
“Eh, katanya kita disuruh kumpul semua didepan. Pak Angga mau kasih announce katanya.”
Ayumi menoleh pada Mentari, dia menaikkan kedua alisnya. “Kayaknya Pak Angga mau umumin yang bakalan jadi sekertaris baru dia deh.” Ayumi tersenyum lebar, dia nampak senang. “Gak sabar banget dengar kalau lo yang bakal jadi sekertaris nya. Aw! Pasti ada yang CLBK ini mah.” Ayumi memekik girang, membayangkan dengan senang jika benar nanti Mentari dan Angga kembali bersama.
Mentari menatap malas Ayumi, “Apa sih, Yu. Belum tentu juga kali. Stop isengin gue terus.” Mentari menghela napas kasar, kesal dengan godaan Ayumi yang tiada henti.
“Tapi, gue yakin seratus persen!”
Mentari menghela napas kasar, dia mengedikkan bahunya sambil beranjak berdiri. “Udahlah, yuk, ah! Daripada diteriakin nanti kita, malas.”
“Malas apa pengen cepat-cepat ketemu mantan nih...”
“Yu...”
“Iya, iya, becanda.” Ayumi terkekeh, dia beranjak berdiri. “Yuk!”
Mereka berkumpul, hanya karyawan dengan pangkat saja yang diperintahkan untuk berkumpul, tak semuanya diikutsertakan. Beberapa saat, Angga keluar dari ruangannya. Seminggu, sepertinya ini kali pertama lagi Mentari melihat pria itu. Tak ada yang berubah menurutnya—ada, tatapan Angga saat mata mereka bertemu terasa berbeda Mentari kini rasakan.
“Siang, semuanya. Maaf kalau saya ganggu waktu kerja kalian. Seperti yang diketahui, Dellia yang merupakan sekretaris saya sebelumnya sudah mengajukan resign satu minggu yang lalu. Dan, mungkin untuk beberapa urusan kedepannya bukan Dellia lagi yang meng-handle itu semua. Jadi, saya akan memperkenalkan sekertaris baru saya, dimana dia yang akan menggantikan Dellia sekaligus jadi jembatan kalian jika ada urusan dengan saya.”
Mentari diam, mendengarkan apa yang diucapkan Angga. Pun begitupun yang lainnya, yang diam terpaku pada sosok Angga. Momen-momen seperti ini yang paling ditunggu-tunggu, mereka terkhusus kaum hawa sangat mengharapkan rapat dadakan seperti ini. Apalagi jika Angga yang menjadi juru bicaranya.
“Kalau begitu, saya perkenalkan sekertaris baru saya. Silahkan.”
Semuanya saling adu pandang, bingung dengan siapa yang dimaksud oleh Angga. Semuanya pikir, Mentari lah yang dimaksudkan Angga sehingga semua mata tertuju pada perempuan itu. Hingga saat kehadiran orang yang tak pernah terlihat di kantor cukup menarik semua mata untuk tertuju padanya.
“Halo semuanya, kenalin, Aku Amita. Sekertaris barunya Pak Angga.”
Dan, seketika semuanya terkejut. Tak terkecuali Mentari yang memang sebelumnya pernah bertemu perempuan itu.
***
“Gak nyangka, ternyata sekertaris barunya Pak Angga orang baru. Gue pikir bakalan dari anak kantor sini juga. Tapi, ternyata bukan.”
Vanya mengangguk, setuju dengan ucapan Ayumi. “Gue juga kaget banget gila pas lihat Mbak Amita itu. Mana masih muda, ya, keliatan sih kayak seumuran kita tahu.” Vanya menatap Mentari yang sejak tadi diam, anteng menikmati makan siangnya tanpa banyak bicara. “Gue pikir, lo, Tar yang bakal diangkat jadi sekertaris nya Pak Angga. Ternyata bukan.”
__ADS_1
Mentari mendongak, mengambil es teh nya dan meneguknya. “Gue kan udah bilang kalau gak mungkin gue. Kalian aja yang aneh, ngeyel minta ampun. Malu tahu.”
“Eh, bukan kita doang kali yang mikir gitu. Anak lain juga pada mikirnya lo yang bakal jadi sekertaris nya. Ya, secara doi kayaknya masih incar lo.”
“Nyatanya bukan kan?” Mentari menaikkan kedua alisnya, “Jadi, stop mikir gitu.” Mentari kembali menikmati makanannya.
“Lo cemburu, gak, Tar?” tanya Vanya yang sukses membuat Mentari terdiam untuk beberapa saat, bahkan kunyahan perempuan itu sempat terhenti sejenak.
Mentari bertanya pada dirinya sendiri. Hati kecilnya mengatakan iya, namun ego yang besar justru menyangkal itu. Mentari menggeleng, “Enggak.” jawab Mentari akhirnya.
