Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.46 - Mencari keputusan


__ADS_3

“Eh, seriusan?” Ayumi sampai membelalakkan matanya mendengar penuturan Mentari, pun begitu dengan Vanya yang juga sama tak menyangka nya.


Mentari sendiri hanya mampu menghela napas setelah menceritakan semuanya. Tentang Angga yang tiba-tiba datang setelah 3 tahun lamanya, pria itu yang mengungkapkan rasa kecewanya dan berakhir dengan ajakan untuk kembali bersama.


“Tapi, sumpah demi Allah, Tar. Gue gak kasih tahu Angga sama sekali tentang keberadaan lo disini.” Ayumi menunjukkan tanda peace ditangannya, kemudian menatap Vanya yang langsung gelagapan dibuatnya.


“Eh, ngapain lihatin gue? Gue mana berani bilang sama Pak Angga kalau Tari ada disini. Sumpah, gue gak kasih tahu apapun. Seriusan!”


“Terus, kok bisa Angga tahu Tari di Kota Kuda ini? Pasti ada yang ngebocorin lah dan pastinya lo, bukan gue.”


“Ya, mana gue tahu. Takdir kali!”


Iya, takdir mungkin.


Mungkin memang takdir ingin mempertemukan mereka kembali. Dan, pastinya ada alasan dibaliknya hanya saja belum mereka ketahui atau mungkin sudah tahu tapi berpura-pura tak tahu.


“Terus kok bisa tahu sih?”


“Ya, mana gue tahu...”


Ayumi dan Vanya masih berdebat tentang siapa yang sebenarnya memberitahu keberadaan Mentari disini hingga Angga bisa tahu dan menemui perempuan itu. Padahal kenyataannya, tak ada dari mereka yang memberitahu itu dan Angga tahu sendiri akan hal itu.


“Udah, udah, jangan ribut dong.” Mentari menengahi pertikaian diantara mereka.


Vanya mencebik, menunjuk Ayumi dengan kesal. “Dia nyebelin, Tar. Salahi gue terus padahal sumpah gue gak kasih tahu apapun sama Pak Angga.”


“Lah, terus?”


“Yu, udah, Yu. Stop! Lagian, emang bukan kalian kok yang bikin Angga jadi tahu keberadaan gue disini.” Mentari menghela napas gusar, dia bersandar dengan lemas.


“Terus siapa? Gak mungkin dong lo sendiri yang kasih tahu. Aneh kalau iya.”


Mentari tak menjawab, dia justru menunjukkan satu video yang jadi alasan mengapa Angga bisa tahu keberadaannya. Ayumi dan Vanya bingung, namun tetap menonton video yang ditunjukkan Mentari. Tapi, mereka semakin bingung saat tak menemukan satu petunjuk apapun.


“Apa sih, Tar maksudnya? Gak ngerti gue.”


Mentari menaikkan kedua alisnya, “Seriusan kalian gak menemukan satu petunjuk pun?” tanya Mentari tak percaya.

__ADS_1


“Petunjuk apa? Ini video biasa aja deh perasaan. Review cafe lo aja kok. Lo juga gak ada disini, adanya Arin doang deh.” timpal Vanya yang dibenarkan Ayumi.


“Coba kalian tonton ulang.”


Dan, tetap saja mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Mentari di video tersebut yang membuat Mentari harus menghela napas kasar. Mentari segera mengambil ponselnya, menjeda video di bagian dimana keberadaan nya jadi diketahui oleh Angga.


“Ini, ini gue.”


“Hah?”


Baik Ayumi maupun Vanya terkejut dengan apa yang ditunjukkan Mentari, sebenarnya pun begitu dengan Mentari awalnya. Namun, itulah kenyatannya.


“Buset dah, cintanya Angga sama lo segede apa sih? Sampai-sampai tangan lo yang cuma— bahkan gak keliatan full, cuma ngeliatin 3 jari doang bisa buat Angga tahu kalau ini tuh lo.” Ayumi menggeleng heran, tak percaya.


“Ini tuh namanya takdir. Mau sejauh apapun lo pergi, berapa lama pun lo gak kasih kabar apapun itu. Dan, Angga masih tetap ngenalin lo padahal udah ada yang berubah dari lo.”


Iya, Mentari sudah berhijab kini. Perempuan itu memutuskan mantap berhijab setahun belakangan ini.


“Ditangan gue itu ada cincin, dimana cincin itu kado dari Angga. Gaji pertama dia setelah kerja beneran di perusahaan dia pakai buat beli cincin itu.” jelas Mentari, dia menatap jemarinya yang masih tersemat kan cincin tersebut.


Ayumi tersenyum miris, “Dan, lo masih pakai cincin itu disaat lo sendiri udah memutuskan buat gak lanjut hubungan sama dia. Tar, are you okay? Lo masih waras kan?”


Ayumi tertawa sumbang, “Kocak.”


