KETOS DINGIN

KETOS DINGIN
Part 152


__ADS_3

Dewi yang terus mencoba menghubungi Marcell, tetap saja tidak membuahkan hasil.


"Marcell, kamu dimana sih." gumamnya yang masih didengar oleh Gibran


Namun entah kenapa dari langit yang cerah tiba-tiba saja mendadak mendung dan turun hujan dengan deras. Dan membuat seragam Dewi sedikit basah karena percikan dari air hujan itu.


Gibran yang masih setia menemani Dewi, sedangkan Dewi terus mencoba menghubungi kekasihnya walau tubuhnya sudah bergetar karena kedinginan.


Gibran yang melihat tubuh Dewi menggigil pun berinsiatif untuk memberikan jiketnya ke Dewi


"Nih pakai jiketku, supaya kamu gak menggigil." ucapnya sambil memakaikan jiket itu di tubuh Dewi.


"thanks." satu kalimat yang terucap di bibir mungil milik Dewi.


"Marcell, kamu dimana sih? kenapa kamu belum menjemputku." batin Dewi sambil menggosokkan tangannya agar memberikan sedikit sensasi hangat.


Berjam-jam Dewi menunggu di alta bus, berharap Marcell menepati janjinya untuk menjemput dirinya. Namun semua itu tidak sesuai dengan ucapannya.


Bukan maksud Dewi marah karena dia tidak menjemputnya, tapi yang bikin Dewi tidak habis pikir dan kecewa adalah saat dia menunggu dari jam pulang sekolah hingga sekarang. Marcell tidak menghubunginya ataupun memberi pesan, setidaknya Dewi tidak akan menunggu dirinya selama ini.


Tapi karena Dewi masih ingin menunggu, makanya dia rela menunggu walaupun dia harus merasakan dinginnya cuaca hujan pada saat itu.


"Dewi, ayo aku antar kamu pulang. Sepertinya dia tidak akan datang." ajak Gibran kepada Dewi


Namun lagi-lagi Dewi menolaknya dengan alasan Marcell pasti datang. Dia tidak akan mengingkari janjinya.


"Dewi lihat aku, jangan karena dia ingin menjemputmu kamu sampai rela menunggunya selama 5 jam apa lagi dengan menahan dingin." jelas Gibran kepada Dewi


"Gw gak pernah nyuruh lo buat nemenin gw di sini, jika lo mau pergi silahkan. Tapi gw akan tetap di sini." kekeh Dewi yang membuat Gibran menghembuskan nafasnya kasar


"segitu cintanya kah kamu kepada dia? sampai-sampai kamu rela menunggu dirinya walau kamu harus menahan dingin." batin Gibran yang melihat raut wajah Dewi yang sudah kedinginan.


***


Sedangkan di sisi lain ada seorang gadis remaja yang sedang khawatir akan keadaan kakaknya yang sedari tadi tak kunjung pulang ke rumah.


"Kak, kamu di mana sih? jangan buat aku khawatir." ucap gadis itu yang bernama Anita.


"aku udah telfon ke ponselnya Kak Dewi, tapi gak di jawab. Coba aku telfon Kak Marcell, siapa tahu Kak Dewi ada bersamanya." ujarnya yang langsung mengetik nama Marcell di layar ponselnya lalu menelfonnya


tut ... tut ..., "Kak Marcell kemana ya? kenapa telfonku enggak di jawab." yang mencoba menelfonya lagi


Pada saat dia ingin menelfon ketiga kalinya, tib-tiba saja Marcell menelfon balik.


Pov percakapan di ponsel :


"Hallo Kak, kakak Dewi apa ada bersama kakak?" tanya Anita yang to the point tanpa mengucap salam

__ADS_1


"Dewi belum pulang, Dik?" tanyanya balik


"aku tanya ke kakak, kakak malah tanya balik ke aku. Kalau aku tau gak mungkin aku nelfon Kak Marcell." kesal Anita yang malah Marcell tanya balik ke dirinya.


Tiba-tiba saja Marcell teringat, kalau dia ada janji akan ngejemput Dewi pulang dan mengajaknya pulang kerumah.


"Astaga! Kak Marcell lupa kalau kakak janji akan jemput kakak kamu." ucap Marcell


"Apa? lalu kakak sekarang masih di sekolah dong? " tanya Anita


"kakak matikan telfonnya dulu ya dik, kakak mau jemput kakak kamu." yang langsung mematikan telfonnya sepihak.