Ayumi dan Vanya saling tatap, mencebik mendengar jawaban Mentari karena mereka tahu jika perempuan itu berbohong kini.
“Eh, lihat anjir. Udah diajak makan berdua aja.”
Mereka menoleh kearah yang dimaksud Ayumi, tersentak melihat siapa saja yang baru saja memasuki area cafetaria kantor mereka. Terkhusus Mentari yang benar-benar langsung diam terpaku, menatap lekat Angga di sana bersama Amita yang berjalan beriringan, bahkan duduk di satu meja yang sama.
Vanya menyenggol lengan Ayumi melihat diamnya Mentari.
“Tar... You okay?” tanya Ayumi, dia meringis pelan.
“Tapi, itu Pak Angga sama Mbak Amita loh.” timpal Vanya.
“Ya, terus?” Mentari menaikkan kedua alisnya, dia mengedikkan bahunya. “Lagian, bukan masalah kali. Yaudah lah, ya. Gue udah selesai nih makannya, titip bayar aja, ya. Mau ke toilet, kebelet pipis soalnya. Makasih...”
Ayumi dan Vanya hanya mampu menggeleng menatap kepergian Mentari yang terkesan buru-buru, mereka tahu perempuan itu tengah menyembunyikan sesuatu. Yaitu, perasaannya.
***
Mentari menatap lekat dirinya lewat pantulan cermin toilet. Terlihat sekali dari raut wajahnya jika dia tak baik-baik saja saat melihat Angga bersama Amita tadi. Ada rasa cemburu dihatinya saat melihat itu. Tapi, apa boleh buat? Dia tak punya hak apapun lagi kini.
Dekat dengan siapapun adalah hak Angga, bukan lagi masalah untuknya.
Seharusnya.
Mentari menghela napas kasar, dia segera mencuci tangan dan mengeringkan nya. Lalu, bergegas keluar dari toilet. Namun, dia dikejutkan dengan keberadaan orang yang tengah mengisi kepalanya saat dia keluar. Angga.
__ADS_1
“Kamu ngapain disini? Ini toilet cewek.”
Mentari lupa jika Angga atasannya, dia justru bertanya dengan santainya.
Angga tak menjawab, pria itu justru diam yang membuat Mentari kembali menghela napas kasar. Dia berniat pergi, namun Angga mencekal lengannya.
“Ada apa?” tanya Mentari jengah, dia membiarkan tangan Angga di lengannya.
“Ini kan yang kamu mau?” tanya Angga yang membuat Mentari mengerutkan keningnya. “Aku bahagia tanpa kamu. Dan, aku akan coba itu. Kamu puas?”
Mentari mengerti maksud Angga, dia paham betul kemana arah pembicaraannya. Dia melepaskan perlahan tangan Angga dari lengannya, menatap lekat pria itu.
Mata tak bisa berbohong, benar adanya.
Dengan mata yang sedikit berbinar air mata, Mentari menatap Angga, menunjukkan senyuman paksanya. “Iya. Aku mau kamu bahagia tanpa aku. Syukur lah, kalau ternyata kamu udah bisa menemukan kebahagiaan kamu itu. Aku senang dengarnya.”
“Kamu percaya gitu kalau aku bisa bahagia tanpa kamu?”
Mentari menggeleng pelan, “Percaya.”
“Kalau aku gak bisa gimana?”
“Yakin udah di coba? Belum kan?” Angga terdiam. “Kok bisa-bisanya nge-judge gak bisa bahagia tanpa aku, sedangkan dicoba aja belum. Tapi, kan kamu udah dapat kebahagiaan kamu, meskipun tanpa aku ikut andil didalamnya.”
Mentari dan Angga saling tatap dalam diam mereka. Berbicara hanya lewat tatapan mata saja. Hingga Mentari memutus kontak mata itu, mengedarkan cemas pandangannya.
“Yaudah, udah mau jam masuk juga.” Mentari menghela napas berat, kembali ke mode karyawan biasa jika bertemu atasan. “Saya permisi, Pak Angga.” Mentari bergegas pergi, namun baru beberapa langkah dia beranjak, dirinya dibuat diam terpaku kembali saat Angga memeluknya dari belakang.
Hati Mentari berdesir, bergemuruh kencang. “Ga,” suara Mentari bergetar, matanya terasa panas saat mendapat pelukan dari Angga.
Angga memejamkan matanya, mencoba menyalurkan perasaannya saat ini agar Mentari juga ikut merasakan dan mengerti. Kepalanya dia jatuhkan di bahu perempuan itu.
“Angga,”
“Terakhir, Tar. Biarin kayak gini dulu sebentar. Aku cuma lagi yakinkan diri aku, kalau aku emang bisa bahagia tanpa kamu.”
__ADS_1