
"Waktu sudah selesai, kumpulkan lembaran soal dan jawaban kalian ke depan. Secara berurutan," ucap petugas yang mengawasi kelas mereka
"ah sial, tinggal lagi 1 nomor"
"nih buruan salin punya gue," sahut Dewi yang menyempatkan diri buat memberikan Tia jawaban. Tia yang tidak mau membuang kesempatan pun, langsung menyalin jawaban itu.
***
"Lo pulang sama siapa, Wi?" tanya Novi saat mereka tiba di depan gerbang sekolah
"supir gue,"
"tumben lo enggak minta Marcell buat jemput lo." Sahut Tia
"dia lagi ada urusan di sekolah itu, makanya dia gak bisa jemput gue." Jawabnya
"oh gitu, tapi awas lo nanti dia disana malah selingkuh." Celetuk Rina yang langsung dapat pletotan dari Tia
"gue salah ngomong ya? Kan gue cuman takut aja gitu, soalnya mereka berduakan lagi LDR," jelasnya lagi
"lo enggak salah kok. Walaupun seandainya itu benaran juga, gue enggal masalah. Toh gue udah tau betul sifat dia, mana mau dia di deketin cewek lain." Ujar Dewi panjang kali lebar
__ADS_1
"yang lo bilang benar juga sih, gue jadi inget saat lo pertama kali ketemu sama dia. Sekarang ujung-ujungnya lo bisa lumpuhi hatinya yang beku itu," sanggah Tia menimpali
"sana pulang duluan, lo udah ditunggui ayang bebeb Yoga tuh." Yang membuat mereka menoleh ke arah yang ditunjukan Dewi
Ternyata tidak hanya Yoga saja, ternyata di sana juga ada Karan dan Rio. Tapi tidak dengan Marcell, entahlah apa dia benaran ada urusan atau tidak. Yang penting dia tidak ingin overthingking kepada Marcell.
Lantas mereka pun menghampiri ketiga cowok tampan itu yang tengah duduk di atas motor besarnya itu.
"Ah! Jadi iri gue lihat lo semua," ucap Dewi pura-pura sedih. Namun tiba-tiba ada sebuah tangan kekar menutupi kedua matanya.
"siapa sih!"
Dewi pun meraba-raba tangan itu. Sedikit kekar dan berurat, tapi dia tidak bisa menebak siapa pemilik tangan itu. Cukup lama sih, tapi sebuah parfum yang tidak familiar di hidungnya membuat ia tau. Pemilik parfum itu adalah,
"Marcell." Tebaknya yang langsung melepaskan kedua tangan itu dan menoleh ke belakang.
Wajah tampan dengan bulu mata yang lentik, di sertai dengan alis yang tebal di tambah dengan bibirnya yang seksi. Yang sudah lama ia rindukan.
"kangen," satu kata yang terlontar di bibirnya saat ia memeluk laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"I see," balasnya sambil mencium kepalanya.
__ADS_1
"Ekhm! Masih ada kita loh ini," ejek Novi yang membuat kedua sejoli itu akhirnya melepaskan pelukkannya.
Lalu mereka berdelapan pun pergi ke sebuah cafe, untuk sekedar nongki ataupun hanya sekedar menghilangkan stres yang melanda di pikiran mereka.
"Gue kangen masa-masa saat kita kumpul dulu," ucap Yoga mendahului pembicaraan.
"lo benar, Yo. Gue juga kangen masa-masa kita kumpul di kantin, sambil sesekali cerita yang kadang suka random." Sahut Karan sambil mengingat saat mereka kumpul di kantin.
"lah kok pada bahas itu sih. Yang harus kita bahas sekarang itu, adalah apa rencana kita nanti setelah kita lulus SMA. Apa kita akan ngelanjut ke Universitas atau kerja," sela Dewi
"Oh iya ya. Kita seharusnya ngebahas masa depan, bukan malah ngebahas masa lalu." Jawab Yoga
"Eleh. Lo juga tadi yang ngebahas itu duluan deh," pungkas Rio yang dibalas cengiran
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1