
“Kak Tari, lagi sibuk, gak? Mau minta tolong.”
“Minta tolong apa, Bell?”
“Tapi, takut kakak marah.”
“Belum juga ngomong, mana mungkin kakak marah. Jadi, mau minta tolong apa?”
“Kak Angga sakit, dia demam dari kemarin. Di rumah gak ada orang, Mama sama Papa lagi ke Medan, istri dari adik Papa meninggal, kak. Sekarang aku lagi ada kuliah, kak. Kasihan kak Angga gak ada yang jagain di rumah. Ada mbok sih, tapi kan kak, kasihan sendirian. Mana kak Tari juga tahu kan, kak Angga tuh kalau sakit, ya Allah... ribetnya minta ampun. Jadi, bisa gak kalau kakak ke rumah, temenin kak Angga bentar sampai kuliah aku beres, gak lama kok, kak.”
Dan, karena permintaan Bella lah Mentari kini berada disini. Dihalaman depan rumah Angga, dia datang dengan naik taksi online. Ditangannya, dia bawa kotak makan yang isinya sengaja dia siapkan untuk Angga.
Benar kata Bella, Angga jika sakit itu ribetnya minta ampun, lebih tepatnya jadi sosok yang sangat manja. Tak mau makan ini, tak mau makan itu, tak mau minum obat dan terus menerus mengeluh tanpa henti sebelum sakitnya hilang. Dan, mungkin hanya Mentari saja yang sanggup menghadapi sisi kekanak-kanakan dari sosok Angga. Karena itu pula, sejak dulu bahkan sampai sekarang, jika Angga sakit yang dipanggil justru Mentari. Sebab hanya Mentari yang mampu menjadi pawang dari sosok Angga.
“Eh, non Tari. Udah lama, ya gak main kesini.”
Mentari tersenyum hangat saat kedatangannya disambut oleh Mbok Narmi, pembantu di rumah Angga yang sudah cukup lama bekerja dengan keluarga ini.
“Iya, mbok. Baru sempat lagi kesini. Mbok gimana kabarnya? Baik kan, mbok?”
“Alhamdulillah, seperti yang non Tari lihat aja. Alhamdulillah simbok baik, sehat walafiat.”
“Alhamdulillah...”
“Non mau ketemu den Angga, ya?”
Mentari mengangguk, “Iya, mbok. Katanya Angga sakit, ya.”
“Iya, non. Udah dua hari ini, den Angga sakit. Mana gak mau makan, bingung mbok jadinya. Untung aja non Tari kesini, nurut lah pastinya kalau sama non.”
Mentari tersenyum saja. “Iya, mbok.”
“Yaudah, ayo non masuk!”
Mentari mengangguk, beriringan masuk ke rumah bersama Mbok Narmi yang tak henti-hentinya terus menerus bertanya banyak hal pada Mentari.
__ADS_1
“Yaudah, mbok. Saya siapin makanannya dulu, ya buat Angga.”
“Sini, simbok aja.”
“Gak usah, saya aja. Saya ke dapur, ya mbok. Permisi.”
“Ya udah kalau gitu. Tapi, mbok tinggal dulu, ya. Masih lagi beres-beres di kamar belakang. Gak papa kan kalau ditinggal?”
“Oh, iya, gakpapa kok, mbok.”
“Yaudah, ditinggal, ya. Kalau butuh apa-apa, panggil aja.”
“Iya, mbok. Makasih, ya... ”
Mentari berjalan ke arah dapur seorang diri, membuka penutup kotak makan dan mulai mengambil mangkuk juga piring dan gelas. Dia menuangkan bubur yang dia buat sebelumnya di rumah ke dalam mangkuk, memindahkan potongan buah juga jus yang sama dia buat sebelumnya.
Setelah selesai, Mentari bersiap pergi menemui Angga di kamarnya, namun sesuatu yang terdengar telinganya juga terlihat matanya seketika menghentikan langkahnya.
***
“Lo gak kurang apapun, Mel. Lo cantik, lo berpendidikan dan lo dari keluarga yang cukup terpandang. Lo gak kurang apapun.” ucap Angga datar, wajah pucat masih menghiasi wajahnya.
“Tapi, kenapa kamu gak pernah bisa lihat aku? Kenapa kamu gak pernah bisa untuk sekedar melirik aku. Aku tulus sama kamu, Ga. Aku beneran cinta sama kamu, kamu segalanya buat aku, Ga.”
