Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.39 : Fakta yang Mengecewakan


__ADS_3

“Sejauh ini, belum ada bukti kuat yang bisa membuktikan jika Angga dijebak. Banyak fakta-fakta juga bukti yang justru semakin menguatkan tuduhan jika Angga memang terkait atau ikut dalam korupsi besar ini. Jadi, kemungkinan Angga untuk terlepas dari kasus ini, kecil. Kalaupun iya, Angga akan tetap terkena vonis.”


Mentari masih teringat jelas dengan kata-kata yang dilontarkan Pak Aryo mengenai kasus Angga ini. Dan, karena itu pula senyuman tak juga tercipta di bibirnya, meskipun dia harus tetap menunjukkan senyuman itu pada Angga yang perlahan mulai menerima kehadiran Mentari.


“Benar kan dugaan ku, ternyata kamu.”


Mentari mendongak, dia tersenyum simpul pada Angga yang datang masih dengan baju tahanan menghampirinya. Kini hanya ada mereka berdua, saling berhadapan dan melempar tatap.


“Gimana kabar kamu, Ga?” tanya Mentari, dia tak bisa berbohong, dia sedih kini.


Angga tersenyum, “Padahal kemarin kita baru aja ketemu, tapi kamu masih juga tanyain kabar aku.”


“Takutnya kamu gak baik hari ini.”


“Aku baik, seperti yang kamu lihat.”


Mentari bersyukur akan hal itu. Dia mendorong pelan lunch box yang dibawanya, “Aku bawain makan siang buat kamu, pasti belum makan, kan?” tebak Mentari yang sudah pasti tepat.


Angga tak henti-hentinya mengulas senyum, dia menatap lunch box tersebut dan pemberinya bergantian. “Makasih, ya.” ucap Angga yang diangguki Mentari. “Aku makan deh, lapar.”


Mentari hanya mampu menatap Angga yang begitu lahapnya menikmati makanan yang dia bawakan. Entah sudah makan siang yang keberapa yang dia bawakan untuk Angga semenjak pria itu masuk jeruji besi ini dan Mentari tak pernah absen melakukannya, mungkin sampai nanti saat vonis untuk Angga diberikan, dia akan tetap melakukan hal ini.


“Kamu kenapa, Tar?”


Mentari tersentak, tersenyum kikuk dan mengusap ujung alisnya yang terasa gatal. Dia menggeleng pelan, “Gak papa kok. Gimana, Ga? Enak?”

__ADS_1


Angga mengangguk, “Enaklah. Masakan kamu mana pernah ada yang gagal.” puji Angga, Mentari tersenyum saja.


“Besok mau dibawain apa lagi?”


Angga menggeleng, “Gak tahu.” ucap Angga, dia menerima botol berisikan jus yang dibawakan Mentari juga, meneguknya beberapa kali. “Oh, iya, kantor gimana keadaannya?”


Mentari menunduk, menatap jemari tangannya yang tak henti bertautan. “Biasa aja, gak banyak yang berubah.” ucap Mentari, dia mendongak menatap Angga.


“Meskipun aku udah gak ada di sana?”


Mentari mengangguk.


“Terus selama aku gak ada. Siapa yang gantiin posisi aku? Papa mungkin turun tangan, tapi pastinya gak handle semuanya sendiri. Jadi, siapa yang ambil tugas aku?”


Mentari tak menjawab, justru hanya diam saja dan semakin menunduk yang membuat Angga mengerutkan keningnya.


Mentari tak berani mendongak, dia sedang menyembunyikan air mata yang tak bisa dia tahan sejak tadi. Angga pun beranjak, mendekat pada Mentari dan mengangkat perlahan dagu perempuan itu. Betapa terkejutnya Angga saat melihat air mata perempuan itu yang perlahan mengalir.


“Kamu kenapa nangis?”


Mentari tak menjawab, dia justru memeluk Angga dan menumpahkan air matanya. Angga pun semakin terkejut, namun membiarkan perempuan itu menangis dalam pelukannya.


