Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.35 : Bagaimana Caranya?


__ADS_3

“Aku senang kamu mau ketemu.”


Mentari tersenyum lebar melihat keadaan Angga, meskipun dia sendiri tahu jika pria itu tak benar baik-baik saja. Namun, melihatnya sudah membuat Mentari bersyukur.


“Aku—”


“Kamu gak usah repot-repot cariin aku pengacara, gak perlu.”


Belum selesai Mentari berucap, namun Angga sudah memotongnya terlebih dahulu. Apalagi nada bicara pria itu tak enak didengar, terkesan dingin dan acuh. Ingin rasanya Mentari marah, namun kemarahan bukanlah sesuatu yang tepat dia tunjukkan di saat seperti ini.


“Aku gak merasa direpotkan kok. Lagipula, ini juga demi kebaikan kamu.”


Angga mendongak, menatap Mentari dengan tajam. “Mau kamu apa sih?”


Mentari mengerutkan keningnya bingung, “Mau aku? Maksud kamu?”


“Kamu putusin aku, kamu selesaiin hubungan kita gitu aja, kamu juga gak mau balikan sama aku, kamu mau pergi ninggalin aku. Tapi, kenapa kamu masih peduli sama aku disaat kayak gini?” tanya Angga kesal. “Kamu mau buat aku semakin terikat sama kamu apa gimana? Apa mau buat aku semakin bergantung sama kamu? Gitu?”


Mentari cukup terkejut mendengarnya. “Ga, kok kamu jadi marah sama aku sih? Aku cuma berniat baik. Aku cuma mau bantu kamu karena aku tahu kamu gak salah.”


“Gimana bisa kamu tahu kalau aku gak salah? Gimana bisa kamu percaya? Sedangkan, kamu gak tahu apa-apa kan? Kamu gak tahu kasusnya kayak gimana kan?”


Mentari mengerjapkan matanya, dia mengangguk pelan. “Iya, aku emang gak tahu permasalahannya seperti apa. Tapi, keyakinan aku sama kamu, itu kuat banget, Ga. Aku yakin kamu gak mungkin lakuin kesalahan itu. Aku yakin banget.” Mata Mentari berkaca-kaca. “Makanya aku hire pengacara supaya bisa tanganin kasus kamu ini. Supaya kamu bisa bicarain semuanya, supaya kita bisa ketemu penyelesaiannya. Makanya, aku harus ketemu kamu. Makanya aku harus bicara sama kamu.”


Keheningan langsung tercipta begitu saja setelahnya, keduanya sama-sama diam dan menunduk.


“Tar,”


Mentari mendongak, menatap sendu Angga.


“Gini aja deh. Kalau kamu mau bantuin aku, kita balikan kayak dulu, kita kayak dulu lagi. Kamu pacar aku, aku pacar kamu. Kita balikan. Dan, kamu jangan pernah ninggalin aku.” Angga menatap dalam Mentari. “Tapi, kalau akhirnya kamu tetap ninggalin aku, mending kamu gak usah bantu apapun. Karena semakin kamu bantuin aku, aku semakin terikat sama kamu. Dan, akan semakin sakit saat kamu pergi ninggalin aku.”


***

__ADS_1


“Gimana caranya gue bisa bantu Angga, sedangkan Angga sendiri bersikap kayak gitu.”


Mentari tengah menceritakan keluh kesahnya atas apa yang telah dia hadapi, dia belum bisa menemukan caranya dan dengan menceritakannya dia berharap bisa mendapatkan solusi.


“Jadinya, lo beneran bantuin Pak Angga?”


“Lo pikir gue bercanda?” Mentari mendengus mendengar pertanyaan Vanya.


Vanya meringis pelan, “Ya... gue pikir, lo cuma ngomong doang. Gue pikir lo udah gak peduli lagi sama Pak Angga, ya, secara dia kan kena kasus yang lumayan gede banget ini. Jadinya, gue pikir lo bakalan bodoamatin masalah ini. Tapi, ternyata...” Vanya terkekeh pelan, “Gue salah. Lo emang masih peduli.”


“Gue emang peduli sama Angga karena gue yakin kalau dia tuh gak salah, Angga pasti cuma dijebak.”


“Karena lo juga masih cinta sama Angga.” timpal Ayumi, dia meletakkan pesanan mereka yang baru saja dia ambil. Vanya mengangguk, setuju dengan ucapan Ayumi sedangkan Mentari hanya diam.


“Gue sih yakin, hubungan lo sama Angga selesai gak mungkin karena masalah sepele, pasti masalahnya serius. Dan, disini lo yang jadi pihak pemutus nya, itu artinya ada sesuatu yang salah sama Angga yang buat lo jadi putusin dia. Kasarnya Angga tuh buat lo kecewa.”


