Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 23 : Mentari dan Abimanyu


__ADS_3

“Bisa-bisanya mobil mogok di tempat sepi kayak gini?”


Mentari menghela napas kasar, berdecak pinggang menatap mobilnya yang sejak 5 menit lalu mati begitu saja. Dia mengedarkan atensinya ke semua arah, berharap ada orang yang bisa memberinya pertolongan. Namun, suasana sepi dan hening yang justru dia dapatkan.


“Benar kata Angga selama ini. Harusnya gue ambil jalan yang ramai, meskipun nambah waktu lebih. Daripada ini, sepi banget.” Mentari melirik jam di pergelangan tangannya. “Mana udah malam lagi, minta tolong siapa coba. Gak mungkin juga gue nelpon Angga, kita kan udah bukan siapa-siapa.”


Mentari mengotak-atik ponselnya, mencari dan memilih siapa orang yang bisa dia mintai pertolongan. Namun, sorot lampu mobil yang tertuju padanya membuat dia memicingkan mata karena silaunya. Hingga tiba-tiba mobil tersebut berhenti tepat didepan Mentari. Awalnya dia terkejut sekaligus takut karena merasa asing dengan mobil tersebut, takut terjadi sesuatu nantinya. Namun, saat seseorang keluar dari mobil tersebut, ketakutan itu sedikit menghilang.


“Loh, kamu kok bisa ada disini? Ngapain? Ini udah malam loh, jalanan juga sepi ini.”


“Pak Abi kok bisa ada disini?”


“Saya mau pulang dan gak sengaja lihat kamu disini. Tadinya saya cuma mastiin kalau perempuan yang lagi kebingungan dan sendirian di tempat ini itu kamu. Dan ternyata dugaan saya benar, ternyata emang kamu.” jelas Abimanyu. “Jadi, kenapa kamu bisa ada ditempat ini sendirian?”


“Saya habis lembur dan mau pulang, tapi ternyata mobil saya mogok. Saya mau cari bantuan, tapi belum dapat ini.”


Abimanyu berohria, dia mengangguk. “Yaudah, nanti biar orang saya aja yang urus mobil kamu. Kamu biar saya antar pulang aja. Gimana?” tawar Abimanyu, dia berharap perempuan itu menjawab iya. Namun, ternyata tidak.


“Gak usah, Pak. Nanti ngerepotin.”


“Saya gak merasa direpotkan kok. Lagian, montir mana yang mau urus mobil di jam segini? Udah malam loh ini.” Mentari terdiam, membenarkan ucapan Abimanyu. “Udah, gakpapa. Mobil kamu biar orang saya yang urus, kamu pulang sama saya.”


“Tapi, Pak—”


“Udah, ayo!”


Mentari nampak memikirkan dan dengan segala pertimbangan akhirnya dia mengangguk mengiyakan tawaran Abimanyu. “Yaudah, pak. Iya. Makasih, ya. Maaf saya merepotkan.” Mentari meringis pelan, dia sebenarnya merasa tak enak.


Abimanyu tersenyum senang. “Yaudah, yuk!”


Mentari mengangguk, dia segera mengambil tasnya, mengunci mobilnya dan langsung menuju mobil Abimanyu. Dia masuk bersama Abimanyu yang menunggunya. Dan, apa yang Abimanyu lakukan ini orang-orang biasanya menyebutnya sebagai sikap yang gentleman.


“Saya udah minta anak buah saya buat urus mobil kamu.” Abimanyu melirik Mentari yang duduk disampingnya.


Mentari tersenyum tipis, dia mengangguk. “Sekali lagi makasih, ya, Pak. Maaf banget ini, saya ngerepotin bapak.”


“Apa sih, Tari? Mana ada ngerepotin. Jangan aneh kamu.”


“Tapi, emang ngerepotin Pak. Aturan bapak harusnya udah pulang, ini malah harus antar saya dulu. Mana arah rumah kita beda, jadinya bapak harus putar balik lagi.”


“Gak lah, gak merepotkan sama sekali.” Abimanyu melirik Mentari, dia tersenyum melihat perempuan itu. Tak pernah terbayang sebelumnya bisa satu mobil dengan perempuan itu. “Malah saya senang bisa sama kamu gini.”


Mentari tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan Abimanyu sadar akan hal itu, Abimanyu juga sadar dengan ucapannya yang terlalu frontal.

__ADS_1


Abimanyu berdehem, “Maksud saya. Saya senang bisa bantu kamu. Lagian, saya gak mungkin juga kan tinggalin kamu gitu aja, sedangkan tadi kamu tahu sendiri gimana sepinya jalanan tadi.”


Mentari mengangguk-angguk.


“Saya gak mau terjadi sesuatu sama kamu, Tari.”


***


“Loh, Bang. Kok lo disini? Emangnya kita ada schedule, ya?” Angga menatap bingung Abimanyu yang dia temui di lobby kantornya tanpa sengaja ketika dirinya kembali dari meeting di luar.


Abimanyu beranjak berdiri, menghampiri Angga. Dia melirik sekilas sekertaris Angga yang berdiri disamping pria itu. “Gue emang kesini bukan buat ketemu lo, Ga.”


Angga mengerutkan keningnya, “Terus?”


“Gue mau ketemu salah satu karyawan lo.”


Jawaban Abimanyu itu langsung membuat Angga terpikir akan satu orang, yaitu Mentari. Karena semenjak dia menemukan Abimanyu dan Mentari bersama saat itu, dia tahu jika ada suatu kerjasama yang tengah dijalin keduanya yang entah apa dirinya tak tahu.


