Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 26 : Alasan Resign


__ADS_3

“Maksud kamu apaan?”


Mentari mengerutkan keningnya, menatap bingung Angga yang duduk dihadapannya dengan raut kekesalan yang tersirat jelas di wajah pria itu. “Maksudnya, Pak?” tanya Mentari.


Angga tak langsung menjawab, dia meletakkan surat resign milik Mentari dihadapan perempuan itu. Mentari yang tadinya bingung langsung mengerti kenapa Angga bersikap demikian padanya. Seharusnya dia sudah tahu dan tak perlu bingung ataupun terkejut karena Pak Surya sudah pasti akan memberikan surat resign nya itu pada Angga.


Mentari terdiam beberapa saat, menghela napas kasar dan kembali menatap Angga. “Saya mau mengajukan resign, Pak.”


“Kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu resign?” Angga mencondongkan tubuhnya. “Kamu gak lupa kan udah berapa lama kamu kerja disini dan ada kemungkinan untuk kamu bisa naik jabatan karena itu.”


Mentari mengangguk, dia mengerti. “Saya tahu dan ngerti, Pak. Tapi, keputusan saya sudah bulat. Saya mau resign.” Mentari sudah yakin dengan keputusannya.


“Kasih saya alasan kenapa saya harus meng-Acc surat kamu ini.”


“Saya merasa saya bekerja bukan di bidang saya dan saya ingin memperdalam lagi kemampuan yang saya miliki untuk nantinya saya kembangkan.”


“Apa perusahaan gak memberikan wadah untuk setiap individu nya berkembang?” Angga bertanya pada Mentari, sebelah alisnya terangkat. “Saya rasa perusahaan sudah memberikan wadah dan mediator untuk mengembangkan setiap minat dan bakat individunya. Jadi, saya rasa alasan yang kamu berikan itu cuma mengada-ngada.”


Mentari diam menunduk, “Saya minta maaf, Pak. Tapi, keputusan saya tetap sama.” Mentari mendongak, menatap Angga yang menatapnya lekat. “Saya mau resign.”


Suasana jadi berubah seketika. Sikap antara atasan dan bawahan berubah seketika. Mata Angga tak lepas menatap dalam mata Mentari.


“Apa karena hubungan kita yang udah selesai yang jadi alasan kamu mau resign.”


“Maaf, Pak. Tapi,—”


“Iya?”


Mentari tak mau mengelak lagi, dia mengangguk akhirnya. “Iya, salah satunya itu.” jawab Mentari, sikap Angga yang berubah membuat Mentari pun melakukan hal demikian.


Kening Angga mengerut dalam, matanya sudah memicing menatap Mentari. “Kamu bilang kita harus bersikap layaknya atasan dan karyawan biasa, kita harus profesional.” Angga tersenyum sinis, dia mengedikkan dagunya. “Tapi, lihat sekarang kamu? Cuma karena hubungan kita selesai, kamu mau resign gitu aja dari perusahaan.”


“Tapi, ini demi kebaikan kita, Angga.”

__ADS_1


“Kebaikan kita atau kebaikan kamu?”


Mentari menelan kasar ludahnya, dia menghela napas berat dan beranjak berdiri. “Terserah, Ga. Intinya adalah aku mau resign.” putus Mentari, dia berbalik berniat pergi dari ruangan Angga.


Angga bergegas cepat, mengunci pintu ruangannya untuk membuat Mentari tak pergi. Dia menatap kesal perempuan itu yang juga menatapnya demikian.


“Apaan sih kamu, Ga?”


“Kamu yang apaan! Urusan kita belum selesai dan kamu mau pergi gitu aja?”


“Urusan apa lagi?” Mentari menggeleng pelan, “Aku udah putuskan kalau aku mau resign. Apalagi yang belum selesai?”


“Masalah kita, Tari!” Angga menatap dalam Mentari yang juga menatapnya. “Urusan kamu dan aku, urusan kita belum selesai.”


“Dan akan selesai kalau kamu mau meng-Acc surat yang aku ajukan.”


“Selesai di kamu, enggak di aku, Mentari.” Angga menekan setiap kata yang diucapkan nya.


Mentari menghela napas kasar, dia memutar jengah bola matanya. “Terserah kamu.” ucap Mentari jengah. “Sekarang mending kamu buka kuncinya, aku mau keluar.”


“Gak akan selesai kalau kamu kayak gini terus!”


