Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Extra Part : Akhir Penantian


__ADS_3

“Masih benar-benar gak nyangka, kita bisa di tahap ini, Tar.”


Mentari tersenyum pada Angga lewat pantulan cermin di kamar mereka, dia sedang melepaskan semua perintilan di hijabnya setelah acara akad juga resepsi selesai dilakukan.


“Jangan kan kamu, aku aja masih gak percaya.” jawab Mentari, hijabnya sudah terlepas dan rambutnya kini sudah tergerai.


Angga tersenyum manis, dia melangkah mendekat pada Mentari dan langsung mendekap perempuan itu, menjatuhkan kepalanya diatas bahu yang tertutup gaun resepsi tersebut.


“Akhirnya... kita menikah juga. Kamu jadi istri aku.”


Mentari tersenyum senang, dia mengusap lembut tangan Angga yang melingkar di bagian atas tubuhnya. “Iya, alhamdulillah, ya. Alhamdulillah, kita bisa lewatin semuanya dan berakhir bahagia kayak sekarang. Alhamdulillah...”


Angga melepaskan dekapannya, memutar tubuh Mentari hingga kini perempuan itu menghadapnya. Dirinya bersimpuh di hadapan Mentari kini, menatap lekat perempuan itu yang juga menatapnya.


“Makasih, ya udah bertahan. Kamu hebat bisa bertahan setelah semua yang kita laluin.”


“Bukan cuma aku yang hebat, tapi kamu juga. Mungkin aku hebat dalam bertahan, tapi kamu jauh lebih hebat karena bisa menahan aku. Sampai akhirnya, kita berakhir di pelaminan. Mungkin kalau dulu, kita gak bertahan, gak akan mungkin tadi kamu ijab qobul sama ayah.”


Angga tersenyum, dia mengangguk mengiyakan.


“Tapi, kamu mau tahu satu fakta, gak?”


Mentari mengerutkan keningnya. “Apa?”


Angga tak langsung menjawab, justru mencondongkan tubuhnya pada Mentari yang membuat perempuan itu otomatis memundurkan kepalanya hingga punggungnya menyentuh meja rias nya.


“Ga?”


Jujur, jantung Mentari sedang berdegup tak karuan saat ini karena ulah Angga.


“Kamu cantik,”


Bisikan Angga yang tepat di telinga Mentari seketika menimbulkan gelenyar aneh ya dirasakan. Membuat dia seketika mendorong bahu Angga dan beranjak berdiri cepat dengan gelagat aneh yang tak bisa dia sembunyikan.


“Kamu udah ngomong itu ratusan kali, ya. Bahkan pas aku baru duduk di samping kamu aja, kamu udah ngomong gitu.” ucap Mentari, grogi tak bisa dia kendalikan.


Angga terkekeh, “Tapi, itu kenyatannya. Kamu emang cantik.”


“Tahulah aku, aku emang cantik dari lahir sampai-sampai buat kamu tergila-gila sama aku.”


“Mau kemana?”


Angga menahan lengan Mentari saat perempuan itu hendak melenggang pergi, dia bahkan sudah memeluk erat pinggang Mentari, menatap lekat bola mata perempuan itu yang bergerak gelisah.


“Ga... Ih, lepasin, ah! Aku mau ganti baju nih, gerah.”


Angga mengulum senyumnya, senang melihat Mentari yang salah tingkah. “Iya, nanti ganti baju aku bantuin.”


Mentari mencoba menahan senyumnya, dia memukul pelan pundak Angga. “Apa sih?” Mentari membulatkan matanya, “Aku bisa ganti sendiri kali.”


“Tapi, kan aku mau bantuin.”


“Gak usah!”

__ADS_1


Tangan Angga terulur, mengusap pelan pipi Mentari. “Merah banget ini. Malu, ya?” goda Angga, dia tersenyum menggoda kini.


“Eng—gak. Ngapain aku harus malu coba? Ini merah karena blush on aja kali.” elak Mentari, dia mencoba melepaskan tangan Angga di pinggangnya. “Udah, ah. Aku mau bersih-bersih.”


“Aku ikut!”


“Angga...”


***


Mentari langsung mencari keberadaan Angga diantara puluhan orang yang ada disini. Dicarinya kesana kemari pria itu karena dirinya cukup khawatir atas apa yang baru saja terjadi. Dia tahu, ucapan salah satu kerabat mereka tadi pasti cukup melukai perasaan Angga. Meskipun pertanyaan itu bukan lah kali pertamanya mereka terima setelah dua tahun pernikahan mereka berjalan.


“Angga dimana sih?”


Mencoba menghubungi Angga pun, namun tak kunjung mendapatkan jawaban juga hingga membuat Mentari frustasi dibuatnya. Hingga saat Mentari mendesah frustasi, dia mendongak dan melihat keberadaan Angga di balkon rumah. Dengan cepat, dia melangkahkan kakinya untuk menemui Angga di sana.


Mentari menapaki kakinya di setiap anak tangga, sampai didepan pintu dan langsung mendorongnya. Dia yakin, Angga pasti menyadari kehadirannya.


“Ga—”


“Aku mau sendiri dulu, Tar.”


Belum selesai Mentari berucap, namun Angga sudah dulu menyela. Dia tak peduli dengan ucapan pria itu, dia tetap melangkah mendekat pada Angga, berdiri disamping pria itu.


Mentari menghela napas kasar, dia memilih ikut diam dan menunggu Angga berbicara meskipun pada akhirnya menghabiskan waktu yang cukup lama.


“Tar,”


Angga membenamkan wajahnya di ceruk leher Mentari yang tertutup hijab, menghirup dalam aroma tubuh istrinya itu. Matanya terpejam, masih terngiang-ngiang akan ucapan orang-orang.


