
“Aduh, Ga. Kamu apaan sih?” Mentari menatap jengah Angga, dia malas sebenarnya jika harus berdebat di pagi hari. Mood rusak di pagi hari, bisa berimbas pada aktifitas kedepannya. Bisa jadi, sepanjang hari Mentari badmood nantinya.
Angga tersenyum tipis, menaikkan kedua alisnya seakan tak terjadi sesuatu. “Kenapa? Aku belum sarapan dan lapar. Makanya kita berhenti dulu di tukang bubur.” jawab Angga polos, dia mengedikkan bahunya. “Langganan kita loh.”
Mentari menghela napas kasar, dia menggeleng heran. “Tapi, Ga. Kita—”
“Ayo, turun!”
Angga segera keluar dari mobilnya, mengacuhkan protes Mentari. Dia segera menghampiri penjual bubur langganan mereka, memesan dua porsi untuk mereka tentunya. Angga segera duduk, menatap pintu dimana seharusnya Mentari keluar dari sana. Namun, sampai pesanannya selesai dibuatkan, Mentari tak kunjung keluar juga yang membuat Angga kembali beranjak menghampiri perempuan itu di mobil.
Tok... Tok...
Kaca mobil perlahan terbuka, menampilkan Mentari yang menunjukkan raut wajah datarnya.
“Kenapa gak turun? Itu buburnya udah selesai dibuat.”
“Siapa yang mau makan bubur? Aku kan udah sarapan dirumah. Lagian, yang lapar kan kamu, bukan aku.”
Sudut bibir Angga tertarik, “Iya, tahu yang lapar aku. Tapi, apakah sopan kalau bawahan yang ikut nebeng sama atasannya, terus—”
“Kamu yang maksa aku buat ikut,”
“Iya, ngerti. Tapi, apa sopan sikap kamu kayak gini? Lagian sayang banget, aku udah pesan dua porsi loh. Siapa yang mau ngabisin coba?”
“Kamulah.”
Angga tak lagi berucap, dia membuka pintu mobil dan memaksa Mentari untuk keluar kini. “Ayo!”
“Ih... Maksa terus deh.”
“Kamu emang harus dipaksa.”
__ADS_1
Dan, dengan paksaan Mentari duduk bersama Angga untuk menikmati bubur mereka. Angga sih sebenarnya yang menikmati bubur tersebut, tidak dengan Mentari.
“Udah lama atuh, ya gak lihat makan bubur disini.”
Mereka mendongak kepada ibu penjual bubur yang kebetulan cukup dekat. Bagaimana tidak coba, mereka makan bubur disini sering dan sejak awal hubungan mereka terjalin sampai mungkin mereka putus, mereka sudah jarang kesini.
Mentari tersenyum kikuk, lain halnya dengan Angga yang justru tersenyum lebar sambil merangkul pundak Mentari yang membuat perempuan itu membulatkan matanya. Angga benar-benar mencari kesempatan. Tak mungkin Mentari marah-marah atau menunjukkan kekesalannya di muka umum, apalagi didepan orang-orang yang kenal mereka betul.
“Iya, nih, bu. Soalnya sekarang setiap pagi selalu dibikinin sarapan.” Angga menatap lekat Mentari, ada kerinduan dimatanya. Sejujurnya, apa yang diucapkan Angga bukanlah kebohongan. Mentari memang selalu menyiapkan sarapan untuk mereka, Angga khususnya. Sayangnya, hal itu dilakukan saat hubungan mereka belum seperti sekarang.
“Aduh... Kalau gitu mah, udah fiks atuh ini mah.”
“Fix apa, bu?” tanya Angga, dia masih tersenyum juga.
“Fika jadi suami istri atuh, udah cocok gitu geh. Udah, A ayo buruan dihalalin. Takutnya ada yang ngeduluin, nyesel loh nantinya.”
Angga terasa tertampar mendengar itu, bahkan rangkulan nya pun terlepas dari pundak Mentari. Sedangkan, Mentari sendiri pun tak bisa berkata-kata, dia hanya diam saja.
Angga melirik Mentari yang masih diam juga.
“Iya kan neng Tari?”
***
“Idih, sok cantik lo!”
