
“Tari!”
Amelia tersenyum lebar menatap keberadaan Angga, dia akan memanfaatkan situasi ini. Seketika raut sedih dia tunjukkan, dia kesakitan, meskipun rasa sakit memang lah benar adanya. Kopi yang disiramkan Mentari masih panas, bahkan tangan Amelia benar-benar melepuh kini.
“Angga...” Amelia mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa melepuh, menunjukkannya pada Angga. Dia melirik tajam Mentari dan kembali menatap Angga. “Dia siram aku pake kopi panas. Tangan aku sakit banget... Pedih banget, Ga. Tuh, melepuh gini.”
Mentari memutar jengah bola matanya, dia bahkan tak peduli dan berniat pergi tanpa mau tahu akan bagaimana sikap yang Angga tunjukkan. Karena Mentari tahu, jika tadi saja Angga menyerukan namanya demikian, pasti kemarahan yang akan ditunjukkan. Dan, Mentari tak inginmembuang waktu hanya untuk meladeni hal yang tak jelas dan justru menyakitkan untuknya.
Angga mencekal cepat lengan Mentari saat perempuan itu berniat pergi, “Mau kemana?” tanya Angga, dia menatap Mentari dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Amelia mengulum senyumnya, merasa menang melihat Angga yang sepertinya berada di pihaknya.
Mentari membalas menatap Angga, dia melepaskan tangan Angga dari lengannya. Namun, Angga kembali mencekal tangan Mentari lagi, erat kini.
“Ga... Dia—”
Ucapan Amelia seketika terhenti saat Angga menunjukkan raut datarnya. “Dia yang siram lo?” Amelia senang, dia mengangguk dan semakin menunjukkan rasa kesedihan. Angga menatap Mentari, “Tar?”
Mentari menghela napas kasar, menatap jengah Angga. “Iya! Kenapa? Pak Angga mau marah sama saya atau pecat saya karena tindakan saya yang gak senonoh? Silahkan, silahkan pecat saya.” Mentari lelah dengan kehidupannya kali ini.
“Aku tanya baik-baik. Kenapa? Kenapa kamu siram dia pakai kopi?”
Mentari mendengus, “Tanya aja sendiri!” kesal Mentari, dia melepaskan tangan Angga dan berlalu begitu saja. Ada sedikit kemarahan juga kekecewaan sebenarnya yang Mentari rasakan saat tahu jika Angga tidak mengejar kepergiannya, lebih tepatnya saat Angga justru membela Amelia. Iya, sepertinya Angga memang membela Amelia.
***
“Sini tangannya!”
Tangan Mentari yang tadi tengah dia perhatikan karena merah dan sedikit melepuh akibat ikut terkena siraman air kopi yang dia siramkan pada Amelia, seketika berada dalam genggaman Angga yang tiba-tiba datang menghampirinya. Pria itu duduk di samping Mentari yang tengah duduk di taman kantor.
Mentari menarik tangannya, “Gak usah.” tolak Mentari, ini di area perkantoran dan terbuka tempatnya, dia tak mau menimbulkan banyak omongan nantinya.
__ADS_1
Angga kekeh, dia tetap menahan tangan Mentari dan mulai mengoleskan sebuah cream pada luka ditangan Mentari yang terasa dingin perempuan itu rasakan. Dengan teliti dan pelan, Angga mengoleskan krim itu dan Mentari hanya mampu diam dan memperhatikan. Tersentuh kembali hati Mentari diperlakukan demikian dan justru ungkapan syukur yang terus menerus dia ucapkan dalam hatinya.
“Lain kali jangan kayak gitu, ya.”
Mentari memutar bola matanya jengah, benar dugaannya jika Angga pasti membela Amelia. Padahal baru saja dia bersyukur sebelumnya.
Mentari menarik tangannya, malas.
“Diam!” Angga menatap lekat Mentari, meminta perempuan itu untuk tak terus menerus menarik tangan yang tengah diobati itu.
“Kamu seharusnya gak kayak gitu, Tar—” Angga menahan tangan Mentari yang ditarik perempuan itu, “Diam. Tangan kamu merah gitu, ih.”
Mentari menghela napas kasar, “Kalau kamu datang kesini cuma mau marah-marah sama aku atau ngebela terus perempuan itu, mending kamu pergi aja deh. Bikin mood tambah ancur aja!” kesal Mentari.
Angga mendongak, menaikkan kedua alisnya. “Yang marah-marah siapa? Yang ngebela perempuan itu juga siapa?” Angga menggeleng, “Gak ada.”
