Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Extra Part : Sayang...


__ADS_3

“Kak Tari,”


Mentari mendongak, langsung tak bisa berkata-kata saat melihat seseorang berdiri di hadapannya. Tersenyum haru dan melangkahkan kaki yang terasa ringan begitu saja menghampiri orang tersebut. Ditatapnya dengan lekat, memastikan jika apa yang dilihatnya benar adanya.


“Bell? Seriusan ini? Masya Allah... Alhamdulillah.”


Mentari tak bisa menyembunyikan rasa bahagia saat melihat keadaan Bella saat ini. Dimana perempuan itu kini sudah bisa berdiri dengan tegak, tak lagi menggunakan crutch ataupun kursi roda. Dia memerlukan erat Bella, bahagia atas sembuhnya perempuan itu.


Bella terkekeh pelan, membalas pelukan Mentari tak kalah eratnya. Setelah beberapa saat, Mentari melepaskan pelukan itu perlahan.


“Ayo, duduk dulu.”


Bella mengangguk, mengikuti kemana Mentari mengajak nya. Mereka duduk di salah satu sofa dan Mentari tak lepas menggenggam tangan Bella.


“Kakak bahagia banget keliatannya,”


“Jelas kakak bahagia, Bell. Lihat kamu udah lepas kruk dan bisa jalan normal gini, gimana bisa kakak gak bahagia coba?”


Bella melebarkan senyumnya, dia segera memeluk Mentari dengan eratnya. “Makasih, ya, kak Tari. Udah selalu jadi support sistem aku dari dulu sampai sekarang. Beruntung banget aku bisa kenal kakak, apalagi sebentar lagi kita bakalan jadi kakak adik beneran.”


“Emang sekarang bohongan gitu?” Mentari terkekeh pelan.


Bella terkekeh, melepas pelukannya perlahan. “Ya, enggak juga sih. Tapi, kan nanti beda. Kakak nikah sama kak Angga, jadinya status sebagai kakak Bella itu real!”


“Ada-ada aja deh.”


“Ih, serius... senang aku tuh.” Bella tersenyum lebar, dia menggenggam erat tangan Mentari dan menatapnya dengan lekat. “Makasih, ya, kak. Aku benar-benar makasih buat segala hal yang udah kakak lakuin, waktu yang kakak korbanin buat nemenin aku terapi, kakak yang gak pernah absen ajak aku jalan-jalan pagi. Pokoknya, makasih buat semuanya. I love you so much!”


“I love you more.” balas Mentari tulus, dia segera memeluk Bella hingga posisi mereka bertahan sampai beberapa saat.


“Eh, iya, kamu mau dibuatin apa? Biar dibikinin.”


“Apa aja deh, kak.”


“Oke, tunggu sebentar, ya.”


***


“Kamu udah nunggu lama, Ga? Sorry, ya, ternyata gak sesuai perkiraan. Bu Maya malah request yang lain.”

__ADS_1


Mentari baru saja selesai meeting dan menemui Angga yang sudah menunggunya sejak tadi di dalam mobil. Dia menyimpan tasnya, melirik Angga dengan cemas takut pria itu kesal atau marah.


“Gak papa kok, lagian aku juga baru selesai call sama klien lewat handphone.”


“Pas banget dong kita.”


Angga mengangguk, “Jalan sekarang?” tanya Angga yang diangguki Mentari. Angga segera menyalakan mesin mobilnya, melajukan kendaraan tersebut keluar dari area restoran, tempat dimana Mentari meeting sebelumnya.


“Kamu udah makan?”


“Belum,”


“Kok belum?”


“Niatnya mau lunch sama kamu tadinya, tapi kan kamu overtime tadi. Jadinya, belum makan deh.”


Mentari merasa bersalah kini. “Yaudah, kita mampir dulu ke tempat makan biasa, yuk! Aku juga sebenarnya belum makan, tadi cuma minum doang sama makan cemilan dikit.”


“Gak mau langsung ke tempatnya aja? Nanti ditungguin lagi.”


“Iya juga, ya. Atau kita makannya abis fitting aja?” tawar Mentari lagi, “Tapi, kamu gak lapar emang?”


Belum sempat Angga menjawab, suara dari perutnya langsung menjadi jawaban yang membuat Mentari terkekeh. Sedangkan, Angga langsung bergurat merah wajahnya, malu ketahuan secara langsung.


