Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 7 : Pembalasan Mantan


__ADS_3

Hal yang harus diingat! Perempuan bukan hanya satu, tapi banyak. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja, jangan terlalu memperlihatkan kalau kita belum moveon. Biasa aja.


Angga coba untuk menerapkan itu dalam benaknya. Benar apa yang diucapkan Mahesa kepadanya. Perempuan banyak, bukan hanya Mentari saja. Angga juga punya wajah tampan, rupawan, berkharisma, banyak wanita diluar sana yang ingin menjadi pasangannya. Jadi, tenang saja. Tunjukkan pada dunia, terutama Mentari bahwa putusnya hubungan mereka bukanlah hal yang menyakitkan. Biasa saja.


Iya! Mudah untuk mengucapkan itu dan menyakinkan nya dalam hati. Tapi, sulit sekali untuk melaksanakan nya secara langsung.


Apalagi, pagi-pagi Angga sudah dipertemukan dengan Mentari yang saat ini baru saja keluar dari mobilnya. Dimana mobil mereka terparkir berebelahan. Tak bisa dipungkiri juga jika Mentari terlihat jauh lebih menawan dari biasanya. Apa memang benar, jika sudah jadi mantan, maka akan jauh lebih menawan?


Mata mereka bertemu, rasa kikuk pun langsung terasa diantara mereka apalagi di area parkir yang seluas ini hanya ada mereka berdua. Jika saja hubungan mereka baik-baik saja, maka saat ini juga Angga akan menghampiri Mentari, mengecup kening juga puncak kepala perempuan itu, memeluk erat Mentari nya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mentari yang selalu menenangkan. Iya, jika saja hubungan mereka masih sama seperti dulu, hal itu akan Angga lakukan. Dan, sayangnya, tidak untuk sekarang.


“Pagi Pak Angga, saya duluan, permisi.”


Dengan begitu formalnya, Mentari berlalu dari Angga, meningggalkan Angga yang tak bisa mengalihkan atensinya sedikitpun dari Mentari yang kini sudah melangkah menjauh darinya.


Angga menggeleng pelan, “Gak bisa, gak bisa. Gak bisa Tari kayak gini sama gue.” ucap Angga, dia tak terima melihat Mentari baik-baik saja disaat dirinya justru merasakan yang sebaliknya.


“Emang iya banyak cewek yang mau ngantri sama gue. Tapi, gue maunya Tari. Gue cintanya sama dia!”


***


Mentari mengedarkan pandangannya dan langsung menemukan Ayumi yang tengah menikmati sarapannya seorang diri sambil berfokus pada ponsel. Cepat-cepat dia melangkah menghampiri perempuan itu dan langsung duduk seketika di kursi hadapan Ayumi.


Helaan napas kasar langsung keluar dari mulut Mentari, membuat Ayumi yang tengah fokus pada ponselnya mendongakkan mata seketika. Ayumi menarik sudut bibirnya, “Kenapa lo? Pagi-pagi udah menghela napas aja. Udah kayak abis ketemu setan bae, keringet dingin tuh ngucur.” ucap Ayumi, dia terkekeh.


Mentari menyeka keringat dingin di dahinya, dia mengerucutkan bibirnya. “Ini lebih dari ketemu setan, Yu. Lebih seram.”


“Apa yang lebih seram dari ketemu setan?” Ayumi menaikkan kedua alisnya.


“Ketemu mantan.”


Yang Ayumi tahu, mantan Mentari itu satu, yaitu bos mereka yang tak lain dan tak bukan adalah Angga.


Ayumi berdecak pelan, dia menunjukkan senyum datar. “Udah gue bilang, kalau lo putus sama Angga tuh, bakalan jadi masalah. Orang kita sekantor, dia atasan kita. Ngeyel sih lo.” ucap Ayumi. “Emangnya lo ketemu sama Angga dimana pagi ini?”


“Parkiran. Gue ketemu dia disana, mana mobil kita sebelah-sebelahan lagi. Aduh...”


Ayumi terkekeh mendengarnya, “Kayaknya takdir emang gak mau kalian kepisah deh, dipepetin terus masalahnya.”


Mentari berdecak menanggapi ucapan Ayumi.


