Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c17


__ADS_3

Nanta akan balik ke Jakarta. Ia sudah bersiap, memakai kemeja rapi, celana jeans dan sepatu putihnya. Wajah yang selalu menampilkan keramahan. Nanta termasuk laki-laki tampan dengan pesona hangat, hingga semua orang di dekatnya akan merasa nyaman.


Nanta keluar kamarnya dengan membawa tas berisi bajunya. Umi tersenyum melihat putra kesayangannya sudah tampil rapi seperti biasanya. Tapi tidak dengan Abi yang masih tak mau berdamai. Sejak semalam mereka belum mau berbicara lagi.


"Nak, jangan lupa nanti anterin ini kerumah kakek ya," ujar Umi sambil menunjukkan kue buatannya.


"Insyaallah Umi, Nanta juga sedang rindu dengan kakek." Umi tersenyum menarik Nanta duduk di meja makan.


"Lihat ini, Umi buatkan Rendang favoritmu." Nanta dengan semangat mengambil nasi dan lauk lainnya. Semalam ia melewatkan makan malam, tentu saja sekarang dia kelaparan.


"Makasih Umi."


Nanta memberikan senyum manisnya pada Wanita tercantik di rumah ini. Tentu saja Umi wanita satu-satunya di rumah. Sebenarnya Nanta memiliki adik perempuan bernama Hanum. Tapi, ia saat ini sedang di pondok pesantren. Jadilah hanya ada Umi dan Abi saja di rumah ketika Anak-anaknya sibuk mencari ilmu.


"pelan-pelan nak. Nanti tersedak." Umi mengambilkan minum untuk Nanta.


Itu membuat Abi kesal, karena sedari tadi ia di abaikan. Mereka berdua asik, seperti tak ada orang lain di sana. Ia memang selalu kalah jika ada putra dan putrinya. Semua perhatian Umi milik mereka. Itu karena Umi rindu, jadi ketika mereka di rumah, Umi pasti akan memberikan perhatian lebih pada mereka.


Dengan wajah cemberut Abi menatap mereka. Ah makanan enak pun terasa hambar, Ia seperti sedang makan sendirian. Umi marah karena semalam Abi bertengkar dengan Nanta, dan membuat putra kesayangannya itu tidak jadi makan semalam.


Umi tak suka, jika saat makan ada yang bertengkar. Jika ada masalah ya selesaikan setelah makan. Tapi karena semalam Abi terpancing emosi jadilah mereka saling beradu Argumentasi. Nanta memang menjawab ucapan Abinya dengan sopan, tapi tetaplah itu sebuah kata bantahan.


Berakhir dengan Nanta yang permisi kekamar meninggalkan makanannya yang masih di makan sedikit. Umi kesal dengan Abi dan merajuk hingga saat ini.


"Masakan Umi yang terlezat." Nanta tulus memuji Uminya.


"Masakan Nadia juga enak," ujar Abi menyela Umi yang akan membalas pujian putranya.


"Umi bisa masak segala jenis makanan seperti koki handal." Balas Nanta lagi.


"Nadia bahkan bisa memasak makanan favorit Abi dan Umi." Abi menjawab tanpa melihat Nanta yang sedang mengerutkan kening heran.


"Tapi tidak ada yang bisa masak rendang seperti Umi." Setelah berpikir, ia teringat jika Rendang buatan Uminya memiliki rasa yang lebih enak dari rendang lainnya.


"Rendang, Nadia bisa belajar dari Umi nanti."


"Tapi, Umi sibuk tidak bisa mengajari orang lain memasak."


Saat Abi akan menjawab lagi. Umi sudah berdiri dengan tangan di pinggang menatap mereka marah.


Mereka langsung diam, menundukkan kepala melanjutkan makan sambil sedikit melirik ke arah Umi takut.


.........


Nanta memasuki mobilnya dengan malas. Ia menatap kesal ke arah Nadia yang dengan santainya ikut masuk ke mobil. Ia sempat menolak untuk balik ke Jakarta bersama Nadia. Tapi apalah di kata, Sudah menolak pun pasti hasilnya sama, ia tetap harus berangkat bersama gadis keras kepala itu.


