Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
Kejutan


__ADS_3

"Kak Rion!" panggil Andara cukup keras, hingga beberapa orang menoleh ke arahnya. sedangkan yang di panggil bahkan tidak mendengar.


"Aih, kak Rion gak denger," katanya pelan dengan kesal.


Andara mencari Rion menuju ruang lab. Di lihatnya ada beberapa suster yang berlalu lalang. Saat akan menyusul Rion masuk, ia sudah di cegah lebih dulu oleh suster.


"Maaf dek, tidak boleh masuk selain petugas khusus! Adek ada urusan apa ya?" tanya suster itu ramah.


"Ah maaf kak, Dara nyari kak Rion?"


"Em kamu, yang di ruang VVIP nomer 2 kan?"


suster itu mengenali Dara, pasien yang punya pacar ganteng plus perhatian. Mereka sering lihat Nanta bolak balik ke rumah sakit menunggu kekasihnya itu.


"Ah iya kak, emm bisa nggak Dara ketemu kak Rion?"


"Wah Rion menang banyak nih," suster itu berbicara sangat pelan hingga Dara hanya mendengar seperti gumaman saja.


"Apa kak?" tanya Dara memastikan.


"Ah nggak, adek tunggu sini aja ya! Bentar lagi dia keluar kok," ujar suster itu yang langsung masuk ke ruang lab.


Dara tak tau harus Apa, jadi dia mendengarkan kata suster itu. Ia berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menunduk. Bersenandung Pelan menyanyikan lagu yang akan ia bawakan nanti.


Setelah 10 menit menunggu, kakinya mulai pegal. Ia mengeluarkan ponsel nya.


To Hero Nanta 💕


sayang, aku deg degan.


Sayang, lukisan ku tadi pagi udah kering belom ya?"


Baru beberapa menit 2 pesannya terbalas


From Hero Nanta 💕


Kamu kan udah latihan sama aku tadi. bagus kok, trust me😉.


Mungkin belom, tapi ntar juga kering. lagian kamu kan nyelesai'in sebagian tadi pagi. baru 1 jam.


Udah dulu ya sayang, kelasku udah mulai. miss u princess.❤


Dara sedikit tenang membaca pesan Nanta, ia bahkan tersenyum membaca kalimat terakhir,


hingga ada yang mengagetkan nya.


"Cie senyum-senyum. pasti dari pacar, aih belom juga berjuang udah kalah start." Dengan mimik muka di buat dramatis, hingga mendapat pukulan bertubi-tubi di badannya, dari gadis cantik di sampingnya itu.


"Auw, sa~kit."


"Gak usah lebay, badan gede gitu masak sakit Dara pukul."


"Ye memang, mentang-mentang badan gede gak sakit apa?" elak nya, dan terus menggoda Dara dengan menggelitik badannya.


Beberapa rekan Rion yang melihatnya pun tersenyum penuh arti ke arahnya. Semua rekannya tau jika Rion orang yang hamble, tapi ini pertama kali bagi mereka melihat Rion sedekat itu dengan perempuan.


"Udah kak, geli." Sambil masih tertawa Dara masih berusaha menghindar dari tangan jail Rion.


"Iya...iya, kamu kenapa nyari aku Hem?"


Tangannya merangkul pundak Dara sambil melangkah menuju ruang rawat Dara.

__ADS_1


"Dara punya misi kak, tapi Dara butuh bantuan Kaka pagi ini." Dahi Rion berkerut mendengar penjelasan Dara.


"Misi? gaya kamu, em kamu gak lagi mau ngeprank orang kan, kakak gak suka kayak gituan. kamu cari orang lain aja," ujar Rion yang langsung ingin berbalik pergi.


"Ih kak Rion becanda Mulu deh," kesal Dara sambil memegang baju bagian belakang Rion dengan muka yang sudah kesal.


"Haha iya-iya, apa? misi apa sih?"


"Ayo masuk ruang rawat Dara. ini penting kak." ujar Dara sambil menarik tangan Rion, sedang Rion hanya menurut saja.


"Ini apa?" ujar Rion saat melihat benda kotak besar tipis terbungkus kain, ini foto?"


"Eh Jan di buka kak! ini kejutan untuk Alin dan kakak harus bantu Dara."


"Okey."


"Itu lukisan Dara kak, untuk hadiah ulang tahun Alin," ujar Dara sambil mengambil Gitar milik Saka.


Rion terkejut, ia tidak menyangka Dara bisa melukis.


"Udah gak usah terkejut gitu, kakak belom liat hasil lukusan Dara aja udah kaget gitu," canda Dara dengan tawa mengejek.


"Kamu bisa ngelukis beberan? terus untuk apa kamu megangin Gitar?" Rion menatap Dara yang megang Gitar sambil berjalan menuju jendela, menengok keadaan di luar. Mencari keberadaan Alin, yang biasanya ada di sana di jam ini.


"Kakak bantu Dara bawa lukisan itu ya? hari ini Alin ulang tahun, Dara ingin memberi kejutan. yok."


Dara berjalan lebih dulu sedangkan Rion mengikuti di belakang dengan lukisan di tangannya. Ukuran lukisan itu tidak terlalu besar hanya 20x30cm.


"Kak Rion lagi gak sibuk banget kan, Dara gak tau mau minta tolong siapa."


"Enggak tadi udah selesai kok periksa keadaan pasien, tapi jangan lama-lama ya."


......


Dara menyuruh Rion meletakkan lukisan itu dengan jarak sekitar 5 meter, dari Alin yang tidak mengetahui keberadaan mereka.