Mentari masih diam. Memang benar Angga mengecewakan nya.


“Dan, gue salut banget sama lo. Meskipun lo udah dikecewakan sama Angga, lo masih tetap mau bantu dia disaat dia lagi kayak gini. Salut...”


“Emang gak tahu terimakasih Pak Angga, nyari kesempatan juga dia. Udah masih mending lo mau bantuin, eh malah ngasih syarat kayak gitu. Aneh!”


“Jadi, menurut kalian gue harus gimana?”


Ayumi dan Vanya diam, nampak berpikir solusi apa yang bisa mereka berikan pada Mentari yang senantiasa menunggu jawaban mereka.


Ayumi bergumam, dia menyesap minumannya dan meletakkan kembali gelas tersebut diatas meja. Dia menatap serius Mentari yang mengangguk-angguk, menunggu jawaban apa yang dia berikan.


“Gimana kalau minta bantuan Bella?” tukas Ayumi, kedua alisnya terangkat. “Gini loh, Bella kan adiknya pasti Angga gak mungkin gak terima bantuan dari adiknya, dari keluarganya. Udah pasti diterima lah.”


Andai keadaan baik-baik saja, mungkin saran Ayumi akan berhasil. Namun, mengingat hubungan Angga dan keluarganya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, maka saran Ayumi, Mentari rasa akan gagal.


“Gimana?”

__ADS_1


Mentari menghela napas gusar, dia menggeleng pelan. “Gue gak tahu akan berhasil atau enggak, masalahnya... ” Tidak, Mentari tak akan menceritakan ini. “Gue bakalan coba.”


“Semoga berhasil, ya dan semoga lo gak kecewa sama hasil nantinya.”


Mentari mengangguk, dia berharap demikian.


***


“Kakak marah sama Bella?”


Angga menatap datar adiknya, Arabella yang kini tengah duduk di hadapannya dengan raut kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya. Bahkan, mata Bella sudah memerah, menahan tangis. Seburuk, se acuh dan tak dekatnya mereka, namun faktanya adalah mereka kakak beradik yang sudah pasti menyimpan rasa kepedulian yang tinggi, hanya saja harus tertutup oleh gengsi.


Bella sedih melihat keadaan kakaknya ini, dia tak kuasa melihat kakaknya berada di tempat seperti ini.


“Kak—”


“Mau apa, Bell?” Angga menghela napas kasar. “Sekarang kamu senang kan, di rumah gak ada yang gangguin. Gak ada yang ngusilin kamu lagi. Merdeka banget pasti kamu.”


Bella menggeleng cepat, dia tak bahagia sama sekali. “Seburuk-buruknya kak Angga, jauh lebih buruk saat aku harus tahu kalau kakak aku masuk penjara atas tuduhan yang bahkan belum terbukti sama sekali.” Bella menggapai tangan Angga, menggenggam tangan besar kakaknya. “Kak, maafin, Bella. Bella gak bisa bantu apapun.”


Angga menatap tangannya yang digenggam begitu erat oleh adiknya, dia menatap Bella dan tersenyum sendu. Dia mengusap lembut pipi Bella, menghapus air mata itu. “Kamu percaya kakak aja, itu udah cukup.”


“Tapi, Bella janji Bella bakalan berusaha supaya kakak bisa bebas dari sini.”


Angga terkekeh pelan, “Gimana sih kamu? Katanya tadi gak bisa berbuat apa-apa. Tapi, sekarang ngejanjiin bisa keluarin kakak. Kamu tuh sebenarnya dua orang, ya.” tukas Angga, dia mencoba baik-baik saja. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala adiknya.


“Bella emang gak bisa bantu apapun karena Papa sama Bunda gak ngizinin sama sekali.”


Raut sedih seketika tercipta di wajah Angga, Bella bisa melihatnya.


“Tapi, kak. Ada kak Tari yang bantu aku, bantu kakak.”


“Jadi, kamu yang minta bantuan Tari?” tanya Angga, ada kekecewaan dimatanya jika apa yang dia pikirkan benar adanya.

__ADS_1


“Awalnya aku emang berniat minta bantuan kak Tari, karena cuma dia yang aku rasa bisa bantuin kakak. Tapi, ternyata kak Tari udah lebih dulu ambil langkah, kak Tari udah lebih dulu cari pengacara buat urus kasus kakak.” jelas Bella yang membuat Angga diam seribu bahasa.


“Kak Tari tulus kak, dia tulus bantu kakak.” Angga menatap dalam Bella yang menatapnya penuh permohonan. “Aku mohon, kakak mau, ya terima bantuan kak Tari. Ini juga demi kebaikan kakak.”


__ADS_2