Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.53 - I love you (Kenapa Putus?)


__ADS_3

Pertemuan dan perpisahan mungkin adalah sesuatu yang sudah pasti akan terjadi dalam kehidupan. Entah itu memberikan efek yang positif ataupun negatif, pasti tetap saja akan terjadi dua hal tersebut.


Mereka bertemu saat masih usia remaja, bertemu dalam keadaan masih sama-sama mencari pendewasaan. Tak ada cinta sebelumnya, namun karena kuasa-Nya. Rasa cinta itu muncul pada akhirnya, meskipun harus diawali dengan keterpaksaan sebelumnya.


Menjalani hubungan yang bertahun-tahun lamanya, segala lika liku menyertai kehidupan mereka. Hingga pada akhirnya, perpisahan pernah mereka rasakan dan tentu rasanya begitu menyakitkan saat harus berpisah dengan orang yang dicinta hanya karena satu masalah. Meskipun pada akhirnya, semesta kembali mempersatukan mereka. Dan, lagi-lagi mereka diuji oleh sang penguasa.


“Kamu kenapa pergi sih, Tar? Kenapa ninggalin aku coba?”


Angga hanya mampu menatap pilu potret Mentari pada album foto ditangannya, dia menghela napas kecewa.


“Gak tahu gimana jadinya aku tanpa kamu, Tar. Apa aku masih bisa atau enggak?”


Ditinggal Mentari pergi benar-benar menjadi hal yang paling tidak Angga sukai atau bisa dibilang dia benci. Harus menjalani kehidupan tanpa Mentari disampingnya adalah hal yang tak bisa Angga lakukan. Namun, Mentari yang sekarang sudah pergi tak bisa Angga cegah atau minta untuk kembali. Karena pada akhirnya—


“Sayang... Aku pulang!”


Mendengar teriakan dari suara yang paling dia rindukan membuat Angga cepat-cepat beranjak dari duduknya, berjalan cepat menuju sumber suara dan langsung memeluk seketika si empunya.


“Eh, eh, eh, kok langsung peluk aku sih?”


“Kamu lama banget perginya, aku kangen tahu.”


Mentari terkekeh dibuatnya, dia mencoba melepaskan pelukan itu, namun justru Angga semakin mengeratkan nya. “Apa sih, Ga kamu ini? Orang aku pergi semalam doang juga. Lebay deh kamu, kayak ditinggal aku lama banget.”


“Semalam itu lama, Tar buat aku. Semalam aku gak bisa tidur karena gak ada kamu, gak ada yang bisa aku peluk.”


Mentari memutar jengah bola matanya, “Mulai deh lebay nya. Mulai dramatis lagi nih.”


“Bukan lebay, Tar. Orang—”


“Udah, ah. Lepasin dulu pelukannya. Ini aku pengap tahu, baby nya kamu tekan gini.”


Cepat-cepat Angga melepas pelukannya, menatap cemas perut Mentari yang sudah begitu besar dimana ada benihnya yang tumbuh di sana.


Angga bersimpuh, menyejajarkan wajahnya dengan perut Mentari. “Sayang, kamu ke himpit, ya? Ya, ampun... Maafin Ayah, ya, sayang. Ayah gak sengaja.” ucap Angga, dia mengusap pelan perut itu.


Mentari tersenyum tipis dibuatnya, “Iya, Ayah. Aku maafin, tapi jangan gitu lagi, ya.” balas Mentari, menirukan suara layaknya seorang anak kecil.


Angga tersenyum, mendongak menatap Mentari. “Iya. Tapi, bilangin juga sama Ibu, jangan tinggalin ayah terus, ya. Ayah kan gak bisa kalau harus jauh-jauh dari ibu.” tukas Angga, dia terkekeh pelan.


Mentari berdecak, dia segera melepaskan pelukan Angga dan berlalu menuju sofa untuk mendudukkan dirinya. Berdiri lama dengan perut yang sudah lumayan besar, ternyata melelahkan.


“Yang hamil siapa, yang manjanya siapa.” Mentari menggeleng-geleng.

__ADS_1


Angga mengerucutkan bibirnya, dia terus mendekatkan tubuhnya pada Mentari, tak peduli jika perempuan itu risih atau protes, dia tetap melakukan itu.


“Ga, gerah banget, ih. Aku baru nyampe loh, dari luar ini, kotor, bau keringet. Gak jijik apa kamu.”


Angga menggeleng, dia tak peduli dan semakin menyusupkan wajahnya ke celah leher Mentari yang tertutup hijab. “Gak ada bau keringet, kamu wangi terus.”


“Bisa aja ngomongnya, manis banget.”


“Seriusan!” Angga terkekeh, dia mengusap lembut perut buncit Mentari. “Iya kan, sayang? Ibu kamu tuh wangi terus, gak pernah ada baunya.” ucap Angga, meminta persetujuan pada anaknya yang masih didalam kandungan.


