Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 22 : Cemburu


__ADS_3

Prok... Prok... Prok...


Tepuk tangan itu mengisi aula yang langsung hening seketika saat pertunjukan seni selesai dimainkan begitu saja. Senyuman lebar dan tatapan bangga tersirat jelas sekali ditunjukkan raut wajahnya. Dan, detik berikutnya, tepukan tangan meriah pun mengisi aula untuk pertunjukan tersebut.


Mentari mencoba menetralkan napasnya yang masih memburu hebat akibat aksi panggung yang baru saja dilakukannya. Dia dan tim nya segera berkumpul, bergandengan tangan, menunduk bersama sebagai ucapan terimakasih atas apresiasi yang diberikan penonton atas pertunjukan yang mereka bawakan hingga akhirnya tirai pembatas pun tertutup membuat mereka bergegas keluar dari panggung untuk bergantian dengan tim yang lain.


“Ya Allah... Benar-benar gak nyangka gue baru aja tampil didepan anak kampus yang banyaknya minta ampun.”


“Eh, gila, gue deg-degan banget takut salah dialog tadi.”


“Aku aja tadi lupa dialognya, untung aja kak Rangga bisa langsung improve. Jadinya masih nyambung sama jalan ceritanya.”


“Ah... Bangga banget kita bisa nampilin drama kayak tadi didepan banyak orang pula. Bangga... banget!”


Mentari tersenyum lebar, dia pun sama senangnya seperti teman-temannya yang lain.


“Tari!”


Mentari menoleh, semakin melebarkan senyumnya melihat siapa yang memanggil namanya. “Eh, gue kesana dulu, ya.” Mentari menunjuk Angga dengan gerakan kepalanya. Sudah jelas, senyuman menggoda langsung ditunjukkan teman-temannya.


“Iya, iya, udah sono temuin ayang beb nya. Sekalian bilangin makasih, ya udah kasih tepuk tangan buat kita, mana pertama lagi. Berarti banget tahu.”


Mentari mengangguk, “Iya, iya. Gue kesana dulu, ya.” Mentari langsung melenggang pergi, menghampiri Angga yang tersenyum lebar menatapnya.


“Bangga banget sama pacarku ini, hebat.” Angga menepuk-nepuk pelan puncak kepala Mentari dengan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang lain berada dibelakang tubuhnya, menyembunyikan bunga yang dia bawa untuk kekasihnya.


Mentari semakin tersenyum lebar, dia benar-benar senang, suasana hatinya tengah gembira. “Makasih, ya. Aku pikir tadi kamu gak datang, soalnya aku gak lihat kamu di jajaran depan.” Mentari awalnya sedih, namun dia terkekeh. “Eh, ternyata kamu ada. Malah, kasih tepuk tangan yang pertama lagi.”


“Pacar aku tampil teater perdana nya, masa iya aku gak datang. Jahat banget.”


“Enggak lah, kamu kan juga gak datang karena kerja. Jadi, gak masalah sebenarnya, aku ngerti kok.”


“Iya, iya, emang pacar aku tuh pengertian orangnya. Tapi, kamu itu prioritas aku. Jadi, aku pilih kamu daripada kerjaan aku. Toh, aku kerja juga di perusahaan Papa, bisalah bisik-bisik buat minta jam luang bentar.”


Mentari terkekeh, dia memukul pelan lengan Angga. “Dasar.”


Angga tertawa, dia langsung menunjukkan buket bunga yang dibawanya. “Anyelir merah buat kamu yang berhasil buat aku kagum di pertunjukan perdana nya.”

__ADS_1


Mentari menerima bunga tersenyum, berdecak kagum. “Cantik banget bunganya.” puji Mentari, dia mendongak menatap Angga dan kembali menatap kagum bunga tersebut.


“Iyalah, secantik orang yang terimanya.” Mentari tersipu malu. “Oh, iya. Ada satu lagi hadiah dari aku sebagai apresiasi aku untuk kamu.”


Mentari mengerutkan kening, “Apa?”


Angga tak langsung menjawab, dia merangkul pundak Mentari dan mengajak perempuan itu untuk beranjak pergi menuju ruangan khusus untuk tim teater perempuan itu. Mentari yang penasaran pun hanya mengikuti saja, bertanya pun percuma karena jawaban Angga sama, ‘Nanti juga kamu tahu’.


“Ga?” Mentari ternganga, menatap tak percaya Angga yang mengangguk-angguk.


“Kamu sama teman-teman mu kan pasti capek, lapar juga kan abis tampil tadi. Jadinya, ya, aku inisiatif sendiri bawain banyak makanan. Sebenarnya tadi cuma mau bawa buat kamu doang. Tapi, berhubung aku sangat baik hati...” Mentari mendengus, sedangkan Angga terkekeh. “... Jadinya, yaudah aku bawain buat teman-teman kamu juga. Gitu.”


Mentari berdecak, dia tak mungkin menolak karena akan percuma.