Angga menggeleng, “Enggak-enggak, kita langsung aja kesana. Lagian, itu aku tadi beli makanan.” Angga menunjuk kursi belakang. “Iya, di belakang itu coba. Ada dessert deh kayaknya. Coba kamu ambil.”


“Eh, iya, ada.”


Mentari mengambil paper bag tersebut, mengeluarkan isinya dan menyimpan paper bag tersebut kembali ke tempatnya. Dia membuka bungkusan nya, tersenyum lebar saat melihat topping nya. Ditatapnya Angga dengan gemas.


“Ih... Ini kan dessert box yang aku mau, Ga. Kok kamu udah beli duluan aja sih.”


“Ya, kan aku beliin buat kamu, sayang.”


“Ah... Gemas. Padahal aku baru bilang pas mau otw meeting tadi. Tapi, udah ada aja sekarang.” Mentari mengambil sendoknya, mulai menyendok dan memakannya. Dia bergumam, tersenyum hari merasakan kenikmatan ini. “Enak...”


Angga tersenyum, dia sudah menduga sebelumnya respon seperti inilah yang akan ditunjukkan Mentari jika perempuan itu suka atau menikmati makanan itu. Dia senang melihat bagaimana Mentari begitu lahap memakannya.


“Sayang, aku juga lapar ini.” ucap Angga, dia sengaja membuat nada suaranya seperti itu, agar terlihat memprihatinkan.

__ADS_1


Mentari menepuk keningnya, dia terkekeh. “Lupa. Ini, aku suapin. Kamu fokus nyetir aja, ya.”


“Iya, sayang. Makasih, ya...”


Setengah jam pun berlalu begitu saja, mereka akhirnya sampai di butik dimana butik tersebut lah yang mempersiapkan wardrobe untuk acara pernikahan mereka nanti. Kebetulan, orang butik tersebut merupakan langganan keluarga Hiro sehingga dipilih lah disini tempatnya.


“Ayo, Ga.”


Mentari sudah bersiap keluar dari mobil, namun Angga mencegahnya. Pria itu menahan lengannya yang terbalut kain.


“Kenapa?” tanya Mentari, dia menaikkan kedua alisnya bingung.


Angga tak menjawab, justru jemari tangannya terulur menyentuh sudut bibir Mentari, menghapus noda cokelat di sana. “Belepotan, kayak anak kecil.” cibir Angga, dia membersihkannya.


Mentari tak menjawab apa-apa, dia membiarkan Angga melakukannya dan hanya menatap lekat pria itu. Setelah selesai, dia tersenyum lebar. “Makasih, ya.”


“Kamu mah gitu!”


Mentari benar-benar dibuat bingung dengan Angga yang justru merajuk setelah dirinya mengucapkan kalimat terakhirnya. “Hah? Emangnya aku kenapa?”


“Masa bilang makasih nya gitu.”


“Lah? Emangnya kenapa? Emangnya salah? Perasaan aku cuma ngomong makasih doang, gak ada yang salah.”


Angga berdecak, menatap jengah Mentari. “Nah, justru karena kamu cuma ngomong makasih doang.”


“Salahnya dimana?”


“Ya, itu, disitu. Masa cuma bilang ‘Makasih, ya.’, masa cuma gitu doang sih. Gak ada embel-embel kata sayang gitu? Ih, kamu mah.”


Mentari langsung ternganga, tak percaya Angga hanya karena masalah sepele seperti ini. Dia terkekeh, “Ya ampun, Ga... Kamu mah, aku pikir kenapa juga. Ya elah.”


“Tapi, ini tuh penting, beib. Masa kita udah pacaran lama, panggilnya masih nama aja, gak ada embel-embel spesial gitu. Jadi, ya, seenggaknya ditambahin kata sayang gitu.”


“Harus banget gitu?”


“Haruslah!”


Mentari menarik tipis kedua sudut bibirnya, dia mengusap lembut pipi Angga agar sedikit melunakkan wajah yang tertekuk karena merajuk itu. “Iya, Angga sayang...” ucap Mentari yang berhasil menciptakan senyuman di wajah kekasihnya itu.

__ADS_1


“Yaudah, yuk sayang kita masuk. Telat lagi kita.”


“Iya, ayo, sayang.”


__ADS_2