Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 15 : Sekertaris Pengganti? (1)


__ADS_3

Mentari diam terpaku menatap Angga di hadapannya, untuk beberapa saat dia menyiapkan hati dan perasaannya, disaat sudah siap dia kembali melangkahkan kakinya. Bagai orang asing yang tak pernah punya cerita, mereka saling melewati tanpa sedikitpun bertegur sapa. Jangankan bertegur sapa, hanya untuk melirik saja tidak. Menjadi orang asing sepertinya sedang mereka lakukan.


Mentari tersenyum miris, tak pernah menyangka dia akan ada diposisi seperti ini. Padahal jika dipikir-pikir, kisah cinta yang berjalan 7 tahun lamanya dengan segala hiruk-pikuk masalah yang sudah dilewati bisa membuat mereka berakhir bahagia, tapi ternyata ada satu permasalahan yang justru membuat mereka berakhir seperti sekarang. Pun, begitu dengan Angga yang tak pernah menyangka jika kisah cintanya tak seperti yang dia bayangkan. Mentari justru mengakhiri hubungan yang sudah terjalin lamanya itu hanya karena masalah yang menurut Angga sepele—tidak, sebenarnya dia hanya butuh waktu saja untuk bisa mengambil keputusan besar itu, sekaligus meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja.


Mentari sampai di ruangannya, langsung menuju tempatnya dan duduk di sana. Dia langsung membuka laptopnya, mengecek mail box untuk memastikan jika tak ada pesan penting yang terlewatkan. Dan, memang tak ada. Dia justru ditemukan dengan pesan yang sering dikirimkan Angga padanya lewat mail tersebut.


“Tari... Kangenn...”


“Makan siang di kantor aja, ya sayang. Di ruangan aku atau kamu? Aku sih pengennya nyamperin kamu, tapi kamu suka marah kalau aku kesana.”


“Yang... Buka handphone, kerja mulu.”


“Gak ngerti, kenapa kamu bisa secantik ini? Fotonya aja udah cantik, apalagi ketemu langsung.”


Mentari tersenyum miris, 7 tahun lamanya dan dia hubungan itu harus berakhir. Benar-benar sulit rasanya, terlalu banyak cerita dan memori yang dimiliki. Namun, untuk kebaikan semuanya memang seperti ini jalan yang harus dilakukan.


“Eh, eh guys tahu gak sih?”


Swari yang baru saja sampai diruangan langsung membuat heboh, membuat semua mata tertuju padanya. Memang sih, biasanya jika ada info terbaru, Swari lah yang paling cepat tahu dan menyebarkan info tersebut. Anak-anak kantor bilang, Swari ini biangnya gosip.


“Apa Swar?”


“Mbak Dellia mau resign dan katanya pak Angga lagi cari sekertaris baru. Heboh gak tahu?”


Semuanya terkejut mendengar berita itu, tak terkecuali Mentari sendiri. Terakhir bertemu Dellia, tak ada obrolan yang menjurus pada rencana resign yang akan dilakukan Dellia. Karena itu pula, Mentari terkejut.


“Dan, gue sih yakin pasti gue yang akan dipilih pak Angga buat jadi sekertaris nya. Ya, secara di tim ini yang paling kompeten tuh gue. Yang paling bisa diandalkan kan gue.”


Semua yang tadinya peduli dengan ucapan Swari jadi acuh. Mereka memilih kembali menyibukkan diri dengan aktivitas sebelumnya.


“Idih, percaya diri banget lo.” Ayumi yang baru datang dan mendengar ucapan Swari mendengus kesal, dia melenggang melewati perempuan itu dan menatapnya sinis. “Kalau emang benar Pak Angga lagi cari sekertaris baru, udah jelas lo gak akan masuk ke kandidatnya. Secara, kerja lo tuh gak becus, banyak ngedumel nya, banyak nyuruh-nyuruh orang. Yang ada Pak Angga pusing sendiri punya sekertaris modelan lo.”

__ADS_1


Swari menatap tajam Ayumi, sedangkan yang ditatap tersenyum sinis.


