
“Heboh lagi aja nih kantor.”
“Heboh apaan?”
Mentari tetap fokus pada layar laptopnya meskipun Ayumi mengajaknya bicara.
Ayumi terkekeh, memundurkan kursinya hanya untuk melihat Mentari, dia mengintip dibalik meja kubikel nya. “Ya, lo lah! Siapa lagi coba?” tukas Ayumi, dia mendengus pelan.
“Kok gue mulu sih?” Mentari mengerutkan kening bingung, melirik sekilas Ayumi yang sudah kembali ke tempatnya. “Perasaan gue gak macam-macam deh, gak banyak tingkah juga. Tapi, kenapa gue mulu yang jadi bahan gosip dikantor? Aneh banget sih.”
“Gak aneh lah! Orang lo pernah jadi pacarnya pak bos, udah pasti bakalan jadi bahan gosip di kantor.”
“Tapi kan sekarang udah enggak, gue udah bukan pacarnya bos lagi.”
“Ya, karena lo udah bukan pacarnya bos lagi tapi hubungan kalian itu bikin gemes, makanya lo tetap jadi bahan gosip di kantor.” timpak Vanya yang datang ke meja Mentari sambil membawa berkas.
Mentari mengerutkan keningnya, dia masih tak habis pikir. Lain halnya dengan Ayumi yang menjentikkan jarinya, setuju dengan apa yang diucapkan Vanya.
“Seratus!” seru Ayumi, dia bertos ria dengan Vanya, keduanya terkekeh bersama. “Apalagi kejadian di lift tadi, heboh banget itu. Cuma perkara cookies doang juga.”
“Banyak yang bilang kalau lo tuh belum move on, Tar.”
“Idih!” Mentari memutar bola matanya, “Padahal gue gak ngomong macam-macam loh, ngejawab juga gue jujur. Terserah Angga lah mau suka cookies kek, suka yang manis-manis kek, terserah, gue gak peduli. Yang jelas, gue tahu kalau dia tuh gak ngomong jujur itu. Orang gue tahu banget kalau dia tuh gak terlalu suka sama yang manis-manis.”
Ayumi dan Vanya tersenyum simpul, keduanya saling beradu tatap.
“Asik... Tahu banget nih tentang mantannya.” goda Vanya yang membuatnya juga Ayumi terkekeh. Senang sekali mereka menggoda Mentari.
“Aduh, parah banget sih kalian. Usil banget sama gue.” Mentari mencebik kesal. Dia menatap Vanya, “Lo juga ngapain sih pakai ke meja gue segala? Kalau niatnya cuma mau usil, udah sana pulang ke meja lo. Ganggu ketentraman gue aja. Sibuk gue.”
Vanya terkekeh, dia meletakkan berkas di hadapan Mentari. “Pak Sur minta ini dikerjain sekarang, terus pengennya lo yang ngerjain.”
“Bukannya ini project lo? Ngapain ke gue?” tanya Mentari bingung.
Vanya mengedikkan bahunya, “Mana gue tahu, Pak Sur bilang lo yang kerjain ini project. Gue sih terima-terima aja, alhamdulillah... kerjaan gue jadi lebih ringan kan.” jawab Vanya yang membuat Mentari kesal mendengarnya. “Dan, satu lagi. pak Sur bilang harus selesai siang ini juga, soalnya ditunggu Pak Mantan ayang lo...”
Mendengar ucapan terakhir Vanya membuat Mentari tahu, siapa biang keroknya.
“Cari gara-gara mulu deh, ah udah jadi mantan juga!”
“See?” Mentari menoleh pada Ayumi yang tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya. “Lo gak bisa hidup tenang setelah putusin Angga. Benar kan omongan gue?” lanjut Ayumi.
Mentari menghela napas kasar, dia bersandar pada kursinya. “Kita lihat aja, ya Yu sampai mana gue bisa bertahan.”
__ADS_1
***
“Ya ampun, Pak Sur... Kan project yang itu harusnya ditangani Vanya, bukan aku. Lagian, aku mana tahu, pak. Nanti salah lagi.”
Pak Surya mendongakkan wajahnya, “Tapi, kamu ikut meeting juga kan waktu itu?” tanya Pak Surya, dia menaikkan sebelah alisnya.
“Ikut sih, tapi—”
“Nah, ikut kan. Yaudah, sama aja. Udah, kamu aja yang kerjain, hitung-hitung bantu Vanya. Ingat loh... Kemarin aja kamu dibantuin dia. Ingat, gak?”
Mentari menghela napas kasar, “Iya, iya, aku ingat kok, Pak. Tapi,—”
“Tapi, apa?”
Mentari mencebik, memicingkan matanya menatap Pak Surya. “Aku tahu kok, bapak pasti disuruh lagi kan? Ih, mau-maunya bapak disuruh-suruh gitu. Kalau aku sih gak mau!” tukas Mentari. “Gak usah pura-pura gak tahu gitu deh, Pak. Ngeselin banget.”
“Lah, saya emang gak ngerti maksud kamu. Emangnya saya disuruh siapa coba? Orang saya bos nya.”