Rion mengangguk patuh.


Dibukanya kain penutup lukisan itu. Dara duduk di bangku taman, menarik Rion juga untuk duduk lalu ia mulai memetik Gitar nya.


🎼 jreng


🎵 ku lihat senyum di kejauhan. cantik dengan lesung pipi terpatri indah.


🎵 ku tanya nama, gadis cantik dengan senyum manis. membawa aku ikut tersenyum bersamanya.


🎼 jreng 'Dara melihat Alin tersenyum kepadanya , beberapa orang juga menyaksikan ia bernyanyi'


🎵umurmu bertambah, aku hadir di sini menyanyikan lagu indah ciptaan Saka.


Alin cantik dengan senyum manisnya.


🎵bolehkah aku berteriak memberitahu dunia. aku punya teman kecil yang punya kekuatan, senyum indah tak tergantikan.


🎵jangan, jangan tatap aku dengan senyumanmu, aku luluh, aku kalah. aku tak bisa jika tidak memelukmu.


🎵happy birthday A~lin.


🎼jreng


Mereka semua bertepuk tangan, suara Dara cukup bagus untuk di dengar, mereka melihat lukisan itu dan mengerti lagu itu untuk gadis cantik di kursi roda, mereka memberi a

__ADS_1


Alin ucapan selamat dan doa serta pelukan.


Ayah Alin menangis haru, di lukisan itu Alin terlihat sangat cantik dengan kain yang menutupi rambutnya, itu malah membuat Alin semakin cantik. Ia tersenyum ke arah Dara sambil memberikan senyum tulus. ini kejutan indah untuk Alin. Ia berharap putrinya itu akan terus tersenyum seperti gambar di lukisan itu.


Dara orang terakhir yang menghampiri Alin, dengan Rion yang mengekor di belakangnya membawa lukisan tadi.


"Sayang semoga kamu cepat sembuh dan bisa terus bahagia, kakak suka senyum Alin, kakak suka Alin tertawa, kakak dukung Alin untuk berjuang, ini hadiah untuk Alin."


Meong


Mereka semua menoleh ke arah kucing di pangkuan Alin, mereka tertawa.


"Alin sayang kak Dara, makasih Alin suka lukisannya, Alin terlihat cantik! Alin suka!" Alin mengucapkannya dengan tulus dengan air mata menetes tapi masih dengan tersenyum.


Dara mengangguk menangis memeluk Alin.


"Kakak juga sayang Dara selamat ulang tahun sayang."


Rion dan Ayah Alin terharu melihat mereka.


Mereka berdua tau perjuangan Alin sudah berat sejak pertama kali di rawat di rumah sakit ini. Dan baru kali ini, Ayah Alin melihat putrinya menangis, setelah di vonis menderita kanker. Tak pernah Alin mengeluh sakit ataupun menangis. Ia lega melihat putrinya bisa menangis. Alin sudah tak punya ibu untuk memeluknya. Ia jadi terharu ada gadis cantik memeluk putrinya sayang, sudah seperti kakak-adik malah.


"Temen kakak yang buat lagu ini untuk Alin. Ia ingin datang melihat senyum Alin, tapi ia sedang ada turnamen jadi tidak bisa membawakan lagu ini langsung untuk Alin."


"Iya kak, makasih nanti sampaikan ucapan terima kasih Alin untuk kakak itu ya!"


"Namanya Saka, dan judul lagu tadi judulnya 'senyum manis Alin' suka ngga sama lagunya?"


"Suka, Alin suka kak." Alin tersenyum antusias, ini adalah hadiah terindah. Ia akan berterimakasih sama Allah nanti, karna sudah mengirimkan kakak cantik untuk nya.


"Wah kakak di kacangin ini." Rion berbicara sambil memasang muka kecewa.


"Ya udah tinggal di makan aja. ya Alin ya."


"Iya kak." ujar Alin polos dengan semangat.


Mereka semua tertawa. tanpa tau jika Ayah Alin sedang gelisah, sedih, terluka. Karena masih ingin terus melihat putrinya tumbuh hingga nanti menikah. Tapi prediksi dokter yang sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi. membuat hatinya sakit, ia tak sanggup bila di tinggalkan Alin, ia tak rela. Tapi jika memang Allah ingin mengambil putrinya itu adalah yang terbaik untuk putrinya, ia akan berusaha ikhlas. Ia tak ingin melihat Alin terus tersiksa.


"Ayah kok nangis?" tanya Alin heran


"Engga Ayah cuma terlalu bahagia karena melihat Alin bahagia."


"Makasih ayah sudah mendukung Alin dan berjuang bersama Alin. Alin ingin ayah bahagia jadi jangan sedih lagi ya yah."


Mereka membeku mendengar penyataan Alin.


Ayah Alin merengkuh putri kecilnya itu dalam pelukannya. memeluk erat selagi bisa.


"Iya Ayah kan memang akan selalu berjuang bersama Alin." Dara tak kuasa menahan air matanya. Rion yang ada di dekatnya pun merengkuh kepala Dara untuk bersandar di dadanya. Menahan isakan dari bibirnya.


________


Jaga mereka yang kamu sayang selagi bisa.


sayangi mereka selagi masih di beri waktu.


jangan biarkan sesal menghampiri ketika telah tiada.


berjuanglah untuk bahagia bersama mereka.


jangan, jangan putus asa karena mereka juga akan ada untukmu.

__ADS_1


semua akan baik-baik saja. bahagia itu milik mereka yang mau bersyukur bukan mereka yang mengeluh melupakan apa yang di milikinya saat ini.


__ADS_2