
Faro dan kia pun memasuki mobil, tak lama datang lah pelayang tadi memabawakan pesanan dari Faro tadi “makasih mbak” kata Faro “sama-sama pak, maaf ketenangan ada terganggu dengan dua wanita tadi” kata mbak itu “tidak masalah mbak, kalau begitu terima kasih” kata Faro sambil menjalan mobilnya dan Faro memutuskan membawa Kia ke suatu tempat. Tanpa Faro sadari ternyata Kia meneteskan air mata “sakit banget sampai ke tulang-tulang benar kata orang kalau kita di sakiti fisik masuk bisa untuk di sembuhkan kalau sakit hati gak ada obatnya” kata Kia dalam hati sambil menyapu air matanya agar Faro tak melihatnya. Kia baru sadar bahwa jalan yang di ambil oleh Faro bukanlah jalan untuk pulang ke rumah.
“kita mau kemana” tanya Kia “makan siang lah” kata Faro “tapi tempatnya di mana” tanya Kia “sudah kamu lihat saja nanti” kata Faro. Tak berapa lama mobil pun berhenti sebuah gazebo yang memperlihatkan pemandangan sawah dan gunung “indahnya” satu kata yang berhasil keluar dari mulut Kia “sekarang kamu turun dan duduk di gazebo itu, aku mau memarkirkan mobil dulu” kata Faro, Kia pun turun dari mobil dan duduk di gazebo itu “melihat pemandangan seperti ini membuat ku tenang, rileks dan melupakan masalah yang terjadi tadi” kata Kia sambil menggendong Raska yang sedang tidur.
__ADS_1
Faro pun keluar dari mobil tak lupa membawa karpet, bantal kecil dan juga makanan yang mereka pesan tadi “kamu minggir duu aku mau memasang karpet ini di situ” kata Faro, Kian pun berdiri sementara Faro sibuk merapikan karpet dan menata makanan dan minum “sekarang kamu bisa duduk, taruh Raska di sini dulu, agar kamu bisa leluasa untuk makan” kata Faro sambil menepuk bantar yang dia ambil di mobil tadi. Kia menaruh Raska di samping Faro dan kembali ke tempat duduknya “kenapa melihatnya saja, ayo di makan” kata Faro. Mereka pun makan tanpa ada suara “baru pertama kali aku makan di temani dengan seorang gadis dalam suasana seperti ini terlihat sangat romantis, eh… apaan sih kamu Faro sadar jangan mimpi di siang bolong”kata Faro dalam hati.
__ADS_1
__ADS_1
“Ya Allah, apakah aku bisa egois untuk masalah satu ini. Setiap melihatnya tersenyum aku merasa senang, melihatnya di rendahkan oleh orang lain membuatku sakit hati. Apakah ini yang di katakana jatuh cinta? Tapi tak mungkin bagi ku untuk bersamanya, usia ku dengannya terpaut begitu jauh dan bisa di bilang aku seperti paman apa bila sedang berjalan dengannya. Ah… lama-lama aku bisa gila karena masalah hati yang tidak ada unjungnya ini, mending aku tidur itu lebih bagus daripada memikirkan yang tidak-tidak” kata Faro sambil membaringkan dirinya di sisi kiri Raska.