Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep. 49 : Everything will be okay


__ADS_3

Sekali dibuat kecewa, trauma nya jadi begitu berat terasa. Sekali kecewa, tak bisa langsung percaya begitu saja. Selalu dibuat ragu dan bertanya-tanya, apakah ini benar adanya?


Sama halnya seperti apa yang tengah Mentari rasakan kini. Akibat kekecewaannya pada Angga, dia jadi ragu dengan yang namanya cinta. Begitu besar cinta yang selama ini Angga berikan, namun justru malah berakhir menyakitkan baginya. Mentari jadi bertanya-tanya dan ragu dengan yang namanya cinta. Dia jadi tak percaya dengan yang namanya cinta karena baginya kini cinta hanya kepalsuan, bersifat manipulatif.


“Permisi, teh.”


Mentari mendongak menatap Arin yang menghampirinya. Dia tersenyum simpul, menaikkan kedua alisnya. “Iya, Rin. Ada apa?” tanya Mentari, dia menyingkirkan sejenak pekerjaannya.


“Ada yang mau ketemu teteh.”


Entah kenapa, setiap kali ada yang melontarkan pernyataan demikian. Mentari selalu berpikir jika yang akan menemuinya adalah Angga. Padahal kenyataannya bukan, orang lainlah yang menemuinya. Dia terlalu berharap jika Angga memang benar akan datang menemuinya.


“Siapa, Rin? Perempuan atau laki-laki?”


“Perempuan, teh. Arin juga gak tahu, baru lihat sekarang. Tapi, da kayaknya bukan pelanggan kita juga sebelumnya. Asing teh.”


Mentari jadi berpikir dan penasaran, siapa gerangan yang menemuinya kini. “Oh, yaudah. Kamu suruh dia tunggu dulu aja, nanti aku temuin. Aku selesain ini dulu.” ucap Mentari yang diangguki Arin.


Setelah kepergian Arin beberapa saat, Mentari memutuskan akan menemui orang yang ingin bertemu dengannya. Dia pergi ke tempat dimana dia meminta orang itu untuk menunggu. Keningnya langsung mengerut bingung melihat siapa yang akan menemuinya. Dari belakang, seorang perempuan dengan rambut digerai, duduk di kursi roda. Dan, Mentari tak tahu siapa sebelum...


“Maaf, anda yang mau ketemu saya?”


Mentari terkejut saat perempuan itu menoleh, tak pernah menyangka akan melihat kembali perempuan itu dalam kondisi seperti ini.


***


Mentari tak bisa untuk menahan air matanya. Rasa kecewa dan marahnya luruh seketika saat melihat keadaan pria yang jadi penyebab dia ragu akan cinta, yang kini tengah duduk seorang diri di atas kursi roda membelakanginya.


Mentari menghapus air matanya. “Angga,” panggilan itu Mentari lontarkan dengan suara bergetar.


Waktu seakan berhenti berputar saat Angga menoleh dan menatap keberadaan Mentari disini. Keterkejutan jelas sekali terlihat di wajah pria itu. Sekuat tenaga Mentari menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya ketika kakinya melangkah mendekati pria itu.


Mentari menelan kasar ludahnya susah payah, rasanya tenggorokannya tercekat, seakan ada sesuatu di sana yang menahannya untuk bisa bernapas dengan mudahnya. Dilihatnya dengan lekat kondisi Angga saat ini.

__ADS_1


“Kamu... Kamu ngapain disini?”


“Nemuin cowok gak bertanggungjawab, yang buat aku harus nunggu buat kasih dia jawaban atas lamarannya. Padahal sebenarnya, dia yang butuh jawaban. Tapi, cowok gak bertanggungjawab itu justru gak datang, gak kasih kabar apapun, cowok itu menggantung hubungan gitu aja. Dan, bodohnya, cewek ini masih aja ngarep kedatangan cowok itu. Padahal udah jelas-jelas hubungan mereka udah kandas dan seharusnya gak perlu berharap lebih.”


Angga terdiam, tak menatap Mentari barang sedikitpun.


“Kamu tahu, Ga? Gara-gara cowok itu, cewek ini jadi ragu dan gak percaya lagi sama yang namanya cinta.” Mentari menghampiri Angga, berdiri di hadapan pria itu. “Kenapa kamu diam aja, Ga? Ayo, ayo bela cowok itu. Ayo jelasin semuanya, ayo buat cewek ini jadi percaya lagi sama cinta. Ayo, Ga. Ayo!”


Angga tersenyum miris, “Gak ada pembelaan. Justru akan lebih baik buat perempuan itu gak bersama laki-laki pengecut dan gak bertanggungjawab itu.”


“Brengsek!” caci Mentari, dia menatap Angga dengan sedih. “Kamu brengsek, Ga! Datang untuk meminta aku kembali sama kamu, tapi juga yang justru lepasin aku gitu aja. Kamu punya hati, gak sih? Kenapa kamu terus-terusan tarik ulur perasaan aku, Ga? Kenapa?”


