Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 25 : Surat Resign


__ADS_3

People come and go. Ada yang tetap menetap dan ada yang memilih untuk pergi. Namun, bagaimana jadinya jika tak mau pergi, namun enggan juga menetap.


“Seriusan nih lo mau ngajuin resign sekarang?”


Ayumi tak henti-hentinya bertanya pada Mentari, terus memastikan keputusan apa yang akan diambil perempuan itu.


Mentari mengangguk, “Iya.”


“Kok cepat banget sih, Tar? Perasaan baru kemarin lo cuma ada rencana doang. Ini tiba-tiba udah siapin suratnya aja.”


“Lebih cepat, lebih baik kan?”


“Apa yang lebih cepat, lebih baik?” Vanya yang baru saja datang langsung menimbrung saat ada sesuatu yang membuatnya bingung dan penasaran, ditambah raut wajah Mentari dan Ayumi yang terlihat sangat serius membuat Vanya semakin penasaran jadinya.


Vanya mengambil alih duduk disamping Mentari, mengambil sebuah amplop yang terbuka yang berisikan sebuah surat. “Ini apaan, Tar?” tanya Vanya, dia melirik Ayumi dan Mentari yang masih belum menjawab pertanyaannya.


“Surat resign gue.”


“Resign?” Vanya terkejut mendengarnya. “Lo mau resign? Kenapa?”


Mentari menyesap minumannya, dia menggeleng pelan. “Gakpapa, pengen resign aja.” jawab Mentari yang tak membuat Vanya puas.


“Enggak, gak mungkin gak ada alasan, pasti ada lah.” Vanya menatap Ayumi, meminta penjelasan namun justru dibalas gelengan kepala pelan dari perempuan itu. “Kenapa sih, Tar lo mau resign? Apa karena hubungan lo sama Pak Angga udah selesai?” hanya itu yang terlintas dibenak Vanya saat tahu jika Mentari akan mengajukan resign.


Mentari menghela napas kasar, dia menyugar rambutnya. Ditatapnya bergantian Ayumi dan Vanya, “Terlepas dari hubungan gue sama Angga, gue emang mau resign dari perusahaan.”


“Tapi, Tar. Lo tuh—”


Mentari mengangkat telapak tangannya, dia beranjak dari duduknya. “Gue duluan, ya.” ucap Mentari sambil membawa surat resign yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

__ADS_1


Ayumi memutar jengah bola matanya, sedangkan Vanya mengerutkan kening bingung dan kesal menatap kepergian Mentari. Lain halnya dengan Mentari yang sudah melangkah pergi dengan santainya keluar dari cafetaria.


Langkah Mentari terhenti saat tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang saat di persimpangan jalan. Dia meringis pelan dan langsung bergegas mengambil surat resign nya yang tergeletak di lantai, namun ada tangan lain yang cepat mengambil surat tersebut.


“So—rry.”


Baru melihat siapa yang ditabraknya saja sudah membuat Mentari harus menghela napas kasar, rasa malas pun langsung menghinggapi nya begitu saja. Pun begitu dengan orang tersebut yang sudah mendengus kesal dan menatap sinis Mentari.


“Kenapa di dunia yang luas ini gue harus selalu dipertemukan sama lo sih?”


Mentari menaikkan sebelah alisnya, menatap jengah Amelia yang merupakan orang yang ditabraknya atau mungkin yang menabrak nya. “Lo datang ke tempat dimana gue kerja. Jadi, gak menutup kemungkinan kalau lo akan dipertemukan sama gue. Kalau lo malas ketemu gue atau gak suka, jangan datang ke sini.”


Amelia tersenyum lebar dan justru memuakkan dimata Mentari. “Dan, sayangnya gue akan tetap datang kesini, mau lo ada atau enggak. Toh, gue gak mau jauh dari Angga gitu aja cuma karena gue gak mau ketemu lo.”


Mentari memasang wajah datarnya, “Kalau gitu, lo gak usah banyak protes kalau ketemu sama gue. Ngerti?”


Mentari menahan kekesalannya, “Nyebelin tahu gak sih lo!”


“Lo yang jauh nyebelin! Dari dulu sampai sekarang, gak pernah bisa sekali aja gak buat gue naik darah tiap lihat lo!”


Mentari menggeleng tak percaya, “Gue gak ngerti sama lo. Bahkan gue gak ngelakuin apapun yang ngerugiin lo, gue juga gak pernah macam-macam, apalagi sama lo. Tapi, lo selalu melimpahkan segala kesalahan sama gue.” Mentari memicingkan matanya. “Mel, lo apa gak bosan atau aneh gitu marah-marah sama gue tanpa sebab? Bisa-bisa lo dianggap gila karena marah tanpa sebab, gak jelas!”


