KETOS DINGIN

KETOS DINGIN
Part 155


__ADS_3

Semua yang berada di ruangan ini hanya menganggukan kepala tanpa berani menjawab sedikit pun ucapan yang di katakan Marcell tadi.


"Dia lebih dingin daripada Gibran." batin Sekar yang baru sifat Marcell yang sesungguhnya.


"Baiklah, kali ini saya memaafkan kesalahan kalian. Saya harap kalian tidak mengulanginnya untuk kedua kalinya." ucap Marcell pelan namun masih terasa dingin.


"Untuk kegiatan yang sudah kalian putuskan, kalian tanggung jawab sendiri. Berani berbuat berani bertanggung jawab, karena saya pada saat selesai UN nanti. Saya sudah harus balik ke selolah yang sebenarnya." Ujarnya


"terutama kamu Sekar! Kamu harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah kamu ambil sendiri tanpa bertanya kepada saya terlebih dahulu."


"tap ... tapi, aku kan tidak tahu jika kamu akan balik ke sekolahmu. Makanya aku memutuskan untuk membuat kegiatan ini." tungkas Sekar


"Itulah kesalahanmu, kamu punya mulut kenapa tidak mengkonvermasi atau bertanya kepada saya terlebih dahulu! Saya tidak suka dengan orang sudah salah tapi masih saja membela dirinya." ketus Marcell


Karena itulah Marcell sampai lupa bahwa dia sudah memiliki janji dengan Dewi. Dan tidak hanya itu saja, setelah dia selesai mengatasi itu. Marcell dan Karan sibuk berdiskusi untuk masa depan sekolah Nusa Bangsa, walau dirinya tahu jika dia hanya sementara di sana. Tapi dia ingin memberikan kesan baik untuk sekolah itu.


Flashback Off


"Jika bukan Anita yang menelfonku, saat aku sampai di rumah! Aku tidak akan ingat jika aku ada janji dengan Dewi. Pada saat aku melihat handphoneku begitu banyak pesan yang di kirim Dewi dan beberapa panggilan tak terjawab juga." jelasnya dengan raut wajah yang sedikit menyesal, karena dia sudah mengikari janjinya kepada Dewi.


"uh ... mama percaya kepadamu, tapi kamu harus ceritakan alasanmu kepada Dewi. Karena dia pasti kecewa sama kamu, karena kamu tidak menepati janjimu."


"dan bahkan dia sampai rela menunggumu, karena dia yakin kamu pasti datang. Namun hasilnya nihil." tambah mama nya lagi

__ADS_1


"ingin rasanya mama menceritakan semuanya kepadamu, sayang! Namun mama sudah janji dengan mama nya Dewi kalau mama tidak akan menceritakannya." batinnya yang ingin rasanya mengatakan yang sebenarnya kepada putranya itu.


***


Pov Dewi


Lenguhan keluar dari mulut Dewi, sambil memegang kepalanya yang terasa berat dan pusing. Lalu dia pun membuka mata dan melihat sekelilingnya, sepertinya ruangan ini asing baginya.


"aku ada dimana." ucap Dewi pelan


Cantika yang berada di sofa kamar itu pun langasung menghampiri Dewi.


"akhirnya kakak sadar juga. Apa kakak merasa pusing?" tanya Cantika


"kakak ada di rumah aku, lebih tepatnya kakak ada di kamar kak Marcell." jelas Cantika


Dewi yang tidak mau bertanya lebih panjang, karena kepalanya masih terasa sangat pusing.


Klek ...., suara pintu kebuka dan benar saja yang membukanya adalah Marcell dan juga mama nya.


"kamu sudah sadar sayang." ujar Mama Marcell sebari menghampiri calon mantunya itu.


sedangkan Marcell hanya terdiam tanpa membuka sepatah kata pun, karena dia masih merasa bersalah terhadapnya.

__ADS_1


"hmm, Dewi ada yang mau di jelaskan oleh Marcell. Kamu maukan mendengarkan penjelasannya?" ucap mama Marcell yang mewakili Marcell, karena dia melihat anaknya itu hanya terdiam tampa berkata sedikit pun.


"iya tante." jawab Dewi pelan, karena kondisinya masih sedikit pusing. Jadi dia hanya menjawab sebisanya saja


"ya sudah kalau begitu, tante sama Cantika mau ke kanti dulu." tutur nya lagi sambil mengajak putrinya.


Setelah mereka keluar ruangan. Yang tersisa hanya Dewi dan Marcell, serta sedikit susana sunyi. Karena di antara mereka tidak ada yang membuka suara.


Sehingga mau enggak mau, Dewi lah yang membuka suara.


"apa yang ingin engkau jelaskan!" tanya Dewi dengan nada yang ketus


Marcell yang merasa terluka dengan ucapan Dewi yang memanggilnya dengan sebutan 'Engkau'. Namun dia mencoba untuk tenang. Setelah itu dia pun mendekat ke arah ranjang tempat Dewi sekarang terduduk dengan bersender di bantal.


"Dewi, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengikari janjiku kepadamu." ucap Marcell sambil memegang kedua tangan Dewi dengan lembut. Dewi yang membiarkan tangannya di pegang oleh Marcell hanya terdiam dengan tatapan datar mengarah ke Marcell, dan dia juga mencoba mendengarkan penjelasan Marcell.


Lalu dia pun menjelasakan dari awal sampai akhir, seperti dia menjelaskan ke mama nya tadi.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2