“Semua orang dikantor juga tahu kali kalaupun Pak Angga pilih orang buat jadi sekertaris dia dari tim kita, udah jelas pilihannya itu jatuh sama satu orang. Dan, gue gak perlu kan kasih tahu lo. Kalau lo cerdas, lo udah tahu siapa orangnya.”


Semua mata melirik Mentari jadinya.


“Udah, ya gue malas ngomong lagi sama lo. Belum sarapan nih gue, jadi agak lemas dikit. Sorry, ya kurang ngegas gue ngomongnya.” Ayumi tersenyum lebar pada Swari dan langsung hilang senyuman itu saat dia melenggang menuju mejanya. Namun, dia terkekeh pelan saat melihat tatapan dari teman-temannya.


Ayumi tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya saat matanya bertemu Mentari, sedangkan perempuan itu sendiri hanya menggeleng heran melihat tingkahnya.


“Nyebelin sih, Tar dia jadi orang. Jadi, gemas gitu kalau gak diladeni mulut ember nya itu.”


“Iya, gue juga sama gemasnya kayak lo. Tapi, gak usah gitu juga kali. Keliatan banget gak akurnya.”


“Lah, emang gue gak akur sama dia. Lagian, semua orang juga udah tahu kali.”


Mentari berdecak, “Terserah lo lah.”


“Jadi, berita itu beneran, ya mbak?”


Dellia terkekeh mendengar pertanyaan Mentari, dia mengambil jus jeruknya dan menyesap minuman itu. Kemudian kembali menatap Mentari dan kedua teman perempuan itu bergantian. Kebetulan, saat ini dirinya ikut bergabung makan siang bersama mereka. “Kamu pikir bohongan gitu? Becanda? Ya ampun, Tari... Masa iya sih.”


“Ya, aku pikir itu belum benar-benar valid gitu. Soalnya terakhir kita ketemu kan, kayaknya mbak gak ada rencana mau resign gitu. Makanya, pas dengar berita itu antara kaget sama gak percaya sebenarnya.” jawab Mentari.


Dellia mengangguk-angguk, “Sejujurnya, ini keputusan adalah keputusan berat yang udah aku pikirin dari lama banget, bahkan mungkin sejak aku menikah. Karena sejujurnya, sejak sebelum menikah, suami ku udah minta aku untuk gak kerja nanti nya. Tapi, karena akunya gak mau dan tetep mau bekerja, jadi permintaan suami ku ini gak aku turutin.”


Mentari, Ayumi dan Vanya mendengarkan dengan seksama cerita Dellia.


“Awal-awalnya fine-fine aja, bahkan sampai punya Raja yang sekarang udah umur 7 tahun, ya masih oke-oke aja. Sampai puncaknya kemarin pas Raja sakit, itupun dia sakit karena mogok makan dan ngambek sebab aku gak bisa datang ke acara di sekolahnya.” Dellia selalu merasa sedih dan bersalah jika mengingat itu. “Anakku, dia nangis kejer, lama... banget. Dan, aku baru pertama kali dengar anakku ngomong kayak gitu dengan tatapan yang benar-benar bikin nyes gitu dihatiku. Makanya, aku memutuskan buat resign dari kerjaan.”


“Sorry, mbak. Kalau boleh tahu, emang Raja ngomong apa?” tanya Ayumi, dia mewakili rasa penasaran yang lainnya.

__ADS_1


Dellia tersenyum miris. “Kenapa ibu teman-temannya bisa antar, jemput teman-temannya sekolah, ibu mereka bisa hadir terus diacara sekolah, sedangkan ibu gak bisa. Katanya, teman-temannya suka cerita kalau pulang sekolah ibunya suka bikinin mereka makan siang yang bentuknya lucu-lucu, kalau malam suka dibacain cerita dongeng. Sedangkan, ibunya Raja gak pernah kayak gitu. Antar jemput sekolah sama supir, kalau makan disiapin mbak, mau tidur pun, mbak yang nemenin. Ketemu ibu katanya setiap pagi doang, itupun pas mau berangkat kerja. Tapi, kalau Raja sakit, ibu selalu ada. Kayaknya...” Dellia menghapus air mata di sudut matanya, “... Raja pengen sakit aja, biar ibu selalu ada. Ibu, jangan kerja lagi dong. Di rumah aja, jadi ibu rumah tangga, kayak ibunya teman Raja.”


