Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.40 : Meminta Kepercayaan?


__ADS_3

“Tari, kok jam segini udah pulang sih?”


“Hei, kamu kenapa sayang?”


“Tari?”


Mentari tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya mampu menangis kini dalam dekapan ibunya yang cukup terkejut dengan apa yang tiba-tiba terjadi.


Cantika mengerjap-ngerjapkan matanya, mengerutkan keningnya bingung melihat keadaan putrinya yang datang tiba-tiba memeluknya dengan tangisan. Dia hanya mampu mengusap lembut punggung putrinya yang bergetar hebat, tak lagi mengeluarkan pertanyaan dan hanya membiarkan putrinya terus menangis agar sedikit lebih tenang.


“Mau cerita sama ibu?”


Akhirnya, saat dirasa Mentari sudah tenang, Cantika melontarkan kembali pertanyaan nya. Dia ingin tahu, sebab apa yang membuat putrinya jadi demikian.


Mentari terdiam sejenak, semakin memegang erat gelas dalam genggaman kedua tangannya. Kembali mengingat obrolan yang sempat dia dengar antara Angga dan Papanya, berhasil membuat Mentari berkaca-kaca.


“Angga jahat, bu.”


Cantika semakin mengerutkan keningnya bingung mendengar itu, sedangkan dia tahu bahwa akhir-akhir ini hubungan Mentari dan Angga itu sedikit lebih membaik. “Jahat? Jahat kenapa, Tari?” tanya Cantika bingung.


“Segitu gak percaya dia sama ketulusan aku, sampai-sampai rasa cinta, rasa tulus aku dia raguin. Padahal kita udah berhubungan cukup lama dan seharusnya dia tahu betul gimana aku, seharusnya dia gak perlu mempertanyakan rasa cinta dan ketulusan aku.”


Cantika masih belum mengerti.


Mentari terisak kembali, “Tega-teganya dia buat sandiwara masuk penjara cuma buat lihat apakah aku tulus sama dia atau enggak.”


Cantika terkejut mendengarnya, tak menyangka.


“Bu, apa salah kalau orang biasa kayak kita dicintai sama orang kalangan atas?” tanya Mentari, dia bertanya dengan rasa sesak di hatinya. “Apa kalau orang biasa mencintai dan dicintai orang kalangan atas, itu kesalahan? Apa rasa tulus dan cintanya juga salah? Apa perlu jadi pertanyaan, perlu diragukan?”


Cantika menggapai tangan Mentari, “Tari, kok ngomongnya gitu sih? Kamu tahu Angga, kamu tahu juga keluarganya. Mereka gak kayak gitu, mereka gak mungkin memandang kita kayak gitu.”

__ADS_1


“Mungkin mereka enggak. Tapi, orang-orang diluar sana berpikir kayak gitu yang buat mereka juga ikutan ragu, bu.”


“Tari, udah, nak. Kamu cuma lagi emosi sekarang.” Cantika memeluk Mentari kembali, mencoba menenangkan nya lagi. “Mungkin ada alasan lain kenapa Angga bisa lakuin ini, Tari. Ibu percaya sama Angga.”


“Apapun alasannya, Tari tetap kecewa, bu. Tari kecewa.”


***


Ini adalah hari kedua Mentari memutuskan untuk mangkir dari kewajibannya guna menghindari masalah yang begitu pelik dia rasakan. Kamar menjadi tempat paling aman untuk nya menenangkan diri sambil berpikir apa yang harus dilakukan kedepannya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Mentari, dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka perlahan dan langsung menunjukkan keberadaan ibunya yang datang membawa nampan berisikan makanan.


“Makan dulu, ya, sayang. Abis itu minum obat.”


Benar, Mentari sakit sebenarnya. Malam tepat setelah dia tahu faktanya, demam tinggi pun menyerangnya bahkan sampai sekarang pun demamnya belum juga turun.


Cantika menghampiri Mentari, duduk disisi ranjang yang kosong sambil memangku mangkuk berisikan bubur. Dia menatap sendu putrinya yang terlihat pucat, “Makan, ya? Ibu suapi.” ucap Cantika sambil mengarahkan sesendok bubur ke mulut Mentari.


“Udah, bu.”


