Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 5 : Andai Baik-baik Saja


__ADS_3

Mentari menghentikan langkahnya saat dirinya melihat keberadaan Angga tak jauh disana, dia memilih memutar langkahnya dengan tujuan agar tak bertatap dengan Angga, meskipun sebenarnya mata mereka sudah bertemu saat dari kejauhan sana. Cepat-cepat Mentari melangkahkan kakinya, hingga tanpa sengaja dia justru menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Beruntungnya, orang tersebut dengan sigap menangkap tubuhnya, sehingga bokongnya tak sampai menyentuh lantai.


Layaknya adegan di film romance, hampir jatuh dan tubuhnya di tangkap oleh seorang pria yang memiliki wajah lumayan tampan, ditambah mata mereka juga saling bertatapan lalu kemudian nantinya mereka akan jatuh cinta saat pandangan pertama. Dan, sayangnya itu hanya berlaku di film romance dan novel fiksi yang sering dibacanya, tidak didunia nyata yang tengah Mentari jalani. Mungkin untuk beberapa poin, benar adanya. Tapi, untuk jatuh cinta? Tidak. Hati Mentari masih terpatri di hati yang sama.


“Maaf, maaf, saya gak sengaja.”


“Oh, gakpapa kok.”


Mentari menegakkan tubuhnya, dibantu pria itu. Dia tersenyum kikuk, “Maaf, ya, pak sekali lagi. Saya gak sengaja. Harusnya saya jalan lebih hati-hati lagi.” ucap Mentari tak enak. Melihat penampilan dari pria yang baru saja ditabrak nya, dia yakin jika pria itu bukan sembarangan. Pasti orang penting. Sepertinya Mentari dalam masalah jika benar orang yang ditabrak nya merupakan orang penting.


“Iya, gakpapa kok. Tapi, lain kali hati-hati, ya. Kamu bisa jatuh loh nantinya, untung aja tadi saya cepat-cepat tangkap tubuh kamu.”


“Iya, pak. Sekali lagi saya minta maaf. Kalau begitu saya permisi.”


“Iya.”


Mentari cepat-cepat bergegas pergi, dia segera melangkahkan kakinya menuju lift dan langsung masuk kesana. “Aduh, Tari... Bisa-bisanya lo tabrak orang, mana dari penampilannya dia kayak bos besar lagi. Apa jangan-jangan dia kolega bisnis disini lagi?” Mentari membelalakkan matanya, dia menepuk keningnya berkali-kali. “Bodoh, bodoh, bodoh. Lo pasti dalam masalah, Tar.” Mentari merutuki dirinya sendiri, dia sudah over thinking saja.


“Angga sih! Ngapain pakai acara ketemu dia pagi-pagi, kan bikin gue harus putar jalan dan nabrak orang. Pokoknya akar masalahnya tuh di dia! Nyebelin banget sih mantan.”


Pintu lift terbuka membuat Mentari dengan cepat merubah raut wajahnya, dia menampilkan senyuman saat melihat siapa yang akan masuk ke lift. Dellia, sekertaris Angga.


“Pagi, Tar.” sapa Dellia, dia berdiri di samping Mentari.


“Pagi mbak Dell. Apa kabar, mbak? Kayaknya udah lama banget kita gak ketemu.”


“Kabarku baik. Iya nih, kebetulan juga aku kan kemarin abis ambil cuti beberapa hari karena anakku sakit, jadinya kita gak ketemu dikantor. Ditambah, aku dengar kamu udah gak sama Pak Angga lagi. Udah jarang lah kamu ke ruangan dia buat ketemu.”


Mentari tersenyum kikuk jadinya. Iya, memang selalu ada saja alasan Angga memanggil Mentari ke ruangannya dengan alasan pekerjaan namun untuk tujuan agar mereka bertemu. Dan, Dellia yang merupakan sekertaris Angga sudah pasti tahu dan ditemui Mentari setiap kali dia pergi ke ruangan Angga. Bisa dibilang, Dellia yang cukup tahu tentang hubungan mereka. Dellia jadi salah satu saksi kisah cinta antara Mentari dan Angga.


“Aku gak nyangka loh, kalau kamu bakalan putus sama Pak Angga. Soalnya yang aku lihat, hubungan kalian baik-baik aja. Dan, jangan lupain fakta kalau aku tuh tahu gimana bucinnya Pak Angga sama kamu.” ucap Dellia, dia belum pernah melihat orang sebucin atasannya itu.


