
"Tenyata lo lagi! Gue heran deh, kenapa sih gue harus bertemu sama anak setan kayak lo." Pekiknya sambil berkacak pinggang dengan raut wajah yang kesal.
Bukan kesal dengan orangnya, tapi ia kesal kenapa takdir harus terus mempertemukan dia dengan anak setan satu ini.
Gibran yang emang tipe cowok yang malas ngeladenin cewek kayak Dewi, langsung berlalu begitu saja. Meninggal Dewi sendiri dengan mulut yang terus ngomel.
"dasar gila. Pingin sekali gue bejek tu cowok." Keselnya sambil ngehentak-hentakin kakinya di lantai.
***
"kenapa muka lo, kusut amat."
"lagi malas gue, Tia" ucapnya sambil memangku tangan
"malas kenapa lagi lo? malas sama Marcell?" tanya Novi
"enggak! tapi gue kesal sama si ketos gila itu, Si Gibran."
"oalah, gue kira lo ada masalah sama Marcell. Eh tau-taunya sama si kutu kampret." celetuk Tia sambil memainkan bollpoint
"sudah tu muka jangan di tekuk gitu," ujar Novi sambil mengelus pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah itu, pelajaran pun dimulai karena guru yang ngajar mapel sejarah sudah datang.
Mereka pun mengikuti pelajaran dengan serius, karena mereka ingin mempersiapkan diri untuk minggu depan UN. Tak ada satu pun pembicaraan di dalam kelas itu, hanya ada suara guru yang sedang menjelaskan materi.
"Apa kalian sudah mengerti? kalau ada yang belum kalian mengerti, bisa tanyakan ke ibu. Sebelum nanti ibu lanjut ke materi yang lain," ucapnya sambil menatap semua muridnya dengan buku materi yang ada di tangan kirinya.
"tidak ada bu." Jawab mereka serempak
"baiklah kalau memang tidak ada, ibu lanjut ke materi selanjutnya."
"kalian buka halaman 136 dan ibu kasih kalian waktu 30 menit untuk baca semua materi itu. Nanti ibu tanya kalian satu-satu," jelasnya lagi yang langsung di ikuti oleh murid-muridnya.
"entah mereka kerasukan apa hari inu? tumben saja mereka semua mau mengikuti pelajaran tanpa ada yang mencari ulah." katanya dalam batin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
tet ... tet ... tet ....
Suara bel istirahat berbunyi.
"baiklah anak-anak, karena sudah jam istirahat. Ibu tidak jadi bertanya, kita lanjut besok dijam yang sama." Sambil mengakhiri pembelajaran hari ini, lalu ia pun keluar kelas. Begitu juga dengan siswa/siswi yang keluar kelas secara berhamburan.
***
__ADS_1
KANTIN
Keempat gadis cantik yang tengah duduk berhadapan itu, sedang menunggu pesanan mereka yang sudah sempat mereka pesan tadi.
"ah lapar banget perut gue," pekik Tia sambil menyender punggungnya di kursi yang ia duduki
"lo mah, dikit-dikit lapar gak pernah sehari lo enggak bilang laper." Ketus Novi dengan ekspreasi datarnya. Tia hanya menyengir kuda menanggapi ucapan sahabatnya itu
"permisi neng-neng geulis, ini pesanannya sudah datang." Ucap tukang bakso itu yang sering di panggil Mang Joko
"makasih, Mang" jawab keempat gadis itu
"siap atuh,"
Kini mereka berempat menyantap makanan mereka sambil sesekali bermain handphone atau pun sekedar mengobrol.
Namun tiba-tiba aktifitas makanan mereka terhenti, karena sorakan dari penghuni kantin terutama para hawa di sana.
"GIBRAN!" teriak salah satu siswi disana
"AH CALON IMAM GUE CAKEP AMAT!
__ADS_1
"GIBRAN AKU PADAMU!" dan masih banyak lagi
Dewi hanya bersikap biasa-biasa saja, dan ia pun tak menoleh ke arah laki-laki itu sama sekali. Karena baginya Marcell tetap nomor 1 damagenya.