
Langkah Mentari terhenti saat Angga menghalangi jalannya. Dia ke kanan, pria itu mengikuti, pun seterusnya yang membuat Mentari kesal sendiri. Apalagi saat ini posisinya mereka berada di kantor, banyak yang berseliweran dan tentunya membuat mereka menjadi pusat perhatian.
“Maaf, ada apa, ya pak Angga?” tanya Mentari, dia sebenarnya ingin mengamuk para pria itu kalau saja posisi mereka bukan di ruang publik.
Bukannya menjawab, Angga justru menarik lengan Mentari, membawa perempuan itu tanpa berucap apapun. Mentari terkejut, memberontak namun tak bisa melakukan apapun karena Angga terus memaksanya. Tak ada kekerasan, namun ada pemaksaan. Dan, Mentari sudah berada di mobil Angga saat ini.
Mentari menatap kesal Angga, mendengus melihat acuhnya pria itu. “Angga apaan sih kamu! Aku mau keluar!” Mentari mencoba membuka pintu mobil, namun tak bisa karena Angga sudah menguncinya. “Bukain, gak? Angga!”
“Pasang seatbelt, jangan lupa.”
Mentari menggertak kesal, dia memasang cepat safety belt saat mobil Angga melaju. Dia menatap pria itu kembali, “Kamu apa-apaan sih, Angga? Tarik-tarik aku di kantor dan sekarang kamu mau bawa aku entah kemana ini. Kamu tahu kan, apa yang kamu lakuin itu pasti aku juga yang kena. Pasti orang-orang bakalan ngomongin kita, aku khususnya.”
“Aku gak peduli apa yang mereka omongin dan kamu gak usah mikirin omongan mereka, gak penting.”
Mentari memutar malas bola matanya, “Kamu enak ngomong gitu. Kamu bosnya dan gak mungkin ada yang ngomong jelek tentang kamu. Sedangkan, aku? Cuma karyawan biasa, udah pasti omongan jelek bakal nyebar di mana-mana nantinya.”
Angga diam, tak menimpali gerutuan Mentari. Dia tetap fokus melajukan mobilnya. Hingga terdengar ponsel milik Mentari berbunyi membuat perempuan itu dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo, Pak Sur. Saya—”
Belum selesai bicara, namun Angga lebih dulu merampas ponsel Mentari. “Dia ikut sama saya—Iya—Thank you.” Angga mematikan panggilan tersebut.
Mentari semakin kesal dengan tingkah Angga yang seenaknya. “Angga, nyebelin banget sih kamu. Balikin handphone aku! Sini!” Mentari mencoba merebut ponselnya ditangan Angga, namun pria itu terus menjauhkan dari jangkauannya.
“Tari diam deh, aku lagi nyetir.”
“Yaudah, balikin handphone aku!”
“Yaudah, nanti.”
“Angga! Kamu tuh—”
Mentari memekik saat Angga membanting setir, dia ternganga dengan degupan jantungnya yang tak karuan dengan apa yang baru saja terjadi. Angga menengok ke belakang, memastikan tak ada korban.
Angga menghela napas lega, “Untung aja gak ada kendaraan lain.” Angga menyandarkan punggungnya dan menoleh pada Mentari yang masih diam. “Kamu sih, Tar. Aku bilang diam, ngeyel banget. Untung aja gak ada kendaraan lain, kalau ada bisa bahaya, kecelakaan kita.” dengus Angga.
Mentari menatap tajam Angga saat pria itu menyalahkan nya. Memang salahnya, terus memaksa disaat Angga tengah menyetir. Tapi, jauh lebih salah Angga karena apa yang dia lakukan juga pria itu penyebabnya. “Aku juga gak akan kayak tadi kali kalau kamu balikin handphone ku.”
“Ya, aku bilang kan nanti. Kamu nya aja yang maksa.”
__ADS_1
“Yaudah, sini balikin!”
“Enggak.”
Lihat, bahkan Angga berhasil membuat Mentari hipertensi pagi-pagi. Mentari melipat tangan didepan dada, membuang muka. “Nyebelin!” kesal Mentari, dia memilih menatap kesamping kaca mobil.
Angga terdiam, menetralkan semuanya. Dia segera menepikan mobilnya, membiarkan Mentari dengan kekesalannya untuk beberapa saat.
“Sini!” Angga menarik Mentari untuk menghadapnya, namun perempuan itu menolaknya. Tapi, bukan Angga kalau tidak memaksa. Ditariknya pelan wajah Mentari agar menatapnya, berdecak pelan saat melihat darah yang keluar dari dahi perempuan itu. “Tuh, kan berdarah.”
“Apaan sih!” kesal Mentari, dia meringis saat Angga menyentuh keningnya.
Angga menunjukkan darah di jemarinya yang berasal dari kening Mentari.
Mentari terkejut karena dia tak merasakan sakit sebelumnya, kalau saja tadi Angga tak menyentuh luka itu.