Mentari terkekeh, pertanyaan juga pernyataan yang sama kembali terlontar dari mulut orang-orang mengenai hubungannya dengan Angga. “Ya, mau gimana lagi, mbak. Mungkin emang udah kayak gini aja jalannya.”


“Iya, tapi aku berharap sih, semoga kamu bisa kembali lagi, ya sama Pak Angga. Karena yang aku dengar, kamu yang putusin dia. Dan, sejujurnya nih, ya. Aku melihat banget perbedaan Pak Angga saat dengan kamu dan setelah putus sama kamu.”


Mentari mengerutkan keningnya, “Beda gimana?”


“Ya, gitu. Pak Angga tuh jadi lebih emosi, kesalahan sepele buat dia marah, irit senyum dan dia tuh dingin banget akhir-akhir ini. Pokoknya beda deh.”


Ting!

__ADS_1


Lift terbuka saat Mentari sudah sampai di lantai tempat ruangannya berada. “Mbak Dell, aku duluan, ya.”


“Oh, iya, Tar. Have fun ya kerjanya.”


“Mbak juga, sabar, ya mbak hadapi Angga yang sekarang.”


“Iya lah... Mau gimana juga, dia bos aku.”


Mereka terkekeh bersama.


“Iya, duluan, ya mbak.”


Mentari berjalan keluar dari lift, dia berbelok kearah ruangannya dan langsung masuk. Beberapa kubikel sudah diisi oleh pemiliknya, Mentari berjalan ke tempatnya.


“Pagi, guys.”


“Pagi, Tar. Gimana? Udah sehatan belum? Tidur kan lo semalam.”


Mentari terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan Vanya, dia mengangguk sambil menunjukkan kedua jempol tangannya. “Tidur dong... Gak mau lagi gue teler kayak kemarin, kan nyusahin kalian. Thank you ya... Udah handle kerjaan gue kemarin.”


“Yaelah, santai aja kali, Tar. Lo kayak sama siapa aja. Lagian, gue kalau lagi gak free mah, gue juga ogah kali ngerjain job lo. Berhubungan gue kemarin agak longgaran, yowes lah, gue kerjain sekalian job lo. Kasihan, temen gue sakit.”


“Asik... Senang banget punya teman pengertian kayak gitu.”


“Iya, iya... Sebagai ucapan makasih gue, gue traktir makan siang deh nanti. Mau, gak?” tawar Mentari yang membuat Vanya tersenyum lebar.


“Maulah! Ya kali gue tolak.”


“Yaudah, nanti kita makan siang bareng, ya...”


“Maaciiw!”


***


“Pak Angga, makan siangnya mau diantar kesini aja? Saya lihat, bapak belum makan siang sejak tadi.”


Angga yang tengah berkutat dengan laptopnya, mendongak dan menatap sekilas Della. Dia menggeleng pelan, “Gak usah, Dell. Saya makan siang nanti aja.”


Dellia tersenyum kikuk, dia mengangguk-angguk pelan. “Tapi, pak. Bapak gak boleh telat makan, takutnya asam lambung Pak Angga kambuh.” ucap Dellia lagi, dia mencoba membujuk atasannya itu untuk makan siang.


Angga terdiam, mendengar ucapan Dellia membuatnya kembali mengingat Mentari, dimana perempuan itu tak pernah absen untuk mengingatkan nya makan siang. Terlebih, Angga jika sudah berkutat dengan pekerjaan bisa lupa akan segala hal, termasuk makan. Dia bisa sampai tak merasakan lapar dan tak makan jika sudah sibuk dengan pekerjaan dan selalu ada Mentari yang tak lupa mengingatkan.

__ADS_1


“Yaudah, tolong pesenin saya menu biasa, ya. Bawa kesini.”


Dellia tersenyum senang mendengarnya, “Baik, pak. Saya pesankan.”


“Iya, nanti kamu bisa langsung makan siang aja, udah break time juga kan.”


Dellia mengangguk, mengiyakan ucapan atasannya itu. “Kalau begitu saya permisi, pak.”


“Iya.”


Dellia keluar dari ruangan Angga, dia segera mengeluarkan ponsel dari saku blazer nya dan mengetikkan pesan untuk seseorang.