“Tar...”


“Aku yakin kamu gak salah, Ga. Tapi, kenapa gak ada bukti kuat yang bisa bikin kamu bebas dari tuduhan ini.” Mentari terisak, dia tak mau melihat Angga harus dihukum atas kesalahan yang tak pria itu lakukan. “Kenapa, Ga? Kenapa?”

__ADS_1


Angga langsung tersentak saat tahu alasan Mentari menangis adalah dirinya. Dia tak pernah menyangka jika Mentari akan demikian. Menelan ludah dengan kasar, Angga mengeluarkan suaranya. “Kamu kenapa percaya banget sama aku sih, Tar? Aku ini manusia, aku juga mungkin bisa salah.”


“Tapi, kamu gak mungkin lakuin itu, Ga. Aku yakin, aku percaya sama kamu. Dan, aku gak rela kalau kamu harus mendekam di penjara atas kesalahan yang gak kamu lakuin. Aku gak rela, aku gak ikhlas, Ga. Enggak, aku gak mau kamu dipenjara, Ga. Aku gak mau...”


Angga benar-benar dibuat tak berkata-kata, bahkan dia sampai termenung seketika. Haruskah dia mempertanyakan ketulusan dari ucapan Mentari, sedangkan dia sendiri bisa merasakan rasa tulus itu. Dan, seharusnya dia bersyukur bisa cinta dan dicintai oleh perempuan seperti Mentari. Entah, masih adakah cinta di hati perempuan itu untuknya. Yang jelas, seharusnya dia tak menyia-nyiakan Mentari. Seharusnya.


***


“Terbuktikan? Kalau Mentari aja masih tetap bersama kamu disaat kamu lagi terpuruk kayak gini. Dia gak ninggalin kamu, bahkan dia terus menerus membela kamu, gak ada keraguan yang dia tunjukkan untuk kamu. Padahal jelas-jelas kasus korupsi yang sekarang lagi menjerat kamu ini hanya kebohongan aja.”


Prang!


Seketika goodie bag berisikan kotak makan kosong yang dibawakan Mentari jatuh begitu saja, membuat dua orang yang tengah berbincang itu menatap terkejut pada Mentari yang sudah jelas menunjukkan kekecewaan.


“Tari,” gumam Angga, dia beranjak berdiri cepat, terkejut melihat keberadaan Mentari yang masih berada disini. Padahal jelas sekali, perempuan itu sudah pergi sejak tadi.


Rasanya, mata Mentari memanas kini, gelengan pelan dia lakukan atas fakta mengecewakan yang baru saja dia dengar, senyum pilu pun dia tunjukkan sebelum akhirnya dia memilih berbalik melangkah pergi.


Angga buru-buru mengejar Mentari, ingin menjelaskan kesalahpahaman yang baru saja tercipta. Sedangkan, Papanya Angga hanya mampu menghela napas gusar, diam membiarkan para anak muda menyelesaikan masalah yang dia ciptakan sebenarnya.


“Tar! Dengerin aku dulu!”


Mentari menulikan telinganya, dia langsung masuk ke mobilnya, tak menghiraukan Angga yang terus menerus memintanya untuk membuka pintu dan berbicara. Ada penjelasan yang harus Mentari dengarkan, namun saat ini rasanya bukanlah hal yang tepat. Karena saat ini, Mentari tengah merasakan kekecewaan atas fakta yang baru saja dia dengar.


Angga berbohong.

__ADS_1


Mentari menangis mengingat itu, bergegas melajukan mobilnya meninggalkan Angga yang masih terus mengejarnya, namun akhirnya tak terlihat saat berada di persimpangan jalan. Air mata kekecewaan menemani perjalanan Mentari kali ini.


Bagaimana bisa Angga tega berbohong? Membuat sandiwara yang begitu menyakitkan Mentari rasakan. Teganya pria itu melakukan hal demikian hanya untuk sebuah kepastian yang bahkan seharusnya Angga tak perlu ragukan.


__ADS_2