Call off


Marcell yang baru ingat jika dia janji akan jemput Dewi pun langsung buru-buru mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi begitu saja. Tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya dan juga mamanya.


"Dewi maafkan aku, aku beneran lupa jemput kamu. Jika bukan karena masalah tadi, aku pasti tidak akan seceroboh ini." gerutuknya sepanjang jalan sambil memukul-mukul setir mobilnya


***


Dewi yang sudah lelah menunggu sedari tadi pun memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Gibran yang terus menawarkan diri untuk mengantarnya pulang pun ditolak oleh Dewi.


"Gw bisa pulang sendiri." ucapnya yang menolak ajakan Gibran.


Dewi yang langsung berjalan kaki menerobos hujan deras itu, membuat Gibran semakin prihatin dan perduli.


"Dewi jangan menyiksa diri seperti ini, nanti kamu bakalan sakit." ucapnya yang mengejar Dewi dan memegang pergelangan tangan Dewi


Tiba-tiba saja terdengar suara klakson dari arah belakang mereka


tin ... tin ...


"Dewi tunggu." ucap Marcell dari dalam mobil


Dewi yang melihat Marcell pun, bukannya berhenti dia malah berlari. Yang membuat Marcell langsung turun dari mobil dan mengejarnya.


"Dewi tunggu." ucapnya lagi sambil memegang pergelangan tangan Dewi yang membuat si empunya berhenti


"ngapain kamu ke sini." ketus Dewi


"Maafin aku sayang, aku gak ada maksud buat kamu menunggu lama. Tadi itu ak ....," yang kepotong karena Dewi melepaskan genggamannya di tangan Dewi


"Gak perlu kamu jelasin apa-apa, aku tidak butuh penjelasanmu." ucap Dewi dingin yang membuat hati Marcell seperti tertusuk duri, karena selama ini dia tidak pernah melihat Dewi bersikap dingin terhadapnya.


"Aku mohon sama kamu, dengerin penjelasanku dulu." pinta Marcell yang lagi-lagi di tolak Dewi


Gibran yang menyaksikannya pun langsung menghampiri mereka berdua dan memegang kerah baju Marcell.

__ADS_1


"Lo jadi cowok harusnya jentel, bukan jadi pengecut." sahut Gibran


"Lo gak usah ikut campur urusan gw. Lo siapa? jangan jadi sok pahlawan di hadapan cewek gw." ketus Marcell dengan tatapan tak suka.


Wah-wah bakalan ada perang ketiga nih, antara kutub utara dengan balok es. Siapa ya akan menang? ~Author


Dewi yang mendengar perdebatan mereka berdua pun langsung memisahkan mereka.


"STOP!"


"Lo berdua apa-apaan sih! udah kayak bocil tau gak." ucap Dewi


"lo Gibran, gw sudah bilangkan ke lo. Untuk pulang dan jangan ikutin gw, lalu kenapa lo masih di sini." tambahnya lagi


"Tapi gw kasian sama lo Dewi." jawab Gibran


"gw gak butuh belah kasian dari siapapun, dan makasih atas jiket lo." ujar Dewi yang membuat Gibran pergi begitu saja.


"Sayang maafin aku ya." ucap Marcell


namun tak dihiraukan Dewi, saat Dewi ingin melangkah tiba-tiba saja dia merasa pusing dan melihat di sekitarnya berputar.


"Dewi kamu kenapa?" ucap Marcell kepada Dewi


Namun belum sempat menjawab, Dewi langsung jatuh pingsan dengan tubuh yang sudah lemas. Marcell pun langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.


"sayang bertahanlah." ucap Marcell yang melihat wajah pucat dari kekasihnya itu.


Bukannya di bawa ke puskesmas, dia malah membawanya pulang ke rumah.


Setelah sampai di rumah, Marcell langsung menggendong Dewi dan membawa Dewi ke dalam.


"Kak, ada apa dengan Kak Dewi?" tanya Cantika yang melihat kakaknya menggendong Dewi dengan baju mereka berdua basah kuyub


"panggil mama dik." printah Marcell


"oke kak." jawab Cantika yang langsung menelfon mamanya yang kebetulan mama Marcell adalah seorang dokter.


.


.


.


BERSAMBUNG.


Oh iya jangan lupa buat mampir ke karya baru aku ya kak, judulnya "SUARA HATI KARLIN" ceritanya gak kalah menarik dengan ini.

__ADS_1



masih anget-angetnya nih kak😊


__ADS_2