
“Pagi Om, tante.”
Mentari segera menyalami kedua orang tua Angga, dia tersenyum hangat pada mereka yang dibalas tak kalah hangat pula. Ini sudah pertemuan mereka yang kesekian kalinya semenjak terakhir bertemu tiga tahun yang lalu. Sambutan hangat pun masih orang tua Angga berikan pada Mentari, meskipun mereka tahu jika Mentari selama ini pergi dan membuat putra mereka frustasi. Tapi, bagi orang tua Angga, Mentari tak salah apapun, Mentari berhak melakukan itu. Lagipula, masalah utamanya ada di Angga selama ini. Dan, saat mendengar jika Angga dan Mentari sudah kembali, sungguh kebahagiaan itu tak bisa dipungkiri.
“Pagi banget kamu kesini, padahal kamu juga lagi sibuk kan? Maaf, ya, ngerepotin.” Rianti meringis pelan, tak enak hati sebenarnya.
Mentari menggeleng, “Enggak lah, tan. Gak merepotkan sama sekali. Mentari senang kok bisa bantu Angga sama Bella terapi hari ini.”
“Makasih, ya, Tari masih mau menerima Angga meskipun keadaan Angga sekarang belum normal.” ucap Yogesti, dia tersenyum tulis.
Mentari tersenyum simpul, dia mengangguk. “Tari cuma yakin aja kalau Angga sama Bella, mereka bisa jalan normal lagi. Tapi, ya, mungkin butuh waktu aja.”
“Iya. Yaudah, kamu sekalian sarapan aja, ya. Itu sarapan udah disiapin, banyak banget. Ayo!”
“Iya, tan. Makasih, ya...”
Mentari dirangkul Rianti menuju meja makan, di sana sudah ada Angga yang menunggu mereka dan langsung tersenyum lebar saat melihat keberadaan Mentari di kediamannya.
“Tar,”
Mentari tersenyum, dia melambai tipis dan segera menghampiri Angga. “Morning. Gimana, udah siap kan buat terapi nanti?” tanya Mentari, dia berdiri disamping Angga yang duduk di kursi roda.
Angga mengangguk, “Siap dong. Apalagi ditemenin kamu.” jawab Angga, dia mengerutkan keningnya. “Tapi, ini kamu gak papa nemenin aku? Kan kamu ada kerjaan juga kali.”
“Ih, kamu. Tenang aja kali. Kan aku punya Arin, dia udah jadi kepercayaan aku. Jadi, selama aku disini, aku serahin semuanya sama Arin. Tapi, tenang aja, aku tetap pantau dari sini. Jadi, kamu gak usah khawatir, ya.”
Angga mengangguk, dia mengusap punggung tangan Mentari yang berada diatas pegangan kursinya. “Makasih, ya.” ucap Angga yang dibalas dengan senyuman juga kedipan mata.
Suara deheman dari Yogesti membuyarkan mereka. Angga berdecak pelan, pura-pura kesal sedangkan Mentari tersenyum malu. Mentari segera duduk disamping Angga.
“Yaudah, ayo kita makan!”
__ADS_1
Rianti menyiapkan makanan untuk suaminya, sedangkan Mentari untuk Angga.
“Sedikit aja, Tar sayurnya.” ucap Angga melihat Mentari yang menyendokkan lumayan banyak sayuran ke piring Angga.
“Enggak lah, aku banyakin.” Mentari menyimpan piring makanan dihadapan Angga. Keningnya seketika mengerut saat sadar jika Bella tak ada disini. “Bella, mana?” tanya Mentari.
Seketika raut wajah Rianti berubah seketika, kesedihan muncul di sana. “Bella belum mau sarapan, dia nyusul nanti.”
“Boleh, gak kalau Tari susul Bella ke kamar?” tanya Mentari, dia berharap diizinkan. Dia juga menoleh pada Angga yang tentu saja diangguki oleh pria itu.
“Makasih, ya, Tari.”
Mentari mengangguk, dia segera beranjak dan bergegas pergi menuju kamar Bella yang dia hapal letaknya dimana. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu, namun tak ada juga jawaban. Bukannya bermaksud bersikap kurang sopan dan seenaknya, Mentari hanya tak mau terjadi sesuatu pada Bella. Dia segera mendorong pintu dan tak menemukan keberadaan perempuan itu di kamarnya. Namun, pintu balkon kamar terbuka.
