Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.48 : Kembali Dibuat Kecewa


__ADS_3

“Malesin! Aku diajak liburan, tapi ditinggal terus.”


Bella mendengus kesal menatap kakaknya yang saat ini tengah mematut diri didepan cermin. Dia berjalan kearah meja, mengambil sepotong apel di sana dan menggigitnya. “Tahu gitu, mending gak usah ajak aku deh. Buang-buang waktu aku aja.” dengus Bella, dia mengunyah apel di mulutnya.


Angga melirik adiknya itu lewat cermin, dia terkekeh pelan. “Sorry, ya... Gak ada yang paksa kamu untuk ikut. Kakak ajak kamu sekali dan kamu langsung mau kan tanpa tanya apapun. Jadi, gak usah protes.”


Bella mengerucutkan bibirnya, “Ya, kan aku pikir kakak mau ajak aku liburan gitu. Aku juga belum pernah ke kota ini. Jadinya, aku mau deh. Eh, tapi malah ditinggal terus.”


“Ya udah, keluar kek, jalan-jalan gitu. Udah gede kan?”


“Idih, gitu ngomongnya. Kalau aku nyasar gimana? Ada yang culik? Abis kakak sama Papa.”


Angga berbalik, menatap Bella yang terlihat kesal. “Nyasar? Adik ku sayang... Kamu ini bukan anak kecil lagi, udah lulus kuliah. Kamu juga bukan anak yang gaptek. Ada GPS loh, kalau you lupa. Lagian, kalau masalah nyulik,” Angga terkekeh yang semakin membuat Bella kesal. “Mana ada orang yang mau culik bocah modelan kamu? Udah mana bawel, banyak maunya, udah gede juga masih aja manja. Ini itu—”


“Ih... kok jadi ngata-ngatain aku sih!”


“Ya, kamu nya. Tapi, emang benarkan?”


“Enggak lah! Mana ada aku kayak gitu. Gak ada!”


“Terus, kenapa sampai sekarang gak mau juga masuk perusahaan? Padahal kamu udah lulus loh,”


“Ya, kan aku gak mau kerja di perusahaan Papa. Lagian, aku udah apply job ke perusahaan lain kali. Cuma, ya, belum ada jawaban aja. Santai dong.”


Angga mengibaskan tangannya, “Terserah kamu lah.” ucap Angga, dia kembali berkutat dengan dirinya didepan cermin.


“Lagian, kakak mau kemana sih? Ganjen banget dari tadi ngaca terus.”


Angga tersenyum, wajah Mentari melintas di benaknya. “Mau jemput calon kakak ipar mu.”


Bella membulatkan matanya, ”Hah? Kakak mau jemput kak Tari?” tanya Bella terkejut, dia tak percaya.


“Kata siapa?”


“Lah, tadi katanya mau jemput calon kakak iparku. Lagian, emang ada perempuan lain selain kak Tari yang bisa ambil hati kakak? Gak ada kan?”


Angga terkekeh, adiknya tahu betul tentang hubungannya. “Seratus buat kamu!” Angga menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Bella tersenyum senang mendengarnya, dia beranjak menghampiri Angga, duduk bersandar pada meja rias dihadapan kakaknya. “Kakak udah ketemu kak Tari? Dimana, kak? Terus, kok bisa ketemu? Kak Tari—”


Angga hanya mampu memejamkan matanya mendengar bagaimana cerewet adiknya itu yang tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan yang bahkan belum satupun Angga jawab.


“Ih... Jawab dong kak!”


“Gimana mau di jawab, sedangkan kamu nyerocos terus?”


Bella menutup rapat mulutnya seketika, dia terkekeh pelan. “Sorry.... Jadi, ayo jawab!”


Angga terdiam sejenak, kembali memikirkan bagaimana dia bisa menemukan Mentari. Dan, senyuman tak pernah lepas dari bibirnya kala dia mengingat perempuan itu. “Intinya adalah kakak mau ketemu Tari.” ucap Angga dan berbalik pergi.


“Ih... Belum dijawab juga.” Bella mengekori Angga, dia butuh jawaban. “Ikut deh kalau gitu. Ya?”


“Gak usah, ngapain? Ganggu kita berdua nanti.”


“Enggak lah, kak. Mana ada aku ganggu. Lagian aku kangen juga tahu sama kak Tari. Ikut, ah, pokoknya.”


“No!”


***


Rasanya, debaran itu begitu terasa kencang. Keringat dingin pun tak henti-hentinya mengucur deras, sedangkan cuaca saat ini begitu dinginnya. Ini efek dari kegugupan yang sudah dia rasakan beberapa hari terakhir ini, terkhusus sejak Angga melamarnya tiba-tiba di event perdananya. Dan, hari ini adalah hari dimana jawaban atas lamaran itu akan dilontarkan.