“Sini, obati dulu.”
Mentari menepis tangan Angga, “Gak usah, aku bisa sendiri.”
“Aku gak peduli.” Angga membuka laci dashboard, mengambil kotak P3K.
“Gak usah, Ga.”
Angga dan keras kepalanya tak bisa dipisahkan. Dia tetap membersihkan luka Mentari meskipun pria itu terus menolaknya. Dia meringis pelan, seakan merasakan sakit atas luka di kening Mentari. Dengan telaten, dia membersihkan juga mengobati luka perempuan itu. Mentari hanya bisa diam kini, menatap lekat Angga.
Angga selesai mengobati dan menempelkan plester di luka Mentari, perempuan itu masih cantik dimatanya meskipun ada plester yang terhias di keningnya.
“Maafin aku, kamu luka gini.” lirih Angga, dia menatap manik mata Mentari yang akhir-akhir ini sering menatapnya tajam. Debaran di hatinya, masih sama. Apalagi posisi mereka sedekat ini. Semoga saja Mentari bisa mendengar debaran itu.
Mentari tersadar, dia segera membuang muka. “Makasih.”
Angga menghela napas kasar, semuanya memang tak baik-baik saja. Dia menarik diri, duduk seperti semula di kursinya.
Sejujurnya, berada di posisi ini benar-benar menyakitkan. Ketika masih ada cinta, perhatian yang mendalam, sedangkan kenyatannya semuanya sudah berbeda. Hubungan mereka sudah tak lagi sama. Mentari menyeka air mata di sudut matanya.
“Kamu mau bawa aku kemana sih, Ga?” tanya Mentari, tak ada lagi nada marah atau kesal. Perempuan itu pasrah.
***
__ADS_1
“Masih ingat tempat ini?”
Mentari tak langsung menjawab, dia diam terpaku untuk beberapa saat. Angga menoleh, menatap diamnya Mentari, dia tersenyum simpul.
“Tempat ini jadi saksi hubungan kita dan setiap tahun kita gak pernah absen ke tempat ini, pasti selalu kesini. Apalagi di tanggal penting.” Angga tersenyum kembali, dia menatap hamparan lautan didepan matanya. “Kamu ingat kan, Tar sekarang tanggal berapa?”
Mentari ingat.
Rasanya ada sesuatu yang menyesakkan di dadanya, hanya sekedar menelan ludah sendiri pun terasa susah, bahkan untuk bernapas normal saja rasanya berat.
“Tar, kamu ingat kan?” tanya Angga lagi saat Mentari masih juga diam.
Mentari mengerjap-ngerjapkan matanya, dia menggeleng pelan. “Kamu kenapa kayak gini sih, Ga? Sikap kamu ini nyakitin aku.”
Angga mengerutkan keningnya, “Nyakitin? Aku nyakitin kamu gimana?”
Mentari menatap Angga dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Sedangkan yang ditatap justru terlihat kebingungan.
“Udah berapa kali aku bilang, kamu sama aku, kita udah gak punya hubungan apapun lagi. Kita udah gak pacaran, kamu bukan pacar aku, aku bukan pacar kamu.” Mentari menggebu-gebu. “Kita udah bukan siapa-siapa lagi, Ga.” lirih Mentari, dia menunduk. “Harus gimana aku jelasin sama kamu, harus pakai cara apa lagi coba.”
“Udah berapa kali juga aku bilang kalau kita itu gak putus. Kemarin, yang kamu omongin itu cuma karena kamu marah dan aku gak mengiyakan keputusan kamu itu. Jadi, status kita masih sama, Tar. Kamu masih pacar aku dan begitu pun aku.” Angga tersenyum lebar, dia meraih tangan Mentari. “Dan, aku udah siapin sesuatu untuk kamu buat ngerayain anniversary kita sekarang. Ayo!”
Saat Angga menarik Mentari, perempuan itu diam yang membuat Angga kembali berbalik menghadapnya.
“Kamu cinta sama aku?” tanya Mentari lirih.
“Of course, i love you, i love you so much.”
“Yaudah, jangan kayak gini. Kalau kamu kayak gini terus, itu benar-benar nyakitin aku, Ga. Mana cinta yang kamu maksud kalau begitu.”
Angga menatap lekat Mentari, keduanya saling menatap lirih.
“Aku gak bisa kalau harus putus sama kamu, Tar. Aku gak bisa tanpa kamu, kamu segalanya buat aku. Dan, aku gak mau lihat kamu sama cowok lain selain aku.”
“Yaudah, seriusin aku!”
Melihat diamnya Angga membuat Mentari tersenyum sinis. “Biarin aku bahagia, tanpa kamu. Dan, kamu juga harus bahagia, tanpa aku.”
“Gimana bisa aku bahagia tanpa kamu, sedangkan kamu adalah bahagia aku.”
__ADS_1