“Maafin aku, ya, Tar.”


Mentari menggeleng, dia mengeratkan pelukannya. “Gak ada yang perlu dimaafin, kamu gak harus minta maaf.”


“Tapi, gara-gara aku, gara-gara kekurangan aku sebagai lelaki, kamu juga jadi kena imbasnya. Demi menutupi kekurangan aku, kamu yang jadi sasaran mereka, kamu yang justru dituduh dengan tuduhan yang salah.”


Mentari menggeleng, dia tak apa, jujur.


“Kalau aja aku normal, mungkin sekarang kita udah—”


“Udah, Ga. Udah. Jangan terus-terusan salahin diri kamu sendiri. Gak ada seandainya, mungkin ini emang udah takdir yang dikasih sama Allah. Lagipula, kita juga udah berusaha kan? Yaudah, kita serahin aja semuanya sama Allah.” Mentari mengurai pelukannya perlahan, menatap sendu Angga yang masih terlihat sedih dan bersalah. “Stop salahin diri kamu sendiri, Ga. Stop!”


Angga tak lagi menjawab, justru kembali memeluk Mentari.


***


Mentari menatap benda pipih panjang di tangannya dengan cemas, tangannya yang gemetar menjadi saksi jika saat ini dirinya tengah dibuat gelisah, takut dan berharap lebih atas hasil yang nanti akan ditunjukkan benda tersebut.


“Tar, kamu lagi ngapain sih? Lama banget.”


Mentari menoleh ke pintu kamar mandi yang diketuk beberapa kali oleh Angga, “Bentar, Ga. Sebentar lagi kok.”


“Jangan lama-lama mandinya, ini udah malam, sayang.”

__ADS_1


“Iya...”


Mentari mencoba mengatur napasnya agar bisa bernapas dengan normal, matanya terpejam beberapa saat sebelum akhirnya dia coba buka perlahan untuk melihat hasil yang akan ditunjukkan benda tersebut.


Seketika dia menutup mulutnya, tak percaya. Air mata pun langsung terbendung di pelupuk matanya yang kini sudah mengalir begitu deras di pipinya. Suara isakan pun mulai terdengar. Dan, penyebabnya hanya satu, yaitu hasil dan benda yang merupakan alat tes kehamilan.


Dua garis. Positif.


Iya! Hasilnya menunjukkan demikian. Yang mana artinya Mentari tengah positif hamil saat ini.


Mentari terisak haru, “Alhamdulillah, ya, Allah... Alhamdulillah... ” ucap Mentari, dia tak berhenti bersyukur.


Terdengar kembali ketukan pintu yang lebih cepat juga keras. “Tar, hei... ada apa? Kamu baik-baik aja kan, sayang? Ini kenapa di kunci? Tar, bukan pintu nya sekarang!” ucap Angga dengan kecemasan yang tersirat jelas.


Mentari berjalan pelan, memutar kunci dan pintu langsung terdorong terbuka. Benar saja, kecemasan langsung melanda Angga saat pria itu menemukan istrinya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


“Sayang, kamu kenapa?”


Mentari tak menjawab, tangisannya semakin menjadi.


“Tar?” cemas Angga, dia mendekap wajah Mentari, menghapus berkali-kali air mata yang tak kunjung berhenti. “Ada apa?” tanya Angga lembut.


Mentari masih belum menjawab, dia justru segera memeluk Angga, menangis dalam dekapan suaminya yang masih kebingungan. Angga tak lagi bertanya, dia mengurangi pelukan itu perlahan, merangkul pundak Mentari dan membawa perempuan itu keluar dari kamar mandi.


Angga mendudukkan Mentari di ranjang perlahan, dia bersimpuh di hadapan perempuan itu. “Ada apa? Kamu kenapa nangis?” lagi, Angga butuh jawaban atas kebingungan nya ini.


Namun, Mentari kembali tak menjawab dan justru mengulurkan sebab yang membuatnya menangis. Dengan bingung, Angga menatap benda itu. Dia tahu benda itu apa dan dia juga tahu arti dari garis yang ditunjukkan benda tersebut.


Dengan gemetar, Angga mengambil benda tersebut, kembali memastikan karena takut apa yang dia lihat hanyalah haluannya semata. Tapi, ternyata tidak. Garis di benda itu nyata, terlihat jelas.


Bibir Angga bergetar menahan gejolak luar biasa, dia mendongak menatap Mentari dengan mata yang berkaca-kaca.


“Tar?”


Mentari terisak, dia mengangguk.


Dan, kini giliran Angga yang tak bisa menahan tangisannya. Sesuatu yang dia tunggu setelah sekian lama, akhirnya terwujud juga.


Angga terisak bahagia, benar-benar tak menyangka.


“Ga, aku hamil. Aku hamil, Ga. Aku hamil. Aku—”


Mentari tak kuasa melanjutkan ucapannya, dia kembali menangis apalagi saat Angga memeluknya begitu erat.


“Kita jadi orang tua, Tar. Kita jadi orang tua.”


Mentari mengangguk.


Angga melepaskan pelukannya, dia tersenyum lebar dengan air mata yang masih tersisa. “Penantian kita, penantian kita akhirnya terwujud. Kita jadi orang tua, Tar. Aku bakal jadi ayah, aku jadi ayah, Tar.” ucap Angga bahagia, dia kembali memeluk Mentari erat.


Belum pernah Mentari melihat Angga sebahagia ini. Ternyata memang benar, ini penantian yang paling Angga tunggu kan.


“Makasih, Tar. Makasih...”

__ADS_1


__ADS_2