“Kok deg-degan gini, ya? Kenapa rasanya kayak pertama lagi. Padahal aku sama Angga, kita udah gak sama-sama lagi. Tapi, kenapa rasanya masih sama?”


Mentari mendongak, menatap langit yang begitu cerahnya dimana warnanya jauh lebih biru dan bersih dengan tumpukan awan tipis yang menghiasi yang mengartikan cuaca memang akan cerah sepanjang hari ini. Dan, langit senja tak pernah salah menunjukkan eksistensinya.


Mentari menapaki kaki menyusuri beberapa anak tangga menuju tempat, dimana seharusnya Angga berada menunggunya. Namun, saat dirinya sampai, dia tak menemukan siapapun. Hanya hamparan rerumputan kosong dengan alas-alasnya. Sengaja, tempat ini dia beritahukan untuk tak dikunjungi siapapun terlebih dahulu karena ada alasan khusus dimana tempat ini yang akan jadi saksi jawaban atas lamaran Angga padanya.


Tapi, Angga tak ada.


“Apa Angga kira, ketemuannya malam, ya?”


Mentari pikir, Angga yang tak ada disini karena ada kesalahpahaman mengenai jam mereka seharusnya bertemu. Saat itu, Mentari tak mengatakan jelas jam berapa mereka akan bertemu.


“Iya, kayaknya gitu deh. Angga pikir, mungkin malam kita ketemuannya.” Mentari terkekeh pelan, merutuki dirinya sendiri. “Kok jadi gue yang excited banget gini, ya? Kacau! Yaudah lah, nanti agak malaman kesini lagi.”

__ADS_1


Dan, Mentari kembali ke tempat ini, namun tak kunjung juga menemukan keberadaan Angga yang membuat senyuman yang tadi sempat terbit di bibirnya hilang seketika.


Mentari berjalan pelan, menuju tempat paling ujung dan menjatuhkan bokongnya duduk diatas bean bag. Dia mendongak menatap langit malam yang tak secerah sore tadi, seakan langit pun tahu jika Mentari tak lagi berseri seperti tadi.


Mentari menoleh kearah dimana seharusnya Angga datang. Masih ada harapan dihatinya jika Angga akan datang untuk mendengarkan jawabannya.


“Telat kali, ya.”


Mentari mencoba berpikir positif. Namun, tidak ketika dia sudah menunggu hampir dua jam dan tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang.


Mentari tertawa miris, dia menutupi wajahnya sambil menunduk dan mendongak setelah beberapa saat. “Ya ampun... Mentari, Mentari, bisa-bisanya kamu masih berharap kayak gini? Ya Allah...”


Kalau dilihat seperti ini seakan yang ingin kembali untuk bersama adalah Mentari. Padahal jelas betul, Angga lah yang menginginkan itu semua, meskipun tak bisa dipungkiri jika Mentari pun menginginkannya. Tapi, tetap saja, Angga lah yang memulai semuanya. Kemarin, kemarin saat pria itu melamarnya.


Terlihat sebenarnya ada kekecewaan, namun masih saja Mentari mencoba untuk berpikir positif. Dia merogoh saku abaya nya, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Angga. Dia butuh kepastian kini.


Cukup lama dalam mempertimbangkan, dia menatap kontak Angga yang masih tersimpan di ponselnya. Dengan helaan napas kasar, dia menekan ikon panggilan pada nomor tersebut dan tak bisa dipungkiri jika saat ini hatinya tengah berdebar.


Mentari memastikan jika panggilannya memang benar diangkat, panggilan itu terhubung.


“Hallo, ini siapa, ya?”


Mentari langsung hilang kata seketika, bahkan air wajahnya langsung berubah. Atmosfir rasanya berubah, seakan ada tangan tak kasat mata yang tengah meremas kuat hati Mentari saat ini sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa Mentari rasakan ketika mendengar suara perempuan diseberang sana. Dan, pertanyaan yang dilontarkan seakan menjawab jika nomor Mentari tak tersimpan di kontak nya.


“Hallo?”


Mentari langsung memutus panggilan itu sepihak tanpa sepatah katapun, bersamaan dengan air mata yang saat ini mengalir di pipinya. Namun, dengan cepat dia menghapus air mata itu.


“Kamu tuh segalanya buat aku, gak ada yang bisa gantiin kamu.”


“I know, Tar. I know I am in love with you...”


“Tar, bisa kita balik lagi? Bisa kita kayak dulu lagi, bareng-bareng? Aku dan kamu, kita yang saling mencintai. Bisa kita kembali, Tar?”


“Mungkin ini telat, tapi aku gak mau lagi menyia-nyiakan waktu sampai akhirnya aku menyesal sendiri.”


Mentari terdiam sejenak mengingat itu, perlahan tawa pun mulai terdengar dari bibirnya. Tawa hambar yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2