
“Tar, kamu dari tadi?”
Mentari mendongak saat seseorang menghampiri nya, dia tersenyum simpul sambil beranjak. “Oh, enggak kok, Pak. Saya juga baru datang ini.” jawab Mentari, dia mempersilahkan orang tersebut untuk duduk.
Abimanyu, orang itu dia. Pria muda yang saat ini menjabat sebagai presiden direktur dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing dan distribusi barang konsumsi. Abimanyu itu tampan, rupawan dan sangat kharismatik. Kebetulan, perusahaan nya sedang membuat sebuah desain untuk suatu brand kecantikan, dimana salah satu desain yang mampu menarik perhatian Abimanyu adalah desain dari seorang Mentari yang dia lihat lewat video singkat di sosial media. Karena ketertarikannya itu pula dia langsung menghubungi Mentari untuk menawarkan kerjasama.
“Kamu udah pesan makan atau minum?”
“Belum, Pak.”
“Yaudah, kita pesan dulu aja. Gakpapa kan?”
“Boleh, saya pesan minum aja.”
Abimanyu menaikan sebelah alisnya, “Makanan?”
Mentari menggeleng, “Minuman aja cukup, pak.”
“Gak papa lah, makanan juga. Kebetulan saya juga belum makan. Jadi, sambil obrolin kerja sama kita, sambil makan juga.” Mentari meringis pelan, bingung harus menolak bagaimana lagi hingga akhirnya dia mengangguk mengiyakan.
Abimanyu segera memanggil waiters, memesan makanan juga minuman untuk mereka. Hingga akhirnya Mentari mengeluarkan iPadnya untuk menunjukkan desain yang sudah dia buat, sambil menunggu makanan siap, dia akan membicarakan kerjasama mereka.
“Ini, Pak. Saya udah buat desainnya,” Mentari mendekatkan iPadnya pada Abimanyu, “Seperti yang bapak minta, saya buat desain yang simple namun tetap menunjukkan semua aspek yang jadi poin penting di produk tersebut. Saya juga berusaha buat desainnya seunik mungkin supaya nantinya desain tersebut iconic dan terus diingat sama konsumen.”
Abimanyu mengangguk-angguk, melihat lebih detail lagi desain-desain yang dibuat Mentari. Sejauh ini tak ada yang mengecewakan, semua desain Mentari benar-benar memuaskan.
Mentari tersenyum simpul, menunggu harap-harap cemas respon yang akan diberikan Abimanyu.
“Saya suka desainnya,” Abimanyu mendongak, tersenyum pada Mentari. “Menarik, unik tapi tetap simple, gak yang berlebihan apalagi sampai norak.”Mentari senang mendengarnya. “Tapi, kayaknya saya mau kamu cari colour yang lain deh. Karena menurut saya colour yang ini tuh masih mencerminkan brand sebelah.”
Mentari mengangguk-angguk, dia setuju dengan saran yang diberikan Abimanyu. “Iya, pak, siap. Nanti saya akan cari warna yang lain. Tapi, untuk detail lainnya gimana, pak?”
“Overall saya suka,”
Mentari tersenyum lebar, “Siap, pak. Jadi, nanti saya akan cari warna yang lain dan secepat mungkin saya akan kirim sample nya ke bapak.”
__ADS_1
“Iya, terimakasih, ya.”
Tak lama, pesanan pun datang dan langsung disajikan dihadapan mereka.
“Silahkan, Tar.”
“Terimakasih, Pak.”
Mereka pun larut dalam obrolan sambil menikmati makanan, Mentari yang memang bisa mencairkan suasana dan tipe perempuan yang ramah membuat Abimanyu yang mengajaknya berbincang pun senang. Apalagi yang dibicarakan Mentari nyambung dengan apa yang Abimanyu bicarakan, tidak ngalor-ngidul apalagi sampai asbun. Tak ayal sejak pertemuan pertama pun Abimanyu langsung terpesona pada sosok Mentari. Bukan hanya cantik, namun juga pintar dan menarik.
“Oh, iya. Kamu datang kesini naik apa?”
“Kebetulan saya bawa mobil sendiri, Pak.”
Abimanyu berohria, padahal dia berniat menawarkan tumpangan kalau saja Mentari tak menjawab demikian. Namun, atensi Abimanyu langsung teralihkan pada cincin yang tersemat dijari manis tangan kiri perempuan itu. Sejak pertemuan pertama mereka, baru kali ini dia melihat cincin itu atau mungkin dia baru sadar sekarang?
“Kamu udah punya pasangan, Tar?”
Mentari terkejut sebenarnya mendengar pertanyaan demikian, dia mendongak perlahan menatap Abimanyu yang langsung berdehem melihat senyuman kikuk yang ditunjukkan Mentari.