“Terus, gimana?”


Mentari menatap Ayumi, “Gimana apanya?”


“Ya, tadi katanya lo ketemu Angga diparkiran. Terus setelahnya apa yang terjadi?” tanya Ayumi, ”Berduaan doang kan kalian tadi di parkiran?” Mentari mengangguk.


Mentari terdiam, menatap lurus kedepan. Justru memorinya berputar kembali pada saat dirinya masih berstatus sebagai kekasih Angga.


Flashback On~


“Padahal udah aku bilang, berangkatnya pake mobil ku aja. Tapi, ngeyel banget pengen bawa mobil sendiri.”


Mentari tersenyum simpul mendengar gerutuan Angga lewat sambungan telepon di ponselnya, dia menatap kedepan, fokus pada jalanan. Sebentar lagi dia sampai di kantor. “Kan aku udah bilang, kalau dikantor jangan terlalu dekat. Biasa aja. Gak enak dilihat orang kantor, nanti dikiranya apa lagi.”


“Gak enak kenapa sih, yang. Toh, orang kantor juga udah tahu kan kalau kamu tuh pacar aku. Ngapain gak enak segala. Lagian, satu mobil sama pacar bukan masalah kali.”


“Iya, bukan masalah kalau ceritanya kamu sama aku itu sama-sama karyawan. Lah, ini aku karyawan biasa, sedangkan kamu bos nya. Jadi, gak bisa dong.”


“Lah, aku aja kan sebenarnya masih karyawan. Semuanya masih dibawah pengawasan Papa, aku cuma handle sebagian kecilnya aja. .”


Angga dan segala hal yang diucapkan yang tak pernah mau kalah memang sulit dipisahkan. Mentari hanya bisa tersenyum saja.


“Udah mau nyampe, aku parkir di kanan pojok. Kamu di kiri pojok aja, ya.”

__ADS_1


Tujuannya agar mobil mereka terparkir tak dekat, agar berjauhan saja untuk menghilangkan segala persepsi orang-orang dan gosip-gosip hangat yang bisa ditimbulkan. Namun, Angga tetaplah Angga dengan sifat keras kepalanya. Diminta untuk menjauh, justru mendekat.


“Angga... Aku kan udah bilang, parkirnya di sana. Jangan dekat mobil aku.” keluh Mentari saat dirinya baru saja turun beriringan bersama Angga yang juga baru keluar dari mobilnya. Mereka berhadapan.


“Gak mau. Ngapain harus jauh-jauh dari kamu?” tanya Angga, dia menatap lekat Mentari yang menghela napas kasar. “Kamu ngapain sih pakai lipstik segala? Aku gak suka lihatnya.”


Otomatis Mentari menyentuh bibirnya, keningnya mengerut bingung. “Kenapa emangnya? Kelihatan jelek, ya atau terlalu menor?” tanya Mentari cemas, dengan cepat dia mengambil cermin kecil di shoulder bag nya dan menatap pantulan wajahnya disana. “Enggak tapi, ah. Masih biasa aja ini, cantik malah. Bagus ini lipstik nya, orang ini yang waktu itu beli sama kamu, yang kata kamu bagus. Ini loh yang—”


“Masalahnya itu, Tari, sayang...”


Mentari mendongak, menatap bingung Angga. “Masalahnya apa?”


“Masalahnya kamu keliatan tambah cantik dan aku gak suka kalau kecantikan kamu itu dilihat orang-orang, apalagi cowok-cowok dikantor. Gedek aku liat mereka yang lirik-lirik kamu.”


Mentari menahan senyumnya seketika. Dia tahu jika Angga tengah cemburu kini.


“Lagian kan aku izinin kamu beli lipstik itu karena kamu cantik pakai itu dan cuma aku aja yang boleh lihat kecantikan itu.” tukas Angga, dia berdecak pelan.


Menarik mengulum senyumnya, dia menyimpan tangannya dibelakang dan berjinjit kemudian mencondongkan tubuhnya pada Angga, berbisik pada pria itu. “Posesif!”