"Jangan sentuh! itu milik Dara!"


Nanta bahkan tak menolehkan kepalanya, tapi ia tau Nadia sedang akan menyentuh boneka berbentuk pokemon di dashboard mobilnya.


Nadia langsung menarik lagi tangannya. Ia tak marah, bahkan hampir terkekeh karena tingkah Nanta yang kekanakan. Itu kan hanya boneka, tapi ia sangat posesif.


Nanta akan kehilangan kedewasaannya jika sedang posesif. Meski baru sebentar mengenal Nanta, Nadia sudah hafal sifatnya.


Nanta bahkan tak mengijinkan Nadia menyentuh foto Dara, yang berukuran kecil di gantungan kaca mobil.

__ADS_1


Mereka hanya diam sepanjang jalan menuju Jakarta. Nadia sibuk dengan ponselnya, meski sesekali melirik kearah laki-laki tampan di sampingnya. Sedangkan Nanta, ia tak mood berbicara dengan Nadia, sejak Nadia kekeh ingin melanjutkan perjodohan ini.


Baru setengah perjalan, mobil itu mogok. Nanta mengerti masalah mesin. tapi di luar tiba-tiba hujan. Mobil itu mogok di daerah sepi. Tak ada yang bisa menolongnya. Nadia mengeluarkan Al-Qur'an nya. Suara merdu dari lantunan ayat suci yang di bacakan Nadia menggetarkan hatinya. Abinya tidak bohong! Nadia memang pandai mengaji.


Nanta yang tak mau hanya diam. Ia mengambil payung di jok belakang. Membuka pintu dan membuka kap mobilnya. Ia mengecek masalah apa yang ada pada mobilnya ini. Hujan membuatnya sedikit susah, apalagi satu tangannya sambil memegang payung.


Angin membuat tetesan hujan jadi mengenai pakaiannya. Dengan telaten ia tetap terus mencari kerusakan pada mobilnya itu. Semakin lama bajunya juga semakin basah. Tapi ia masih belum mengetahui kerusakannya. Hingga ada suara gadis sedikit berteriak karena hujan meredam suara nya.


"Aku bisa membantumu memegang payung," ujar Nadia yang jadi ikut basah terkena hujan.


"tidak perlu! masuklah hujannya terlalu deras." Nanta sedikit marah, kenapa Nadia ikut keluar ketika hujan malah semakin deras.


"Tak apa, aku akan memegang payung itu." Nadia kekeh ingin membantu.


Karena ia memang kesulitan memegang payung, dan kasihan karena Nadia ikut basah. Nanta menyerahkan payung yang di pegang nya.


Nadia memegang payung sambil memperhatikan Nanta yang sudah basah kuyup, tetap berusaha membenarkan mobilnya. Padahal payung ini tidak bisa menutupi mereka berdua dari hujan. Seperti percuma membuat Nadia tersenyum geli memperhatikan kekonyolan mereka.


Mereka masuk ke mobil dengan keadaan basah kuyup. Nanta mencoba menyalakan mesin mobilnya. Berhasil! mesin itu menyala, mereka bisa melanjutkan perjalan. Tapi sekarang masalahnya mereka harus ganti baju terlebih dahulu.


Nadia memperhatikan wajah basah Nanta, bibir sedikit pucat dan rambut yang acak-acakan. Nanta yang ia lihat saat ini berbeda dengan Nanta yang biasanya selalu rapi. Di matanya itu malah terlihat lebih manis.


"Turunlah!" Ujar Nanta tanpa menatap Nadia dan keluar lebih dulu dari mobil.


Nadia menurut dan keluar dari mobil. Didepannya ada sebuah toko baju dan toko yang berjejer rapi di sebelahnya.


Ia sedikit berlari mengikuti langkah Nanta yang memasuki salah satu toko pakaian itu.


"mbak tolong ambilkan baju yang cocok untuk saya dan teman saya ini ya," ujar Nanta pada penjaga toko, ia tak mau lama memilih. sehingga meminta penjaga toko mencarikan ukuran yang pas untuknya dan Nadia.


"Iya mbak." Nadia menjawab ramah.


