
Waktu berlalu begitu cepatnya, hari berganti terus menerus tanpa terasa. Mentari yang biasanya selalu bersinar cerah, sudah lama sekali tak menunjukkan sinarnya. Akhir-akhir ini, mendung selalu menghiasi langit setiap paginya. Sama halnya dengan Mentari yang juga merasakan demikian. Rasanya, sulit sekali untuk bisa kembali seperti dulu.
“Eh, seriusan itu berita?”
“Mana mungkin sih? Ya, masa iya. Pak Angga gitu?”
“Gak usah ngaco deh. Hoax kali itu berita.”
“Eh, tapi mungkin aja gak sih. Karena dia kan belum resmi jadi pemilik perusahaan. Ya, kasarnya dia tuh masih karyawan biasa. Cuma karena bokapnya yang punya perusahaan, makanya dia bisa nempatin posisi yang oke gitu aja dengan waktu yang singkat.”
“Ih, gila sih! Itu gede banget tahu duitnya. Bisa-bisanya, ya Pak Angga lakuin itu.”
“Bahkan yang gue dengar, dia juga terlibat sama obat-obatan. Gila gak tuh?”
“Langsung minus sih dia di mata gue. Padahal ganteng loh, idaman gue dari dulu. Eh, tapi kelakukan nya... Ya Allah!”
Mentari tak tahu apa yang tengah dibicarakan orang-orang, namun yang jelas nama Angga terus menerus disebutkan sejak tadi. Dia tak mau ambil pusing, toh sepertinya tak ada hubungannya dengan dia sama sekali. Namun, tetap saja dia penasaran. Ada apa?
“Tar, Tar,”
Mentari dibuat terkejut oleh kedatangan Ayumi dan Vanya yang tiba-tiba, apalagi raut wajah keduanya menunjukkan kecemasan yang begitu jelas tersirat.
“Ada apa?” Mentari mengerutkan keningnya dalam. “Kalian kok kayak panik gitu? Ada apa sih? Minum, minum.” Mentari menyodorkan minumannya. Saat ini dia tengah menikmati sarapan di area cafetaria kantor.
“Lo udah dengar berita terbaru di kantor kita?” Ayumi membulatkan matanya, bertanya. Sedangkan, Mentari menggeleng dengan heran.
“Berita apa?”
“Lo beneran belum dengar berita itu, Tar?” Vanya memastikan.
“Berita apa sih?”
Ayumi memejamkan matanya sejenak, kembali menatap Mentari. Dia mencebikkan bibirnya. Belum sempat Ayumi menjelaskan, suara dering ponsel milik Mentari mengalihkan atensi mereka. Mentari cepat-cepat mengangkat panggilan di ponselnya yang berasal dari Bella.
“Hallo, Bel? Apa?!”
__ADS_1
***
Dan, disinilah Mentari saat ini. Dihadapan Angga yang masih diam terpaku tanpa menatapnya, pria itu menunduk. Untuk beberapa saat tak ada yang membuka suara apalagi memulai obrolan, keheningan cukup lama tercipta di ruangan yang hanya ada mereka berdua. Ruangan yang benar-benar asing dan tak pernah mereka bayangkan jika mereka bisa ada dan duduk disini.
“Kamu percaya, Tar?”
Angga membuka suara, dia bertanya dengan lemah. Namun, belum berani menatap Mentari, dia tak siap dengan tatapan kecewa yang mungkin saja Mentari tunjukkan untuk sesuatu yang bahkan dia sendiri tak lakukan. Jangankan lakukan, berniat atau terpikirkan saja tidak.
Mentari tak menjawab, masih diam menatap Angga. Namun, Angga tak mengeluarkan suaranya lagi, pria itu kembali diam.
“Angga yang aku kenal, gak pernah nunduk. Dia gak akan nunduk atau malu untuk suatu kesalahan yang gak dia lakuin.”
Seketika Angga mengangkat kepalanya, menatap Mentari yang ternyata tengah menatapnya. Mata mereka bertemu, sama-sama mengalirkan sesuatu yang sampai ke hati.
Mentari menunjukkan senyumnya, “Aku percaya kamu, Ga. Gak mungkin kamu ngelakuin itu.” ucap Mentari yang membuat Angga terkesima.
“Kamu percaya?” Mentari mengangguk.
Hanya diam dengan tatapan sulit dipercaya yang bisa Angga tunjukkan untuk pengakuan yang diberikan Mentari. “Kenapa?” tanya Angga.