Mentari yang tengah membuat kopi kapsul pun mendongak, mengerutkan keningnya karena ucapan yang dilontarkan AAmelia yang baru saja datang. Mentari tahu, meskipun Amelia tak mengucapkan nama, namun ucapan perempuan itu tertuju padanya. Lagipula, tak ada orang lain lagi selain dirinya disini.
Amelia dengan raut wajah tak sukanya juga keangkuhannya, melangkah menghampiri Mentari. Matanya memicing tajam, menatap sinis Mentari. “Gak usah keganjenan deh lo!”
“Apaan sih lo?” Mentari tak kalah menatap sinis Amelia. “Gak jelas banget. Datang-datang langsung ngomong gue keganjenan. Lo kali yang ganjen!”
__ADS_1
“Heh! Udah jelas-jelas lo ganjen!” Amelia membulatkan matanya, melotot. “Ngapain lo pakai acara dekat sama Abang gue? Ganjen banget sih lo jadi cewek. Setelah Angga lo pepet, abang gue juga mau lo pepet. Gak akan pernah gue biarin lo dekat sama abang gue.”
Mentari tersenyum sinis mendengarnya. ternyata karena kemarin. Bahkan, Mentari baru tahu jika Kelvin adalah kakak dari Amelia. Tahu begitu Mentari tak mau berurusan dengan Kelvin, bahkan sebenarnya Mentari juga selalu menghindari Kelvin. Pria itu saja yang sepertinya mencoba mendekati Mentari.
“Lagian lo ngapain sih deketin abang gue?”
“Siapa yang deketin abang lo? Gak jelas banget sih lo!”
“Terus, lo pikir abang gue gitu yang ngedeketin lo?” Amelia tersenyum meremehkan, dia menatap Mentari dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Sok kecantikan banget lo. Mana mungkin abang gue yang deketin lo? Emang lo secantik apa sampai-sampai abang gue deketin lo.”
“Emang gue cantik? Gak nyadar atau gak mau ngakuinnya?” Mentari mengibaskan rambutnya, dia tahu jika Amelia semakin kesal padanya.
Amelia menggeram kesal, ingin rasanya dia mengacak-acak rambut juga wajah Mentari saat ini juga. Sayangnya, dia masih peduli dengan identitasnya. Tak mungkin dia melakukan hal gegabah yang bisa merugikan dirinya sendiri.
Mentari memutar jengah bola matanya melihat diamnya Amelia, dia segera melenggang melewati perempuan itu. Namun, langkahnya terhenti saat Amelia kembali mengeluarkan suaranya.
“Oh... Atau emang ini cara lo?” Amelia tersenyum senang, dia berbalik dan menatap punggung Mentari. “Ini cara lo atau emang tabiat lo? Cari cowok kaya buat diporotin nantinya. Baru putus dari Angga, lo udah dari cowok kaya lagi. Dan, sialnya abang gue yang harus jadi korban lo selanjutnya.” Amelia senang melihat Mentari yang kesal, dia bisa melihat tangan perempuan itu yang mengepal. Sepertinya, Mentari sedang mencoba menahan kemarahannya, namun Amelia akan tetap memancingnya.
Amelia melangkah mendekat pada Mentari, berdiri di samping perempuan itu.
“Ngasih apa lo sama abang gue? Badan lo atau apa?” bisik Amelia.
Mentari mencengkram kuat gelas berisikan kopi ditangannya, masih mencoba menahan kemarahannya atas ucapan Amelia padanya.
“Dibayar berapa? Atau, udah berapa kali lo sama abang gue—Argh! Panas, panas!”
Mentari tak bisa menahannya lagi, dia menyiramkan kopi ditangannya itu kepada Amelia. Ditatap nya tajam perempuan itu yang masih terkejut dengan apa yang dilakukannya. Masih beruntung Amelia karena Mentari menyiramkan kopi itu ke bajunya, bukan ke wajah perempuan itu. Bisa dibayangkan, akan bagaimana nantinya.
“Jaga mulut lo!” geram Mentari, dia menatap tajam Amelia yang masih terlihat kesal dan marah akibat ulahnya.
“Lo—”
__ADS_1
“Tari!”