Mereka sudah sangat kedinginan di tambah AC yang ada di toko itu. Untung saja mbaknya itu tidak lama mencari pakaian yang pas untuk mereka.


"ini mas, dan ini untuk mbaknya. masnya bisa berganti di sana, sedangkan mbaknya bisa ikut saya ke dalam." penjaga itu menunjuk ruang ganti untuk Nanta berganti dan ruang seperti kamar pegawai untuk Nadia berganti.


Nadia mengikut mbak penjaga toko dan mengganti pakaiannya. Hanya gamis polos yang pas di tubuhnya dan kerudung sewarna dengan gamis yang dikenakan nya. warna putih dengan renda hitam di ujung-ujungnya.


Saat keluar ia sedikit terkejut, melihat Nanta yang juga mengenakan baju panjang warna putih. Terlihat sangat tampan, bahkan para pengunjung di sini juga sedang memperhatikan ketampanannya. Tapi Nanta yang tidak sadar sedang menunduk memperhatikan ponselnya.


Nanta mengangkat pandangannya saat merasa ada yang berdiri di depannya. Ah itu Nadia yang sudah berganti pakaian sedang tersenyum ke arahnya. Tapi yang membuat Nanta mengerutkan keningnya adalah, mereka menggunakan baju couple. Pasti penjaga toko tadi mengira mereka pasangan.


Nanta mengabaikan ini dan membayar pakaian itu di kasir. Mereka melanjutkan perjalan. Nadia memfoto Nanta yang sedang membayar parkir. Ia tersenyum melihat hasil foto diam-diam nya. Ia akan menyimpan ini, untuk mengingat kejadian hari ini.


Tak ada yang bersuara, hanya alunan masik klasik yang mengalun memenuhi pendengar mereka. Canggung itu yang mereka rasakan tiap melihat pakaian yang mereka pakai ini. Nanta tak nyaman, ia tak ingin membuat Nadia berpikir jika ia sengaja.


Mereka mampir dulu ke rumah kakek Nanta. Kakek Nanta memang sudah mengenal Nadia. Nanta pernah membawa Nadia ke rumah kakek, saat pertama pertemuan mereka dan itu membuat Saka jadi salah paham.


"kakek." Nanta menyalimi kakeknya di ikuti dengan Nadia.


"Kalian lama sekali, kakek khawatir takut ada apa-apa." Kakek Nanta sudah sangat tua, tapi masih sangat sehat.


"Maaf kakek, oh iya ini kue buatan Umi khusus untuk kakek." Nanta menyerahkan kue itu ke arah Mbok Nah. Ia yang mengurus kakek di sini.


"Nadia pasti lelah, sini nak duduk samping kakek." Nadia menurut dan duduk di kursi sampingnya kakek.

__ADS_1


Sedangkan Nanta ia masih berdiri dengan tampilan yang sedikit berantakan. Setelah sedikit mengobrol dan sedikit bercanda, untuk menghibur kakek. Mereka memutuskan untuk pulang.


"Kakek sepertinya Nanta tidak bisa lama. karena harus mengantar Nadia pulang dulu." Nanta berbicara sopan, ia lelah ingin segera sampai apartemen.


"baiklah, tak apa. besok-besok, lebih sering mampir ke sini ya." Kakek berdiri akan mengantar mereka sampai pintu.


Mereka menuju ke mobil. Setelah berpamitan, Nanta langsung mengantar Nadia ke rumahnya. Nadia adalah seorang dokter gigi yang sudah mapan, ia sudah bisa mandiri. setelah sampai Nadia tak langsung keluar ia menatap Nanta yang diam melihat ke arahnya juga.


"Makasih, maaf udah ngerepotin kamu."


"Iya gak papa." jawab Nanta pendek.


"em, makasih bajunya. ini mau aku balikin nggak?" tanya Nadia yang berusaha agar Nanta bisa lebih santai berbicara dengannya.


"nggak papa, itukan baju cewek. Jadi buat kamu aja." Nanta menjawab dengan sedikit tersenyum. Bagaimanapun Nadia tadi basah karenanya.


"Makasih kalo gitu, em besok, mau aku anterin sarapan enggak ke apartemenmu?"