Ditatap nya lembut Angga, “Makasih, ya...”


“Peluk?”


Mentari menggeleng, “Aku keringetan banget ini, bau.”


“Mana ada.” Angga langsung memeluk Mentari, menggerak-gerakkan pelan tubuh mereka. “I love you, so much!”


Mentari mengerjapkan matanya saat tubuhnya terasa diguncang pelan, dia membuka pelan matanya dan langsung menemukan keberadaan Ayumi disampingnya yang menatapnya cemas.


“Tar, lo gakpapa? Ada yang sakit atau lo ngerasa apa gitu?”


Mentari menggeleng meskipun rasa pening masih dia rasakan. “Gue kok bisa ada disini?” tanya Mentari bingung, dia meringis pelan.


“Gue tadi dapat chat, katanya lo pingsan dan dibawa kesini. Buru-buru gue kesini, gue takut lo kenapa-napa.”


Mentari tersenyum simpul, mengusap pelan punggung tangan Ayumi yang menggenggam erat tangannya. “Gue gakpapa kok, gue baik-baik aja.” Mentari mencoba menenangkan Ayumi yang terlihat amat cemas. “Tapi, siapa yang bawa gue kesini?”


“Gue gak tahu. Pas gue sampai, gak ada siapapun.”


Mentari langsung terdiam, dia jadi penasaran siapa yang membawanya kesini. Apa orang yang ditabraknya tadi? Tapi, siapa? Mentari bertanya-tanya, namun hatinya justru mengharapkan satu nama. Angga.


***

__ADS_1


“Jangan mentang-mentang tender kemarin berhasil dan saya baru aja kasih tim kamu apresiasi, kerjaan yang lain jadi dibiarin gitu aja, terbengkalai dan gak selesai-selesai. Padahal jelas banget, deadline nya tinggal besok doang.”


Mentari yang menjadi penanggung jawab atas projek yang seharusnya dia dan timnya selesaikan hanya bisa diam menunduk, membiarkan Angga mengeluarkan kekesalannya. Lagipula, Mentari juga merasa ini kesalahannya, jadi tak ada pembelaan apapun yang bisa dia keluarkan atas kemarahan atasannya.


Angga berdecak melihat diamnya Mentari. “Saya lagi ngomong sama kamu, Mentari.” ucap Angga tegas yang membuat Mentari mendongak menatapnya kini, wajahnya terlihat serius sekali.


“Saya minta maaf, Pak. Tapi, saya pastikan besok semuanya udah beres. Jadi, bapak gak perlu khawatir.”


“Gimana bisa saya percaya sama ucapan kamu ini?”


Hening untuk beberapa saat, mata mereka saling menatap dalam. Ada arti mendalam dari tatapan keduanya.


“Bapak tahu saya, saya bukan orang yang akan lepas tanggungjawab begitu saja. Jadi, saya mohon pengertiannya dan kepercayaan bapak kalau besok semuanya akan selesai.”


Kembali, hening lagi yang tercipta.


“Kamu lembur kalau begitu!”


Tak bisa menolak, Mentari mengangguk. “Baik, Pak. Kalau gak ada yang mau dibicarakan lagi, saya izin pamit. Mau langsung menyelesaikan pekerjaan saya.”


Anggukan dari Angga membuat Mentari mengangguk pelan, dia segera berbalik berniat pergi dari ruangan Angga. Namun, langkahnya kembali terhenti saat pria itu memanggil namanya.


“Kamu sakit, ya? Muka mu pucat.”


Mendengar pertanyaan itu membuat Mentari kecewa, ternyata harapannya sirna. Bukan Angga yang menolongnya saat dirinya jatuh pingsan siang tadi.


“Saya gakpapa kok, Pak. Permisi.”


Mentari langsung melenggang pergi, meninggalkan Angga yang hanya bisa diam menatap kepergian perempuan itu. Langkah Mentari terhenti saat dia berpapasan dengan Amita yang hendak masuk ke ruangan Angga.


“Hai, Tari. Baru ketemu Angga, ya?” Amita menyapa hangat Mentari yang justru dibalas sebaliknya.


Hanya dengan anggukan dan senyuman yang terkesan paksa, Mentari membalas sapaan itu. “Permisi, ya.” balas Mentari, melenggang pergi dengan wajah datarnya meninggalkan Amita yang terlihat terkejut mendapat respon demikian.


“Dingin banget,” tukas Amita, dia mengedikkan bahunya acuh.


Sedangkan, Mentari merutuki dirinya yang bisa-bisanya bersikap demikian. Dia masuk ke lift, berdecak kesal. “Apaan sih, Mentari. Kayak anak kecil aja deh, gak ingat umur. Masa cuma karena dia dekat sama Angga, lo jadi bersikap kayak dingin. Childish banget sih!”

__ADS_1


Mentari tersenyum miris, “Cemburu, ternyata gue masih cemburu.”


__ADS_2