Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 24 : Cemburu (2)


__ADS_3

“Pak Abi beneran mau makan disini?”


Abimanyu mengurungkan kakinya yang berniat melangkah, ditatap nya bingung Mentari saat perempuan itu melontarkan pertanyaan demikian. Abimanyu tersenyum tipis, mengangguk. “Kamu gak biasa makan makanan pinggir jalan, ya? Yaudah, kita makan di resto aja.” Abimanyu berniat kembali ke mobil, namun tangannya ditahan Mentari.


Mentari melepaskan cepat tangannya yang menahan lengan Abimanyu saat keterkejutan ditunjukkan pria itu atas perbuatannya. “Bukan, bukan gitu maksud saya.” Abimanyu terkekeh. “Cuma, saya kaget aja bapak ajak saya makan dipinggir jalan kayak gini. Saya pikir, orang seperti bapak gak pernah mau makan di tempat kayak gini.”


“Kenapa harus gak mau?”


Mentari mengedikkan bahunya. “Pak Abi pasti juga tahu alasannya apa.”


“Saya sih gak masalah sebenarnya, selagi makanannya enak dan tempatnya bersih. Jadi, makan di pinggir jalan oke oke aja.” jawab Abimanyu, dia terkekeh. “Jadi, gimana nih. Mau makan disini?”


Mentari mengangguk, “Boleh, Pak. Tapi, kayaknya bapak harus lepas jas nya deh, biar enak aja nanti makannya.” saran Mentari yang diangguki Abimanyu. Pria itu segera melepas jas nya dan menyimpannya di mobil.


“Yaudah, yuk!”


Mereka beriringan memasuki tenda tempat makan tersebut, lebih tepatnya penjual pecel lele dan nasi uduk. Memilih duduk di pojokan yang kebetulan hanya bagian meja pojok tersebut yang tersisa.


“Pak Abi mau pesan apa?” Mentari melirik sekilas Abimanyu, kembali menatap liat menunya.


“Bebek disini enak, Tar. Kamu harus coba. Rasanya, beda dari yang lain.”


Mentari mengangguk-angguk, “Boleh. Kalau sambalnya gimana, Pak?”


“Saya sih pernah nya cuma sambal penyet nya doang, yang lain belum saya coba.”


“Yaudah, gimana kalau kita coba sambal yang lainnya?”


“Boleh.”


Mentari segera mencatat pesanan mereka di atas kertas yang disediakan, lalu membiarkan Abimanyu yang dengan senang hati menawarkan diri untuk memberikan catatan tersebut ke penjualnya yang berada didepan.


“Nih, diminum dulu es jeruknya.” Abimanyu kembali membawa dua es jeruk untuk mereka.


“Makasih, Pak.” ucap Mentari, dia segera menyesap minuman tersebut.


Abimanyu menatap lekat Mentari yang duduk di hadapannya, tersenyum senang melihat perempuan itu yang sepertinya baik-baik saja diajak ke tempat makan dipinggir jalan. Mentari yang menangkap basah Abimanyu yang menatapnya tersenyum bingung, dia mengerutkan keningnya.


“Ada apa, Pak?”

__ADS_1


Abimanyu gelagapan, malu ketahuan memperhatikan perempuan itu. “Ah, itu. Saya masih gak percaya aja kalau kamu mau diajak ke tempat makan pinggir jalan.”


“Maksudnya, Pak?”


“Ya... Kebanyakan perempuan yang saya ajak jalan, mereka gak pernah mau dan pasti nolak kalau saya ajak mereka makan dipinggir jalan. Kebanyakan sih pada maunya makan di resto lah, cafe lah. Pokoknya gak ada yang mau kalau di pinggir jalan tuh.”


Mentari terkekeh mendengarnya. “Wah... Kalau dengar dari omongan bapak ini, kayaknya Pak Abi udah banyak banget ajak perempuan jalan nih.” Mentari menaikturunkan alisnya, menatap menggoda Abimanyu yang langsung gelagapan.


“Eh, bukan gitu maksud saya. Ya ampun... kamu salah paham nih.”


“Beneran juga gakpapa kali, Pak.”


“Enggak lah, Tari. Baru kamu ini yang saya ajak jalan kayak gini.”


“Ah, tadi katanya kebanyakan perempuan yang saya ajak jalan...” Mentari mengingatkan Abimanyu yang langsung menggeleng, mencoba mengelaknya.


Abimanyu berdecak, dia menggeleng-geleng. “Oh, ayolah Tari... Ini kenapa jadi kamu godain saya.”


“Dih, siapa yang godain. Orang saya cuma memperjelas ucapan Pak Abi aja, udah itu aja.”


Abimanyu menarik kedua sudutnya membentuk senyuman tipis. “Terserah kamu lah. Oh, iya. Kita makan berdua kayak gini, gak masalah kan?” Abimanyu menatap serius Mentari yang mengerutkan keningnya.


