
Keduanya langsung diam terpaku saat tanpa sengaja berpapasan di tempat cuci tangan. Kebetulan tempatnya penuh sehingga membuat mereka harus mengantri dengan yang lainnya. Rasanya, waktu berhenti berputar dan hanya terpusat pada mereka. Kikuk, canggung dan bingung, segala rasa mereka rasakan.
“Makan disini juga, Tar.”
Angga yang memulai obrolan, Mentari melirik pria itu lewat ekor matanya. Mentari mengangguk, “Iya, Pak.” jawab Mentari.
Angga menarik sudut bibirnya, “Gak perlu lah manggil aku Pak. Kita lagi diluar kantor, lagi bukan jam kerja juga, jadi gak usah terlalu formal gitu.” ucap Angga, dia melangkah maju saat orang didepannya selesai mencuci tangan. “Kamu duluan, Tar.” Angga mempersilahkan.
Mentari menggeleng, “Kamu duluan aja.”
Kebetulan, orang didepan Mentari juga sudah selesai. Alhasil, mereka berdua berbarengan mencuci tangan, berdampingan. Dan, anehnya justru kini tinggal mereka berdua.
“Hubungan kita udah selesai dan itu kemauan kamu.”
Mentari terdiam.
“Tapi, bukan berarti kita jadi kayak orang asing, Tar. Kamu bersikap biasa aja sama aku, begitupun aku. Jadi, gak usah canggung apalagi formal kayak gitu, apalagi kalau kita diluar.”
Mentari mengangguk saja. Dia cepat-cepat menyelesaikan cuci tangannya, bergegas mengeringkan tangannya untuk segera pergi dari Angga. “Duluan, ya.” ucap Mentari, dia bergegas dan justru dia hampir terjatuh kalau saja Angga tak cepat menangkap tubuhnya.
Mereka terdiam, saling tatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Lagi dan lagi, waktu terasa berhenti berputar dan justru memori masa lalu lah yang berputar dibenak mereka.
Flashback On~
“Ih, gue kan udah bilang kalau itu pedas. Ngeyel sih lo!”
Mentari yang masih mengenakan atribut untuk masa Ospek—PKKMB, dia tertawa pelan melihat bagaimana Ayumi yang kepedasan. Tangan mereka masih kotor karena makanan, kebetulan mereka makan menggunakan tangan. Ayam goreng dicocol ke sambal yang dibawa Mentari yang disiapkan ibu perempuan itu.
“Bibir gue jadi jontor gini tahu,”
Mentari kembali tertawa dibuatnya. Terlalu larut dengan obrolan dan tawa mereka, sampai-sampai mereka tak memperhatikan jalanan, terutama Mentari. Alhasil tanpa sengaja saat berbelok menuju area cuci tangan, Mentari menabrak seseorang.
“Ya ampun!”
Mentari membulatkan matanya sempurna, terkejut saat tangannya yang kotor tanpa sengaja menyentuh kemeja seseorang yang dia tabrak. Apalagi kemeja yang dikenakan berwarna terang, sangat kontras dengan noda yang disebabkan oleh tangan Mentari.
“Maaf, kak. Saya gak sengaja.”
Mentari tak berani menatap orang yang ditabrak nya itu, dia menatap cemas Ayumi, meminta bantuan perempuan itu.
“Bisa jalan yang benar? Kalau jalan tuh lihat jalannya, fokus, jangan kebanyakan ngobrol yang gak jelas, bahkan ketawa-ketawa gitu.” Mentari menunduk dalam, dia mengangguk patuh mendengar omelan dari orang yang ditabrak nya. “Lihat, kalau udah kayak gini. Siapa yang salah? Lo. Dan, yang rugi? Gue. Kemeja gue jadi kotor gini.”
“Iya, kak, maaf.” cicit Mentari, dia benar-benar takut. Di list buku jurnal kuliahnya, dia sudah bertekad untuk tidak membuat masalah dengan siapapun.
“Terus, kalau udah kayak gini. Gimana? Lo bisa apa?”
“Aku bisa bersihin, kak. Aku tanggung jawab, aku bersihin kemeja kakak.”
__ADS_1
Terdengar dengusan berasal dari orang itu dan Mentari masih menunduk dalam, belum berani mendongak untuk melihat orang itu.
“Modus ternyata.”
Mentari melirik Mentari, mengerutkan keningnya bingung yang juga dibalas gelengan oleh Ayumi. “Modus apaan?” cicit Mentari, dia bingung.
“Lo bukan cewek pertama yang lakuin ini supaya bisa dekat sama gue. Jadi, cara lo ini gak mempan sama sekali.”
“Tapi, aku gak modus. Aku emang gak sengaja dan niat mau tanggung jawab. Udah, itu aja.”
“Dan, lo pikir gue percaya?”
Mentari menggeleng, “Aku gak minta kakak percaya, yaudah kalau kakak gak mau. Tapi, aku beneran minta maaf, beneran gak sengaja tadi nabrak.” Mentari memberanikan diri mendongak, menatap orang yang ditabrak nya. Dia menatap orang itu, menatap mata yang menatapnya tajam. “Maaf, ya, kak.”
***
“Eh, Mentari!”
Mentari mengedarkan pandangannya, mencari siapa yang memanggil namanya. Dan, saat hanya menemukan satu orang disini, dia mengerutkan kening bingung. Mencoba menyakinkan diri jika memang benar orang itu yang memanggil namanya.