“Ya, terus maksud kamu ngomong kayak tadi apa?”
“Ya, aku juga tahu! Tapi, omongan Amel itu nyebelin banget! Gimana bisa aku diam aja setelah harga diri aku dijatuhin.”
Angga mencoba tenang, “Iya, iya, aku ngerti kok. Aku juga tahu kamu. Dari dulu pun kamu gak pernah ngeladenin omongan dia yang asal. Jadi, aku juga yakin kalau kamu gak mungkin bertindak kayak tadi kalau gak ada sebab yang jelas. Udah, ya... kamu tenang.” Angga mengusap-usap punggung Mentari, mencoba meredam kemarahan perempuan itu.
Mentari menepis tangan Angga, “Apaan sih! Gak usah cari kesempatan deh.”
“Siapa yang cari kesempatan? Aku cuma nenangin kamu kok.”
Mentari diam dengan kekesalan yang masih dia rasakan, membiarkan Angga terus mengoleskan cream itu ditangannya. Hingga Angga selesai mengobati lukanya, Mentari mengeluarkan suaranya kembali.
“Aku gak ngerti, salah aku dimana selama ini.” Angga mengerutkan keningnya, menatap lekat Mentari, menunggu perempuan itu kembali melanjutkan ucapannya.
“Apa karena kamu cowok popular, cowok idaman, dari keluarga terpandang sedangkan aku cuma cewek biasa yang gak ada sesuatu yang spesial yang bisa dibanggain atau ditandingi sama cewek lain. Bahkan, mungkin apa yang ada dalam diri aku, semua perempuan juga punya.”
__ADS_1
Angga menggapai tangan Mentari, namun ditepis perempuan itu. “Tar—”
Mentari mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Angga dengan kebingungan yang tersirat jelas dimatanya. Dia menggeleng heran, “Sejak awal kamu umumin aku sebagai pacar kamu, bahkan sampai kita putus pun, orang-orang selalu mandang aku sebelah mata. Mereka selalu berpikir kalau aku pacaran, dekat sama siapapun karena harta. Seakan mereka semua tuh lihat aku kayak perempuan yang benar-benar tergila-gila sama harta, perempuan matre, perempuan yang bahkan bisa ngelakuin banyak cara cuma buat dapatin harta.” Mentari sedih, matanya sudah berlinang air mata.
“Tar, kamu gak kayak gitu.”
Mentari beranjak berdiri, membelakangi Angga. “Enggak, bahkan kamu juga pernah berpikir kayak gitu tentang aku.”
Itu kebodohan yang pernah Angga lakukan, Angga akui itu.
Angga beranjak, “Tar, aku minta maaf untuk itu. Tapi, aku gak bermaksud kayak gitu. Aku cuma marah, aku kesal karena kamu dekat sama laki-laki lain. Aku gak rela kamu sama yang lain. Aku—”
“Aku capek, Ga. Aku capek sama ini semua.” Mentari menatap Angga, berharap pria itu mengerti hanya lewat tatapannya saja. “Aku mohon, lepasin aku.”
Angga diam terpaku mendengar permintaan dengan nada lirih yang ditunjukkan Mentari. Sejujurnya, hatinya sakit tiap kali mendengar permintaan Mentari kepadanya. Segala cara pun sudah dia lakukan untuk membuat hubungan mereka kembali seperti dulu, agar mereka tetap baik-baik saja. Namun, masih saja. Pergi dan jauh, itulah yang Mentari inginkan.
Angga menghela napas kasar, dia menatap Mentari kini yang menatapnya penuh permohonan. Linangan air mata terlihat dimata perempuan itu, namun Mentari juga pasti melihat kekecewaan di mata Angga.
“Andai apa yang kamu minta itu gampang aku lakuin, mungkin udah aku lakuin. Sayangnya, gak semudah itu, gak segampang itu.”
“Karena kamu gak mau ngelakuinnya, Ga. Kamu gak mau ngelepasin aku. Makanya sulit banget.”
Angga mengangguk, “Iya, kamu benar. Karena aku gak mau, makanya sulit banget.”
“Ga... Aku gak pernah minta apapun sama kamu, aku cuma mau kamu lepasin aku. Udah, itu aja.”
“Dan, aku akan kasih semua yang kamu minta. Tapi, enggak dengan melepaskan kamu.”
“Ga...”
Angga menggeleng, dia berbalik melangkah pergi tanpa mau mendengarkan apa lagi yang akan Mentari katakan karena sudah pasti akan menyakitkan. Iya, mereka sama-sama saling menyakiti.
__ADS_1