Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.42 : Keputusan Akhir


__ADS_3

“Pak Angga beneran bucin banget sama Tari, baru kali ini gue lihat bucinnya dia.”


“Iya, gue juga baru lihat sekarang. Ternyata, Pak Angga emang beneran cinta banget sama Tari.”


“Lihat, bahkan dia gak lepas loh pelukannya. Jelas banget, itu Pak Angga loh yang meluk Tari, bukan Tarinya yang nyodorin diri.”


“Gila sih! Es yang super dingin dan keras, ternyata bisa leleh juga.”


“Tapi, kayaknya itu Pak Angga lagi ketakutan gak sih? Dan, Tari lagi coba nenangin itu.”


“Tapi, masa cowok sih yang takut pas kejebak di lift? Kan harusnya mah cewek.”


“Ya, lo lihat aja sendiri! Itu siapa yang lagi ketakutan, yang meluknya erat banget. Pak Angga kayaknya gak mau banget kehilangan Tari.”


“Beruntung banget, ya bisa dicintai setulus itu.”


Ayumi tersenyum tipis mendengar bisikan orang-orang yang saat ini tengah melihat proses investigasi di lift yang mati dimana ada Angga dan Mentari yang terjebak didalamnya. Entah harus bersyukur atau tidak, namun setiap masalah selalu ada jalannya, di setiap suatu kejadian pasti ada alasan dibaliknya. Dan, mungkin terjebak berdua didalam lift yang mati jadi alasan untuk Angga dan Mentari jadi lebih baik lagi kedepannya. Ayumi berharap demikian.


“Eh, ini kenapa kok pada ngerumun?”


Ayumi tersentak diam seketika mendengar suara itu, namun dengan cepat dia menetralkan raut wajahnya jadi biasa-biasa saja.


“Itu, Pak. Mentari sama Pak Angga kejebak di lift yang mati. Jadi, sekarang lagi proses perbaikan sekaligus buat ngeluarin mereka dari sana.”


“Apa? Tari sama Angga kejebak?” Elrumi terkejut mendengarnya, cepat-cepat menerobos kerumunan untuk bisa melihat lebih dekat. Dirinya melihat keberadaan Ayumi, sehingga membuatnya memutuskan untuk menghampiri perempuan itu. Namun, niatnya terhenti saat Ayumi justru berlalu pergi.


“Bisa-bisanya tuh cewek cuekin gue.” kesal Elrumi, baru kali ini dia mendapat perlakuan demikian. Karena biasanya, setelah insiden ‘itu’, dialah yang jadi pelakunya, bukannya malah jadi korban.


Dengan kekesalannya, Elrumi melangkah mengejar kepergian Ayumi. Sedangkan, masih di tempat yang sama dan keadaan yang sama, Angga semakin mengeratkan genggaman tangannya.


“Ini masih lama, Tar?”


Mentari menatap Angga yang menyandarkan kepalanya di bahu Mentari, namun tangannya masih menggenggam erat tangan perempuan itu. “Gak tahu, Ga.” ucap Mentari, dia masih mengusap-usap punggung tangan pria itu.


“Makasih, ya, Tar. Kamu gak lepasin genggaman kamu ini.” ucap Angga, namun hanya diam dari Mentari yang dia terima. “Aku gak tahu, gimana jadinya kalau kamu lepas genggaman tangan kamu ini. Mungkin, aku—”


“Jangan ngomong aneh-aneh, Ga. Lagipula, aku lakuin ini juga karena ada alasan. Dan, kamu tahu betul alasannya apa.”

__ADS_1


Angga mengangguk pelan, dia tahu betul alasannya. Karena dia juga dibalik alasan itu, lebih tepatnya trauma yang dia rasakan lah yang jadi alasannya dan hanya Mentari yang tahu trauma yang pernah dia alami itu karena hanya pada Mentari lah Angga mampu mengungkapkan rasa trauma itu.


Flashback On~


“Ga, Ga, tenang, Ga. Ini gak apa-apa kok, gak gelap juga. Tenang, tenang.”


“Tapi, disini pengap, Tar. Aku gak bisa, sakit banget disini.”


Mentari menatap cemas Angga yang semakin meringkuk ketakutan memeluk dirinya sendiri, padahal mereka berada di ruangan yang cukup terbuka—tidak, lift bukanlah ruangan yang terbuka.


“Tar...”


“Aku disini, Ga. Aku gak kemana-mana. Tenang, ya. Kamu gak perlu takut, kamu gak perlu cemas. Ada aku kok, aku gak ninggalin kamu.”


Angga menarik tangan Mentari ke dadanya, menggenggam nya begitu erat sambil menahan rasa sesak di dadanya. Mentari yang melihatnya pun terkejut, bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kamu napas yang benar, Ga. Napas, ya...”


Sulit, Angga sulit hanya untuk bernapas normal saja. Rasa takut dan cemas itu masih dia rasakan dan semakin terasa saat Mentari tiba-tiba menarik tangannya yang membuat Angga semakin tersiksa. Namun, ternyata Mentari tak menjauh, perempuan itu justru mendekap wajah Angga, mengarahkan Angga untuk menatapnya.