“Ah, elah bapak.” Mentari memutar bola matanya jengah. “Bapak pikir aku gak tahu kalau pak Surya tuh pasti disuruh Angga buat ngelakuin ini, kan? Berkasnya kasih ke aku buat akukerjain, terus gak selesai dan berakhir dengan aku yang dapat hukuman nantinya. Idih... Kebaca banget sih.”
Pak Surya menahan senyumnya melihat wajah malas yang ditunjukkan anak buahnya ini. “Apaan sih kamu, Tar. Mana ada saya gitu.”
“Suka pura-pura gak tahu gitu deh, Pak Sur. Nyebelin banget. Udah, ah. Aku mau ke meja ku aja, mau ngerjain berkas yang seharusnya bukan aku yang ngerjain.”
“Kamu sih, putus sama bos. Gini kan jadinya. Selamat menikmati hari mu yang selalu Senin ya, Tar.”
***
“Mau makan siang dimana, Tar?”
Mentari hanya melirik sekilas Ayumi yang sudah bersiap-siap hendak pergi makan siang. Karena seperti biasa, dirinya dan Ayumi akan pergi makan siang di luar, di restoran yang tak jauh dari kantor, mentok-mentok kalau malas makan siang di kantor dengan menu yang sudah disediakan.
“Gue makan siang di sini aja deh, nanti ngambil di kantin.”
“Gak mau lunch di luar gitu?” Ayumi mengerutkan keningnya, “Katanya kemarin pengen nyobain resto baru depan.”
Mentari mengangguk-angguk, “Iya, niatnya gitu kalau ini kerjaan gak harus diserahin sekarang. Masalahnya diminta sekarang, abis jam makan harus udah selesai. Sedangkan, ini belum selesai sekarang. Jadi, gue mau makannya sambil nyelesein ini. Lo kalau mau makan di luar, makan aja sana.”
Ayumi menggeleng, “Ogah, ah. Gak enak makan sendiri mah. Yaudah, gue juga makan di kantor aja deh. Udah, biar gue aja yang bawain makannya kesini, lo mau makan disini kan?"
“Gakpapa emang?”
“Kalau kenapa-napa, gue gak akan tawarin."
__ADS_1
Mentari tersenyum lebar, “Thank you... Muah, muah, muah!”
“Iya, tungguin ya...”
Mentari kembali berkutat dengan laptopnya sambil menunggu Ayumi datang membawakan makan siang untuknya. Beruntung sekali dirinya, dikelilingi orang-orang baik, meskipun ada beberapa yang kurang baik juga. Tapi, selebihnya dia dikelilingi orang-orang baik. Alhamdulillah.
“Neng Tari,”
Mentari mendongak, tersenyum pada Pak Purna yang merupakan office boy di kantor. “Iya, pak. Ada apa?”
Pak Purna tersenyum, meletakkan lunch box di hadapan Mentari. “Ini ada titipan makan siang buat neng Tari.”
“Buat aku?”
“Iya, neng.”
Mentari terkekeh, “Kok dititipin ke bapak sih?”
“Ada perlu dulu katanya.”
Mentari berohria. Jadi, Ayumi ada perlu dan menitipkan makan siang untuknya pada Pak Purna. “Oh, gitu... Yaudah, pak. Makasih, ya... Direpotin deh jadinya.”
“Enggak atuh neng. Yaudah, saya permisi dulu, ya, neng.”
“Iya, pak. Sekali lagi terimakasih, ya.”
Mentari beralih sejenak dari pekerjaan pada lunch box yang diberikan Pak Purna padanya, dia membukanya. “Eh? Ini kan makanan kesukaan gue.” ucap Mentari, dia tersenyum lebar.
“Tumben banget ada menu ini, biasanya juga gak pernah ada.” Mentari mengambil sumpitnya, mulai menikmati nasi yang masih hangat itu dengan lauknya. “Udah di upgrade kali, ya. Ih, enak banget..." Mentari sampai memejamkan mata merasakan nikmat dari makan siangnya.
“Sering sering kek gini, ya... Kalau gini terus mah, fix gak bakalan jajan diluar.”
Mentari menikmati makan siangnya sambil melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Bersamaan dengan makan siangnya yang habis, pekerjaannya pun rampung. “Akhirnya... Selesai juga.” Mentari tersenyum lebar, dia senang. Membayangkan wajah Angga yang mungkin nanti kesal karena pekerjaan sudah selesai yang artinya hukuman yang sudah direncanakan pria itu akan gagal total, rasanya membuat Mentari tak bisa untuk tak tersenyum lebar kini
Mentari merentangkan tangannya, merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal kemudian bersandar pada kursi. “Pasti nanti dia ngedumel sendiri deh.” Mentari terkekeh, “Rasain!”
“Eh, kok lo udah makan sih?”
Mentari mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ayumi yang baru datang. Ayumi membawa bungkusan yang isinya entah apa, namun dari logonya sudah jelas itu makanan.
“Lah, bukannya ini makanan lo titipin sama Pak Pur buat gue, ya?”
Mentari bingung, Ayumi pun demikian. Namun, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, keduanya saling beradu tatap dan hanya lewat tatapan itu mereka bicara. Mentari yang mencebik, Ayumi yang tersenyum lebar. Mereka tahu siapa kemungkinan utama pelakunya.
__ADS_1