“Ada-ada aja.”


“Serius.”


“Iya, deh. Tapi, Ga. Mau tahu sesuatu, gak?”


Angga menaikkan kedua alisnya. “Apa?”


Mentari tersenyum lebar, dia mengusap-usap lehernya, memberikan kode yang langsung dimengerti. Angga terkekeh, beranjak cepat sambil mengangguk.


“Ah, iya, aku lupa. Tunggu sebentar, ya, aku ambilin kamu minum dulu.”


Mentari terkekeh, dia mengangguk. “Makasih, ya, suami... i love you!”


Mentari mendongak, menyimpan ponselnya disampingnya dan tersenyum lebar mendapati perlakukan demikian. “Terimakasih suamiku...”


“Kasihan, istriku ini pasti haus banget, ya.”


“Iya, lapar juga.”


“Parah emang Ayu, dia gak kasih kamu makan.”


Mentari terkekeh, “Sebenarnya bukan karena Ayu gak kasih aku makan, lebih kek akunya aja yang gak mau makan di sana.”


“Kenapa, sayang? Mual? Atau, makanannya gak cocok sama kamu?”


Mentari menggeleng.


“Terus?”


“Gak ada kamu. Aku keinget kamu terus semalam. Kamu udah makan belum, bisa tidur apa enggak, tidurnya nyenyak, gak. Aku keinget kamu terus, Ga...”


Angga ternganga sebelumnya, ternyata apa yang dia rasakan juga Mentari rasakan semalam. Dia terkekeh pelan, merangkul pundak Mentari.

__ADS_1


“Terverifikasi bucin parah sih kamu sama aku.”


“Emangnya kamu enggak? Lebih bucin kamu kali. Buktinya, aku baru datang aja tadi, kamu langsung peluk-peluk aku, cium-cium aku. Hiehh... Kamu yang bucin parah sama aku. Ngaku deh, ah.”


Angga tersenyum, dia mengangguk dan tak mengelak. Ditatap nya lekat Mentari yang semakin berisi dari hari ke hari karena kehamilannya.


“Iya, aku bucin parah sama kamu. Buktinya, udah sepuluh tahun lebih pun, perasaan aku sama kamu, masih sama. Masih sama seperti dulu.”


Mentari balas menatap Angga, diusap nya halus rahang Angga yang kini sudah ditumbuhi beberapa anak rambut di sana. “Makasih buat pengakuannya, meskipun aku tahu, perasaan kamu akan berubah nantinya. Karena aku yakin, nanti cinta kamu gak akan seutuhnya untuk aku.”


Angga mengerutkan keningnya dalam, dia menggenggam erat tangan Mentari di pipinya. “Kata siapa?” tanya Angga tak suka. “Sampai kapanpun, cinta aku buat kamu, gak akan berkurang, malah makin hari, makin tambah.”


“Yakin?”


“Yakin!”


“Jadi, baby nya gak akan dapat cinta dari ayahnya gitu?” Mentari Mengerjap-ngerjapkan matanya, seakan tengah sedih saat ini sambil mengusap miris perut buncit nya.


Ah, Angga tahu sekarang maksud ucapan Mentari. “Dasar, ya. Bisa-bisanya ngeraguin cinta aku. Dasar...”


Mentari terkekeh, mencoba menepis klitikan Angga di perutnya.


“Angga, geli, ih!”


“Siapa suruh jailin aku?”


“Becanda. Udah, ah, geli...”


Angga tak berhenti, masih terus menggelitik Mentari sampai posisi mereka saat ini terlentang diatas sofa. Ucapan syukur, senyuman tulus juga tatapan lekat, Angga tunjukkan untuk Mentari.


“Makasih, ya, Tar udah bertahan sampai sekarang. Makasih udah mau kembali dan sama-sama lagi, meskipun banyak hal yang harus kita lalui. Tapi, kamu harus tahu, aku sangat-sangat bersyukur bisa mencintai dan dicintai perempuan seperti kamu. I love you.”


Mentari menatap haru Angga, dia tersenyum dengan tatapan mata yang tak bisa berbohong. Segala hal telah mereka lalui dan berapa bersyukurnya mereka bisa melewati itu semua.


“I love you too.”


Angga terkekeh, dia membantu Mentari untuk duduk. Kasihan perempuan itu harus terlentang dengan perut yang sudah membesar, pasti rasanya pengap bukan main.


“Kalau dipikir-pikir, kenapa dulu kita—kamu sih aslinya. Kenapa Putus coba? Kenapa kita harus putus?”


Mentari terkekeh jika mengingatnya, “Ya, kamu tahu sendiri lah alasannya apa.”


“Iya... Tapi, Kenapa Putus?”

__ADS_1


__ADS_2