“Gue juga gak sadar, ternyata setelah semua hal tentang Angga gue singkirin, masih ada aja yang jadi kenangan cowok itu di gue. Cincin loh, gue pake, gue kerasa ada barang ini di jari gue. Tapi, gue sadar itu dan tetap aja pake seakan gak ada apa-apa itu.”


Ayumi menghela napas, dia memejamkan matanya sejenak. “Padahal bukan gue yang alamin masalah ini. Tapi, masalah lo yang satu ini benar-benar nyangkut di otak gue, gue gak bisa kalau harus bodo amat. Tetap aja gue pikirin.”


Mentari terdiam.


Ayumi membenarkan duduknya, sedikit mencondongkan tubuhnya. “Gini aja deh. Gue tanya sama lo, lo pengennya apa? Lo mau kedepannya gimana sama Angga? Apalagi udah jelas banget kalau Angga masih cinta sama lo sampai sekarang dan dia minta balikan kan sama lo. Jadi, lo maunya apa?”


Mentari masih diam, dia bingung harus menjawab apa. Rasanya, lidahnya kelu.


“Lo masih cinta sama Pak Angga?” tanya Vanya yang masih tetap membuat Mentari diam.


“Lo harus ambil keputusan, Tar. Ini bukan cuma tentang lo saat ini, tapi tentang kalian. Jangan sampai karena kalian masih plin-plan, kalian jadi buang-buang waktu gitu. Kalau masih cinta, bilang, gak perlu gengsi. Dan, kalau emang udah gak bisa bareng lagi, tegasin alasannya dan coba kasih pengertian. Karena gimana pun, lo sama Angga tuh, kalian berhak bahagia. Bukan malah tersiksa sama sesuatu yang gak pasti.”

__ADS_1


***


“Kok lo bisa tahu sih kalau itu emang Tari?”


Elrumi baru saja mendengarkan cerita Angga tentang pria itu yang akhirnya bisa menemukan keberadaan perempuan yang selama menghilang, lebih tepatnya pergi menjauh tanpa kabar. Dan, Elrumi jadi saksi bagaimana seorang Angga benar-benar rapuh, tak berdaya tanpa ada Mentari di kehidupan pria itu.


“Dia pakai cincin yang pernah gue beliin dan cincin itu limited, gak di produksi banyak saat itu. Jadi, gue cari tahu dan ternyata benar dugaan gue, itu emang Tari.”


Elrumi menggeleng tak percaya mendengarnya. “Gila sih, segitunya lo sama Tari. Emang gede banget kayaknya cinta lo sama dia.”


“Bukan kayaknya, emang itu kenyataannya. Dari dulu sampai sekarang, cinta gue buat dia gak pernah berubah apalagi berkurang. Meskipun kita udah lama pisah, tapi rasanya masih sama. Gue masih menggebu-gebu setiap kali ketemu dia.” Angga tersenyum saat bayangan Mentari yang terakhir ditemuinya sungguh berbeda. “Dia bahkan lebih cantik dengan hijabnya.”


Bola mata Elrumi membulat sempurna. “Eh, dia pakai jilbab sekarang?”


“Ya.”


“Wah, ini sih biasanya kalau udah kayak gitu, udah gak mau lagi kalau diajak pacaran. Pasti pengennya langsung dihalalin, dinikahin. Ini mah udah gak ada kesempatan buat lo balikan sama dia, Ga.”


Angga terkekeh pelan, “Kata siapa?”


“Ya, dia gak mau pacaran. Dia maunya komitmen yang serius, married.”


“Iya dan gue yang bakalan kasih komitmen yang serius itu. Gue bakalan nikahin, Tari.”


Elrumi semakin dibuat terkejut mendengarnya. “Ga, serius?”


“Iya. Gue gak mau kehilangan buat kesekian kalinya. Dan, gue rasa kehilangan Tari 3 lamanya udah cukup, udah cukup selama itu aja Tuhan kasih gue karma. Gue gak mau hal yang sama terulang lagi.”


“Ga, ini pernikahan loh. Sesuatu yang paling gak pernah lo terima.”


Angga tersenyum simpul, dia beranjak dan berjalan kearah pagar pembatas rooftop. Dia menatap lurus ke depan, “Itu dulu sebelum gue belajar banyak hal. Dan, gue yakin, pernikahan yang bakalan gue jalanin sama Tari nantinya bukan pernikahan yang selama ini gue takutin. Gue yakin, gue yakin sama Tari.”


Sekuat itu keyakinan Angga.


Elrumi tersenyum lebar, dia menghampiri Angga dan merangkul pria itu. Ditepuk nya pelan pundak Angga, “Gue percaya sama lo. Gue berharap, ini keputusan yang tepat dan lo bisa bahagia sama keputusan lo ini.”


Angga menatap Elrumi, dia terkekeh.

__ADS_1


“Nah! Kalau lo beneran nikah sama Tari. Lo harus cariin gue jodoh juga. Gue gak mau dong, jomblo sendirian, ya, meskipun ada Abimanyu, tapi... ogah, ah! Gue juga pengen kali ngerasa... bahagia? Itulah, intinya gue...."


__ADS_2