
Keadaan kamar ini sunyi, padahal biasanya sang penghuni sangat tidak suka jika terlalu sepi. Ia akan memutar musik keras hingga terdengar ke seluruh ruang apartemennya.
Ya, dia Joana Imelda Andara. Gadis cantik yang masih berstatus pelajar itu sangatlah cantik. Sikapnya yang easy going membuat semua orang nyaman berteman dengannya.
Tapi hari ini dia tidak masuk sekolah, badannya lemas tak bertenaga, bahkan untuk ke kamar mandi saja ia tak mampu. Dahinya berkerut menahan badan yang terasa nyeri. keringat membasahi tubuhnya. Tanpa suara ia meringis sakit.
🎵you were the one , who told me maybe. maybe our hearts they've had enough.
I was a fool who needed saying. Where is the love. where is the love.🎵
Dering telpon lagu where is the love terus berbunyi, menandakan adanya telepon masuk. Jangankan mengambil ponsel di meja, untuk membuka mata saja ia tak sanggup. Ini demam terparah sepanjang hidupnya.
Lagi, dering telepon terus berbunyi hingga lima kali. Sang pemilik berharap ada yang datang ke apartemen nya, meski kemungkinan itu kecil karna ini masih pagi, pukul 08:30 a.m
Jelas semua orang sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Sebenarnya ia sudah merasa tidak enak dari kemarin, tapi ia tak biasa untuk memeriksakan tubuhnya ke rumah sakit. Jadilah ia yang tak kuat bangun pagi ini.
Badannya sedikit bergetar karena menggigil.
Ia harus bertahan setidaknya hingga ada yang datang atau saat ia sudah sanggup menghubungi seseorang. Jangan tanya dimana keluarganya! Andara memilih hidup mandiri karena tak ingin tinggal bersama orangtuanya yang sering bertengkar.
Sudah 2 tahun lebih ia tinggal di apartemen ini. Semenjak memasuki sekolah menengah atas, Andara tidak ingin lagi berada di antara perselisihan orang tuanya. Ia ingin menikmati masa remajanya seperti anak lainnya. Tanpa kata-kata kasar, ataupun umpatan setiap harinya. Ia ingin mengenal banyak rasa, selain kebencian yang di tanamkan orang tuanya tanpa sengaja.
Miris, keadaannya sudah semakin memburuk. ia harus bertahan, tangannya mencoba meraih ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya. Kesunyian dalam ruangan itu membuat rintihan kecil dari bibirnya terdengar menyedihkan.
Berhasil, ia langsung mencoba mendial nomor kekasihnya yang ternyata sedari tadi sudah menelponnya. Ada dua nama tertera di sana Ananta dan Saka. Ia mengklik nama Saka setelah Ananta tak menjawab panggilannya. Terjawab, terdengar suara berisik di sebrang sana, mungkin saja masih di sekolah.
"Halo Ra." suara Saka terdengar keras, tapi sungguh sulit bagi Andara untuk mengeluarkan suaranya.
"Ra, Lo masih di sanakan? ada apa Ra."
"Kesini sekarang," ucapnya seperti berbisik namun jelas.
"Apa Ra? kemana?," bingung Saka, tapi sebelum mendapat penjelasan Andara tak Kuat lagi memegang hpnya.
__ADS_1
Di sana Saka langsung mencari Andara di kelasnya, karna sedang istirahat hanya ada beberapa siswa di kelas itu.
Kata temannya Andara tidak masuk hari ini.
barulah Saka mengerti satu-satunya tempat yang mungkin adalah apartemen nya.
Tapi bel berbunyi, sebelum ia bisa mencapai mobilnya. Untung saja ia langsung terfikir nama Ananta. Ia langsung menelpon laki-laki itu.
"Napa?" jawab pendek Ananta.
"Nan coba deh Lo liat keadaan Andara, gak masuk sekolah dia hari ini."
"Dia bolos?" tuduh Ananta kesal, karena Andara memang sering belos. karenanya tidak ada yang heran ketika Andara tidak masuk sekolah.
"Gak tau, tapi dia tadi telpon nyuruh gue ke sana. Mungkin dia di apart, coba deh Lo tengok dia takut ada apa-apa gue." Saka memang khawatir pasalnya Andara hanya tinggal sendiri.
"Oke." Telepon langsung di matikan oleh Ananta
"Cowok sama cewek kok sama, main matiin telpon gitu aja huh" Saka mengoceh sambil berlalu kembali ke kelasnya.
......
Bunyi pintu apartemen yang di buka. Ya karena sering bertandang ke sini, Ananta sudah hafal sandi pintu apartemen Andara.
Ia menyusuri ruang menuju kamar gadis itu.
ceklek
Di lihatnya Andara yang meringkuk di sisi tempat tidurnya. Perasaaannya langsung tidak enak. Di sentuhnya dahi Andara yang memang masih panas, menyingkirkan rambut yang melekat di dahinya karena keringat.
Sakit, hatinya sangat sakit pasti gadis ini sudah menahan sakit cukup lama.
"Sayang, hei," panggil Ananta, sambil menggenggam tangannya lembut.
Karena tak ada jawaban dari Andara, Nanta langsung menggendong Andara keluar apartemen menuju rumah sakit. Untung mobilnya terparkir tak jauh dari lift untuk keluar menuju parkiran.
__ADS_1
Di dudukkan nya perlahan, memasang safety belt. Di tutupnya pintu memutari mobil langsung masuk ke sisi pengemudi.
Ia langsung menancap gas menyusuri jalan yang memang sedikit macet di beberapa tempat.
"Sayang kuat ya, kita bentar lagi sampai," ujarnya, sambil mengusap puncak kepala Andara.
Setelah sekitar 15 menit mereka sampai di rumah sakit terdekat. Dengan sigap Ananta membawa Andara masuk.
.......
Setelah selesai di periksa dokter keluar dari ruangan VVIP tempat Andara di rawat.
"Hei, cepatlah sembuh cantikku, aku merindukan suaramu." di kecupnya dahi Andara sayang. ini pertama kalinya bagi Andara di rawat di rumah sakit. Biasanya ia hanya perlu minum obat saja sudah cukup.
Nanta duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. tadi dia meninggalkan kelas begitu saja padahal dosen sedang menerangkan materi. Jelas, ia akan terkena masalah, tapi Andara lebih penting dari itu.
.....
Joana Imelda Andara
-usia 17 tahun
-agama katolik
-kelas 2 SMA
Ananta ardito
-usia 22 tahun
-agama islam
-kuliah jurusan teknik
__ADS_1