Amelia ternganga, dia tersenyum sinis. “Lo bilang lo gak ngerugiin gue? Hellow... Sadar gak sih lo? Semenjak lo datang di kehidupan Angga, lo udah ngerugiin gue banyak! Posisi yang seharusnya gue tempati, lo yang ambil, lo rebut posisi itu. Dan, lo masih beranggapan kalau lo gak ngerugiin gue? Gila lo!”


“Gue gak pernah rebut atau ambil posisi lo atau posisi siapapun. Jadi, aneh kalau lo benci sama gue cuma karena gue ambil posisi yang bahkan gak ada yang nempatin sebelum nya. Bahkan, lo bukan siapa-siapa nya Angga sebelumnya.”


“Iya! Gue emang bukan siapa-siapa nya Angga. Tapi, kalau aja lo gak hadir di hidup kita, di hidup Angga. Gue akan jadi pendamping Angga, bukan justru lo!”


Mentari terdiam untuk beberapa saat sebelumnya akhirnya dia tersenyum miris dan tertawa sumbang. “Lo menyalahkan gue atas sesuatu yang gak bisa lo dapatin. Lo nyalahin gue karena lo gak bisa sama Angga, sedangkan disini kita tahu kalau Angga gak menaruh hati sedikitpun sama lo.” Amelia menggeram kesal. “Gue kasihan sama lo, Mel. Gak bisa jadi orang yang bisa nerima keadaan, lo terlalu sering protes buat banyak hal cuma karena hal itu gak sesuai ekspetasi lo, padahal jelas-jelas itu hal yang baik, bahkan mungkin lebih baik. Tapi, lo gak bisa nerima itu dan justru nyalahin semuanya. Lo gak pernah mau kalah, lo maunya menang sendiri. Kasihan gue sama lo, gak bisa tahu gimana rasanya ikhlas dan tulus itu.”

__ADS_1


Amelia mengacungkan telunjuknya, menatap tajam Mentari. “Lo gak tahu apapun tentang gue.”


“Gue emang gak tahu banyak hal tentang lo. Tapi, lihat dari sikap lo selama ini, gue jadi sedikit tahu lo orang kayak gimana.”


“Diam!”


“Enggak! Gue gak akan diam. Udah cukup selama ini gue diam sama sikap dan perlakuan lo sama gue. Gue capek diam terus. Dan, sekali-kali lo emang harus diomongin kayak gini, supaya lo sadar sama sikap lo yang nyakitin orang lain.”


Amelia tak bisa lagi membalas, dia justru bersiap melayangkan tamparan pada Mentari namun lebih cepat ditahan perempuan itu.


Mentari mengulas senyumnya, masih mencengkram lengan Amelia. “Gak usah main tampar-tamparan, gak jaman. Kasihan juga tangan lo, pipi gue juga, sakit nantinya.” Mentari menghempaskan tangan Amelia. Dia mengambil surat resign nya ditangan perempuan itu. “Yaudah, gue cabut dulu, ya.” ucap Mentari sambil melenggang pergi meninggalkan Amelia dan kemarahan perempuan itu.


“Gue akan balas lo, Mentari!”


***


“Apa!?”


Pak Surya mengangguk, “Betul, Pak. Mentari baru saja mengajukan surat resign kepada saya.” ucap Pak Surya, dia kembali mengulang ucapannya sebelumnya.


Angga menatap kembali surat resign tersebut, membacanya dan menyakinkan jika memang benar Mentari lah yang mengajukan resign. “Kenapa, dia kasih alasan apa?” tanya Angga, dia tak terima dan tak suka dengan keputusan yang Mentari ambil sepihak itu.


Pak Surya menggeleng, “Mentari gak kasih alasan spesifik, Pak. Dia hanya bilang kalau dia ingin resign dari perusahaan.”


Angga mendengus pelan, dia meletakkan dengan kasar surat tersebut. “Panggil Mentari sekarang ke ruangan saya.”


Pak Surya mengangguk, beranjak dari duduknya dan langsung melenggang pergi untuk menjalankan perintah dari atasannya. Sedangkan, Angga masih duduk di tempatnya, menatap lurus ke depan dengan kekesalan yang tersirat jelas.


“Kamu emang main-main sama aku, Tari!”

__ADS_1


__ADS_2