
“Langitnya cantik,ya, Tar. Menurut kamu, bakalan turun hujan, gak?”
Angga melirik Mentari yang duduk di sampingnya. Saat ini, mereka berada di tepi pantai, duduk sambil menatap hamparan langit yang begitu luas juga cerah, diiringi suara deburan ombak di lautan sana.
“Menurut aku sih, enggak akan hujan. Orang gak ada awan.”
“Aku juga pikir sama kayak kamu.”
“Ngikutin aja!”
Angga terkekeh, “Dih, siapa juga yang ngikutin? Emang aku mau jawab itu.”
“Alah!”
Angga tersenyum, menoleh pada Mentari dan mengagumi perempuan itu tanpa henti. Benar-benar cantik luar biasa. “Cantik, ya, Tar?” tukas Angga, dia memuji bagaimana cantiknya Mentari dari berbagai sisi.
Mentari mengangguk, membenarkan pujian Angga yang dia pikir ditunjukkan untuk langit malam ini. “Iya, cantik banget. Lihat deh, Ga, bintangnya banyak banget, nyebar di mana-mana. Kamu—” ucapan Mentari seketika terhenti saat melihat Angga yang menatapnya begitu intens.
Mentari mengusap bingung sebelah pipinya. “Kenapa, Ga? Ada yang aneh sama aku?” tanya Mentari, dia menaikkan kedua alisnya.
“Iya, aneh.”
“Apa?”
“Kamu makin cantik sama hijab kamu itu. Aku bingung, kok bisa gitu.”
Seketika semburat merah muncul di kedua pipi Mentari, dia menggeleng-geleng pelan sambil mengalihkan atensinya ke sembarang arah. “Kamu tuh, ya. Udah berapa kali coba kamu ngomong kayak gitu? Sering banget tahu...”
“Emang itu kenyataannya. Kamu benar-benar cantik pakai hijab, padahal hijab yang kamu pakai simple, tapi kenapa berhasil buat aku terus-terusan deg-degan gini coba.”
Mentari mengulum senyumnya, dia memutar bola matanya jengah. “Mulai deh, mulai... ” Angga dan Mentari terkekeh, “Dasar!”
Hening langsung tercipta saat keduanya memilih untuk diam dan hanya menikmati keindahan alam yang begitu luar biasa adanya. Hingga panggilan dari Angga meleburkan semuanya
“Tar.”
“Kenapa?”
“Hadap aku sini!”
__ADS_1
Mentari menoleh, “Hah?”
Angga memutar tubuhnya menghadap Mentari, “Duduk ngadep aku, kita hadap-hadapan.”
“Buat?”
“Udah, ikut aja dulu.”
Mentari mengangguk, dia memutar tubuhnya dan kini dirinya berhadapan dengan Angga. Awalnya terkejut saat Angga tiba-tiba menarik tangannya, menggenggamnya membuat dia menatap lekat pria itu.
“Ga?”
“Makasih, ya.” Angga menatap sendu Mentari, mengerjapkan matanya. “Makasih, udah mau bertahan sampai sekarang. Padahal jelas-jelas, aku ini brengsek, pengecut dan banyak ngelakuin hal bodoh yang seharusnya gak bisa kamu maafin. Tapi, justru kamu tetap bertahan walaupun kamu tahu apa kurangnya aku.”
Mentari tersenyum hangat, dia membalas genggaman tangan Angga. Dia mengangguk, “Kalau masalah kemarin gak terjadi, gak tahu sebenarnya kita bakalan masih sama-sama atau enggak. Mungkin aja kita sama yang lainnya. Tapi, berkat masalah kemarin, kita jadi bisa lebih dewasa lagi, Ga. Kita jadi tahu kalau hubungan gak sekedar cuma tentang cinta, tapi ada banyak hal yang jadi pondasinya. Bersyukur nya, kita bisa bangun pondasi itu, ya... meskipun awalnya emang banyak masalah. Tapi kan, alhamdulillah nya kita bisa lewatin itu semua.”
Angga mengangguk, setuju dengan apa yang diucapkan Mentari. “Beruntung aku bisa mencintai dan dicintai perempuan seperti kamu.”
“Dan, aku pun beruntung bisa kenal, ketemu dan jadi bagian dari kehidupan kamu. Intinya, kita berdua sama-sama bersyukur.”
Angga tersenyum, dia jadi ingat kejadian hari itu. Hari yang tak mungkin bisa dia lupakan. “Mungkin iya kita sama-sama bersyukur punya satu sama lain. Tapi, kayaknya yang paling bersyukur disini itu seharusnya aku.”
“Andai kamu gak nekat lakuin hal gila yang bahkan nyawa kamu sendiri taruhannya, mungkin sampai sekarang aku belum bisa jalan, Tar. Mungkin sekarang aku masih duduk di kursi roda, masih belum normal lagi. Tapi, berkat kamu, berkat tekad kamu yang begitu kuat, aku bisa sampai sekarang. Aku normal lagi, aku bisa jalan, Tar.”