“Eh, kok dia nyamperin gue sih.” Mentari justru melangkah mundur saat orang itu berjalan menghampiri nya.
Aneh, tapi justru Mentari merasa takut saat orang itu semakin dekat dengannya. Refleks dia langsung berbalik, berjalan cepat bahkan sampai berlari untuk menghindar dari orang itu. Mentari pikir orang itu akan pergi saja atau tak peduli dan membiarkan Mentari pergi, namun justru tidak. Orang itu justru mengejar Mentari. Kejar-kejaran terjadi diantara mereka.
“Eh, mau kemana lo!”
“Gak kemana-mana kok, kak.”
“Terus ngapain lo lari?”
Mentari menggeleng, “Lah, mau lari aja. Lagian, emangnya kenapa kak?”
“Pura-pura bego apa emang bego beneran?” Mentari mendengus dalam hati, dia jadi kesal. “Gue manggil lo, bukannya berhenti malah lari.”
“Aku pikir bukan aku,”
“Emangnya di kampus kita yang namanya Mentari itu berapa banyak? 10? Orang jelas-jelas nama aneh itu cuma, lo doang. Jadi, kalau bukan lo yang gue panggil, siapa lagi.”
Mentari benar-benar kesal, “Iya, maaf. Jadi, ada apa kak?”
“Nih!” Mentari mengerutkan keningnya saat orang itu menyodorkan pakaian kepadanya. “Lo bilang, lo mau tanggung jawab kan? Nih, cuciin baju gue yang kotor gara-gara lo. Ambil.”
Mentari menatap orang itu, “Katanya gak mau.”
“Dan, sekarang gue mau. Jadi...” Tangan Mentari ditarik, diletakkan kemeja yang dibawa orang itu. “... Ambil kemeja nya dan lo cuci. Gak mau tahu sore ini harus udah kering, bersih, wangi dan rapi. Mau gue langsung pakai.”
“Kok sore ini sih kak? Kan—”
__ADS_1
Belum selesai Mentari protes, orang itu sudah berbalik melangkah pergi.
“Cari gue di lapangan basket, kalau gue gak ada di sana. Tanya sama orang di sana. Angga, itu nama gue.”
Mentari mendengus kesal, menatap kepergian Angga itu. “Duh, bikin kerjaan aja sih.” Mentari melirik jam di pergelangan tangannya. “Ya ampun, 2 jam lagi? Harus buru-buru ini mah.” Mentari bergegas pergi.
***
“Ih, seriusan lo? Gue antar aja, yuk! Eh, tapi gue gak mau ikut ketemu orangnya, ya. Gue lihatin dari jauh aja. Oke?”
Mentari mengangguk, memeluk erat pundak Ayumi dan menatap serius perempuan itu. “Makasih, ya... Di awasi dari jauh aja udah syukur banget gue. Seenggaknya, kalau terjadi sesuatu ada lo yang jadi saksi matanya.”
Ayumi terkekeh dibuatnya, dia menepuk pelan pipi Mentari. “Lebay, ah. Yaudah, yuk buruan. Biar gak terjadi sesuatu.”
“Iya. Ayo!”
Mereka bergegas pergi menuju tempat yang dimaksudkan Angga tadi. Beruntung sekali Mentari bisa menemukan tempat laundry yang bisa selesai dengan cepat.
“Mana, ya?” Mentari mencari keberadaan Angga, mengedarkan pandangannya mencari pria itu.
“Itu bukan sih?”
“Iya...”
“Yaudah, sono!”
Mentari menggeleng pelan, “Ngeri gak sih, Yu? Tuh orang ngeliatin gue gitu banget, tatapannya tajam pisan ih.”
“Makanya, supaya gak ditatap tajam lagi. Lo buru-buru samperin tuh orang sekarang. Buruan!”
“Yu—”
“Udah, udah, sono, sono!”
Mentari melangkah pelan menghampiri Angga, tak henti-hentinya berbalik menatap Ayumi untuk memastikan jika perempuan itu tak pergi dan masih memantau di sana. Berkali-kali Ayumi menyemangati lewat gerakan mulut juga tangannya yang hanya diangguki oleh Mentari.
Mentari menapaki anak tangga, menghampiri Angga yang tengah berkutat dengan ponselnya. Belum sempat Mentari mengeluarkan suaranya, Angga sudah lebih dulu mendongak dan membuat Mentari terkejut bukan main saat pria itu tiba-tiba beranjak. Dan, akibat rasa terkejutnya membuat Mentari jadi kehilangan keseimbangan. Kalau saja Angga tak cepat menarik tangan Mentari, mungkin perempuan itu sudah terjatuh kini.
Dan, seperti layaknya adegan di cerita fiksi yang sering Mentari baca. Adegan itu terjadi di kehidupannya. Waktu yang seakan berhenti terasa benar terjadi. Saling tatap mata mereka, jantung berdebar pun mereka rasakan hanya karena tatapan.
Flashback Off~
Mentari cepat-cepat berdiri tegak, dengan canggung membenarkan pakaiannya. Tatapannya yang gelisah pun dia alihkan ke sembarang arah.
“Maaf, aku duluan.” ucap Mentari, bergegas pergi dari hadapan Angga yang kini hanya bisa menatap kepergian perempuan itu tanpa berniat mencegahnya.
“Dan masih sama Tar, bahkan aku jatuh cinta lagi sama kamu cuma karena tatapan mata kita. Hatiku jatuh lagi ke kamu.”
__ADS_1