Angga melirik Amita, “Kamu langsung ke ruangan aja, Mit.”


Amita yang sejak tadi diam memperhatikan langsung mengangguk, mengiyakan. Dia segera melangkah pergi menuju ruangannya.


Angga menatap Abimanyu kembali, “Lo punya hubungan apa bang sama Tari?” tanya Angga, dia tak mau terlalu lama berbasa-basi.


“Lo kesini mau ketemu Mentari kan?”


Abimanyu terkekeh, “Gue pikir lo gak akan tahu karyawan lo yang satu ini. Tapi, ternyata lo care juga, ya sama karyawan lo. Sampai-sampai lo bisa tahu.”


Angga berdecak, dia memutar jengah bola matanya. “Gue gak mau basa-basi bang. Gue juga yakin Mahes udah tanyain ini sama lo. Jadi, lo gak mungkin gak tahu apa maksud gue.”


Abimanyu mengerutkan keningnya, dia menggeleng heran dan bingung dengan maksud ucapan Angga. “Lo ngomongin apa sih, Ga? Gue beneran gak ngerti.” Abimanyu mengedikkan bahunya. “Mahes emang gak tanya apapun sama gue, bahkan gue belum ketemu dia.”


Sekarang Angga yang bingung, “Bang, minggu lalu gue ketemu Mahes, dia pulang. Gak mungkin lah kalau dia gak nemuin lo, gak datang ke rumah.”


“Gak usah sok tahu lo. Orang dia gak pulang. Jangankan pulang ke rumah, orang rumah aja gak tahu kalau dia balik kesini.” Abimanyu berdecak, dia mengibaskan tangannya. “Udah langsung aja to the point aja.”


“Lo punya hubungan apa sama Mentari?”


“Emangnya kenapa?”


“Dia pacar gue.”


“Hah!?”

__ADS_1


***


Mentari bergegas menghampiri Abimanyu, dia tersenyum lebar pada pria itu yang menyambut kedatangannya dengan senyuman.


“Ya ampun, Pak. Pakai acara diantar segala.” Mentari meringis pelan, dia merasa tak enak pada Abimanyu. “Padahal biar saya aja yang ambil mobilnya di bengkel, gak perlu diantar kesini. Ngerepotin banget ini mah.”


“Enggak lah, gak ada yang merepotkan ataupun direpotkan disini. Lagian, sekalian saya mau ada urusan sama Angga, jadinya saya kesini bawa mobil kamu.” jelas Abimanyu, Mentari tersenyum mendengarnya. “Nih kuncinya.”


Mentari menerima kunci mobilnya yang diserahkan Abimanyu padanya, “Sekali lagi makasih, ya, Pak. Oh, iya, soal invoice nya kalau bapak gak keberatan bisa tolong kirimin ke nomor saya aja. Nanti—”


“Udah, saya udah beresin semuanya.”


Mentari semakin tak enak dengan Abimanyu. “Pak Abi... Jangan gitu lah. Bapak bawain mobil saya ke bengkel aja itu udah cukup, gak usah pake dibayarin segala, Pak.”


“Gak papa lah, lagian bukan masalah buat saya.”


“Tapi, itu masalah buat saya pak.” Mentari mengusap ujung hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. “Udah gini aja, bapak kirim invoice nya nanti saya ganti—”


Abimanyu memilih diam, memperhatikan dengan lekat Mentari yang tak henti bicara masalah pembayaran perbaikan mobil perempuan itu. Seulas senyum terbit di bibirnya melihat bagaimana bibir itu tak hentinya bergerak. Jarang ada perempuan seperti Mentari dan dia akui kalau hanya Mentari perempuan yang berhasil mencuri perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka dan anehnya dia langsung jatuh hati pada perempuan itu.


“Oke, Pak?” Mentari menaikkan kedua alisnya, dia menatap lekat Abimanyu.


“Enggak.”


Mentari mendengus kesal mendengarnya. “Pak Abi mah... Ini saya benar-benar ngerasa bersalah banget, benar-benar ngerepotin sekali saya ini. Ayolah, Pak... Saya ganti, ya. Bapak kirimi nomor rekeningnya ke saya.”


“Yaudah, gini aja. Kamu pulang jam berapa?”


Mentari mengerutkan keningnya, “Sore.”


“Malam ada acara?” Mentari menggeleng, Abimanyu tersenyum lebar dibuatnya. “Nanti malam temenin saya dinner, ya. Kalau kamu bersedia, itu tandanya kamu udah ganti invoice nya. Oke?”


Mentari tak langsung mengiyakan, dia nampak berpikir keras.


“Gimana?”


Demi balas budi. Mentari mengangguk, “Oke deh, Pak.” Mentari mengacungkan jari telunjuknya, mencegah Abimanyu untuk membuka suara. “Tapi,... Saya yang nantinya bayar makan kita. Kalau enggak, saya gak mau. Gimana?”


Abimanyu terkekeh mendengarnya. Mentari memang berbeda.


“Oke.” Abimanyu mengulurkan tangannya, “Deal?”


Mentari tersenyum bingung, namun dia membalas uluran tangan Abimanyu. Mereka berjabatan kini. “Deal!”

__ADS_1


Dan, tanpa diketahui ada sepasang mata yang memperhatikan dengan jelas dan lekat interaksi keduanya. Ada tatapan tak suka yang ditunjukkan, ada kekesalan dari raut wajahnya, namun dia hanya bisa diam, tak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2