“Bukan posesif, sayang. Aku cuma mau menjaga apa yang menjadi milik aku. Udah itu aja.” balas Angga, dia menahan tubuh Mentari saat perempuan itu akan menarik diri. Didekapnya erat pinggang perempuan itu. “Lagian kenapa bisa sih kamu tambah cantik kayak gini? Heran aku.” puji Angga, dia tak henti-hentinya menatap Mentari di setiap inci wajah perempuan itu.


“Gak tahu, udah ditakdirin cantik aja kali.”


“Masa?” Angga menaikkan kedua alisnya , tak sedikit pun dia mengalihkan atensinya dari bola mata Mentari.


“Iya. Udah, ah! Lepasin. Aku mau masuk, udah mau jam masuk nih.”


Angga tak melepaskan, dia masih memeluk erat pinggang Mentari dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia angkat untuk melihat waktu lewat jam di pergelangan tangannya. “Masih ada 20 menit kok, masih lama.”


“Iya... Tapi, lepasin dulu ini tangan kamu. Nanti kalau ada yang lihat gimana?”


“Cuma ada kita berdua kok, gak ada yang lain.”


Mentari menghela napas kasar, “Lepasin...”


“Terus maunya kamu apa?”


“Kamu.”


Mentari membulatkan matanya, “Angga...”


Angga terkekeh, matanya beralih ke bibir Mentari yang selalu menggemaskan dimatanya. Bibir yang sedikit tebal itu selalu saja membuatnya ingin mengecup bibir itu. ”Aku maunya kamu...” ucap Angga, tangannya mengusap lembut rahang Mentari sampai ibu jarinya menyentuh bibir perempuan itu.


Mentari menepis tangan Angga, “Ish! Tangannya gak mau diam.” kesal Mentari.


“Gak akan bisa diam, malah pengen—”


Angga sudah bersiap mengecup bibir Mentari, namun perempuan itu dengan cepat menahannya, menutup mulut Angga dengan telapak tangannya. “Aku bakalan marah seumur hidup kalau kamu lakuin itu. Kalau mau cium bibir aku, halalin dulu. Berani, gak?”


Angga berdecak.


Angga terkekeh, “Yaudah, hapus lipstik ini dari bibir kamu.” ucap Angga sambil mengusap lipstik yang menempel dibibir Mentari.


“Ih, Ga kok gitu sih. Ini kan—”


“Oh, yaudah biar aku aja yang hapusin.”


“Gak mau... Iya, iya, ini aku hapus sendiri. Tapi, lepasin dulu tangannya. Aku susah tahu ambil remover di tas ku.”


Angga menurut, dia menarik tangannya yang melingkar dipinggang Mentari. Perempuan itu segera memberi jarak dengan pria itu.


“Nanti aja deh aku hapusnya.” ucap Mentari, dia bergegas pergi menjauh dari Angga yang tak bisa langsung menangkap kembali tubuh Mentari karena pergerakan nya yang kurang cepat dari perempuan itu.

__ADS_1


“Tari...”


“Aku suka tahu sama lipstik nya, bikin aku tambah cantik.”


“Aku gak suka kamu dilihatin cowok lain.”


“Resiko punya pacar cantik!” balas Mentari sambil bernyanyi, dia mengibaskan rambutnya dan melambaikan tangan meninggalkan Angga yang kesal sekaligus gemas dengan tingkah kekasihnya itu.


Flashback Off~


“Lah, lo ngapa senyam-senyum, Tar?” tanya Ayumi, mengerutkan keningnya melihat Mentari yang tersenyum tiba-tiba.


Mentari tersadar, dia mengenyahkan lamunan nya yang justru mengingat masa lalu. “Enggak, enggak, gue gakpapa kok.” ucap Mentari, dia menggeleng pelan sambil beranjak berdiri. “Yaudah, ya, gue duluan ke atas.”


“Yauda, iya. Nanti gue nyusul, sayang banget nih sedikit lagi. Lagi enak-enaknya.” ucap Ayumi menunjuk sarapannya yang tersisa beberapa suap lagi.


Mentari mengangguk, dia bergegas pergi. Harusnya, cukup sekali saja dalam satu hari atau bahkan tidak usah bertemu Angga sama sekali. Namun, ini sudah kedua kalinya dalam satu hari—maaf, maksudnya dipagi ini seorang Mentari bertemu dengan Angga. Dan, kenapa setiap kali bertemu mata mereka harus saling berpandangan untuk waktu yang cukup lama.


