Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 11 : Jogging Pagi


__ADS_3

“Aneh!”


Sampai di rumah, Bella langsung mengeluarkan kekesalannya pada Angga atas kejadian di mall tadi.


“Kakak gimana sih? Ngapain juga pakai acara ngobrol-ngobrol, senyam-senyum segala kayak tadi. Kak Tari pasti pikir yang aneh-aneh deh nantinya.” Bella kesal, takut jika usahanya untuk membuat Angga dan Mentari bersama kembali, gagal. “Kak Tari pasti mikir yang lain nantinya.”


“Aku sebenarnya udah feeling kalau kakak tuh bakalan ngikutin aku ke bioskop itu, makanya aku mau ajak Kak Tari pergi ke tempat Yogurt biar nantinya aku tinggalin terus kakak samperin Kak Tari kek, apa kek gitu. Jadi, seakan-akan kalian tuh ketemu gak sengaja. Seakan-akan takdir tuh maunya kalian ketemu, bersama. Tapi, tadi kakak apa?” Rasanya Bella kesal bukan main dengan Angga yang kini hanya diam saja. “Kesel aku sama kakak!”


“Bella, ada apa sih? Pulang kok ngomel-ngomel begitu.”


Bella tak langsung menjawab, dia hanya menyalami Rianti kemudian menatap kesal Angga kembali. “Bunda tanya aja sama My Angga bunda ini. Aku ke kamar.” Bella berlalu pergi membawa kekesalan nya.


Angga hanya menatap kepergian Bella tanpa bicara, dia mengedikan bahu saat ditatap penuh tanya oleh sang bunda. Angga segera menyalami bundanya itu. “Aku juga ke kamar, ya, bun.”


Rianti menahan tangan Angga, dia menggeleng. “Bunda butuh bicara sama kamu.”


“Tap,—”


“Ayo! Sekalian kamu cicipi puding buatan bunda.”


Angga tak bisa menolak, Rianti terlalu berharga baginya. Angga mengangguk, mengikuti langkah Rianti yang kini membawanya ke ruang makan. Lalu, Angga menarik kursi untuknya duduk dan membiarkan bundanya mengambil puding yang dikatakan tadi.


“Bella kenapa marah-marah kayak tadi? Gak biasanya loh dia marah-marah gitu.” Rianti tahu betul bagaimana sifat anaknya, kalau yang terjadi masih dianggap normal, maka tak akan pernah ada kejadian marah-marah seperti tadi.


“Gak tahu,” Angga memakan puding tersebut, dia mengangguk-angguk. “Enak, bun.”


“Emang enak, bunda tahu kok.” Rianti memangku wajah dengan sebelah tangan, menatap lekat putranya yang sudah dewasa. “Yang gak enak itu perasaan kamu. Iya, kan?”


Sendok ditangan Angga berhenti saat mendengar ucapan itu, dia mengerutkan keningnya bingung. “Maksud bunda?”


Bukannya menjawab, Rianti justru balik bertanya. “Kenapa putus?”


Angga terdiam beberapa saat, dia menggeleng kemudian. “Aku gak putus kok.”


“Masa?”


“Iya. Aku masih tetap pacarnya Tari dan dia tetap jadi pacar ku.”


“Gak percaya.”


“Itu kenyataannya.”


Rianti tertawa pelan, dia meraih tangan Angga dan menggenggamnya. “Angga, bunda tahu kamu, bunda kenal betul dengan kamu. Dan, bunda juga tahu semua hal tentang kamu, tentang hubungan kamu yang saat ini lagi gak baik-baik aja sama Tari.”


Angga kembali terdiam, percuma dia menyembunyikannya.

__ADS_1


“Ga, bunda gak mau ikut campur sebenarnya. Tapi, apapun yang menjadi masalah kalian, seharusnya itu gak membuat kalian putus. Hubungan kalian udah cukup lama, kalian udah kenal betul satu sama lain. Dan, seharusnya setiap permasalahan bisa kalian selesaikan tanpa harus ada kata putus atau pisah yang terucap.”


“Tapi, Tari yang putusin aku, bun. Bukan aku.” Angga membela diri. “Aku udah coba buat pertahanin hubungan kita, tapi dianya gak mau. Dia tetep kekeh untuk putus. Ya, aku bisa apa kalau gitu.”


“Dan, kamu tahu kan akar permasalahan apa?”


Angga tahu, pernikahan.


“Kamu ini laki-laki Angga, kamu seharusnya bisa cari solusi atas permasalahan yang terjadi di hubungan kalian. Kamu seharusnya bisa mempertahankan hubungan yang udah bertahan lama ini.” Rianti menatap lekat Angga, “Dan, seharusnya hubungan yang udah bertahan bertahun-tahun lamanya ini, bukan berakhir dengan kata putus, tapi dibawa ke yang yang serius, yaitu pernikahan.”