Di sana, ada Bella yang tengah diam termenung menatap kosong ke depan.
Mentari menghela napas kasar, dia mengerti bagaimana perasaan Bella saat ini. Dia melangkah mendekat pada Bella, menyentuh pundak perempuan itu dan bersimpuh disamping Bella yang tentu terkejut dengan kedatangannya.
Bella yang awalnya terkejut, mengangguk dan tersenyum. “Kak Tari gak kedengaran masuk ke kamar. Kapan masuknya, kak?”
“Dari tadi sih, dari... sejak kamu duduk ngelamun disini.”
“Siapa yang ngelamun? Gak ada kok.” Bella mencebik, dia menggeleng pelan. “Lagian aku tuh lagi menikmati udara pagi yang benar-benar sejuk sekarang. Kan jarang-jarang gitu loh kak pagi-pagi udaranya masih segar gini.”
Mentari bergumam, dia mengangguk-angguk. “Oh... Gitu, ya.”
“Iya ih, kak. Btw, kakak kapan datang? Kok gak kasih tahu aku sih? Tahu gitu aku tadi udah di bawah, sambut kakak pake ala-ala gitu, nanti aku lar—i.” Bella menatap kakinya sendu, dia tersenyum mencoba menyakinkan Mentari kalau dirinya baik-baik saja. “Ya, nanti pokoknya aku sambut kakak gitu kayak biasanya dulu gitu.”
Mentari tersenyum mendengar celotehan Bella, dia merentangkan tangannya. “Sini, kakak peluk.”
Bella menggeleng, “Enggak, ah.”
__ADS_1
Mentari mengerutkan keningnya, “Loh, kenapa?”
“Nanti cengeng kalau udah dipeluk kakak,”
“Gakpapa lah, biar agak tenangan dikit. Udah, sini peluk dulu.”
Bella akhirnya menerima pelukan Mentari, dia mengeratkan pelukannya dan tak bisa dipungkiri jika hatinya langsung terenyuh saat tangan Mentari mengusap lembut punggungnya.
“Bella sedih kak,” Bella menghela napas berat, suaranya sudah bergetar. “Bella juga takut, takut banget kalau gak bisa normal lagi kayak dulu. Bella takut kalau bakalan lumpuh selamanya, kak. Bella gak bisa lagi lari—jangankan lari, buat berdiri tegak aja, Bella gak yakin bisa lakuin itu.”
Mentari mengerjap-ngerjapkan matanya, dia semakin mengeratkan pelukannya saat Bella menangis, membiarkan perempuan itu menumpahkan kesedihannya.
Mentari melepaskan pelukannya perlahan, dia menunjukkan senyum hangatnya sambil mengusap air mata di pipi Bella. “Bell, kamu sendiri yang datang hari itu temuin kakak, ceritain semuanya dan yakini kakak kalau Angga akan baik-baik aja dan kembali normal. Keadaan kamu sama kakak kamu, gak jauh beda, sama. Kamu aja yakin kalau kakak kamu bisa normal lagi, kenapa ke diri kamu sendiri justru enggak?”
“Karena aku sama kak Angga beda, kak.”
“Apanya yang beda? Sama.”
“Kak Angga punya kak Tari yang bisa terima dia apa adanya, ada kak Tari yang jadi alasan buat kak Angga bisa bangkit, bisa normal lagi. Sedangkan aku? Siapa kak yang bisa terima perempuan lumpuh seperti aku ini? Gak ada!”
“Ada, Bell! Ada. Ada Papa sama bunda kamu yang harusnya jadi alasan kamu untuk bertahan. Oke, kalau bukan buat mereka, seenggaknya buat diri kamu. Masih ada masa depan yang nunggu kamu.”
Bella tersenyum miris, “Masa depan aku bahkan udah hancur!”
“Gak ada. Gak ada yang hancur disini. Kamu, harus tetap yakin, kalau kamu pasti bisa lewatin ini semua. Kamu harus yakin itu semua, Bell.”
“Tapi, kak—”
“Bell, c'mon!”
Bella tak menjawab lagi, dia justru menangis kembali dan Mentari langsung membawa perempuan itu ke pelukannya.
__ADS_1
***