Angga menghela napas panjang, “Makasih, makasih lo udah cinta sama gue. Tapi, sayangnya, enggak dengan gue. Gue gak bisa balas perasaan lo, gue udah bilang kan dari dulu?” Angga mengerutkan keningnya, dia mengedikkan dagunya. “Dan, gue rasa lo juga tahu alasannya apa.”
Terlihat sekali kekecewaan di mata Amelia. “Ga, tapi Tari mutusin kamu. Cinta kamu dia permainkan, Ga. Dia kecewain kamu... Harusnya kamu sadar itu. Dia gak tulus sama kamu, dia main-main sama kamu.”
Angga menggeleng, “Enggak, lo salah, Mel. Lo salah besar kalau lo berpikir kayak gitu. Justru yang ngecewain itu gue, bukan Tari. Dan, meskipun gue udah kecewain dia, dia masih aja tulus sama gue. Dia masih tetap baik sama gue.”
“Tapi, dia ninggalin kamu kan?”
“Enggak, sama sekali enggak.”
Amelia tersenyum miris, dia selalu dianggap salah. Dia berdecak pinggang, tertawa hambar dan kembali menatap Angga dengan mata yang sudah memerah menahan tangis, “Aku harus apa supaya kamu bisa sedikit aja buka hati kamu buat aku. Aku harus gimana, Ga supaya kamu bisa lihat kalau aku ini cinta sama kamu. Aku harus apa.”
__ADS_1
“Sorry, Mel. Mungkin ini nyakitin buat lo dan gue tahu itu. Tapi, lo emang harus sadar. Gak semua yang lo mau, bisa jadi milik lo, terutama hati gue. Dan, gue rasa penolakan gue yang udah bertahun-tahun lamanya ini buat lo sadar kalau gue emang gak bisa sama lo apalagi jatuh cinta sama lo.”
“Gue udah malas ngomong yang pastinya bakalan nyakitin lo, gue udah gak punya tenaga lagi buat ngomong kayak gitu. Dan, gue harap lo cepetan sadar kalau sampai kapanpun, gue gak akan bisa dan gak akan pernah balas perasaan lo. Karena hati gue cuma milik, Tari. Gue jatuh cintanya sama Tari. Gak bisa sama yang lain.”
Amelia menunduk kini, benar-benar penolakan yang dia dapatkan. Bertahun-tahun lamanya dia berjuang seorang diri, dia pikir akan mendapatkan akhir yang bahagia. Tapi, ternyata tidak. Sama seperti dulu, Angga tetap menolaknya.
“Gue yakin, diluar sana pasti ada cowok tulus yang bisa cinta sama lo.”
“Tapi, gue mau nya lo, Ga. Gak mau yang lain.” balas Amelia, dia terisak pelan kini.
“Kalau lo tetap sama kemauan lo itu, sampai kapanpun lo gak akan dapat. Dan, lo harus rasain sakitnya sampai kapanpun.”
Amelia menangis kini, menangis meraung atas penolakan ini. Dia pikir, akan ada simpati yang diberikan Angga padanya. Namun, ternyata tidak. Angga sama sekali tak peduli dengan rasa sakit yang kini tengah Amelia rasakan.
Amelia menghapus air matanya, dia mendongak menatap Angga. “Jadi, gue harus nyerah sekarang?” tanya Amelia, bibirnya bergetar.
“Iya, kalau lo mau tahu apa artinya bahagia dan dicintai. Lo harus nyerah dapatin gue.”
Amelia membuang muka, menahan tangisnya lagi dan kembali menatap Angga. Dia memang benar-benar ditolak. “Boleh gue peluk, lo?” tanya Amelia, padahal dia biasanya tak pernah bertanya.
“Sorry,” Angga menggeleng.
Sudah mendapat penolakan, tapi Amelia tetap nekat memeluk Angga. Perempuan itu memeluk Angga begitu eratnya, menangis kencang dalam pelukan pria itu meskipun Angga masih mencoba melepaskan nya.
“Aku cinta sama kamu, Ga. Aku cinta sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu, aku gak mau, Ga.”
“Mel, lepasin!”
“Enggak, gak mau!”
“Mel, lepasin atau gue bisa aja bersikap kasar sama lo. Lepasin gue sebelum kesabaran gue abis.”
Amelia menggeleng keras, menolaknya dan tetap memeluk Angga.
Angga berdecak, masih mencoba melepaskan pelukan Amelia. Namun, tubuhnya menegang seketika saat netranya menemukan keberadaan seseorang di sana yang tengah menatap mereka tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Tari.”