“Masalah gimana, Pak?”


Mentari tersenyum tipis, menatap jemarinya yang tak lagi terhias cincin yang sempat diberikan Angga padanya. Semua hal tentang Angga harus dia simpan, termasuk cincin yang sempat dia lupakan untuk disimpan. Namun, kini cincin tersebut telah disimpannya bersama kenangan pria itu.


“Kamu udah punya pacaran, Tar?”


“Hi!”


Belum sempat Mentari menjawab pertanyaan Abimanyu, sapaan seseorang terhadap mereka mengalihkan atensinya. Mereka terkejut saat mendapati Angga dan Amita yang menghampiri mereka.


“Malam Pak Abi,” sapa Amita, dia tahu kini Abimanyu berkat Angga yang memberitahunya. Dia tersenyum hangat pada Mentari yang masih terlihat tak percaya.


Mentari dan Angga bertemu tatap, terdiam untuk beberapa saat dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya satu hal yang pasti, ada rasa cemburu diantara keduanya saat mereka tahu jika masing-masing tengah bersama orang lain. Mentari bersama Abimanyu, sedangkan Angga bersama Amita.


Abimanyu mengulas senyumnya, dia mengangguk sebagai sapaan pada Amita kemudian beralih menatap Angga yang dia perhatikan tak lepas menatap Mentari. Abimanyu berdehem, “Kalian disini?” tanya Abimanyu.


“Iya, Pak. Kebetulan kami mau makan disini dan ternyata ramai banget, kami lihat meja pojok yang masih ada ruang buat dua orang. Eh, ternyata ada kalian di meja ini.” jelas Amita. “Boleh, gak Pak kalau kami gabung disini?” tanya Amita.

__ADS_1


Abimanyu tak langsung menjawab, dia melirik Mentari. Merasa ditatap membuat Mentari gelagapan.


“Kenapa, Pak?” tanya Mentari, dia mengerutkan kening bingung.


“Gakpapa kalau mereka gabung?”


Mentari tersenyum kikuk, “Saya sih gak masalah.”


“Yaudah, kalau Mentari gak masalah. Silahkan.” jawab Abimanyu, dia mempersilahkan. “Tapi, kamu gak masalah kan, Ga?” tanya Abimanyu, Angga belum juga mengeluarkan suaranya sejak tadi.


“Gak, gak masalah sama sekali.”


“Yaudah, silahkan.”


Mereka segera duduk, Amita disamping Mentari, Angga disamping Abimanyu. Dan, dengan begitu juga Angga semakin bisa terus menerus memperhatikan Mentari, semakin tak lepas menatap perempuan itu.


“Permisi, ini pesanannya.”


Semua pesanan sudah tertata di atas meja dihadapkan mereka, keempatnya pun mulai menikmati makanan masing-masing.


“Gimana, Tari tempat makan rekomendasi saya ini?” tanya Abimanyu.


Bukannya Mentari yang menjawab, justru Angga lah yang memberikan jawaban.


“Masih enakan tempat makan biasa kita, lebih berbumbu di sana makanannya, sambalnya pun lebih mantap yang di sana.” Angga menatap Mentari yang mendongak menatapnya. “Iya kan, Tar?” Angga tersenyum pada perempuan itu.


“Iya, Pak. Bebek Blesteran masih juaranya.” Amita menyahut membuat Mentari melirik sinis perempuan itu. Yang ditanya siapa, yang menjawab siapa.


“Tapi, disini juga gak kalah enak kok. Sambalnya disini malah lebih banyak porsinya, bebek nya pun lebih besar ukurannya.” jawab Mentari akhirnya, dia menatap sinis Angga yang memicingkan mata menatapnya.


Amita tersenyum kikuk, sudut bibirnya bergetar.


Angga menaikkan alisnya, “Lebih banyak porsi dan ukuran bukan berarti lebih enak kan?”


“Tapi, ini juga enak, Pak Angga.” jawab Mentari, dia berucap penuh tekanan.


“Tapi, gak lebih enak kan?”


“Lebih enak!”

__ADS_1


“Masa? Kalau ini lebih enak, kenapa itu sambal gak kamu habisin?” Angga menunjuk sambal yang masih tersisa cukup banyak di piring Mentari. “Aku tahu banget kalau kamu tuh gak pernah nyisain barang sedikitpun makanan kalau makanan itu enak.”


Mentari mendengus kesal, mereka saling adu tatap dengan tatapan yang tak bersahabat. Entahlah apa yang menjadi masalahnya, namun kekesalan tercipta begitu saja. Amita dan Abimanyu pun saling beradu tatap, bingung harus berbuat apa. Namun, satu hal yang pasti yang membuat situasi seperti ini, yaitu cemburu.


__ADS_2