***


Subuh-subuh setelah menyelesaikan ibadahnya, Mentari keluar dari kamar dengan masih mengenakan atasan mukena. Dia berjalan menuju dapur, mengambil mug berwarna biru tosca juga green tea, dia menyeduh teh di pagi hari seperti biasanya.


“Sekalian, ya, dek bikinin. Tapi, ayah pengen kopi hitam.”


Mentari menoleh, tersenyum hangat pada Satryo—ayahnya yang juga masih mengenakan sarung juga kopiah. Dia mengangguk, “Boleh, yah. Ibu mana, yah?” Mentari mengambil cangkir, membuat kopi untuk Ayahnya.


“Ada kok,”


“Ada apa, Tar cari ibu?”


Mentari menggeleng, “Ibu mau teh juga gak? Biar sekalian aku bikinin.”


“Boleh,”


“Mau jogging, gak nih kita?”


“Mau, yah. Ayo, ayo kita jogging pagi ini. Sekalian nanti kita pergi ke tempat yang kemarin lewatin, banyak jajanan kan, ya kemarin, ketagihan aku. Pengen jajan lagi.” Mentari antusias sekali dengan jajanan yang minggu lalu dibelinya.


“Jajan mulu...udah gede juga.” tukas Cantika.


“Masih anak cilik kok,” Mentari mengerjap-ngerjapkan matanya, “Iya kan, yah?”


“Iyalah, anak ayah ini mau umur berapa pun tetap jadi anak cilik di mata ayah. Jadi, kita pergi nih?”


“Ayo, ayo!”


“Jangan lupa kabarin Angga, ya Tar.”


Mentari langsung terdiam seketika, menatap sang ibu yang juga ikut terdiam.


Dan, sesuai rencana mereka pagi ini pergi jogging ke taman yang memang biasanya diisi oleh orang-orang yang mau berolahraga, ataupun sekedar duduk-duduk santai dibawah pohon rindang ditemani oleh para pedagang yang berjejer disepanjang jalan.


“Ini Angga mana? Kok belum ada. Apa kamu lupa lagi kabarin Angga?”

__ADS_1


Mentari bukannya lupa, dia memang tak mengabari. Karena untuk apa mengabari apalagi mengajak Angga, sedangkan sekarang status hubungan mereka sudah berbeda. Ayahnya memang belum tahu tentang kandasnya hubungan mereka, mungkin terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga kabar seperti ini tak sampai diketahui, yang ayahnya tahu sampai sekarang putrinya ini masih menjalin hubungan cinta dengan pria yang dikenalkan 7 tahun lalu.


“Yah, kita mending jalan-jalan dulu, yuk!”


“Iya, ayo. Tapi, Angga nya mana Bu? Dia gak dikabari atau belum sampai, apa emang gak ikut?” Ayah nampak tak percaya, “Ah, tapi gak mungkin. Dia kan ikut terus biasanya juga. Ini mah kayaknya Tari yang lupa ngabarin deh.”


Mentari menghela napas kasar, “Yah, Tari sama Angga, kita—”


“Angga!”


Mentari menoleh saat ayahnya menyapa seseorang, betapa terkejutnya dia saat melihat keberadaan Angga ditempat yang sama seperti mereka. Satryo menghampiri Angga yang membuat Mentari juga ibunya pun mengikuti.


“Ayah pikir kamu gak ikut, kok tumben belum datang kata ayah. Eh, ternyata ikut juga. Padahal tadi udah nuduh Tari gak ajak kamu.” Satryo terkekeh.


Angga tersenyum kikuk, dirinya langsung menyalami kedua orang tua Mentari. Matanya menatap Mentari yang tak mengeluarkan sepatah katapun.


“Yaudah, yuk jogging!”


Dan, mereka pun pergi jogging mengelilingi taman bersama, seperti biasanya selama 45 menit lamanya.


“Abis lari-lari keringetan jadi haus nih.” Ayah Mentari menyeka keringat di keningnya.


“Yaudah, yah. Tunggu disini aja. Biar Angga aja yang beli minum nya. Udah pada sarapan tapi kan, ya?”


“Udah kok, udah. Makasih, ya Ga. Nunggu disini aja, ya.”


“Iya.”


Angga berlalu pergi, sedangkan Mentari justru ikut duduk lesehan bersama kedua orangtuanya diatas rerumputan, dibawah pohon rindang.


“Dek, kok malah ikut duduk. Sana, ikut Angga, biasanya juga gitu.”


“Gak deh, yah. Disini aja.”


“Kenapa?”


“Gakpapa.”


“Dek... Jangan gitu, ah. Ayo, bangun, susul Angga.”


Mentari menghela napas kasar, dengan terpaksa dia mengangguk dan beranjak berdiri, pergi menyusul Angga yang tengah membeli air minum.


“Mereka kenapa sih, bu? Aneh banget. Lagi berantem kali, ya.”


“Bukan cuma berantem, yah. Mereka tuh udah putus.”

__ADS_1


“Apa?!”


__ADS_2