
Entah sejak kapan pastinya, namun sepertinya semenjak Mentari benar-benar meminta Angga untuk mencari kebahagiaan tanpa ada dirinya didalamnya, sejak saat itu pula semuanya berubah. Angga yang awalnya bersikap jutek dan dingin kala bertemu Mentari atau mungkin cari perhatian hanya untuk membuat Mentari penasaran, lebih-lebih panas hati, kini berbeda. Angga justru menyapa hangat Mentari, seakan tak pernah terjadi sesuatu pada mereka. Hubungan antara karyawan dan atasan semata benar-benar Angga lakukan.
“Akhir-akhir ini lo banyak ngelamun, Tar. Kerjaan juga jadi neter dan lo harus pulang telat akhirnya.”
Mentari mendongak, membenarkan posisinya menjadi duduk tegak, dia menatap layar laptop nya. “Enggak kok, biasa aja. Emang kerjaan gue lagi banyak aja akhir-akhir ini.” Mentari membaca kembali runtutan kalimat di layar laptopnya itu, pura-pura kembali fokus padahal sudah jelas tak bisa.
Ayumi tersenyum sinis mendengar elakkan Mentari, ego perempuan itu terlalu tinggi. “Lo kayaknya galau banget, ya Tar lihat Angga sama cewek lain.”
Mentari terdiam seketika, dia menggeleng akhirnya. “Biasa aja.”
Ayumi mencebik, dia mencondongkan wajahnya. “Munafik.” Ayumi terkekeh, menarik dirinya kembali dan duduk di samping Mentari. “Tahu lah gue kalau lo tuh galau maksimal lihat Angga dekat sama cewek lain, apalagi semenjak ada sekertaris barunya. Lengket banget mereka.”
Mentari menyangga, dia menggeleng-gelengkan kepala. “Biasa aja, asli. Toh, mereka dekat juga wajar namanya juga sekertaris yang merangkap jadi asisten pribadi juga. Jadi, kalau merek dekat, ya, bukan hal aneh sebenarnya.”
“Dih, kalau ngomong kayak yang benar aja lo. Munafik, munafik.”
Mentari mencebik, mengedikkan bahunya acuh. “Terserah.”
“Eh, guys, jangan lupa, ya nanti siang kita semua makan di kantor. Jangan ada yang makan diluar lo pada. Ingat, hari ini tuh perayaan buat tender kita yang kemarin bisa nembus goals. Jadi, Pak bos sengaja manggil beberapa stand makanan buat ngerayain sekaligus apresiasi buat tim kita. Ingat, ya, guys!”
Ayumi tersenyum, menyenggol Mentari yang langsung mencebik. Dia menaikturunkan alisnya, “Asik, makan gratis, pasti enak-enak. Selera bos kan gak pernah mengecewakan. Iya, kan, Tar?” goda Ayumi, dia menunjukkan deretan giginya.
“Gak tau!”
__ADS_1
“Gak sabar deh mau makan enak,” Ayumi terkekeh, “Eh, apa nanti ada pak bos juga? Gak sabar, ya ketemu Pak Bos. Iya, gak, Tar?”
Mentari memasang wajah datar, tak menanggapi godaan Ayumi.
Dan, jam makan siang pun tiba. Semuanya sudah berada di area cafetaria kantor, berkumpul ramai-ramai dengan berbagai stand makanan yang sudah dipenuhi oleh banyak karyawan yang mengantri.
“Wah... Banyak banget, gak expect bakalan sebanyak ini.” Ayumi berdecak kagum, semua stand makanan disini benar-benar menggugah selera. Ayumi melirik Mentari, semakin mengeratkan rangkulan nya di lengan perempuan itu. “Lo pengen apa?Kelihatannya enak-enak semua, ya.”
Mentari tak langsung menjawab, dia justru memperhatikan dengan jelas satu persatu stand makanan juga minumannya. Entah apa yang harus Mentari pikirkan kini, apakah dia harus bingung atau justru berbesar hati melihat semua yang ada disini adalah kesukaan nya. Dari cemilan, makanan berat sampai minumannya berasal dari merek favoritnya.
“Eh, lo pada belum ambil apapun? Buruan, woi! Kehabisan nanti loh.” Vanya menghampiri Ayumi dan Mentari sambil membawa bakso dalam mangkuk styrofoam yang dibawanya.
“Itu bakso apa semur? Hitam banget.”
“Lo mau makan apa, Tar?”
“Gak tahu, terlalu banyak pilihan. Gue jadinya bingung.”
“Sama, gue juga. Tapi, kayaknya gue tertarik sama mie ayam yang itu, keliatannya enak banget.”
“Yaudah sana, ikut ngantri. Nanti kehabisan loh.”
Ayumi mengangguk, “Iyalah, gue mau ngantri. Lo juga cari kek makanan, nanti kita ketemuan di tempat duduk yang kosong aja. Lo take-in buat gue kalau udah selesai duluan.”
__ADS_1
“Iya... Udah, sana.”
Disini ramai, namun entah kenapa Mentari justru merasakan sepi. Hatinya tak sesenang biasanya, namun justru sebaliknya. Karena itu pula, dia memilih melangkahkan kakinya keluar dari area cafetaria. Namun, langkahnya kembali terhenti saat netranya justru menemukan Angga yang ternyata juga ada disini. Angga di sana bersama Amita yang selalu berada di sampingnya. Dan, untuk kesekian kalinya dia merasakan kekecewaan atas apa yang dia inginkan.
“Ini keputusan lo, jadi lo harus terima.”
Sesering mungkin Mentari menyadarkan dirinya akan hal itu, namun tetap saja, bagian hatinya yang lain justru tak terima dengan itu semua.
“Angga ngapain makan cokelat coba?”
Mentari cemas melihat Angga yang justru mencelupkan potongan buah kedalam chocolate fountain, kesal melihat bagaimana santainya pria itu melakukan hal tersebut, sedangkan Mentari disini memperhatikan dengan cemas. Mentari tak mau kalau sampai alergi Angga kambuh.
Saat Mentari pikir Angga akan menikmati cokelat tersebut, dia sudah berniat menghampiri pria itu untuk mencegahnya. Namun, niatannya urung saat justru Angga memberikan cokelat fountain itu kepada Amita yang langsung diterima dengan senang hati oleh perempuan itu yang tengah tersenyum lebar.
Mentari baik-baik saja, seharusnya demikian. Namun, justru matanya terasa panas, hatinya terasa sakit melihat itu semua. Cepat-cepat Mentari melenggang pergi, keluar dari sini dan menghindar untuk menyembunyikan kesakitan yang dia rasakan yang justru dia sendiri yang ciptakan.
Berjalan dengan gontai, Mentari keluar dari area cafetaria. Hati, pikirin bahkan raganya sedang merasa tak baik-baik saja. Apalagi setelah apa yang dia lihat sebelumnya, bagaimana seorang Angga ‘bahagia’ tanpa ada dirinya yang ikut andil di kehidupan pria itu lagi.
Melangkahkan kakinya yang terasa lemas ditambah pening yang sejak tadi menguasai kepalanya, dia berjalan keluar dari area kantor. Kalau saja tak ada tangan yang cepat menangkap tubuhnya, mungkin Mentari akan terjatuh begitu saja.
“Aduh, maaf. Makasih.”
Mentari mencengkram erat tangan orang yang menolongnya, napasnya yang terasa panas dan berat memburu hebat, matanya bahkan tak kuasa hanya untuk terjaga. Hingga akhirnya Mentari kehilangan kesadarannya dalam dekapan orang yang bahkan Mentari tak tahu siapa.
__ADS_1
***