Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 12 : Wejangan


__ADS_3

“Disuruh ayah nyusul.”


Angga terkejut saat menemukan Mentari yang tengah duduk dikursi depan minimarket, dimana dirinya membeli air mineral disini.


“Gak di susulin juga gakpapa sebenarnya.”


Mentari beranjak dari duduknya, “Maunya gitu. Tapi, dipaksa.” balas Mentari, dia berdiri berhadapan dengan Angga. Mereka saling tatap dengan tatapan yang sulit diartikan, yang jelas cinta masih terlihat dimata mereka. Namun, ego yang besar mengalahkannya.


“Kenapa bisa ada disini tadi?” tanya Mentari, dia benar-benar terkejut mendapati keberadaan Angga tadi. Padahal dia tak memberi kabar apapun pada pria itu.


Angga menarik sudut bibirnya, tersenyum miris. “7 tahun, rutin setiap weekend aku selalu ikut joging sama kamu juga ibu sama ayah. Pagi ini pun begitu, refleks aku siap-siap dan datang kesini. Sampai akhirnya aku sadar kalau hubungan kita lagi gak baik-baik aja.”


Iya, mereka tak baik-baik saja.


Mentari hanya diam, tak berniat membalas ucapan Angga sampai akhirnya pria itu kembali bicara.


“Perempuan yang semalam itu, dia tetangga ku dulu. Bukan siapa-siapa aku.”


Mentari tak bertanya, namun penjelasan singkat dari Angga sedikit memberikan kelegaan di hatinya yang sejak semalam terasa gundah. “Gak peduli. Mau dia siapa-siapa kamu juga, bukan urusan aku.” bohong Mentari, dirinya terlalu munafik.


“Aku gak mau kamu salah paham.”


“Dan aku gak salah paham.”


Angga menghela napas kasar, dia menatap lekat Mentari. “Tar, kita—”


“Kita udah putus Angga. Urusan kamu, urusan kamu, bukan urusan aku. Mau kamu dekat dengan siapapun sekarang, gak masalah, itu hak kamu.” Munafik, hati Mentari sakit sebenarnya kala dia mengatakan itu. Hatinya tak ikhlas. “Aku bukan siapa-siapa kamu lagi.”


“Kalau aku gak mau gimana?”


Mentari terdiam untuk beberapa saat. “Mending kamu pulang aja, nanti biar aku kasih alasan sama ayah.”


Bukannya melakukan apa yang diucapkan Mentari, Angga justru mengulurkan sebatang cokelat yang dia beli bersama air mineral. Mentari langsung terdiam dibuatnya.

__ADS_1


“Cokelat bisa naikin mood. Siapa tahu dengan kamu makan cokelat ini, mood kamu balik lagi dan jadi lebih baik.”


Mentari hapal betul dengan kalimat yang diucapkan Angga. Kalimat yang sama yang selalu dia ucapkan kala melihat Angga yang uring-uringan, entah karena menghadapi masalah apapun itu. Karena dengan cokelat, pria itu jadi lebih baik. Meskipun Angga sendiri mengatakan bahwa Mentari lah yang jadi alasan dia jadi jauh lebih baik.


“Mungkin dengan mood kamu baik nantinya hubungan kita juga bisa baik lagi.”


Mentari tak bereaksi apapun, dia justru berbalik, melangkah pergi meninggalkan Angga yang menatap kepergian perempuan itu.


***


“Pantesan dari tadi Mentari diam aja, gak bawel kayak biasanya. Ternyata oh ternyata, kamu sama dia lagi gak baik-baik aja.”


Angga menoleh pada calon mertuanya, dia tersenyum tipis mendengar itu. “Gitu lah, Yah.”


Satryo mengeluarkan bungkus rokok dari sakunya, menyalakan pemantik dan menyesap rokok tersebut. Asap mengepul pun keluar dari mulutnya. Dirinya baru selesai makan dan menghampiri Angga yang sudah selesai sejak tadi lalu pamit untuk merokok.


“Kenapa putus, Ga?” tanya Satryo, meskipun dia sebenarnya sudah tahu alasannya, itupun dia diberi tahu tadi oleh istrinya.


Sudah jelas, Angga masih cinta kepada Mentari. Buktinya, pria itu tak menerima status mereka yang sudah putus itu.


Satryo terkekeh mendengarnya, “Yaudah, iya. Jadi, kenapa bisa renggang gitu? Pasti ada alasannya dong.”


Angga tak bisa menjelaskannya karena dia tahu jika disini dia yang pasti bersalah dan mungkin keputusan yang diambil Mentari akan dianggap tepat. Karena bukan seorang dua orang yang mengatakan demikian.