Mentari tak mau lagi, 3 suap dia rasa sudah cukup.


Cantika menghela napas pelan, dia mengangguk, tak memaksa. “Yaudah abis itu minum obatnya, ya. Terus istirahat.”


Mentari mengangguk, “Makasih, ya, bu.”


Cantika tersenyum hangat, dia menyiapkan juga memberikan obat untuk putrinya, duduk dan memijat pelan kaki juga tangannya meskipun berulang kali ditolak.


“Bu, makasih, ya.” Mentari mendongak, tersenyum pada ibunya yang membalas senyumnya dengan anggukan. “Makasih ibu selalu ada buat aku, ibu mau dengar semua masalah aku dan sekarang aku ngerepotin ibu karena sakit, padahal aku udah gede, tetap aja ngerepotin.”


“Apa sih kamu ini? Kamu ini anak ibu. Mau sedewasa apapun kamu, tetap di mata ibu sama ayah, kamu ini putri kecil kami. Lagipula, mana ada sih orang tua yang ngerasa direpotkan sama anak nya? Gak ada. Jadi, jangan ngerasa ngerepotin lagi, orang enggak juga.”

__ADS_1


Mentari tersenyum lebar, dia memeluk erat pinggang ibunya, menelusup kan wajahnya ke sana sambil perlahan memejamkan mata karena merasa nikmat dengan usapan lembut penuh kasih sayang yang dilakukan ibunya.


Entah ini mimpi atau tidak, namun sekilas Mentari melihat sosok Angga.


***


“Jujur, Ga. Ibu kecewa sama kamu.”


Angga hanya mampu menundukkan kepalanya, tak berani menatap ibu dari wanita yang dicintainya.


“Gimana bisa kamu mempertanyakan rasa cinta dan ketulusan Mentari disaat seharusnya kamu tahu betul gimana dia.” Cantika menggeleng pelan, “Ibu bahkan gak nyangka, saking ragu dan gak percayanya kamu sama Mentari, kamu sampai lakuin kebohongan. Ini kebohongan gak kecil loh, ini kebohongan besar. Dan, kamu tahu? Kalau sampai ayahnya Mentari tahu, entah gimana kamu nantinya. Beruntung, sekarang ayahnya Tari lagi di luar kota, gak tahu menahun tentang masalah ini.”


Cantika menghela napas panjang melihat diamnya Angga. “Ibu gak minta kamu diam, Angga. Ibu mau kamu jelasin semuanya supaya ibu juga bisa tahu kebenarannya dari sudut pandang kamu.”


“Bu, aku tahu ibu kecewa dan mungkin gak akan maafin kesalahan yang udah aku buat ini. Tapi, tolong ibu percaya sama aku kalau aku gak mungkin lakuin ini.”


Cantika mengerutkan keningnya.


“Aku emang gak punya keberanian untuk menikahi Tari, aku terlalu pengecut dan takut sama pernikahan. Tapi, aku gak mungkin meragukan cinta dan ketulusan Tari, bu. Aku percaya sama cinta dan ketulusannya. Aku percaya itu.”


“Terus, untuk apa kamu membuat kebohongan ini, Angga? Untuk apa?”


Angga menggeleng, “Bu, Angga sama sekali gak berniat membohongi ataupun mempermainkan ini semua. Angga bahkan gak tahu apapun, bu. Papa, bu, Papa yang lakuin ini.”


“Papa kamu?” Cantika terkejut mendengarnya. “Jadi, maksudnya adalah Papa kamu ragu dengan Mentari?” tanya Cantika, dia benar-benar tak menyangka.


Angga menggeleng, “Papa bukan nya ragu, Papa justru percaya dan mau aku sadar kalau Mentari gak seperti kebanyakan perempuan di luar sana. Mentari bukan tipe perempuan yang buat aku takut sama pernikahan. Dan, Tari emang gak seperti itu.” Angga jadi ingat kembali bagaimana tulusnya Mentari selama ini.


Cantika masih belum mengerti dengan ini semua.


Angga menatap Cantika dengan penuh permohonan, “Bu, tolong kasih lagi kepercayaan ibu sama aku. Aku janji, aku akan membahagiakan Mentari. Aku gak membuat dia kecewa lagi. Tolong, bu.”

__ADS_1


__ADS_2