‘Tar, udah aku ingetin pak Angga buat makan siang. Kamu tinggal kirim aja, ya makanan nya. Dia juga mau makanan kayak biasanya kok.’


***


Mentari tersenyum lega kala membaca balasan pesan dari Dellia. Memang, dia yang meminta Dellia untuk mengingatkan Angga makan siang. Karena dia sangat tahu Angga, bagaimana tak pedulinya pria dengan makan dan selalu melewatkan makan siang, padahal jelas-jelas Angga punya riwayat sakit lambung. Dan, dia sering kesal dengan Angga yang melewatkan makan siang kalau tak diingatkan. Jadi, kalau bukan dia yang mengingatkan, siapa lagi?


Meskipun hubungan mereka sudah tak sama seperti dulu. Tapi, jujur saja, perasaan cinta itu masih ada. 7 tahun lamanya mereka menjalin hubungan tak serta merta membuat perasaan itu hilang begitu saja. Masih ada perasaan yang tersisa, banyak malah. Walaupun rasa kesal dan marah masih Mentari rasakan jika mengingat ucapan yang dilontarkan Angga kemarin padanya.


“Dih, senyum-senyum gak jelas nih anak.”


Mentari mendongak, mengulum senyumnya saat digoda oleh Ayumi juga Vanya. Dia terkekeh pelan, cepat-cepat membalas pesan Dellia dengan ucapan terimakasih dan menyimpan ponselnya di atas meja.


Ayumi memicingkan matanya, “Mencurigakan. Pasti ada sesuatu nih. Soalnya gak mungkin banget lo senyam-senyum gak jelas kayak gitu kalau gak ada apa-apa.” ucap Ayumi. “Iya, gak, Van?”


Vanya mengangguk, menjentikkan jarinya. “Iya, sudah jelas itu. Tapi, kan dulu Tari senyum-senyum gitu tuh kalau ada sesuatu yang berhubungan sama doi nya. Sedangkan, dia sama doi udah putus tuh. Apa senyum nya kali ini masih ada hubungannya sama doi?” tanya Vanya, dia menaikkan sebelah alisnya.


“We never know... Tari gak mau kasih tahu kayaknya...” balas Ayumi, dia berucap sambil dinyanyikan dengan nada asal.


“Tapi, Tar. Gue benar-benar penasaran deh. Kenapa bisa-bisanya couple goals kayak kalian putus?” tanya Vanya, dia sudah ingin menanyakan ini sebenarnya sejak tahu berita putusnya Mentari dengan bos mereka. “Kenapa putus coba?”


Mentari mengerutkan keningnya, “Couple goals?” Mentari tak percaya jika hubungannya bisa diberikan julukan seperti itu.


Vanya mengangguk, “Iya, couple goals. Ih, dia mah gak tahu, ya Yu kalau anak kantor tuh suka ngomongin macem-macem tentang hubungan lo sama Pak Angga.” tukas Vanya.


Ayumi mengangguk, “Iya, dia mah ora tahu, Van. Mungkin mikirnya hubungannya backstreet kali, diam-diam gak ada yang tahu.” ucap Ayumi, dia tipikal orang yang bisa dekat dengan siapa saja. Dan, Vanya jadi salah satu orang yang juga dekat dengannya.


“Nih, ya, Tar. Lo gak tahu sih, gimana orang-orang tuh, terkhusus kaum hawa pengen banget punya doi kayak Pak Angga. Dia tuh so sweet tahu, gak sih. Diam-diam merhatiin lo, buat sesuatu yang gak disangka-sangka, pokoknya out of the box deh pak Angga tuh. Sesuatu nya itu... Yang dipengenin sama ciwi-ciwi gitu.” Vanya berucap dengan begitu ekspresif. “Lo mau tahu, gak? Sebenarnya nih, ya... Kemarin tuh gue gak serta merta mau gitu aja ngerjain job lo. Terlepas dari hal apapun, tapi perintah pak Angga lah yang buat Pak Surya suruh gue sama Aji buat ngerjain job lo. Mana pake bilang, ‘Saya gak mau Tari tambah sakit.’ Ih... kan gemas!”


Vanya dan Ayumi terus menerus membicarakan Angga; bagaimana pria itu yang romantis, selalu tersenyum manis dan hangat hanya pada sosok Mentari.

__ADS_1


Mentari sendiri hanya bisa terdiam, tersenyum simpul saja. Andai semuanya baik-baik saja.


__ADS_2