“Lihat, aku! Napas yang normal. Lihat aku, Angga! Aku disini, gak ninggalin kamu. Kamu gak sendirian. Jadi, sekarang tarik napas kamu dan buang. Tarik napas, buang!”


Mentari menjatuhkan bokongnya di lantai, duduk disamping Angga. Dia menoleh pada Angga yang kini menggenggam tangannya.


“Aku butuh kamu, Tar. Gini dulu, ya. Gakpapa kan?”


Mentari tersenyum tipis, dia mengangguk dan membiarkan Angga terus menggenggam tangannya. Satu pertanyaan tiba-tiba terlintas di benak Mentari saat dia ingat akan beberapa hal yang terjadi pada Angga yang disebabkan oleh hal yang sama. Namun, pertanyaan itu dia biarkan bersarang di benaknya, tak berani dia lontarkan.


“Dulu aku pernah diculik, Tar.”


Mentari mengerutkan keningnya, menatap Angga yang menatapnya sekilas. Sulit sebenarnya mengatakan ini, Angga juga tak pernah sekalipun menceritakan masalah ini.


“Aku diculik dan disekap di ruangan yang gelap dan sempit. Mereka culik aku karena ternyata aku udah jadi incaran mereka. Mereka ngincar anak-anak orang kaya dan salah satunya aku. Aku pikir, setelah mereka minta tebusan sama Papa, aku bakalan dibiarin selamat begitu aja. Tapi, ternyata aku salah.”


Mentari bisa merasakan tubuh Angga yang bergetar kini, dia harap-harap cemas menunggu kelanjutan dari cerita Angga.


“Aku dilecehkan, Tar. Mereka lecehin aku.” Mentari terkejut mendengarnya, dia mengusap pelan tangan Angga, mencoba menenangkan pria itu yang terlihat amat ketakutan. “Mereka lecehin aku di ruangan gelap, sempit dan pengap. Mereka lecehin aku, mereka buka baju aku, mereka mainin ******** aku, bahkan mereka sampai—” Angga tak sanggup melanjutkan nya.

__ADS_1


“Udah, Ga. Kamu gak perlu lanjutin kalau itu nyakitin kamu.”


“Beruntungnya Papa datang di waktu yang tepat. Jadi, tindakan mereka gak sampai kesitu. Tapi, tetep aja, Tar. Rasa takut itu masih aku rasain, bahkan sampai sekarang. Aku jadi takut kalau ada di tempat gelap, sempit dan pengap. Aku gak bisa, Tar. Aku takut. Aku—”


Mentari langsung menarik Angga ke pelukannya, mengusap lembut punggung pria itu yang kini tengah memeluk Mentari erat.


Flashback Off~


***


“Mentari.”


Mentari mengurungkan niatnya yang hendak masuk ke rumah saat tak sengaja berpapasan dengan Yogesti yang baru keluar dari rumahnya didampingi orangtuanya. Terkejut sudah pasti, namun Mentari tetap menunjukkan senyumnya juga memberikan salam pada Papa dari mantan kekasihnya itu.


“Baru pulang, Tar?”


“Iya, om.”


Yogesti tersenyum, mengangguk pelan. Dia menatap kedua orang tua Mentari. “Yaudah, saya permisi dulu, ya.” Yogesti menatap Mentari kini, “Om pulang dulu, Tar.”


Mentari hanya mampu mengangguk saja, menatap kepergian Yogesti dan beralih menatap kedua orangtuanya dengan tatapan bingung. Banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya yang siap dia lontarkan kepada mereka.


Dan, terkejut nya Mentari saat mendengar semuanya.


“Apa? Jadi, Angga gak sengaja melakukan ini?” Mentari terkejut, dia diam termenung seketika. Ternyata apa yang diucapkan Angga memang lah benar adanya.


Satryo mengangguk, “Iya, Angga sama sekali gak tahu tentang rencana Papanya. Dia emang beneran menyimpulkan kalau dirinya emang dijebak di kasus ini. Tapi, ternyata Papanya sendiri dalang dibalik semuanya.”


Mentari masih diam.


“Ayah bingung, kenapa masalah seserius ini gak kalian obrolin sama ayah. Kalian justru diam-diam aja dan pura-pura gak tahu, padahal ini masalah serius loh.”


“Aku cuma gak mau kamu kecewa sama Angga, Yah.”


“Ayah gak akan kecewa karena ayah tahu fakta apa yang sebenarnya.” balas Satryo yang dibalas kediaman oleh istrinya. Dia kini menatap putrinya yang juga belum mengeluarkan suaranya. “Papanya Angga melakukan ini bukan karena dia mempertanyakan ketulusan kita, bukan meragukan kamu, nak. Tapi, dia coba menyadarkan Angga kalau kamu gak seperti ibu kandungnya.”


Mentari masih juga diam, nampak memikirkan semuanya.

__ADS_1


“Ayah gak bermaksud memaksa kamu atau apa. Tapi, ayah yakin kalau kamu tahu betul alasan Angga sampai bisa bersikap kayak gini itu karena apa. Dan, ayah harap kamu bisa ambil keputusan yang tepat, Tari. Jangan sampai, keputusan kamu justru menyakiti kamu, menyakiti kalian.”


__ADS_2