Mentari cepat-cepat melangkah masuk ke lift bersama yang lainnya, dia memilih berada dibarisan paling belakang di bagian pojok. Lift yang tadinya ramai oleh perbincangan para karyawan, seketika hening saat Angga tiba-tiba ikut masuk dan bergabung di lift.


“Lift khusus para atasan sedang ada perbaikan. Jadi, saya ikut naik lift karyawan. Gak papa kan?” tanya Angga saat semua mata tertuju pada nya.


Dan, serentak menjawab. “Gakpapa, pak.” terkecuali Mentari yang hanya diam dan memilih berkutat dengan ponselnya tanpa tujuan.


Angga mengangguk, dia melirik Mentari yang mengacuhkan nya. “Gakpapa kan Mentari?” tanya Angga, khusus dia bertanya pada perempuan itu yang seketika mendongak.


“Gak papa lah, pak. Masa iya saya larang atasan sendiri buat naik lift karyawan. Kami yang cuma karyawan biasa, mana bisa melarang.” jawab Mentari, dia tersenyum paksa.


“Terima kasih.” balas Angga, dia masuk dan berdiri paling depan dengan diapit para karyawati.


“Pagi, Pak Angga.”


“Pagi Sheila. Itu kamu bawa apa?”


Mentari ingin tak peduli, ingin berpura-pura tuli namun telinganya masih sangat berfungsi dengan normal. Sudut bibirnya bergetar, ada rasa kesal di hati saat mendengar suara Angga yang begitu ramah. Kenapa Mentari kesal? Karena dia tahu, Angga tak seramah itu biasanya.


“Oh, ini cookies pak. Kebetulan saya bikin cookies lumayan banyak, jadi saya mau bagi-bagiin ke teman-teman yang lain.”


“Saya kebagian gak?”


Semua yang ada di lift terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Angga, tak terkecuali Sheila sendiri, mereka semua tahu sebenarnya.


“Pak Angga mau? Boleh, pak. Ini, ini buat Pak Angga.”


“Terimakasih, Sheila. Saya langsung coba, ya.”


“Iya, pak. Silahkan.”


Tak peduli, namun Mentari sebenarnya tengah mencuri-curi pandang. Dia sejujurnya penasaran dengan respon yang akan diberikan Angga setelah memakan cookies yang dibuat oleh Sheila.


Angga sendiri sebenarnya bukan tipe orang seperti ini, namun demi membuat seorang Mentari cemburu dan menyesal telah memutuskannya, maka dia melakukan itu.


“Wah, enak banget cookies buatan kamu Sheila. Ini sih saya bisa makan banyak, habis kali itu semua sama saya sendiri.”


Rasa kesal yang awalnya Mentari rasakan kini berubah jadi perasaan senang, lucu mendengar jawaban dilontarkan Angga tentunya. Rasanya, ia ingin tertawa terbahak-bahak saat ini juga akibat ucapan Angga. Tadi, Angga bilang dirinya bisa makan segitu banyak cookies yang dibawa Sheila, sedangkan Mentari sendiri tahu jika Angga itu kurang suka dengan makanan manis. Jadi, apa yang diucapkan Angga tentunya sangat berbanding terbalik dengan kebenarannya.


“Idih.” cibir Mentari sambil tersenyum yang sukses membuat semua mata yang ada di lift, termasuk Angga kini menatapnya.


Mentari menaikkan kedua alisnya, terkejut ditatap semua orang. “Apa? Ini ada video viral, ngomong tapi gak sesuai fakta. Saya cuma menanggapi video viral ini aja.” ucap Mentari, dia menunjukkan video di ponselnya. Beruntungnya, timing video dan ucapannya itu sama.


“Oh... Dikira kamu gak suka sama omongan saya.” ucap Angga, dia tersenyum penuh arti.


Mentari memicingkan matanya, “Kenapa saya harus gak suka? Saya sih biasa aja, pak. Kalau bapak suka makanan yang manis, yaudah.”

__ADS_1


“Gak cemburu kan?”


“Apaan sih?!”


__ADS_2