Jangankan Dellia, mereka yang mendengar cerita nya saja sudah dibuat berkaca-kaca. Mereka juga bisa merasakan apa yang dirasakan Dellia saat anaknya sendiri mengutarakan keinginannya. Hati mereka terenyuh mendengarnya.


“Gimana aku gak sedih coba kalau anakku sendiri aja bisa ngomong kayak gitu.”


Mentari mengusap lembut pundak Dellia, “Kita bisa ngerasain gimana perasaan mbak waktu Raja ngomong gitu. Mbak hebat bisa ambil keputusan ini karena kita tahu, gak semua wanita karir yang udah terbiasa kerja melepas kerjaan mereka gitu aja. Mungkin kedengarannya berlebihan, tapi emang sesusah itu sebenarnya.”


“Mbak Dellia hebat sih, bisa melepas kerjaan yang udah bertahun-tahun mbak jalani. Pasti rasanya berat. Tapi, apa boleh buat? Toh juga demi kebaikan semuanya.” timpal Ayumi, dia berdecak kagum.


“Kakak iparku juga kayak mbak gini. Katanya, kalau gak ada yang mau ngalah, ya, pasti gak akan bisa sesuai gitu. Katanya, semenjak udah resign kerja, dia jadi bisa lihat tumbuh kembang anaknya. Dulu mah pasti masih kerja, rasanya anak tuh tiba-tiba udah gede aja.”


Dellia mengangguk-angguk, mendengar dengan seksama ucapan mereka. “Iya, salah satu faktor utamanya aku resign, yaitu anak. Makasih loh, ya kalian mau dengerin curhatan ibu muda ini.”


“Justru kita-kita lah mbak yang makasih.” potong Ayumi cepat, “Jadi, kita bisa tahu deh sedikit ilmu buat nanti kalau udah berumahtangga dan punya anak.”


Semuanya terkekeh mendengar ucapan Ayumi, tak menyangka jika pemikiran Ayumi akan sampai kesana.


“Iya, nanti kalian juga akan ada masanya gitu ngerasain apa yang lagi aku rasain. Jadi, happy happy dulu aja sekarang. Meskipun, udah berumahtangga juga aku happy, malah lebih happy.”


“Oh, iya, mbak. Kira-kira pengganti mbak udah ada? Bukannya kalau resign dadakan gitu, harus udah cari pengganti, ya?”


Dellia nampak kebingungan, dia mengangguk. “Iya, seharusnya sih gitu. Tapi, pas aku ngomong sama Pak Angga nya sendiri buat nyaranin orang pengganti aku, katanya dia udah punya penggantinya. Dia udah dapat orangnya.”


Mentari yang sama sekali tidak tertarik dengan topik yang berhubungan dengan Angga, pura-pura menikmati makanannya saja, meskipun sebenarnya telinganya mendengarkan dengan seksama obrolan itu.


“Menurut mbak siapa? Anak kantor kita atau orang luar?”


Merasa ditatap membuat Mentari mendongak, dia menaikkan kedua alisnya. “Apa? Kok pada liatin gue sih?” tanya Mentari heran, dia mengerutkan keningnya. “Gak mungkin aku lah, mbak. Masa iya tiba-tiba aku yang cuma karyawan biasa tiba-tiba diangkat jadi sekertaris dari seorang direkrut utama. Aneh banget. Kelihatan banget kalau pakai orang dalamnya itu, tiba-tiba naik pangkat.” Mentari tertawa sumbang.


“Tapi, mungkin-mungkin aja, Tar. Pak Angga juga kan sepertinya masih cinta sama kamu. Bisa jadi kan, kesempatan dia pergunakan buat deketin kamu lagi. Siapa tahu, kalian balikan gitu.”

__ADS_1


Mentari terdiam, jadi memikirkan. Apa Angga akan menggunakan kekuasaannya lagi kali ini?


__ADS_2