“Maksud saya, itu jari manis kiri kamu pakai cincin dan saya baru lihat kayaknya atau mungkin saya yang gak sadar, ya? Saya gak bermaksud apa-apa, ya. Saya cuma tanya.” Abimanyu tertawa garing, mencoba mencairkan kembali suasana yang terasa canggung akibat ulahnya itu. Bodoh, dia merutuki ucapannya yang terdengar bodoh.
Abimanyu mengangguk-angguk, “Wajar sih, perempuan seperti kamu mana mungkin gak punya pasangan. Pasti diluar sana banyak banget laki-laki yang mau bersanding sama kamu.”
Kembali, Mentari hanya tersenyum simpul saja. Seberuntung itukah dirinya?
“Kalau boleh tahu, siapa laki-laki beruntung itu, Tar?”
***
Mentari melangkahkan kakinya menuju parkiran, dia baru saja selesai meeting sekaligus dinner bersama Abimanyu itu. Dan, sekarang Mentari berniat pulang. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang menyapanya.
“Hai, ketemu lagi kita.”
Mentari tersenyum kikuk, dia mengangguk sopan. “Malam, Pak.”
__ADS_1
Terdengar decakan kesal mendengar sapaan Mentari, lebih tepatnya karena panggilan yang diucapkan perempuan itu. “Udah berapa kali saya bilang, gak usahlah panggil saya Pak. Panggil nama aja, Kelvin gitu.”
“Rasanya kurang sopan kalau saya panggil bapak dengan nama doang.”
“Sopan kok, lagian kita gak ada di area kerja dimana mengharuskan kamu panggil saya Pak. Udah, gakpapa, panggil Kelvin aja. Lagian, saya berasa tua banget kalau kamu panggil saya Pak, umur kita kayaknya juga gak beda jauh.”
Mentari bingung harus mengiyakan atau tidak.
“Kamu baru dinner, ya?” tanya Kelvin, dia benar-benar ramah dan mengganggap sudah kenal betul dengan Mentari padahal mereka hanya bertemu beberapa kali.
Mentari mengangguk saja menjawab pertanyaan Kelvin.
“Yah, padahal saya udah senang loh ketemu kamu disini. Berharapnya kamu baru datang dan mau makan disini, nantinya saya ajak kamu. Kita dinner bareng. Tapi, kamu udah selesai ternyata.”
Sudut bibir Mentari bergetar mendengar ucapan yang dilontarkan Kelvin, benar-benar jujur seada-adanya dan pria itu bersikap seakan mereka sudah kenal lama.
“Mau langsung pulang atau gimana?”
Mentari mengangguk, “Iya, saya mau langsung pulang.”
“Perlu saya antar?”
Mentari cepat-cepat menggeleng, “Saya bawa mobil sendiri, pak. Makasih atas tawarannya.”
“Gimana kalau—” ucapan Kelvin terputus saat ponselnya berdering, pria itu berdecak pelan menatap layar ponselnya saat tahu siapa yang menghubunginya. Diabaikan panggilan tersebut, lebih menarik Mentari dihadapannya saat ini.
“Pak Kelvin, saya permisi, ya. Takut kemalaman. Mari.”
Tanpa menunggu jawaban dari Kelvin, Mentari cepat-cepat bergegas pergi menuju mobilnya. Akan jadi lebih lama lagi jika dirinya tak terus menanggapi pria itu. Semoga saja, sikapnya yang seperti ini tak berpengaruh pada pekerjaan. Semoga saja.
Kelvin tersenyum menatap kepergian Mentari, “Hati-hati Mentari.” Kelvin berdecak, gemas melihat tingkah Mentari. Baru perempuan itu saja yang berhasil membuatnya penasaran sejak pertemuan pertama mereka. Dan, dia sudah bertekad untuk menjadikan Mentari miliknya.
“Iya, iya, ini gue kesana sekarang. Berisik banget.” kesal Kelvin saat panggilan dari orang yang sama masuk ke ponselnya. Dia bergegas pergi.
Sedangkan Mentari, dia segera membuka pintu mobil saat sudah berada dihadapan mobilnya. Namun, niatnya urung saat dirinya melihat kedatangan Angga yang terlihat tergesa-gesa keluar dari mobilnya. Cepat-cepat Mentari bersembunyi, tak mau kehadirannya disini diketahui.
__ADS_1
“Iya, Mel. Ini gue juga baru sampai. Bisa sabar sebentar kan?”
Mentari langsung terdiam seketika mendengar Angga menyebutkan nama wanita lain. Perempuan mana lagi sekarang? Amelia kah? Perempuan yang paling Angga hindari selama ini. Semudah itukah Angga mencari kebahagiaan tanpa ada dirinya didalamnya? Tapi, bukankah itu yang Mentari inginkan? Namun, kenapa justru menyakitkan?