“Kenapa kamu bisa percaya kalau aku gak terlibat kasus penggelapan dana itu, sedangkan semua orang bahkan keluarga aku percaya, Tar. Papa sama bunda pun, bahkan Bella kayaknya percaya sama itu semua.”
Mentari terdiam, dia tak tahu harus menjelaskan apa saat justru keluarga Angga tak percaya. Namun, dia tetap pada keyakinannya jika Angga tak mungkin melakukan hal demikian.
“Aku yakin kok, keluarga kamu juga pasti gak percaya dengan kasus yang sekarang menjerat kamu.”
Angga menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Kalau mereka gak percaya, seharusnya mereka menahan aku saat aku dibawa paksa. Tapi, apa?” Angga menggeleng heran, dia kecewa jika mengingatnya kembali. “Enggak, mereka gak nahan sama sekali, mereka ngebiarin aku gitu aja.”
Mentari lagi-lagi diam, tak tahu harus merespon bagaimana.
Angga menghela napas kasar, dia menggapai cepat tangan Mentari dan menggenggamnya yang membuat Mentari terkejut dengan apa yang dia lakukan.
“Tar, kamu gak akan ninggalin aku kan di saat aku kayak gini?”
“Ga...”
__ADS_1
“Kamu akan selalu sama aku kan, iya kan? Gak mungkin lah kamu ninggalin aku. ”
Mentari menarik tangannya, “Ga, ini gak ada sangkut pautnya sama hubungan kita. Lagipula, sebelum kasus ini menjerat kamu pun, hubungan kita udah selesai.”
Angga tersenyum miris, dia menunjukkan kelemahannya. “Jadi, maksudnya kamu bakalan tetap pergi ninggalin aku? Gitu?”
“Ga, kamu apaan sih? Ngapain bahas ini? Kita—”
“Kenapa semuanya jadi ninggalin aku? Kenapa gak ada yang percaya kalau aku gak terlibat sama sekali dengan penggelapan dana itu. Bahkan aku gak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa jadi aku yang—”
“Angga, tenang!” sentak Mentari, dia mencoba menyakinkan Angga. “Kamu gak sendiri. Aku percaya kalau kamu gak mungkin ngelakuin itu.”
“Tapi, kamu bakal tetap ninggalin aku.”
“Ga, please... kita—”
Angga beranjak berdiri, menunjukkan raut wajah tanpa ekspresi. “Mending sekarang kamu pulang, Tar.”
Mentari mendesah pelan, “Ga... Ayolah. Jangan kayak gini.”
Angga tak peduli, dia membalikkan badannya melangkah pergi meninggalkan Mentari yang hanya mampu menghela napas kasar melihat kepergian Angga dengan kekecewaan.
***
“Tante gak bisa bantu apa-apa, Tar. Papa nya Angga gak kasih izin kita buat ikut campur masalah Angga sekarang.”
Mentari cukup terkejut mendengarnya, dia tak terpikir jika keluarga Angga akan lepas tangan begitu saja saat ada masalah menimpa putra mereka.
“Tan, ini your Angga loh. Angga, my Angga, Angga tante.” Mentari menggeleng heran, “Mana bisa om sama tante biarin Angga hadapi masalahnya sendiri? Terlepas tante percaya atau enggak sama kasus ini. Tapi, Angga harus tetap diperjuangin, tante. Angga harus tetap keluar dari penjara.”
“Tante bisa apa, Tari? Tante gak punya hak apapun disini. Kalau Papa kandungnya aja ngebiarin, tante yang cuma ibu sambungnya apa bisa berbuat lebih? Enggak, Tari.”
Mentari tersenyum, dia tertawa sumbang. “Aku gak nyangka, tante bakalan ngomong kayak gini. Aku pikir, tante akan berusaha buat bikin Angga bebas kalau aja om gak berbuat apapun. Tapi, ternyata tante malah diam aja, ngebiarin gitu aja. Jujur, tan aku kecewa dengan omongan tante kali ini.” Mentari beranjak berdiri, menyampirkan tasnya.
“Tari, maksud tante itu—”
__ADS_1
“Terserah kalau ternyata semua orang di sini atau bahkan di luaran sana banyak yang percaya kalau Angga melakukan kesalahan itu, yang jelas adalah aku tetap sama keyakinan aku kalau Angga gak salah. Dia gak akan terlibat dalam hal kayak gini. Aku percaya kalau Angga cuma dijebak. Dan, aku akan tetap perjuangin Angga. Aku akan buktikan sama tante, om, sama semuanya kalau Angga itu gak salah.”