Satryo tersenyum melihat diamnya Angga, dia merangkul pundak pria itu, menepuk-nepuk nya pelan. “Ayah pernah ada diposisi kamu. Wajarlah kalau orang yang pacaran udah lama terus salah satunya minta kepastian. Itu artinya dia emang udah gak mau main-main lagi, dia udah yakin sama pilihannya itu.”


“Bukannya ayah ngebela Tari karena dia anak ayah, bukan, ya. Tapi, kalau ayah ada diposisi Tari juga ayah pasti bakalan lakuin hal yang sama. Karena dalam hubungan, Ga kalau gak mau serius, ya berarti harus putus. Ngapain kita jalanin hubungan yang gak jelas, yang gak akan tahu mau dibawa kemana ini sebenarnya hubungan itu. Jadi, ayah rasa keputusan Tari emang udah tepat. Dan, buat kamu, Ga. Kalau kamu gak bisa kasih kepastian untuk Tari, lebih baik kamu menjauh dari Tari. Coba hidup lagi tanpa Tari, cari kebahagiaan kamu sendiri dan biarin Tari juga cari kebahagiaan nya. Karena kalau dibiarin kayak gini, kalian juga yang akan sakit. Ayah sayang sama kamu, apalagi sama Tari, anak ayah sendiri. Ayah cuma gak mau kalian semakin terluka nantinya”


Ucapan ayah Mentari masih terngiang-ngiang dibenak Angga membuatnya tak bisa untuk sekedar fokus sebentar saja.


“Akhir-akhir ini kayaknya kamu banyak bengong, ya Ga.”


Angga tersentak kaget saat Papa nya datang menghampiri, Yogesti Hiro.

__ADS_1


Angga membenarkan posisi duduknya, “Enggak kok, Pa.”


Yogesti mencebik, dia mengambil alih duduk disamping Angga dan mengintip sekilas apa yang tengah dikerjakan putranya. Layar kosong. Dia terkekeh pelan, “Ternyata pengaruh Mentari besar juga, ya untuk kamu.” Angga mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu.


Yogesti mengendikkan bahu, mengangguk-angguk. “Iya, besar banget pengaruh dia. Baru seminggu putus aja, kamu udah gak karuan kayak gini.”


“Kata siapa aku putus? Gak ada yang putus kok.”


“Gak mungkin adik mu bilang omong kosong sama Papa, bukan tipenya.”


Bella, ternyata pelakunya adik Angga sendiri. Kalau sudah begini, Angga bisa memberikan alasan apa lagi.


“Coba bilang sama Papa. Kenapa putus? Kalian pacaran udah lama loh. Papa pikir, kamu mau serius sama dia.”


Serius. Lagi-lagi kata itu yang Angga dengar. Dia sudah serius dengan Mentari selama ini, tapi artian serius yang diinginkan perempuan itu berbeda dengan serius yang dia maksudkan selama ini.


“Emangnya serius itu harus dalam artian pernikahan aja? Apa dengan kita menikahi itu artinya kita serius? Gitu?”


Yogesti mengerutkan keningnya saat melihat kekesalan yang tiba-tiba ditunjukkan putranya. Dia tahu kini penyebabnya. Yogesti tersenyum miris, menepuk-nepuk pelan pundak Angga.


“Maafin, Papa, Ga.”


Angga menatap heran Papanya.


“Kegagalan pernikahan Papa dengan Mama mu kayaknya jadi memori buruk dibenak kamu, kayaknya kegagalan itu jadi trauma tersendiri untuk kamu. Maafin Papa, Ga. Papa gagal”


Angga menggeleng cepat, dia tak mungkin jujur karena itu sama halnya dengan dia yang menyakiti Papanya sendiri. “Papa gak salah, emang dianya aja yang salah.” Angga bahkan tak sudi memanggil wanita yang merupakan ibu kandungnya itu dengan panggilan Mama.


“Kalau aja dulu Papa berhasil, mungkin kamu gak akan setakut ini sama pernikahan.”


“Pa... Udahlah, jangan salahi diri Papa sendiri. Papa gak salah.”


Yogesti terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia kembali membuka suara. “Mungkin kamu melihat gagalnya Papa di pernikahan Papa yang pertama dan kamu juga tahu penyebabnya itu apa. Tapi, Angga lihat sekarang. Lihat bagaimana Papa bisa berhasil menjalin pernikahan dengan bunda dan kamu juga jadi saksi gimana bisa berjalan nya hubungan ini. Dan, Papa yakin, Mentari bukan perempuan seperti Mama mu. Papa yakin, dia gak mungkin mengkhianati kamu. Percaya sama Papa.”

__ADS_1


__ADS_2