mentari. Selalu seperti itu, Mentari dengan segala ketenangannya.
“Lo kalah, Tari. Lo kalah. Dan, ini saatnya buat gue rebut apa yang seharusnya jadi milik gue.” gumam Amelia, dia menatap kepergian Mentari dan Ayumi. Dia berdecak, kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Angga.
__ADS_1
Langkah Amelia terhenti saat dia menemukan keberadaan orang asing dimeja kerja yang seharusnya diisi Dellia. Dengan wajah kesalnya, dia menghampiri orang tersebut.
“Lo siapa?” tanya Amelia ketus.
Amita, orang yang dimaksud Amelia mendongak terkejut. Dia mengerutkan kening, “Maaf, anda siapa, ya?” tanya Amita balik, dia beranjak berdiri.
“Gue tanya, lo siapa. Lo ngapain disini?”
“Saya sekertaris barunya Pak Angga, menggantikan mbak Dellia. Mbak sendiri siapa, ya?”
Amelia berohria, dia mengangguk-angguk dengan angkuh. “Sekertaris baru ternyata. Kenalin, gue Amelia, calon istrinya Angga.”
Amita menatap lekat Amelia, memperhatikan penampilan Amelia secara keseluruhan hingga akhirnya dia tersenyum tipis. “Oh, jadi ini mbak Amelia itu. Saya cuma mau kasih tahu kalau Pak Angga saat ini sibuk, dia gak bisa ditemui. Jadi, kalau mbak ada urusan sama Pak Angga, mbak bisa sampaikan sama saya. Tapi, kalau mbak mau ketemu langsung, maaf, gak bisa sekarang.”
Amelia mendengus kesal, tak suka dengan sikap yang ditunjukkan sekertaris baru Angga.
***
“Lihat, Tar. Dia bahkan belum lama pergi ke ruangannya Angga, tapi udah balik lagi aja. Mana mukanya kesal banget.” Ayumi terkekeh, membayangkan sesuatu. “Ketebak banget sih itu kalau abis ditolak mentah-mentah sama Angga.”
“Jadi, Tar kita mau makan siang dimana nanti?”
“Ditempat biasa aja, gue kangen sama sambelnya.”
Ayumi mengangguk-angguk, setuju dengan apa yang diucapkan Mentari. “Sama, gue juga kangen. Hayu lah, gas makan di sana.”
Dan, seperti apa yang sudah direncanakan. Ayumi dan Mentari pergi ke Ayam Terserah, sebuah tempat makan yang menyediakan berbagai olahan ayam juga bebek dengan beberapa jenis sambal yang dibuat.
“Mau apa, Yu?” tanya Mentari, dia melihat-lihat daftar menu.
“Pengen bebek, sambalnya sambal hitam Madura, ya.”
Mentari mengerucutkan bibirnya, bingung mau memilih apa sebagai lauknya. “Mau jeroan, gak? Mau, ya? Gue pengen hatinya, nanti ampela nya lo yang makan.”
“Siap menampung gue mah!”
“Yaudah, ini aja deh.”
__ADS_1
Mentari menuliskan apa saja pesanannya; bebek goreng, ayam goreng, usus, ati ampela, tahu, tempe dengan sambal hitam Madura pesanan Ayumi dan sambal ijo untuk Mentari.
Mentari mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan pelayannya. Namun, dia justru dipertemukan dengan pemandangan yang lagi-lagi membuatnya diam terpaku.
“Tar, kenapa?” Ayumi mengikuti arah pandangan Mentari, ikut terdiam. “Udah, udah, biar gue aja yang pesan. Sini!” Ayumi hendak mengambil kertas ditangan Mentari, namun ditolak perempuan itu.
“Udah, udah, gakpapa. Biar gue aja.” Mentari tersenyum, dia menunjukkan jika dirinya baik-baik saja. “Gue langsung pesan ke depan aja, ya. Lo tunggu disini. Eh, minumnya es jeruk aja, ya?” Ayumi mengangguk pelan, menatap kepergian Mentari.
“Kasihan juga Tari, tapi mau gimana lagi. Bingung juga sebenarnya mau bantuin biar mereka balikan, tapi Tarinya kekeh sama keputusannya. Susah.” Ayumi menghela napas panjang, menggeleng pelan.
“Eh, ketemu kamu disini, Tar.”
Mentari tersenyum saat berpapasan dengan Amita, “Iya, kebetulan lagi makan siang disini.”
“Sama siapa? Sendiri? Bareng aja, yuk! Kebetulan aku juga pergi kesini karena diajak Angga, katanya ayam sama sambel disini enak. Makanya, aku ikut buat lunch disini.”
Mentari tersenyum kikuk, “Iya, disini emang enak-enak. Kamu juga harus cobain sambal ijonya sih, itu juara banget menurut aku.”
Amita tersenyum lebar, dia mengangguk. “Iya, pasti aku cobain. Jadi, kamu mau ikut gabung sama kita?” tanya Amita lagi, dia belum mendapatkan jawaban.
Mentari menggeleng, “Enggak deh, makasih. Aku juga kebetulan sama teman ke sini, gak enak juga kalau harus gabung.”
“Oh, gitu. Padahal gakpapa loh.”
Mentari tersenyum saja. “Yaudah, aku mau pesan dulu.”
“Oh, iya, iya. Aku juga mau kok. Tapi, aku masih bingung, ini Angga pesan apa, ya? Dia keburu ke toilet, ditanya malah bilang terserah.” Amita mengerutkan kening bingung. “Pesenin ayam paha sama sambal ijo aja kali, ya?”
“Bebek aja, jangan ayam. Sambalnya, sambal merah aja, tapi jangan pakai bawang, ya. Dia alergi bawang soalnya.”
Amita langsung terdiam, mengulum senyumnya sambil mengangguk-angguk. “Oke, makasih.”
Mentari mengangguk, dia tersenyum. “Aku duluan, ya mbak.”
“Iya, Tar.”
Amita menatap Mentari dalam diam. Dia masih bertanya-tanya, apa yang membuat Mentari spesial dimata Angga.
__ADS_1