Mungkin benar apa yang dikatakan Angga. Jika Mentari tak memikirkan juga melaksanakan rencana shock therapy itu, mungkin Angga belum sembuh saat ini. Tapi, berkat rencana itu, pria itu bisa berjalan normal kembali.
“Aku gak bisa bayangin, gimana jadinya kalau hari itu aku benar-benar gak bisa bergerak sama sekali, aku gak bisa selamatkan kamu. Mungkin aku gak akan bertahan sampai sekarang.” Angga menghela napas kasar, meringis pelan. “Kamu terlalu membahayakan diri kamu, Tar.”
Mentari menggeleng, “Enggak, Ga. Sama sekali enggak. Justru karena aku yakin kalau rencana ini bakalan berhasil, makanya aku nekat lakuin itu. Dan, benar aja, itu berhasil. Dan kamu bisa selamatkan aku.”
Angga tak tahu harus mengucapkan apa selain ucapan terimakasih yang tiada henti terlontar dari mulutnya juga ungkapan syukur atas apa yang telah terjadi dan berhasil mereka lalui.
Angga beranjak berdiri, menarik Mentari untuk ikut berdiri bersamanya. Mentari bingung dan hanya mengikuti saja.
“Mungkin kamu anggap nya ini udah gak diperluin lagi.”
Mentari bingung.
“Tapi, aku akan tetap lakuin ini meskipun aku udah tahu jawabannya apa.”
__ADS_1
Mentari terkejut saat Angga tiba-tiba bersimpuh dihadapannya, melepas genggaman tangannya hanya untuk meraih saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak kecil yang saat dibuka menunjukkan sebuah cincin berlian yang langsung bersinar.
“Mentari Sukma Jati, perempuan yang ada di hidup aku, menemani kehidupan aku selama 10 tahun lebih lamanya. Apakah kamu bersedia untuk tetap bersama aku untuk selama-lamanya sampai maut memisahkan?”
Mentari tersenyum haru, dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu. Meskipun sudah pernah dilamar sebelumnya, namun lamaran Angga kali ini masih terasa seperti kali pertama. Jantungnya yang berdebar kencang pun jadi saksinya.
“Mentari, will you marry me?”
Mentari tak bisa menahan nya lagi. Dia menangis saat ini juga.
Angga yang cemas seketika berdiri, “Tar, kamu kenapa nangis?”
Mentari tak menjawab, dia menutup wajahnya dan masih menangis juga kini.
“Hei...” Angga coba melepaskan tangan Mentari yang menutup wajah perempuan itu, “Kenapa nangis?” tanya Angga lembut, dia menghapus air mata yang mengalir di pipi perempuan itu.
Mentari menatap Angga dengan sisa air matanya, “Kita punya hubungan cukup lama, Ga. Dan, aku pernah memimpikan hari dimana kamu bakalan melamar aku. Aku pikir semuanya cuma mimpi karena itu gak mungkin akan terjadi sebab aku tahu, kamu gak pernah mau bahas tentang pernikahan. Itu artinya kamu gak berminat dengan kehidupan pernikahan.”
Angga menyesal akan hal itu.
“Tapi, hari ini ada, Ga. Hari dimana kamu melamar aku, itu benar-benar ada, Ga.” Mentari terisak, dia mencoba menghapus air matanya namun tak kunjung berhenti.
“Maafin aku, ya karena terlalu lama buat kamu nunggu. Padahal seharusnya, perempuan seperti kamu gak pantas untuk menunggu terlalu lama lamaran seperti ini.”
Mentari masih menangis juga.
Angga terkekeh, dia tak suka melihat Mentari menangis, namun kali ini justru lain lagi. Dia tahu, tangisan Mentari kali ini bukanlah tangisan yang menyakitkan, tapi tangisan kebahagiaan. Hal yang paling ditunggu perempuan itu, akhirnya bisa tercapai.
“Udah dong nangisnya, nanti dikiranya aku ngapa-ngapain kamu lagi.” ucap Angga, dia tertawa pelan sambil membantu Mentari menghapus air matanya.
“Jadi, gimana nih? Laki-laki kayak aku ini, pantas gak jadi suami kamu?” tanya Angga, dia mengulum senyumnya, menaikturunkan alisnya.
Mentari tersipu, dia memukul gemas dada bidang Angga. “Pake ditanya lagi.”
Angga terkekeh, dia sudah tahu jawabannya namun ingin mendengar lebih jelas kata itu terlontar dari mulut Mentari. “Apa? Aku gak ngerti. Gimana nih jadinya, diterima atau enggak?”
Mentari tersenyum lebar, menatap lekat Angga.
“Angga Wijaya Hiro, laki-laki spesial yang menemani kehidupan aku 10 tahun lebih lamanya. Hari ini, detik ini juga, aku terima lamaran kamu. Aku mau jadi istri kamu.”
__ADS_1