Nadia mulai dengan pendekatannya.


"kayaknya enggak usah, besok aku mau sarapan bersama Andara." Nanta sengaja memberi tahu Nadia, agar wanita itu mengerti ia tak akan berpaling dari Andara.


"Oh okay, mungkin lain kali." Nadia berusaha untuk tidak sakit hati. Ini pilihannya untuk tetap berjuang meyakinkan Nanta.


"Ya sudah, ini udah malem. Aku ingin segera pulang ke apartemen." Nadia mengerti wajar saja Nanta lelah ia menyetir dari Bandung kesini di tambah mobilnya mogok tadi.


Nadia mengangguk lalu keluar dari mobil itu, Ia menundukkan kepala ke arah kaca.


"Hati-hati di jalan" Nadia melambaikan tangganya.


Ia merasa lucu dengan tindakan nya. Ia seperti remaja yang baru di antar pulang kekasihnya dari kencan. Ia tersenyum mengingat Nanta yang berusaha menjaga jarak darinya dengan tak lagi menunjukkan keramahannya. Ia seperti sedang bersama anak kecil yang sedang merajuk.


Nadia tau jika Nanta menjalin kasih dengan gadis SMA yang tidak seiman dengannya. Ia tau dari mulut Nanta sendiri. Ia menyukai kejujuran Nanta. itu membuatnya tau, jika Nanta bukanlah orang yang munafik. Di tambah lagi saat Nanta menceritakan tentang hubungannya. Ia jadi tau Nanta adalah laki-laki penyayang.


Maafkan dirinya yang ingin merebut Nanta dari gadis yang bahkan belum pernah ia lihat. Ia ingin egois sekali saja tentang Nanta.


........


Nanta sampai apartemen nya. Ia ingin menelpon Andara, tapi di urungkan nya. Ia ingin memberi kejutan pada Andara besok pagi. Nanta belum mengetahui jika Andara masih di rumah sakit. Salahkan saja Saka yang masih kesal pada Nanta.


Dia menuju kamar mandi. mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Ia memikirkan bagaimana jika Andara tau nanti, Nadia bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja. Ia menutup mata membiarkan air terus mengalir membasahi kepalanya. Andara, senyum gadis itu sedikit mengusik hatinya. Rindu, ia sudah rindu ingin melihat senyum itu lagi.


Nanta segera menyelesaikan mandinya. memasak makan malam untuk dirinya sendiri. Sambil terus memikirkan, hubungan rumit ini nanti akan melukai tiga orang di dalamnya. Ia menolak Nadia karena ia tahu hatinya hanya untuk Andara. Ia tak ingin menyakiti Nadia jika ia tetap bertahan meyakinkan nya.


Sedangkan Andara, ia tak mau gadis itu merasa di duakan. Sedangkan hatinya saja terlalu kecil untuk mendua. Mana sanggup ia menyakiti Andara. Ah Saka pasti akan marah padanya, laki-laki itu sangat menyayangi Andara. Ia harus siap terkena tonjokan lagi.


Masakannya sampai gosong karena terlalu banyak melamun. Ia dengan sigap mematikan kompornya, Nanta menatap masakan gosong itu dengan prihatin.


"Ah, bagaimana bisa ada orang yang menikah hingga empat kali, aku yang ingin memiliki satu wanita di antara dua saja sudah pusing." gerutu Ananta sambil membereskan wajannya.


Nanta memutuskan memasak mie instan saja. Ia sudah sangat lapar, dan lagi ia lelah.


Setelah selesai makan ia masuk kamar beranjak naik ke tempat tidurnya. menyetel musik di ponselnya. itu lagu favorit Andara, Where is the love. Ia masih belom tau kenapa Andara menyukai lagu ini. Ia memejamkan mata mengingat wajah ceria Andara.


Andara gadis pelengkap hidupnya. Warna pelangi di kelabu hatinya. senyum indah di setiap harinya. Dimanakah cinta itu berlabuh. Ia akan berlabuh pada orang yang tepat.

__ADS_1


Suatu hari nanti waktu akan menjawab rahasia-NYA.


__ADS_2