“Ya, aku harus gimana?” Angga kesal pada Mentari membuat nada suaranya naik beberapa oktaf, namun dia coba untuk menetralkan lagi perasaannya. “Aku harus gimana lagi, Tari? Kamu minta putus, minta aku cari kebahagiaan ku yang lain, semuanya yang kamu minta coba aku lakuin. Tapi, sekarang kamu tiba-tiba ngajuin surat resign dengan alasan hubungan kita udah selesai? Tar, childish gak sih?”


Memejamkan mata sejenak berharap mampu membuat semuanya baik-baik saja, namun tidak. “Aku lakuin ini untuk kebaikan kita, Angga. Kebaikan aku sama kamu.”


“Kebaikan apanya?” Angga gemas sendiri dengan setiap jawaban yang diberikan Mentari.


Mentari diam, tak lagi menjawab. Tak mungkin jika dirinya menjawab jujur.


“Kamu cemburu lihat aku sama perempuan lain?”


Tidak, seharusnya itu yang Mentari lontarkan untuk pertanyaan yang diajukan Angga. Namun, kebisuan masih menyelimuti nya.

__ADS_1


Angga mengerutkan keningnya, “Bukan nya itu yang kamu mau?” Iya, itu permintaan Mentari. “Tapi, kenapa sekarang jadi kamu yang gak suka? Jadi kamu yang marah?”


Angga tersenyum sinis, menatap diamnya Mentari. “Kamu tahu siapa yang jahat di hubungan kita?” Mentari akui, jika itu dirinya. Namun, dia tak menjawab apapun. “Kamu, Tar. Kamu yang jahat.” ucap Angga yang berhasil membuat Mentari berkaca-kaca, sebenarnya Angga tak berniat berucap demikian.


“Kamu yang minta hubungan kita selesai, kamu juga yang minta aku untuk bahagia bahkan cari kebahagiaan aku sendiri tanpa ada kamu yang ikut campur di kehidupan aku. Dan, saat aku udah coba lakuin itu. Kenapa jadi kamu yang marah?” Angga mengedikkan bahunya. “Kamu bersikap seakan-akan aku yang jahat disini, padahal kenyataannya kamu yang jahat.”


Air mata berhasil menetes, sedikit demi sedikit air mata itu mengalir di pipi Mentari.


Angga menghela napas kasar, dia mengangkat pelan dagu Mentari agar perempuan itu menatapnya dan dia bisa melihat air mata perempuan itu mengalir begitu deras. “Aku paling gak suka kalau kamu harus nangis, aku paling benci sama orang yang buat kamu nangis. Tapi, nyatanya disini aku yang jadi penyebabnya.” Angga menghapus air mata itu.


“Ga, aku cuma gak mau kamu ataupun aku tersakiti. Aku mau kita baik-baik aja, Ga.” lirih Mentari, dia menatap lekat Angga.


“Aku coba baik-baik aja,” Angga mencoba menyakinkan.


Mentari menggeleng, menyanggah ucapan Angga. “Enggak, Ga, enggak. Kamu gak baik-baik aja lihat aku sama laki-laki lain, begitupun aku, Ga. Aku gak ngerasa baik-baik aja.” Mentari mencoba jujur kini dengan perasaannya.


“Tapi, pergi menjauh bukan keputusan yang tepat, Tari.”


“Itu keputusan tepat! Dengan kita punya jarak, dengan kita gak pernah ketemu, itu baik buat kita. Perasaan itu bisa perlahan menghilang, Ga. Aku dan kamu, kita akan baik-baik aja nantinya.”


Angga tersenyum miris, “Mungkin gampang buat kamu hilangin perasaan itu, tapi enggak dengan aku, Tar.” Angga menelan kasar ludahnya sendiri. “Hati aku udah terikat sama kamu. Mau gimana pun caranya, kalau hati aku tetap di kamu, gak akan pernah berhasil.”


“Bisa, Ga, bisa.”


“Enggak.”


“Kamu sama mbak Amita—”


“Gak! Kami gak punya hubungan apapun. Hubungan kami sebatas atasan dan sekertaris biasa, gak ada hubungan lebih atau apapun yang mungkin terlintas dibenak kamu.”


Mentari tak berucap apapun, dia masih menangis. Angga dengan cepat menarik Mentari ke pelukannya, membiarkan perempuan itu menangis dalam dekapan nya.


“Ga, please...”

__ADS_1


“Sekarang aku yang mohon sama kamu, Tar. Jangan pergi dari aku.”


__ADS_2