Angga membuang muka, dia tak mau menunjukkan kelemahannya. Setelah dirasa rasa sesak itu sedikit menghilang, Angga kembali menatap Mentari.


“Aku minta maaf untuk itu. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu dan yakini itu adalah aku gak pernah mempermainkan hubungan kita. Aku juga gak bermaksud menarik ulur perasaan kamu. Aku tulus sama kamu, aku mencintai kamu. Dan, karena aku mencintai kamu, aku mau kamu bahagia.”


“Gimana kamu bisa tahu aku bahagia atau enggak? Kamu gak tahu itu, Ga.” Mentari menghela napas kasar. “Dan, kamu berpikir pergi gitu aja tanpa kasih penjelasan apapun sama aku, itu buat aku bahagia? Iya? Enggak, Ga! Sama sekali enggak!”


Angga hanya diam kini.


Angga masih juga diam, sedangkan Mentari langsung bersimpuh di hadapan pria itu. Mentari menggenggam tangan Angga.


“Aku terima lamaran kamu, Ga. Malam itu aku mau jawab kalau aku mau menikah sama kamu. Aku mau kita kembali lagi kayak dulu, kamu dan aku, kita saling mencintai.”


Seharusnya, Mentari melihat kebahagiaan yang Angga tunjukkan, bukannya justru kediaman saja, bahkan Angga menarik tangannya dari genggaman Mentari.


“Sekali lagi aku minta maaf, Tar.” Angga menggeleng, dia menatap nanar Mentari.


Bibir Mentari bergetar, dia menahan air matanya namun tetap saja jatuh juga. “Kenapa? Aku ini terima kamu, Ga. Aku terima kamu apa adanya, meskipun dengan kondisi kamu yang sekarang. Tapi, kenapa kamu justru lagi-lagi buat aku kecewa?”


Angga menatap Mentari, dia juga sudah berkaca-kaca. “Tapi, aku mau kamu bahagia, Tar.”


“Dan, kamu bahagia aku. Kita bisa bahagia kalau sama-sama.” balas Mentari, dia masih menangis.

__ADS_1


“Tar, maafin aku. Jangan nangis, aku gak suka itu.” Angga mencoba menghapus air mata Mentari yang tak kunjung usai.


“Atau, kamu juga masih ragu sama aku? Kamu takut aku ninggalin kamu dengan kondisi kamu ini?”


Bukan, bukan itu masalahnya saat ini. “Enggak, Tar. Enggak. Aku percaya kamu, kamu gak mungkin ninggalin aku hanya karena aku duduk di kursi roda.”


“Ya, terus kenapa, Ga?”


“Kamu aku gak bisa, Tar. Kita gak bisa menikah.”


“Kenapa, Ga? Kenapa? Kamu—kamu kenapa setega ini sama aku, Ga? Kenapa kamu terus-terusan nyakitin perasaan aku. Kenapa?” Mentari terisak, dia benar-benar seperti pengemis cinta.


“Aku yakin, kamu bisa bahagia.”


“Kamu gak tahu apapun.”


“Tar,”


“Kamu jahat.”


“Akan lebih jahat lagi kalau kita sama-sama, kamu gak akan bahagia.”


“Kamu gak tahu apapun tentang aku selama ini. Entah bahagia seperti apa yang kamu maksud.” Mentari marah kali ini pada Angga, dia beranjak berdiri. “Dan, aku benar-benar benci sama aku. Aku gak akan pernah maafin kamu, Ga. Gak akan pernah...”


Angga hanya mampu diam menunduk menyembunyikan rasa sakitnya, dia lebih membiarkan Mentari begitu saja. Karena baginya, membuat Mentari pergi dengan kebencian padanya adalah hal yang baik. Setidaknya, perempuan itu akan bahagia bersama...


“Ga...”


Angga mendongak kembali, terkejut karena Mentari ternyata tak jadi pergi. Perempuan itu justru masih berada disini dan kini bersimpuh dengan lutut nya yang jadi penahanan nya. Mentari menarik tangan Angga kembali, menggenggamnya.


“Ga, kita bisa sama-sama. Aku akan bantu kamu buat bisa jalan normal lagi dan kita bisa sama-sama bahagia walaupun tanpa ada anak didalamnya.”


Sedari tadi Angga menahan tangisnya, namun mendengar ucapan Mentari kali ini dia tak bisa menahannya lagi. Air mata itu jatuh juga.

__ADS_1


“Tar,” Angga kehilangan katanya, dia hanya bisa menangis saat ini. Mentari sudah tahu semuanya.


Mentari pun terisak kembali, dia segera memeluk Angga, memberikan pelukan hangat untuk memenangkan Angga sekaligus menyakinkan pria itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2